I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 75



seperti biasa hari hari akan cepat sekali berlalu kalau kamu bahagia. Revan mengajakku memilih cincin ditoko emas. Kami mencuri waktu sebentar diantara padatnya pekerjaan kami berdua.


"Mau yang mana?" Tanya Revan. Benda kecil berkilau dibawah sana membuat aku bingung sendiri. semuanya terlihat bagus.


"Aku bingung. Kalau bisa dibeli semua saja." Kataku asal. Revan tertawa.


"Nanti acara kita habis dipemakaian cincin, Dek kalau semua dibeli." Kata Revan. Pramuniaga didepan kami ikut senyum senyum.


Setelah lama bingung memilih yang mana, aku menetapkan pilihan pada cincin coupel bermata satu. benar benar coupel karena keduanya mirip sekali.


"Aku tidak percaya akhirnya bisa memilih cincin bersamamu." Kata Revan.


"Apa kau sempat menyerah Mas?" tanyaku. Dia mengangguk.


"Penantianku terlalu lama Dek. Padahal hatiku sudah kau sita semua. Aku sudah akan melepasmu kalau kau tidak segera menjawab iya tanpa syarat." Katanya. Aku memukul pundaknya.


"Itu jahat sekali. Kau tega kita putus? Kau tega meninggalkanku?" Tanyaku. Dia tersenyum.


"Aku tidak tahu, sepertinya juga tidak bisa.... tapi kau benar benar menguji kesabaranku Sayang. Benar benar menguji sampai diambang batas." Kata Revan. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ditelingaku.


"Aku akan membalasnya dengan setimpal nanti. Rasakan pembalasanku saat kita sudah resmi menjadi suami istri. Aku akan mencabik cabik tubuhmu dalam kenikmatan." Bisiknya membuat aku dobel merinding. Merinding karena nafasnya juga ucapannya.


***


Aku yang dilamar, aku yang menyiapkan lamarannya. Hah...... membingungkan? Tentu saja. Tapi itu yang terjadi. Aku diberi kartu atm Bapak lengkap dengan pinnya. Aku diminta menyiapkan oleh oleh dan segala yang dibawa nanti. Ini konsepnya gimanaa........ tapi ibuku justru suka. Aku berbelanja dengannya apa yang mau dibawa kerumah kami. Katanya anggap saja morotin calon besan. Hahahaha.


"Kamu malah enak Nduk. Keluarga Revan hanya Bapak dan Revan. Tidak perlu penyesuaian berlebih. Penyesuaian antara mantu dan keluarga mertua itu gak mudah. Karena itu Ibu bersyukur untuk ketiga putri Ibu. " kata Ibu saat kami mampir diwarung bakso dekat pasar sehabis belanja.


"Mbak Tata hidup mandiri walau diperantauan, Mbak Sasa tinggal dirumah dapat suami sudah seperti anak ibu. Kamu dapat suami sesayang Revan dengan keluarga yang gak ribet. Entah kebaikan apa yang dulu Ibu lakukan. Tapi Ibu bersyukur untuk ketiga putri Ibu." Kata Ibu haru.


"Tapi ini nanti mereka bawanya gimana kalau cuma berdua?" Ibu senyum senyum. Aku menghela nafas juga. Hancur daftar yang dibuat dirumah Revan. Ibu negara belanja apa yang dia mau. Menyortir oleh oleh yang dirasa tidak perlu dan menambah apa yang dia mau. Dan jumlahnya.... banyak. Aku tepok jidat.


Revan datang menjemput kami.


"Van maap ibu khilap. Kata Putri tadi boleh belanja yang Ibu mau, jadi gak sesuai daftar." Kata Ibu. Hedeeehhh kapan aku bilang yak. Aku mendelik saja melirik kursi belakang yang ditempati Ibu. Padahal Ibu sendiri semangat ikut saat aku pamit belanja oleh oleh buat dibawa kerumah sendiri.


"Gak papa Bu, belanja saja apa yang dimau." Kata Revan santai.


"Tapi ini nanti agak banyak. Ribet kalau dibawa cuma berdua." Kataku.


"Tidak masalah, oh iya saya juga mau bilang. Saya bawa sekitar lima belas orang termasuk saya dan Bapak, Bu." Kata Revan.


"Haaa? Gak jadi berdua?" Tanya Ibu. Revan menggeleng.


"Bagus lah, ini lamaran terasik versi Ibu, tamunya gak banyak, gak ribet, gak ada protes dan oleh olehnya milih sendiri. Hahahaha." Kata Ibu girang. Revan ikut tertawa.


