
Dia kembali kekamar terburu buru. Mengganti celanannya dengan celana jeans. Mencium pipiku sejenak.
"Aku pergi sebentar. Janji gak lama. Tidurlah kalau capek." Kata Revan kemudian berlalu. Tenagaku selalu terkuras kalau habis begini. Aku benar benar tidur.
Aku bangun dia belum pulang. Mandi sore dandan cantik pakai daster. Sepi... para pekerja masih sibuk di depan. Tapi gak ada siapapun didalam rumah. Aku keluar melanjutkan pekerjaanku. Digodain dikit sama pegawai.
"Segerrr habis mandi.... keramas lagi. Pengantin baru bikin iri kalo kayak gini." Kata Mas Dalimin. Semua orang tertawa. Aku jadi malu. Lain kali dicatat ditebalkan digaris miring kalau siang siang ada pekerja dirumah ini. Gak boleh aneh aneh. Aaaaa maluuuuuu.
Sampai magrib para pekerja pulang, Revan belum pulang.
"Mau ditemenin Mbak?" Tanya Pak Joko. Dia tahu gak ada orang dirumah. Aku menggeleng.
"Aku gak papa, Pak. Revan perginya gak lama kok. Bapak pulang aja." Kataku.
"Nanti kalau butuh ditemani bilang aja Mbak. Istri saya biar kesini." Kata Pak Joko. Aku mengangguk, Beliau pamit pulang.
Sudah lewat waktu magrib. Aku beneran kesepian. Gak ada seorang pun dirumah ini. Kutelfon Revan.
"Halo." Yang mengangkat suara lemah seorang perempuan. Hatiku berdesir... kulihat hpku. Aku gak salah nelfon kok. Nama Mamas tertera dihpku.
"Halo, ini siapa? Revan mana?" Tanyaku.
"Revan ada, dia lagi dikamar mandi. Bersih bersih sebentar. Hpnya ditaruh dikamar. Kenapa? nanti aku sampaiin Put. Aku Nada." Suara disebrang sana.
"Se....sedang apa kalian?" Tanyaku dengan jantung yang tidak tenang. Nada tertawa.
"Aku takut melukaimu lebih dalam kalau aku menyebutkan aktifitas kami." Katanya dengan riang. Kumatikan telpon seketika. Desiran amarah, kecewa, bingung campur aduk berhasil menderaskan airmataku berjatuhan. Aku meringkuk sendirian dirumah yang sepi. Lagi apa? Dikamar? Trus kekamar mandi bersih bersih? Emang habis ngapain? Aku kira dia kembali kerja. Ternyata menemui Nada dikamar..... HEBAT!!!! Aku satu satunya dan Nada tambahannya gitu???
Aku mengemasi bajuku. Kukunci semua pintu. Kuletakkan kunci di tempat biasa. Aku sudah tidak sabar lagi menghadapi Revan!!!! Aku melajukan motorku pelan. Jarak rumahku dan rumah Revan 45 menit kalau nyantai. Mau pulang kerumah dan mengadu.... tapi aku takut mereka kepikiran dan sedih. Aku sudah tidak terbiasa berbagi kesedihan dengan keluargaku setelah kejadian Riyan. Aku jadi galau mau kemana. Pelan pelan kulajukan motor. Stangku membelok disebuah hotel kecil. Hasil kerja dimebel Bapak masih bisa nyewa hotel dan biayaku hidup setahun. Aku nekat chek in.
Malam aku sibuk berbalas chat dengan geng reuni SMK buru buru hahahaha kenapa buru buru? Karena mereka sudah merencanakan reuni akhir pekan ini. Tinggal dua hari lagi.
'Nanti aku yang traktir deh. Pilih tempatnya.' Ketik Septy. Banjirlah emosi bahagia dari semua anggota grub. Dasar muka muka traktiran. Termasuk aku. Hahahaha.
'Ada yang tahu tempat recomended?' Ketik Septy lagi.
'Ini mau diadain dimana dulu?' Asna berkomentar.
'Terserah yang penting tempatnya asik. Buat keluarga. Aku bawa Selim.' Ketik Septy. Mery mengirimkan screen shoot tempat pemancingan. Lengkap sama spek tempat itu. Kulihat ada kolam renangnya juga. Tika mengirimkan stiker senyum dengan mata hati berderet deret.
'Ini boleh ajak pacar gak?' Tanya Tika.
'Enaknyaaaa.... punya suami sepengertian Re.' Habiba berkomentar. Kami pun menyepakati tempat itu untuk reuni. Mery yang akan melakukan reservasi. Topik selanjutnya beralih ketopik nyeleneh. Tentang suami dan pacar yang ikut satu reuni.
'Harus sewa wasit kalau kejadian ada yang bawa.' Ketik Habiba.
