I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 77



Persiapan pernikahan dimulai. WO ku sudah tahu benar apa selera kami sekeluarga. Tidak susah. Pernikahanku lebih sederhana dari dua kakakku. Aku hanya pakai dua baju untuk ijab dan resepsi. Bukan resepsi yang besar. Hanya pesta syukuran setelah ijab.


Menjadi istri abdi negara itu ternyata gak mudah. Berkasnya berkali lipat. Dari kelurahan, kantor polisi, sampai stodio foto. Oh, ya... juga bolak balik kerumah Bu Nirmala untuk mengepas baju. Fotonya pun berkali lipat, tesnya juga berkali lipat. Aku harus membuat rangkap tiga semua berkas berkas itu. Diserahkan nanti pada tiga bagian berbeda dikantor polisi.


Kemudian berfoto bersamanya dengan baju sragam polisi. Heiii dia.... terlihat berbeda. Aura menyeramkannya nampak. Tidak seperti Revan yang kulihat setiap hari. Aku kadang lupa kalau dia itu polisi.


"Senyum, lihat depan satu, dua, tiga." Kata fotografer. Blits lampu menyala. Dia enjoy saja. Aku yang grogi dekat sama dia. Fotografer melihat hasil fotonya.


"Mbaknya kurang relex kayaknya. Senyumnya kaku. Kita coba lagi yaa." Kata fotografer.


"Istirahat dulu boleh Mas?" Tanya Revan.


"Oh, boleh boleh dong. Santai saja Mas, Mbak. Biar hasilnya bagus dan natural." Kata Mas Fotografer. Kemudian dia pergi meninggalkan kami. Hari ini jadwal kami pengambilan foto distodio. Untuk berkas, sekalian untuk prewed.


Dia masih memegang tanganku. Mengesek gesekkan hidung kami pelan.


"Kenapa? Kamu grogi?" Tanya Revan sambil memeluk pundakku. Menuntunku duduk disudut stidio.


"Aku.... baru pertama malihatmu pakai baju seperti itu. Kamu......" Kata kataku menggantung. Dia menunggu... aku gak enak bilang dia serem.


"Gan.... ganteng." Kataku tergagap. Dia tertawa.


"Bener ganteng? Kok kamu malah kaya ketakutan lihat aku yang ganteng?" Kata Revan. Haaaa memang susah membohonginya.


"Mungkin aku gak terlalu suka sama seragam." Kataku kemudian. Dia tertawa.


"Tenang saja aku akan jarang jarang memakainya." Kata Revan, dia kemudian berdiri mengambilkan aku minum. Kami duduk agak lama dipojok stodio foto itu.


Dia bercerita pengalaman lucunya di AKPOL. Tentang kedisiplinan yang tinggi, tentang teman teman yang sangat kompak. Tentang lucunya bangun pagi buta, untuk lari dan berguling guling dilapangan. Semua yang belum pernah ia ceritakan. Tapi kebanyakan pengalaman menyenangkan.


"Kamu tahu Dek, ayo selesaikan foto ini, karena teman temanku sudah menyelsaikannya dari dulu. Aku terlambat karena menunggu mahasiswi hukum yang cantik." Kata Revan.


"Aaaaa kamu menyalahkanku sekarang, karena menungguku terlalu lama." Kataku.


"Kenapa menunggu kalau gak mau? Kamu bisa dapat banyak cewek dengan seragammu itu." Lanjutku lagi. Dia tertawa.


"Kalau aku mempesona dengan seragamku itu biasa. Aku lebih suka mempesona dengan tindakanku. Sampai mempesona gadis cantik yang tidak menyadari calon suaminya adalah perwira polisi. Hahaha." Kata Revan mengejekku. Aku menepuk pundanya. Sesi foto selanjutnya terlewati dengan sedikit santai menurutku. Dia terus menggodaku ini dan itu. Kami berfoto beberapa pose dua kali ganti baju. Dia pakai dua seragamnya. Jas hitam berdasi dan coklat seperti kebanyakan polisi yang aku lihat. Bajuku yang persembahan dari Bu Nirmala, menyesuaikan sragamnya. Kebaya ceram untuk seragam coklatnya dan dres hitam malam yang sedikit terbuka, tapi indah. Untuk seragam hitamnya.


Foto ini jadi satu paket dengan WO yang digandeng Bapak. Kami berpose berdampingan dengan background merah untuk sragam coklatnya. Kemudian berpose sedikit bebas untuk pakaian hitam kami.


"Mau coba pose sedikit panas? Mungkin untuk koleksi pribadi?" Tanya Mas Foto.


"Boleh." Jawab cepat Revan. Fotografer mengarahkan gaya dia memelukku. Menahanku dengan satu tangan satu tangannya memegang pahaku. Hidung kami bertemu. Aku memegang tengkuknya dan dadanya. Pose kedua dia memelukku dari belakang mencium pundakku yang tali pundaknya sengaja diturunkan. Pose ketiga memangkuku dengan satu kaki. Aku mencondongkan tubuhku kedepan. Satu tangannya mengelilingi perutku. Pose keempat mencium pipiku berhimpit pada kaca. Dan masih banyak lagi.


