I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 45



Aku heboh mencari apotik sepanjang jalan. Apotik atau klinik juga boleh. Aku ngeri melihat mukanya. Pasti semua baru terasa nyerinya. Walaupun dia terlihat anteng. Luka itu harus segera dibersihkan. Mereka bergumul ditanah. Takut lukanya infeksi karena kotor.


"Kok gak ada apotik atau klinik ya dari tadi tak lihatin. " Kataku cemas.


"Kamu mau apa?" Tanya Revan santai. Lah orang ini gimana? Apa dia gak merasa sakit babak belur kayak gitu? Aku aja yang lihat ngeri. Pelipisnya robek, bibirnya berdarah, sekitar tulang pipinya kemerahan. Buku buku jarinya ternyata lecet. Dan dia tanya aku ngapain cari apotik??


"Buat ngobatin lukamu Mas. Mau apa lagi?" Tanyaku ngegas sangking gimana gitu. Dia kaya gak ngerasa habis gelud.


"Ada tuh kotak obat dibagasi." Jawabnya santai.


"Kenapa gak bilang dari tadi!!" Aku hampir menjerit mengatakannya. Ini orang merek apa???!!! Dia justru heran melihatku, tapi tidak mengatakan apapun. Sepertinya luka luka itu memang tidak terasa sakit atau mengganggu.


"Berhenti dulu. Biar aku ambil." Kataku. Revan menepikan mobilnya pelan pelan. Aku turun cepat membuka bagasi. Prepairnya lengkap sekali. Satu stel baju ganti, alat mandi, sendal, payung sampai jas hujan dan juga kotak obat lengkap. Walaupun semuanya acak acakan tidak tertata. Khas Revan. Semua ada, tapi asal masuk.


Aku mengambil kotak obat kecil itu. Kubersihkan dulu lukanya dengan air mineral yang ada di jok depan. Dia diam seperti tidak ada yang sakit. Kemudian kutotol obat merah di beberapa tempat. Ternyata dia manusia biasa. Mengaduh sampai memegangi tanganku yang masih memegang kapas.


"Sakit yaa.. tahan sebentar." Kataku melepas cengkeraman tangannya di tanganku.


"Kamu terlihat cantik kalau panik seperti ini." Dia masih bisa ngegombal. Aku diam saja. Sedikit sebal karena gombalannya datang disaat yang sama sekali tidak tepat.


"Ini perlu dibawa kekelinik. Minimal dapat obat nyeri. Aku yakin ini akan membiru." Tunjukku pada tulang pipinya. Aku beralih mengobati buku buku jarinya. Dia diam tidak menjawab. Mengamatiku wajahku dengan teliti.


Tanpa terasa airmataku menetes. Aku membayangkan betapa sakitnya. Aku khawatir dia kenapa kenapa. Kalau ada yang luka dalam gimana? Dan yang paling membuat beban dipikiranku adalah sedikit banyak perkelahian itu karena aku penyebabnya.


"Heiii aku yang luka kamu yang nangis?" Tanyanya heran.


"Aku takut kamu kenapa napa. Kalau tahu akhirnya begini aku gak mau pergi reuni. Aku gak tahu Riyan datang. Tomy berkali kali kutanya bilang Riyan tidak datang. Nyatanya dia datang." Kataku. Menyensor kata kata Tomy saat aku ambil minum.


"Apa perutmu sakit? Dadamu sakit? Andakah yang sakit selain lebam dan lecet ini?" Tanyaku sambil memegangi pundaknya. Dia menggeleng.


"Ini cuma luka kecil. Aku biasa seperti ini." Katanya santai. Mengambil tanganku dipundaknya dan menciumnya.


"Lagi pula ada atau tidaknya reuni ini. Kami akan tetap adu jotos kalau ketemu langsung." Katanya.


"Kenapa?" Tanyaku heran.


"Pekerjaan kami bersinggungan. Seperti yang keluargamu tau dia bandar narkoba. Aku polisi narkoba. Operasinya berpusat dikota ini, walaupun juga menyebar dibeberapa wilayah. Sudah satu setengah tahun aku menelusuri kelompoknya. Tapi dia dan ayahnya itu licin. Bahkan menyuap beberapa polisi agar mereka bisa lolos. Singkat cerita aku di bantu Pak Sidiq dan beberapa orang lainnya membongkar sogok menyogok itu. Beberapa polisi dipecat secara tidak hormat. Dia tidak lagi punya kaki tangan didalam kepolisian. Aku merepotkan ruang geraknya dalam beberapa bulan ini. Kami sama sama tahu identitas masing masing. Tapi aku belum cukup bukti untuk menangkapnya." Jelas Revan panjang lebar.


"Pekerjaanmu berat sekali..... juga berbahaya. Bagaimana kalau mereka menyakitimu?" Kataku. Dia menggeleng.


"Ini seru, asik dan menantang. Aku juga bukan orang yang mudah tersakiti Dek." Katanya.


