
"Aku bisa sendiri Buk, kasihan Mamas kerjaanya lagi banyak." Kataku.
"Tapi jauh jauh lho rumahnya. Lagian sambil ngenalin Revan sama sodara." Kata Ibu ngeyel.
"Nanti juga kenal sendiri Buk." Kataku. Revan diam menyimak. Sambil melihat nama nama orang diundangan. Mukanya kelihatan lelah sekali.
"Kamu bawa pistol Van?" Tanya Mas Dipo menunjuk pinggang Revan yang menyembul. Mukanya sudah ketakutan.
"Aku lupa naruh mobil." Kata Revan kemudian beranjak berdiri. Sepertinya mau naruh pistol itu dimobil.
"Lihat dong...." Mas Dipo aneh aneh. Takut, tapi kepo.
"Sama kaya pistol buat nembak burung Mas" Kata Revan kemudian berlalu. Matanya memerah menahan kantuk.
"Mau kopi?" Tanyaku saat dia kembali.
"Mau numpang tidur disini boleh? Satu jam lagi aku harus balik kantor, tapi aku kangen kamu." Katanya. Mas Dipo tahu diri, pergi keruang tengah nimbrung sama Ibu.
Aku menepuk bantal kursi dibelakangku.
"Tidur sini." Kataku. Dia melepas kaos kakinya dan tidur dibelakangku. Aku melanjutkan memilah undangan.
Awalnya tangannya biasa saja memegang perutku. Lama lama naik ketempat sensitif. Lalu meremasnya pelan. Tangannya masih nakal. Kini sudah di dalam bajuku. Meremas lagi dengan sedikit tenaga. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak mengeluarkan suara.
"Aku kangen tidur dikolong kasir" Bisiknya. Kenapa aku cepat sembuh dari kenangan buruk itu? Karena Revan lebih dulu memberikan kenangan yang manis saat kami berhimpit dibawah kolong kasir. Walaupun hanya dua kali ini dia melakukannya. Yang pertama saat pagi dia melamarku setengah sadar.
Tangannya sudah diam beberapa saat kemudian. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya. Dia tertidur pulas. Sepertinya orang ini tipe mesum kalau mengantuk berat. Kalau sadar dia akan sedingin kulkas.
Kakakku pulang kerja. Dia sudah mau membuka mulutnya. Aku memberi tanda diam dengan jariku. Mas Dipo dan Ibu keluar dari ruang tengah.
"Tidur?" Tanya Mbakku heran melihat Revan. Aku mengangguk.
"Kayaknya kelelahan." Komentar Ibu melihat wajah Revan.
"Polisi Bu, cara kerjanya beda sama kita." Bisik Mas Dipo.
"Ajak dia muter ulem ketempat saudara. Biar akrab. Biar dia merasa dianggap disini." Kata Ibu. Kami ngobrol sambil berbisik.
"Ahh, jangan Bu, dia lagi sibuk. Gak enak." Kataku.
"Iya juga sih. Kasihan juga. Sampai numpang tidur rumah orang. Hihihi" Ibu nyekikik. Kami juga senyum senyum.
"Dia belum ada ngomong serius sama kamu?" Tanya Kakak.
"Umm..... kemarin dia ngelamar aku." Kataku. Semua orang menutup mulutnnya agar tidak bersuara.
"Trus?" Tanya Kakak makin kepo. Ibu dan Mas Dipo juga kelihatan kepo.
"Aku belum jawab. Katanya jawab kapan kapan boleh kok." Jawabku santai. Ibu mengetok kepalaku dengan undangan selembar.
"Bodoh memang apa susahnya jawab iya." Kata Ibu. Kakak dan Mas Dipo manggut manggut. Aku mengelus kepalaku. Gak sakit sih, tapi kaget.
"Gimana ngelamarnya? Aku penasaran?" Kakak kepo lagi. Dulu dia dilamar anti mainstrim sama Mas Dipo. Bukan berlutut dengan sebuah cincin tapi dua ekor kambing yang di coret coret badannya bertuliskan 'Marry Me' dikirim kekantor Kakak. Kakakku malah jadi olok olokan teman kantornya karena dikira nikahin kambing. Hahahaha. Aku senyum senyum mengingat kejadian itu.
"Yaaa gitu deh." Jawabku. Aku bingung menjelaskan lamaranya dikolong kasir dan setengah sadar.
"Mana cincinnya?" Kakak ngecek jariku satu satu
"Ya belum dikasih wong dia belum jawab. Rugi di Revan lah kalau dikasih." Bisik Mas Dipo.
"Lamaran yang bener tetep datang ke orangtua." Ibu komentar.
