I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 95



Aku masuk mobil dengan sebal. Revan duduk dikemudi dan menjalankan mobilnya.


"Aku bisa laporkan ini tindakan pencurian." Kataku sebal.


"Laporkan saja polisinya ada disampingmu." Jawab Revan santai.


"Termasuk penguntitan dan perselingkuhanmu!!!!." Kataku dengan nada semakin meninggi.


"Laporkan kalau ada buktinya pasti di proses." Jawab Revan masih santai.


"Oh yaa.... tentu aku akan mudah membuktikannya. Hotel kecil yang menyediakan snack, tapi tidak menyediakan sarapan itu ide yang bodoh. Dan ......meninggalkan istri yang masih telan*jang kekamar wanita lain itu baji*ngan." Kataku. Luruh sudah air mataku. Aku tidak berencana menangis, tidak sama sekali, tapi aku gak kuat. Ini terlalu menyakitkan. Tumpah sudah apa yang kutahan dua hari ini.


"Sedang apa kau eh? Reuni juga? Sudah lama tidak berbagi keringat? Sampai sampai harus bersih bersih kekamar mandi?!!" Kataku sesenggukan. Dia diam. Mode diam yang menyebalkan.


"Jawab!!! Kau bingung menyusun kalimat pembenaran!!!!" Bentaku. Dia melirikku, kemudian menepikan mobilnya.


"Aku jawab, tapi dengarkan sampai selesai. Jangan menyela." Kata Revan mengambil nafas dulu.


"Nada melaporkanku atas tindakan pemerkosaan beberapa tahun lalu. Perbuatan yang kami lakukan dahulu dianggap Nada pemerkosaan. Tapi laporannya sebenarnya sangat lemah. Aku dengan mudah mematahkannya." Cerita Revan. Walaupun Revan yakin menang, dia akan menghadapi sidang yang menyulitkan nanti. Jika Nada tidak dengan senang hati mencabut laporannya.


"Belum cukup, Nada melakukan percobaan bunuh diri setelah itu. Bunuh diri yang dia rekam dan disebarkan diakun sosmednya. Menyebut kalau aku yang menyebabkan ini. Menyebutkan pangkat dan jabatanku sebagai polisi. Bahkan dimana aku ditugaskan. Nada ingin menarik simpati publik agar viral. Untuk mempermalukan aku juga. Itu sebabnya aku pergi setelah pulang tugas." Jelasnya lagi.


Revan menemui Nada dirumah sakit. Nego secara persuasif agar Nada mau berhenti, atau mau lanjut dengan saling lapor. Nada marah, menumpahkan jus dikaos Revan sambil menamparnya.


"Aku merekamnya dengan kamera kecil. Kujadikan itu bukti tambahan. Juga kasus baru untuk melaporkan Nada. Dia akan rugi berurusan denganku. Tahu betul aku bukan orang yang mudah dikalahkan. Nada akhirnya menyerah, walaupun dengan perdebatan panjang. Kami berdamai dengan perjanjian diatas materai." Kata Revan. Aku yakin perjanjian itu penuh tekanan dari Revan.


"Jadi kamar yang kau dengar itu kamar rumah sakit. Dan aku bersih bersih karena bajuku kotor. Bukan habis berbagi keringat. Mungkin Nada juga sengaja melakukannya. Dia berhasil kali ini, karena kamu terpancing." Cerita Revan.


"Aku juga heran dengamu, Dek. Biasanya logikamu bagus sekali. Bahkan saat dihotel pun kau menyadari kejanggalannya. Tapi kenapa hanya berbicara dengan Nada ditelpon, kau langsung kabur dari rumah." Kata Revan. Dia nyekikik sendiri. Aku pukul lengannya.


"Kau tahu rasanya ditinggal saat masih telan*jang. Kemudian menelfon suamimu, tapi yang ngangkat setan betina mantan suami. Bilang dikamar lagi. Bersih bersih lagi. Logika mana yang jalan Mas???? Yang ada aku ingin mencekikmu dan mencekik setan betina itu!!" Kataku berapi api. Revan memperhatikan aku lekat.


"Ahhhh.... aku senang sekali dicemburui oleh Nyonya Revan. Kau benar benar jatuh dalam cintaku Sayang. Aku bersumpah untuk menenggelamkanmu dalam lautan cintaku selamanya." Kata Revan dengan muka ceria. Aku jadi malu. Benar katanya. Otakku buntu karena cemburu. Harusnya bisa saja aku vidio call dulu atau mendatangi lokasi. Bukan ujug ujug minggat begini. Ah..... Iya aku terlihat bodoh sekali. Hihihihi.