"Asik apanya? Kamu babak belur kerja dari subuh ketemu subuh, belum luka tembak dan resiko lainnya." Aku ngos ngosan menjelaskan. Dia senyum kalem. Bibirnya sudah makin terlihat membengkak.


"Ayo cari klinik." Kataku lagi.


"Tidak perlu. Aku hanya perlu pulang dan tidur." Katanya justru akan bersiap menjalankan mobil.


"Ringan dari mana? Kamu babak belur seperti ini kamu bilang ringan!!! Aku yakin luka luka itu akan makin parah. Kemudian nyeri, belum lagi penyembuhannya. Akan butuh waktu lama untuk bisa normal seperti sedia kala." Aku sudah merepet ngomel ngomel. Dia malah senyum senyum gak jelas.


"Andai bibirku gak bengkak aku bisa menghentikan omelan kamu dengan cepat." Katanya. Masih berfikiran mesum disaat genting.


"Ganti baju sana. Bajumu kotor." Kataku menunjuk plangkan pom bensin disebrang jalan. Yang baru saja kami lewati. Dia menggeleng.


"Nanti saja dirumah. Ayo pulang." Katanya keras kepala. Aku geregetan juga sama dia. Sudah keras kepala, sok gak sakit lagi.


"Manis sekali caramu mengkhawatirkan. Aku ingin dikhawatirkan seperti itu setiap hari." Katanya. Aku diam. Sepertinya aku tahu mau kemana kata katanya. Sudah beberapa kali dia seperti ini untuk memancing lamarannya yang kugantung. Hening cukup lama.


"Tidak dijawab?" Tanyanya lagi.


"Kamu tidak bertanya. Itu kalimat berita bukan pertanyaan." Elakku cari alasan yang paling logis.


"Kamu yang pura pura gak tahu." Ejeknya. Aku diam.


"Kenapa eh, kamu belum move on dengan Riyan? Apa pesona bajingan itu? Apa yang sepesial darinya sampai aku terus terusan dikalahkan." Katanya mulai panas.


"Kalau aku bilang iya sekarang pun gak ada gunanya Mas, aku masih sekolah, kakaku baru menikah. Kamu tahu alasanku, tapi terus memojokkanku seolah aku yang salah." Kataku gregetan juga.


"Aku mau jawab kalau udah lulus. Satu satu mikirnya. Belum juga aku jadi sarjana." Kataku.


Dia menghembuskan nafas kasar.


"Entah ini benar atau salah. Hatimu masih mencintai Riyan kan. Aku merasakannya begitu." Katanya. Aku diam. Mungkin benar kata katanya, mungkin juga salah aku bingung dengan hatiku. Belum bisa memastikan lebih lanjut.


"Tidak berani menjawab yaa.... haaa apa aku bisa bilang kalau ini menyebalkan? Apa aku kurang sabar kepadamu Put?" Tanyanya dengan nada getir. Aku masih diam tidak menanggapi. Mencari cari chanel radio dimobilnya. Dia malah mematikannya. Sekarang dia yang ngajak ribut dengan aku.


"Apa kau serius ingin hidup selamanya denganku? Kau serius mencintaiku? Apa aku bisa yakin kalau hubungan ini akan berakhir dipelaminan? jawab aku! jawab Put!" Nadanya sudah meninggi.


"Karena aku menganggap hubungan ini seserius pekerjaanku. Aku menganggapmu calon istriku. Bukan lagi pacar atau gebetan." Katanya memperjelas perasaannya. Aku takut, dia menyeramkan kalau begini.


"Kalau aku tidak serius untuk apa aku mengajakmu kemana mana? Memperkenalkanmu pada keluarga besar, mengajakmu diresepsi Mbakku. Untuk apa?!!" tanyaku mulai dengan nada tinggi juga.


"Karena terpaksa. Karena keluargamu yang mendekatkanku. Mereka lebih membuka hatinya daripada kamu sendiri. Aku seperti bodoh, berdiri didepan pintu hatimu yang berkabut. entah tertutup entah terbuka." Katanya...


bersambung....


***


Berharap banyak polisi berdedikasi seperti Revan. Saya yakin masih ada. Berharap mereka kembali mendapat kepercayaan tinggi dari masyarakat. Aku mentok nulis kalau lihat berita oknum polisi yang viral itu. Insprasiku tentang polisi yang baik, kenyataannya didunia nyata ada yang seperti itu. Aku selalu menghindar mendengarnya bestie, agar khayalanku tentang Revan yang selalu setia pada pekerjaannya tidak terganggu.


Untuk para suami yang bekerja sebagai abdi negara.... terimakasih sudah berjuang untuk keluarga. Hasil keringatmu kami makan, menjadi daging dan otak untuk anak anakmu. Kalian gagah, sangat gagah apalagi dengan seragam yang menempel sempurna... apapun pangkat yang kau sandang di pundak atau dikerah bajumu. Jadilah amanah dan contoh yang baik untuk putra putrimu. Peluk cium dari kami para istri, yang selalu berdebar setiap kamu melakukan tugas malam...... halah aku kie omong opo bestie.....