'Seru dong, aku jadi pemandu sorak.' Ketik Asna. Aku jadi teringat suamiku dan selingkuhannya. Suamiku apa kabar?? Sampai sekarang belum ada kabar. Mungkin lagi reuni juga sama Nada di kamar. Udah lama gak berbagi keringat dan kehangatan. Uaaaaaaasssssuuuuuuuu!!!! Hatiku panas, perih, dan sakit dalam waktu bersamaan. Tidak lagi tertarik dengan grub chat itu. Aku sesenggukan menangis sendiri. Tertidur dengan air mata belum mengering.
Pagi datang. Belum ada pesan dari Revan. Hebat!!! Dia tidak tahu istrinya hilang? Aku mandi dan ganti baju. Mau apa sekarang? Dikamar hotel sendirian. Aku bingung sendiri. Grub chat reuni buru buru juga sepi. Mereka kaum emak emak yang sibuk dipagi hari. Baru rame saat malam hari. Tidur tiduran sampai perutku lapar. Aku keluar kamar. Hotel ini sepi. Sepertinya cuma laku aku doang. Tidak terlihat orang lain disini. Aku keluar dengan motor cari sarapan.
Sepanjang jalan kupikirkan mau apa? Mau dihotel saja sampai akhir pekan? Trus ngikut reuni? Aku makan nasi kuning dipinggir jalan. Mirip orang hilang beneran. Mbak Sasa kirim pesan.
"Minggu pulang kan? Ibu tanya mau dimasakin apa.' Ketiknya. Aku jadi bingung. Biasanya aku Minggu memang pulang, tapi sama Revan. Kalau dia sibuk pasti diantar Bapak. Lha ini naik motor sendiri apa mereka gak curiga? Bodolah apa gak pulang sekalian bilang mau reuni sampai sore.
Selesai sarapan aku kembali kehotel. Aku mau telfon Ibu bilang gak pulang.
"Halo...ada apa Nduk?" Suara Ibu terdengar. Biasanya juga begitu kalau kutelpon. Tapi ini rasanya beda. Ditanya 'ada apa' sama Ibu saat lagi 'ada apa apa' rasanya nyesek. Kumatikan telpon dan menangis lagi. Ibu menelpon balik. Kubiarkan sampai mati sendiri. Nanti kalau aku sudah tenang kulelpon lagi.
Pintu kamarku diketuk. Buru buru kuseka air mata.
"Kenapa Mbak?" Tanyaku pada pegawai hotel.
"Ini ada snack da....dari hotel." Katanya. Aku melihat dinampan ada brownies Amand* kesukaanku. Juga tiramisu kukus yang menjadi andalan waktu aku galau. Ciiihhh...... Pegawai hotel sedikit gugub. Aku jadi curiga. Kulihat sekeliling tidak ada orang...... tapi aku yakin aku sedang diawasi.
"Oya? Tunggu sebentar Mbak." Aku masuk mengemasi barang barangku.
"Dengar Mbak, suruh orang yang memberikan kue ini untuk melunasi seluruh biaya hotel saya. Saya berikan tips yang banyak untuk Mbak. Buat dia lama melakukannya. Agar tidak bisa membuntuti saya lagi. Katakan juga padanya selain jadi tukang selingkuh, dia juga jadi penguntit istri sendiri yaa." Kataku sambil memberikan uang merah cukup banyak. Mbak hotel bengong. Aku segera berlalu menuju motorku.
***
Author Poff
Boby langsung merosot duduknya, mendengar pembicaraan Putri dan petugas hotel. Dia duduk di teras hotel lantai dua. Tepat diatas kamar Putri. Revan duduk anteng memperhatikan hpnya. Semalam mereka sekamar berdua disitu. Mirip pasangan penyuka sesama jenis. Boby dipaksa Revan ikut mengintai istrinya sendiri. Semalam dia harus menahan atasannya itu beberapa kali agar tidak lari kebawah. Menemui istrinya yang terdengar menangis dengan pilu. Apa jadinya kalau malam malam ribut dihotel.
"Apes Pak, ini yang namanya belut ketemu kancil. Kancilnya udah pinter, tapi belutnya licin." Kata Boby sambil menepok nepok pahanya. Revan tersenyum.
"Tenang Bob, belutnya belum tahu kita mengikutinya lewat ini." Kata Revan menunjukkan hpnya yang sudah dia instal terhubung dengan hp Putri sejak mereka masih pacaran dulu. Itulah yang membuat Revan menemukan Putri dengan mudah dimanapun. Boby melihat hp atasanya. GPS dengan sebuah titik yang bergerak. Dia geleng geleng kepala sambil mbatin.
'Pasangan macam apa mereka'