I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 36



Orang rumah bahagia aku diantar kembali oleh Revan. Langsung diceritakan rencana nikahan kakak. Diminta ikut membantu mempersiapkan. Ditanya kabar. Kenapa lama gak muncul. Sehat sehat kah dan banyak lagi. Andai mereka tahu anaknya baru dikacangin dua jam. Dan sebelumnya dipermalukan dikantor polisi. Apa yang akan mereka lakukan pada cowok yang senyam senyum menanggapi obrolan mereka. Menyebalkan!


Mataku sudah lengket. Berkali kali aku menguap ditengah obrolan orang tua ku dan Revan. Ini jam jam ku tidur sebenarnya. Ternyata Revan tahu diri dan pamit pulang.


"Tidur nyenyak." katanya saat dihalaman. Aku mengangguk.


"Nanti aku jemput jam setengah sembilan. Mulai sekarang aku yang antar jemput yaa. Kerjamu sift malam soalnya." katanya lagi.


"Alah, yang lalu lalu aku sendiri juga gak papa kok." Kataku masih menyimpan sebel sama dia. Dia tersenyum.


"Kalau gitu anggap aku cari kesempatan dalam kesempitan." kata Revan.


"Kamu kalau cemberut begini menggemaskan." Lanjutnya. Aku pura pura menguap lagi. Dia langsung masuk mobil dan pergi.


Aku turun dari motor Revan dengan sragam mimimarket lengkap. Revan putar mau isi bensin sekalian. Seorang laki laki bersragam SPBU melihatku diteras minimarket. Dia memang selalu menungguku disana selama aku bekerja disini. Kadang teman ngobrolku menghabiskan malam.


"Di antar kakaknya ya Dek?" Sapanya. Aku senyum senyum. Jarak antara tempat pengisian bahan bakar motor dan teras minimarket lumayan dekat. Telinga Revan sudah dipastikan sangat baik. Mau jawab pacar, gak enak sama Mas Noto. Mau jawab teman, takut Revan mendengar. Aku menoleh kearah Revan. Matanya memandang tajam kearah kami. Aku jadi gagal fokus kutabrak pintu minimarket yang sudah puluhan kali kumasuki. Mbak Yuli, penunggu minimarket siang tertawa dibalik meja kasir.


"Hati hatu Dek." Kata Mas Noto sambil mengusap ngusap keningku tanpa ijin. Aku lebih takut menoleh kebelakang. Aku menepis tangannya.


"Ini merah sebentar kuambilkan minyak angin." Kata Mas Noto.


"Gak papa Mas cuma benturan ringan." Kataku


"Kalau gitu sini aku tiupin." Mas Noto menahan pintu agar aku tidak masuk. Memonyongkan bibirnya kearah keningku. Aku menpis pipinya pelan. Sudah berasa merinding dengan tatapan dari arah antrian bahan bakar.


"Aku gak papa Mas. Permisi masuk ya. Itu sudah ditunggu Mbak Yuli mau serah terima." Kataku berlalu masuk.


Motor Revan berhenti didepan minimarket. Aku sempat melirik mukanya yang tegang. Duduk disamping Mas Noto. Tampak membuka pembicaraan. Semoga gak ada drama. Batinku.


"Pacarmu?" Tanya Mbak Yuli. Sambil melihat keluar.


"Yang mana?" Tanyaku. Karena hampir semua petugas SPBU menganggap Noto pacarku.


"Yang jaket hitam lah. Masak Noto... aku gak percaya kamu pacaran sama Noto." Aku tertawa.


"Ternyata disini ada yang tahu seleraku." Kataku.


"Kerja apa? Gagah banget." Tanya Mbak Yuli lekat memperhatikan Revan.


"Guru olah raga mbak. Makanya sehat jasmani." Kataku. Kami pun sibuk hitung hitungan modal serah terima ala kasir. Revan masuk saat Noto sudah pergi tugas juga.


"Ini udah semua ya... udah klop. Aku pergi." Kata Mbak Yuli sambil senyum kearah Revan.


"Duduk sini." Kataku pada Revan menunjuk kursi dibelakang meja kasir.


"Aku boleh masuk situ?" Tanya Revan.


"Boleh Mas, nungguin sepanjang malam juga boleh. Bobok dibawah meja kasir berdua boleh. Asal jangan mesum. Hahaha." Kata Mbak Yuli sambil memakai jaket dan helemnya.


