I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 76



Hari lamaran tiba. Aku dirias sederhana sama tukang rias langganan didalam kamarku. Yang sudah tiga kali ini menangani nikahan di rumah ini. Dengan kebaya cantik yang jariknya kembaran sama kemeja Revan.


"Jadi Mbak sama calonnya yang dulu? Yang gagah, kerjanya serabutan?" Tanya Mbak Tukang Rias. Mas Dipo menyemburkan sarapannya. Dia sarapan didepan TV. Kami sekeluarga yang mendengarnya ikut tertawa. Teringat peristiwa beberapa tahun lalu saat nikahan Mbak Sasa.


"Dia polisi Mbak, kerjanya polisi sebenarnya." Kata Ibu membenarkan. Mbak Rias manggut manggut ber Ow ria.


Karena dari pihak Revan hanya sedikit orang yang datang, maka Ibu juga menyesuaikan dengan tamu yang hadir dari pihak keluargku. Kami hanya mengundang Pak De satu dari pihak Ayah dan Pak De satu dari pihak ibu. Tetangga kiri kanan, sohib Ayah yang katanya sudah temenan dari jaman sebelum masehi Pak De Bass, dan perwakilan pihak WO. Acara lebih sederhana dari pada lamaran dua kakaku dulu.


Revan dan rombongan datang tepat waktu dengan tiga mobil. Aku kaget saat dia datang dengan penampilan baru. Rambutnya dipotong cepak. Brewoknya hilang entah kemana. Dia.... rapi. Lebih kaget lagi siapa yang hadir bersamanya. Bapaknya, atasannya Pak Sidiq dan Bu Nirmala, Pak Joko, bapaknya Ine dan teman satu timnya termasuk Boby minus Ine. Kemana Ine? Entahlah, mungkin sengaja tidak diajak takut jambak jambakan hahahaha. Yaa.... kalau dipikir pikir mereka ini keluarga Revan.


Acara berlangsung lebih hangat. Lebih kekeluargaan. Acara tukar cincin berlangsung lancar juga acara foto foto. WO memasang dekor sederhana disudut ruang tamu rumahku. Teman teman satu tim dengan Revan ternyata orang yang narsis hahaha. Mereka lebih heboh berfoto dari pada kami yang lamaran. Aku baru ini tahu tangan Revan juga bisa berkeringat saat dia memasangkan cincin. Namun tangan kami sama sama berkeringat hahaha. Yang jelas hari ini dia tampan. Aku suka.


"Jadi pernikahan akan diadakan setengah tahun lagi." Kesimpulan Pak De ku dari pihak Ayah. Beliau bertindak sebagai jubir dari pihak keluargaku. Mereka mengangguk bersama. Setuju dengan yang kesimpulan Pak De.


"Tiga bulan atau sebulan lagi tidak apa apa. Saya siyap." Revan berkomentar. Aku menyikut perutnya disampingku. Gila apa!! Syarat menikah dengannya saja berlipat, malah mau dipercepat.


"Sabar lah Van, sabar. Pernikahan itu banyak yang diurus, nanti keteteran kalau terlalu dekat." Kata Bapak.


"Pak Revan mau buru buru banget. Mau ngapain sih Pak??" Boby nyeletuk.


"Pakai nanya Bob, kaya gak tahu aja." Cletuk temannya yang lain. Mereka pun tertawa.


"Lagi pula syarat menikahnya juga lebih banyak. Kalian harus nikah kantor dulu. Putri juga harus ikut serangkaian tes. Nanti tidak terkejar kalau terlalu dekat." Kata Pak Sidiq. Aku ingin memeluk beliau karena itu sangat benar.


Aku sudah pusing memikirkan daftar syarat yang diberikan Revan dari kemarin kemarin.


Dipernikahan pihakku akan diadakan secara tradisional. Ijab dan pesta setelah ijab yang sederhana. Sedang pihak Revan akan diadakan secara militer. Dengan acara pedang pora. Haduhh setahuku acara itu mantennya harus baris berbaris. Hahahaha aku bisa gak yaa....


"Nanti semua gaun dan pakaian manten tanggung jawab Saya." Kata Bu Nirmala.


"Ijinkan Saya ikut repot menyiapkan pernikahan putraku Revan." Lanjut Beliau sambil mengelus pundak Revan yang ada disampingnya. Revan mengambil tangan Bu Nirmala dan mengecupnya.


***


Acara beranjut dengan makan makan dan ramah tamah.