"Bukan bawain kambing trus embak embek bikin pusing. Apa lagi bingung mau taruh mana." Ibu berkomentar. Kami nyekikik.
"Gimana lamaranya? Apa dia bawa bunga? Trus berlutut kekamu?" Kakak masih kepo.
"Revan, bukan Riyan Mbak, dia gak seromantis itu. Tapi dia cukup manis kok." Kataku. Ibu kembali memukul kepalaku dengan undangan tipis.
"Riyan lagi Riyan lagi!" Katanya sewot. Kami bubar saat Revan menggeliat. Tapi tidak bangun.
Setengah jam kemudian aku membangunkannya. Dia mengucek mata sambil menghembuskan nafas kasar.
"Capek yaa?" Tanyaku. Dia mengangguk. "Marathon seminggu aku. Paling tidur sejam sejam gini." Katanya.
"Mau makan dulu Van? Ibu masak ayam." Tawar Ibu.
"Terimakasih Bu. Saya sebenarnya juga lapar, tapi harus kembali kekantor. Nanti makan dikantor saja." Katanya.
"Kalau gitu Ibu bungkusin. Tunggu sebentar." Kata ibu sigap kedapur. Dia mengangguk. Memandangku agak lama. Kami berpandangan dalam diam. Dia mengambil tanganku dan mengecupnya.
"Andai kamu mau menjawab lamaranku sekarang Dek, aku akan lebih bersemangat." Katanya.
"Katanya kamu mau nunggu sampai aku siap." jawabku. Dia mengangguk.
"Kita juga gak mungkin nikah sekarang." Kataku menunjuk undangan dimeja.
"Aku juga masih sekolah." Kataku lagi. Ibu datang membawa tupperware pink. Aku sudah mesem mesem.
"Harus dimakan ya... masakan Ibuk enak kok." Kata ibu menyerahkan kotak itu.
"Warnanya macho sekali Bu." Revan protes. Sambil melihat tupperware imut itu.
"Hehehe anak ibuk perempuan semua Van, jadi wananya imut. Udah gak papa yang penting isinya." Kata Ibu.
"Terimakasih Bu, sebagai gantinya saya mau kok ikut bantu nganter undangan. Tapi lusa boleh?" Kata Revan. Ibu senyum sumringah.
"Boleh boleh. Terserah Revan aja bisanya kapan." Revan mencium tangan Ibu dan berlalu menuju mobil.
"Kamu mau aku bawakan apa untuk lamaran. Sepertinya ide membawa kambing kekampus lumayan baik." Kata Revan sambil tertawa. Aku kaget. Diaaaa mendengar obrolan kami?
"Kamu gak tidur?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Aku tidak bisa tidur kalau ada suara didekatku." Katanya.
"Apa Riyan romantis?" Tanyanya.
"Seperti apa romantisnya?" Lanjutnya. Aku diam.
"Apa bajingan itu masih begitu menguasai hatimu Put? Apa aku belum punya tempat yang cukup sampai lamaranku kau gantung seperti ini? Sampai kapan aku harus menunggu?" Tanyanya. Hening.
"Aku benci pertanyaanku tidak dijawab." Katanya kemudian masuk mobil. Aku menahan pintu mobil.
"Riyan itu playboy, makanya dia bisa sangat mengerti keinginan cewek dan romantis. Kamu dan Riyan itu beda Mas. Kalian mempesona dengan cara kalian sendiri." Kataku sedikit glagepan.
"Tapi pesonaku masih kalah dengan pesonanya." Sahutnya cepat. Aku menggeleng.
"Kamu bukan lagi mempesona, tapi aku butuhkan. Seperti aku membutuhkan keluargaku untuk mendukungku." Kataku semoga saja meredakan marahnya.
"Lalu?" Tanyanya. Aku tahu maksudnya masih seputar lamaran.
"Lalu bekerjalah. Kamu akan terlambat." Kataku. Ada kekecewaan diwajahnya. Dia masuk mobil dan melambai kearahku. Apa sepenting itu menjawab 'iya'. Bahkan 'iya' ku tak berarti apapun. Kita harus menunggu kurang lebih satu tahun lagi bukan? Kakak ku menikah sebentar lagi. Kata orang jawa harus memberi jeda minimal setahun setelah kakak perempuan menikah. Lagipula.... aku juga masih sekolah.
***
Lagi memperbaiki bab bab awal yang lumayan acak acakan ternyata hahahaha....Ada beberapa yang aku tambahin karena terlalu pendek boleh dibaca ulang. Harap maklum yaa.... Aku baru dua kali nulis novel hihihi. Luph yu all....