"Sejak kapan juga kamu pandai menggombal?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"itu bukan gombal, tapi curahan isi hati. Kau harus bisa membedakannya Dek." Kata Revan.


"Lalu, apa yang terjadi dengan vidio itu?" Tanyaku.


"Pulanglah aku mohon. Aku lelah menghadapi ini sendiri. Ulah Nada saat pekerjaanku sedang sibuk sibuknya. Aku.... sedikit pusing. Aku juga tidak punya niat memperistri orang yang membuatku menghadapi masalah sebesar ini. Kau tidak perlu takut aku punya istri kedua." Kata Revan lagi. Tangannya masih menggenggam tanganku. Mukanya memang terlihat pusing. Dia terlihat lebih kacau dari biasanya.


Hening beberapa saat....


"Kau benar Dek, tidak perlu anak band untuk jadi baji*ngan. Siapapun bisa jadi Baji*ngan termasuk aku, tapi, maukah kau memafkan aku? Menerima kenyataan masa laluku? Seperti.... kau masih menyukai Riyan, walaupun kamu tahu dia baji*ngan. Mau kah kau juga melakukannya untukku? Aku mohon." Kata Revan getir.


"Apa lagi? Apa lagi yang kau lakukan dulu Mas? Jujur padaku, sebelum aku kecewa dengar dari orang lain." Kataku.


"Banyak, banyak. Aku bukan super hero yang selalu hadir dengan kebaikan. Aku juga bukan orang yang selalu baik. Masa laluku banyak kesalahan Dek. Mungkin aku tidak jauh beda dari Riyan. Hanya saja aku bukan bandar dan pencari mangsa disindikat perdagangan wanita." Kata Revan menerawang. Aku merinding. Haaahh..... Selama ini aku terlalu mengaguminya sebagai sosok yang cerdas, dingin, dan baik. Iya, Revan itu manusia biasa. Pasti punya kesalahan dan keburukan.


"Tapi aku janji untuk jadi sebaik baiknya suamimu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik dan setia kepadamu." Kata Revan sambil menarikku mendekat. Mencium bibirku dengan rakus. Ciuman penuh kerinduan. Aku merindukannya, walau hanya terpisah beberapa hari. Dia melepaskannya saat kami sudah sama sama menginginkan lebih. Suhu tubuh kami sama sama memanas bersamaan.


"Sekarang ciuman saja hanya akan membuatku semakin pusing." Kata Revan. Aku tertawa. Dia memandang wajahku lama.


"Kuanggap tawamu itu maaf darimu. Maaf untuk semua yang terjadi dan semua kesalahanku dimasa lalu." Kata Revan. Menciumku sekilas dan menjalankan mobilnya.


"Aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Aku akan melakukan tugas diluar kota. Kau mau pulang kerumah Ibu, atau pulang kerumahku?" Tanya Revan.


"Tugas kemana? Ngapain?" Tanyaku.


"Kekota xxx. Aku bekerja sama dengan kepolisian disana. Mungkin akan butuh dua atau tiga hari." Jelas Revan singkat.


"Kerumah Ibu dulu. Dia akan nyariin kalau langsung kerumah Bapak." Kataku. Dia manggut manggut.


"Darimana kamu tahu aku ada dipemancingan itu dengan teman temanku?" Tanyaku. Dia tersenyum.


"Apa aku belum bilang kalau suamimu ini lulusan terbaik? Mencari wanita yang aku sayangi itu urusan mudah." Katanya. Aku tertawa. Dia tengil mirip adiknya kalau begini.


Hpnya berbunyi. Dia mengangkatnya dengan santai. Mendengarkan sejenak, kemudian memberi instruksi singkat.


"Aku mampir kantor sebentar yaa kamu ikut saja. Tidak akan lama." Kata Revan padaku. Aku mengangguk saja.


Kami sampai kantornya beberapa saat kemudian. Revan seperti melakukan rapat dengan beberapa temannya. Aku menunggu dimejanya sambil memainkan hp. Sepii..... Diruangan itu hanya ada aku. Kepolah aku mengeledah mejanya hihihihi. Kubuka laci dipojok meja itu. Isinya macam macam. Dan sangat berantakan. Tanpa sadar aku merapikannya. Baru setengah rapi, Revan sudah kembali.


"Haaaaa, kau masih saja suka beres beres Dek. Ayo pulang. Aku sudah selesai. Biarkan saja seperti itu, nanti juga berantakan lagi." Kata Revan.


"Setidaknya semua barang tidak tercampur menjadi satu Mas." Kataku. Tidak didengar dia menggandeng tanganku keluar kantor.