"Siapa saja nanti?" Tanyaku.


"Rahasia...." jawab Revan. Dari berdua jadi ber lima belas. Cukup banyak juga. Apalagi untuk ukuran Revan yang gak supel.


"Aku harus balik kerja, tapi.... malas kalau udah lihat kamu." Kata Revan sambil mengelus rambutku.


"Kerja sana, aku juga mau kerja." Kataku beranjak menuju teras. Seharian belum kuurus pembukuan dan lain lain. Dia meraih tanganku.


"Kekamar sebentar yuk." Katanya sudah menyeretku masuk kamarnya.


"Mamas ihhhh ini siang siang banyak orang." Aku protes. Dia tidak peduli. Menindihku dibawah tubuhnya. Aku tidak bisa bergerak. Ciumannya tidak berhenti sampai kami harus berhenti karena tidak ingin hal hal lain terjadi.


Dia menyerahkan kertas berisi syarat syarat menikah untuk polisi. Aku langsung melotot begitu membacanya.


"Kira kira butuh berapa lama untuk melengapi semua syaratnya?" Tanya Revan. Aku melongo sendiri. Ini berlipat dari syarat nikah Kak Sasa dulu.


"Kenapa sebanyak ini? Apa ini SKCK? Nikah pakai SKCK? Juga.... SKCK dari kedua orang tuaku? Foto berdua dengan background ditentukan, sidang entah sidang apa. Tes pisikologi, sampaii..... tes keperawanan?" Tanyaku dengan nada gak santai.


"Kamu yakin Mas sesulit ini nikah sama polisi?" Tanyaku terheran heran. Dia mengangguk sambil senyum.


"Tugasmu berat ya Dek." Kata Revan santai, seakan ini tanggung jawabku saja. Sambil senyum senyum lagi.


"Itu tugasmu. Aku udah pusing harus menyiapkan lamaran dan seserahan nanti saat nikah belum semua printilan saat resepsi. Belum nanti kalau diunduh sama Bapak. Yakin aku pasti dapat banyak tugas." Jawabku. Dia nyengir saja.


"Aku bisa bantu kalau masalah tes keperawanan." Bisiknya sambil mengigit daun telingaku. Aku kaget kegelian. Mencoba meronta, tapi pelukannya dipinggangku semakin mengetat.


"Tapi kalau aku yang cek, hasilnya dipastikan kamu gak perawan lagi setelahnya." Kata Revan dengan muka mesum abis. Dia mengulangi ciumannya lagi. Tangannya sudah tidak terkondisi menjalar kemana mana. Aku kabur sebelum terjadi hal hal yang diinginkan..... ehh......


***


Siang itu, dia tidak kembali kerja. Kerjaannya jahilin aku sampai sore. Entah sudah berapa kali aku teriak teriak. Bapak sampai memarahi Revan. Pekerjaanku morat marit dibuatnya.


"Kamu itu jahilin orang biasanya kalau sedang pusing. Sekarang pusing apa to Van wong sebentar lagi lamaran." Kata Bapak.


"Pusing kelamaan nunggu Pak. Bapak gak tau rasanya nunggu hampir 5 tahun. Didepan mata, tapi gak bisa ngapa ngapain." Kata Revan blak blakan. Membuat bapak dan pegawai lain tertawa. Ku cubit perutnya. Memalukan sekali.


"Yang penting calonnya mulus Mas. Gak rugi kelamaan nunggu. Bibit unggul." Cletuk seorang pegawai.


"Justru karena terlalu mulus itu, bayangkan rasanya menunggu selama itu." Kata Revan lagi. Aku malu sekali sampai mau tenggelam saja kedasar bumi. Semua orang tertawa.


"Lha kenapa tow Mas, kok sampai selama itu. Gak dicepetin aja dulu." Kata pak joko.


"Calonku kebanyakan mikir Pak, kebanyakan syarat." Kata Revan seolah aku gak ada.


"Dideposit aja dulu Mas. Yakin gak banyak mikir dan langsung ngejar buat dinikahi." Kata pegawai yang lain. Somplak, mereka sama sama lagi somplak.


"Benar juga. Kalau sampai pernikahan tidak terjadi, aku mau nabung benih dulu." Kata Revan setengah gila. Langsung disambut tawa dari semua orang. Sore itu aku dirosting pacarku yang pendiam. Sepertinya otaknya yang cerdas sedikit geser gara gara dua kata 'tes keperawanan'.


***


Aku jadi inget ribet dan susahnya cari surat surat saat mau nikah. Kapok.... gak mau diulangin lagi. Buat kalian yang mau nikah, semangat!!!!