"Trims infonya mbak." Kata Revan sambil nyengir. Haduhhh Revan gak mesum??? Aku ragu. Mbak Yuli berlalu pergi.


"Baru di tinggal tiga bulan. Baru juga kerja disini sebulan. Kamu udah mau diembat juragan bensin." Kata Revan. Sambil ngecek kasur tipis dibawah kolong meja kasir.


"Udah orangnya model cabul gitu lagi. Pingin tak bedil mulutnya yang monyong monyong itu." Katanya sewot.


"Kurang lama ninggalnya. Sekalian setahun biar aku udah nikah trus hamil." Kataku seenaknya. Aku masuk kegudang. Mengambil beberapa barang yang harus direstock. Revan ikut masuk gudang dan berdiri didepan pintu.


"Kalau mau hamil sekarang juga bisa hemmm." Katanya gemas menghalangi aku keluar.


"Minggir ahh..." Kataku sambil mencari hendel pintu. Revan justru mengunciku dipelukannya. Menciumi tengkuku dengan gemas. Aku sudah merinding merinding aneh.


"Maaaasss, udah ihhh tadi juga udah dipuas puasin dimobil." Kataku menghindar. Kini kami saling berhadapan. Dia kembali berusaha menciumku. Aksi saling hindar dan serang pun terjadi. Tapi tangannya semakin kokoh mengurungku. Dia kembali mencium bibirku. Kali ini gak ada lembut lembutnya. Ciumannya ganas dan menuntut.


Hidung kami saling bersentuhan dia memegang kepalaku. Mengatur nafas.


"Aku kangen Dekk..... kangen banget. Saat aku sudah kecanduan bibirmu, kita malah ada masalah."


"Sekarang ketemu, kamu malah ngomong yang aneh aneh. Melihat kamu di pegang pegang saja darahku sudah mendidih. Apalagi membayangkan kamu hamil dengan orang lain. Pikiranku sudah treveling mau memperkosamu sekarang juga daripada kau hamil dengan orang lain." Katanya. Aku tertawa.


"Dasar mesum." Kataku sambil keluar gudang menata stok.


"Aku ada tugas nanti malam. Kunyuk itu aku yakin kalau istirahat kesini. Dia akan istirahat sekitar jam satu. Aku usahakan jam satu kesini." Katanya. Aku tertawa.


"Kami kalau istirahat cuma ngobrol Mas. Memang mau ngapain? Ini tempat kerja bukan hotel mesum." Jawabku.


"Iya, tapi kunyuk model begitu pasti cari kesempatan dalam kesempitan." Aku tersenyum. Dia... kalau cemburu lucu.


Benar saja jam 1 kurang sepuluh dia datang. Aku sudah menyeduh kopi untuk istirahat nanti. Kutambah satu cup lagi untuk dia. Sepertinya sedang tugas luar karena jaketnya menggembung. Menandakan dia belum melepas rompi anti peluru.


"Selamat pagi.... " Sapa Revan masuk minimarket.


"Ada apa kok pakai rompi?" Tanyaku.


"Razia kecil, gak banyak yang bisa di usut. Aku buru buru kesini sebelum jam satu. Bodolah mereka lihat rompi dan pistolku." Katanya sambil meluruskan kaki dibelakang meja kasir. Aku memberinya secangkir kopi hitam panas. Dia menerimanya dengan senyum manis.


"Lepas dibawah situ gak kelihatan." Kataku sambil menunjuk lantai dibawah meja kasir. Diapun ngelesot disitu.


Dia melepas rompi anti plurunya. Aku kepo memegannya. Ternyata berat juga. berat dan kaku. barang seperti ini harus melekat ditubuh? Pasti tidak nyaman.


"Dek, ada kopi?" Tanya Mas Noto di depan pintu. Aku sudah membuka mulutku.


"Ada dong Mas, yang gak ada sayuran." Sahut Revan.


"Eh, mas Revan disini." Sapa Noto.


"Mas akan sering lihat aku disini. Ya gak Yang?" Katanya sambil menoleh kearahku. Si cemburu sedang menandai kepemilikan. Batinku. Noto hanya manggut manggut sambil menyeduh kopi. Noto bergabung dengan kami dimeja kasir. Untung Revan sempat melempar rompi dan pistolnya kedalam kolong meja kasir saat Noto mendekat. Kami ngobrol bertiga. Meskipun tatapan mereka tidak lembut satu sama lain. Membuatku tak nyaman sebenarnya.