"Apa anda Mas Har dan Mas Bass alumni SD xxx?" Tanya Pak Sidiq saat acara inti sudah selsai. Dua pria sohiban itu saling berpandangan. Mereka kompak mengangguk. Mukanya juga kompak terlihat heran.


"Aku Sidiq krempeng kalian ingat?" Tanya Pak Sidiq lagi. Mereka berdua kompak lagi bengong mengingat ingat.


"Adik kelas yang dulu sering dipalakin waktu SD Har." Kata Pak De Bass sambil menepuk pundak Ayah. Ayah membulatkan matanya seolah teringat. Kemudian tepok jidat pelan.


"Anda apanya Revan?" Tanya Ayah.


"Saya... anggap saja ayah angkatnya Revan. Dia sudah dekat dengan saya sejak pendidikan." Jawab Pak Sidiq.


"Pendidikan ..... polisi?" Tanya Ayah. Pak Sidiq mengangguk.


"Kamu gak ada niatan nangkap kita kan Diq?" Tanya Pak De Bass konyol. Pak Sidiq tertawa.


"Tentu saja tidak Mas. Itu kan kejadian dulu. Masak iya aku memperkarakan Besanku sendiri, karena dendam kanak kanak." Kata Pak Sidiq.


"Lucu ya takdir ini. Dulu ayahnya sering minta uang sama saya, sekarang saya meminta anak gadisnya untuk anak saya. Anak ragilmu podo Ayahe, Mas. Bakat keno masalah." Kata Pak Sidiq (anak terakhirmu sama seperti ayahnya, Mas. Bakat terkena masalah) membuat ayahku mengerutkan dahinya. Aku berdoa Pak Sidiq tidak menceritakan masalah masalahku. Revan dan teman temannya justru tertawa. Mereka pasti hapal benar aku sering berurusan dengan polisi.


Acara menjadi reuni kecil untuk tiga orang tua itu. Bercerita ini dan itu. Tentang teman teman SD dulu, guru mereka, bahkan cewek tercantik dimasa itu..... Tentang Nur juga sedikit diceritakan. Pak Sidiq heran dengan pertemanan Ayah dan Pak De Bass yang awet dari mereka kanak kanak sampai tua.


"Kamu cantik." Bisik Revan saat semua orang menemukan teman ngobrolnya.


"Kamu mau ngcak ngacak bibirkukan?" Bisiku balik. Dia tersenyum.


"Tunggu enam bulan lagi sayang. Bukan hanya bibirmu yang aku acak acak!" Ancam Revan. Aku jadi bergidik ngeriii. Helooo dia ciuman saja sampai seperti itu apa lagi yang lain.


Mas Dipo heboh sendiri saat mengobrol dengan teman teman Revan.


"Jadi kalian semua polisi?" Tanya Mas Dipo. Mereka mengangguk.


"Walah Buk, kalau mereka pakai sragam semua pasti kita dikira kena grebeg. Bukan lamaran." Kata Mas Dipo pada Ibuku. Semua orang tertawa.


***


Sore hari setelah lamaran. Aku baru selesai mandi sore. Revan sudah nyengir didepan TV ngobrol sama Mas Dipo.


"Ngapain balik lagi?" Tanyaku heran.


"Ayo keluar sebentar. Kita belum menghabisan waktu berdua. Aku.... masih kangen." Kata Revan.


"Ehem..... hem eehheemm." Mas Dipo langsung berdehem.


"Kalau batuk minum obat Mas." Kata Revan sambil nyekikik. Mas Dipo langsung mencebik.


Kami pergi kemakam Ibu dan Riyan dulu. Bercerita tentang apa yang terjadi tadi.


"Lamaran berlangsung sukses Bu, Do'akan lancar sampai hari H. Aku juga mau kau merestui mantan pacarmu kunikahi Yan." Kata Revan pada dua makam berdampingan itu. Aku merasakan haru tiap kali Revan berbicara pada makam. Kebiasaannya ini adalah sisi sentimentil Revan yang lain. Yang biasanya terkenal garang, cerdas, dan cekatan.


Kemudian Kami menghabiskan minggu malam itu dengan kencan ala pasangan pada umumnya. Nonton, makan kemudian pulang lagi kerumah.


"Aku bersumpah akan menghamilimu kalau kau berencana menggagalkan pernikahan nanti, ingat itu." Ancam Revan saat kami pulang kerumah. Aku tertawa.


"Aku tidak akan menggagalkannya Mas. Aku juga menginginkannya." Jawabku.


"Bagus, jadilah istriku. Jangan pernah berfikir pergi dariku." Kata Revan. Semakin hari sifat posesifnya semakin terlihat.