Selesai acara foto memfoto kami melihat hasilnya sekilas. Wajahnya merah padam. Aku heran sendiri.


"Perbesar yang ini." Katanya menunjuk foto kami berpangkuan. Fotografer bingung.


"Wajahnya lebih sensual dan menggoda." Kata Revan.


"Kamu gila Mas. Itu buat pribadi aja, itu terlalu hot." Aku protes.


"Masnya pusing habis foto panas." Katanya.


Selsai foto kami beganti pakaian biasa. Dia mengajakku makan. Benar saja kata fotografer. Dia seperti masih terpengaruh foto foto itu. Menghujani muka dan leherku dengan ciuman bertibi tubi.


"Udah ah aku lapar." Kataku sambil mendorong tubuhnya.


"Semakin kesini, semakin aku mau makan kamu Dek" Kata Revan.


"Tadi gak usah cobain foto panas kalau hasilnya bikin terbakar." Kataku. Dia tertawa. Lesung pipinya terlihat aneh tanpa brewok yang menemani.


***


Aku menarik nafas dalam sebelum keluar dari mobil. Entah kenapa aku gugub sekali. Mungkin karena aku jarang dapat pengalaman indah ditempat ini. Kami ada di kantor Revan untuk mengikuti tahap selanjutnya dari persyaratan nikah. Dia menggandengku.


"Tenangkan dirimu Dek. Bahkan tanganmu lebih gemetar sekarang dari pada masuk ruang introgasi dulu." Kata Revan.


"Mereka hanya akan bertanya, tidak akan menyakiti." Lanjutnya.


"Iya sih, dari dulu juga cuma ditanya. Tapi nadanya mengintimidasi." Jawabku. Revan tertawa.


"Itu SOP kami Dek, kalau kami terlalu ramah, bisa bisa tidak ada orang yang jujur dengan kami." Kata Revan.


"Revaaaaann akhirnya sampai sini." Kata temannya. Dia tersenyum saja.


"Kami sudah optimis kamu bakalan sama Ine, ternyata yang dibawa beda." Kata temannya lagi. Sambil menerima berkas kami. Revan senyum kecut.


"Ayo Mbak saya antar." Kata temannya padaku. Revan melepaskan tanganku. Aku sedikit tidak rela.


"Aku tunggu sini." Katanya menenangkan.


Aku diberi pertanyaan setebal buku. Belum apa apa sudah berkeringat. Ini soal psikotes terbanyak yang pernah aku kerjakan. Gambar gambar jawab jawab bingung bingung.


Satu jaman aku berkutat dengan soal. Bersama dengan lima orang calon manten lainnya. Selesai mengerjakan tes, aku melakukan peregangan sedikit di kursi. Polwan yang menunggui psikotes tersenyum melihat tingkahku. Aku orang terakhir yang keluar dari ruangan ini.


"Capek ya Mbak?" Tanyanya ramah.


"Lebih takut gak lolos Mbak." Kataku.


"Calonnya Pak Revan kok gak lolos. Tenang saja Mbak, emang gak lebih serem Pak Revan dari pada soal soal ini." Katanya sambil nyekikik. Aku ikut tertawa.


"Apa dia semenyeramkan itu disini?" Tanyaku.


"Dia... pendiam sih Mbak. Sangking diamnya sampai dingin. Hahaha." Katanya. Aku juga ikut tertawa. Andai Ine seramah ini padaku. Mungkin kita bisa bersahabat, kemudian saling bantu ngerjain kulkas.


***


Lanjut ke tes wawancara. Ditanya tentang hubungan kami. Haduhhhh malu. Aku mulai mengingat dan menceritakan awal pertemuan kami. Dari sebuah supermarket ujung kota sampai beberapa peristiwa penting lainnya. Aku sendiri tak menyangka banyak sekali yang sudah kami lalui bersama. Bagaimana sifat Revan dan gaji Revan juga ditanya. Untung dia bilang nominal gajinya tadi dimobil.


Lanjut tes kesehatan. Cek up tekanan darah dan urine. Karena aku berkacamata cukup tebal juga ditanya berapa minusnya. Selesai? Belum aku harus menghadapi jarum suntik. Haa teringat dulu waktu SD ada suntik seperti ini yang jadi momok menakutkan. Temanku dulu sampai lompat pagar sekolah. Kejar kejaran sama guru laki laki. Kalau sekarang aku meronta dan berlari mungkin tidak hanya dikejar, tapi ditodong pistol Revan. Hiiii menakutkan. Tidak ada tes keperawanan. Hanya itu saja. Bagi calon istri para abdi negara gak usah takut yakk..... hihihihi.