
Aku sengaja mau beres beres dirumah Revan saat hari kerja. Aku jamin dia tidak bisa menemani. Lagi pula jatah liburku sekarang memang saat hari kerja. Tidak boleh libur saat weekend.
Aku naik ojol kerumah Revan. Nanti pulang bisa naik mimin. Tidak banyak yang mau kubawa. Beberapa surat penting dan laptop pribadiku yang biasa kubuat menulis novel diaplikasi biru. Aku kirim pesan pemberitahuan pada Revan saat dijalan.
'Aku mau ambil barang barang dirumahmu sekarang.' Ketikku pada Revan.
'Ok.' Dijawab cepat, tapi singkat.
Aku turun dari ojol. Mengamati sekeliling sebentar. Ada rindu yang menyelisip didadaku. Suasana kerja dibengkel kayu. Suara berisik, aroma sebuk kayu, lem, pelitur dan cat kayu. Aku kangen. Aku kangen suasana kekeluargaan. Candaan tawa receh para pekerja, lagu campursari atau dangdut yang kadang membuat telingaku penuh. Senyum tulus para pekerja dan Bapak.
"Nduk," Bapak memanggilku. Beliau menyongsongku dan kami berpelukan. Aku juga kangen pria tua yang gak ribet ini.
"Apa kabar? Bapak kangen, Bapak kangen suara kamu dirumah, Bapak kangen masakan kamu. Bapak keteteran kerja tanpa kamu." Kata Bapak sambil mengusap punggungku.
"Aku juga kangen Bapak. Aku masakin kapan kapan, nanti aku bawa kesini." Kataku. Bapak melepas pelukan kami. Senyum diwajah Bapak memudar.
"Kamu gak kembali kesini?" Tanya Bapak. Aku menggeleng. Raut kecewa Bapak membuatku sedih.
"Aku hanya mau ngambil barang barang pribadi aku Pak." Kataku. Bapak langsung terlihat sedih.
"Tidak bisakah kamu kembali bersama Revan Nduk? Bapak sudah menyayangi kamu seperti anak Bapak sendiri. Siapa yang menemani Bapak bekerja?" Tanya Bapak sedih. Aku menggeleng beberapa kali. Tidak bisa berkata kata. Mataku sudah mengembun. Sebenarnya tidak tega meninggalkan Bapak, dengan segala keribetan mebel seorang diri.
Bude Marni juga memelukku.
"Mbak, Ya Allah Bude kangen sama Mbak Putri. Bude termimpi mimpi Mbak Putri pulang kerumah. Mbak Putri apa kabar?" Tanya Bude Marni sambil bercucuran air mata.
"Aku baik Bude, aku baik. Makasih buat perhatiannya." Kataku. Alya bergantian memelukku.
"Mbak Putri jahat ihhh. Aku sendirian pusing disini. Bapak juga. Kita keteteran kerja kalau begini." Kata Alya. Aku cuma senyum senyum menanggapi. Para pegawai juga menanyakan kabar padaku. Aku merasa disayang semua orang.
"Bude, aku mau kekamar." Kataku pada Bude Marni setelah kangen kangenan sama keluarga keduaku.
"Kuncinya dibawa Mas Revan Mbak." Kata Bude.
"Kami semua dilarang masuk kamar kecuali atas ijin Mas Revan. Kalau mas Revan pergi, kunci kamar selalu dibawa." Lanjutnya. Aku kedepan lagi menemui Bapak. Meminta kunci cadangan.
"Sudah diminta Revan Nduk, Bapak gak bawa kunci cadangan kamar kalian lagi." Kata Bapak. Menyebalkan!! Dia berulah lagi. Aku menelpon Revan berkali kali. Tidak diangkat. Kutulis pesan tidak dibaca. Setan!!! Aku uring uringan sendiri.
Bude Marni mengambilkanku minum.
"Duduk Mbak, minum dulu." Kata Bude Marni meletakkan jeruk dingin dimejaku. Aku duduk dan meminumnya.
"Mbak Putri gak mau memafkan Mas Revan?" Tanya Alya disebelahku. Aku menggeleng.
"Mas Revan hancur banget lho mbak. Hobi barunya rokokan terus sepanjang hari. Duduk melamun sambil mandangin foto.... foto usg Dek Satria disini sampai berjam jam. Pernah hampir bikin kebakaran, karena tetap merokok padahal dekat dengan serbuk kayu. Kaya sering hilang gitu konsentrasinya. Gak Mas Revan yang biasanya lah." Kata Alya.
"Mungkin lagi pingin jadi crobong asap Al." Kataku santai. Hatiku perih, namun kucoba menyembunyikan.
Aku masuk kedapur meletakkan gelas jerukku ditempat cuci. Aku kangen dapur ini. Tempat aku belajar memasak dan belajar menjadi istri. Kubuka lemari dapur yang biasanya berisi persediaan makanan. Masih banyak bawang goreng yang dulu dibelikan Revan. Aku gak kuat menahan air mata. Aku jadi ingat Satria. Duduk merosot dilantai dapur sesenggukan.
"Yang sabar ya Mbak. Semua sudah digariskan. Hidup memang seperti itu. Tidak semua yang kita mau didapatkan. Tapi percayalah semua sudah dalam porsi kemampuan kita." Kata Bude Marni bijak. Kata katanya begitu meresap dan mengena. Benar, kita semua diberi cobaan sesuai kemampuan kita. Tidak akan barlebih. Aku tersenyum dan menyeka air mataku.
"Makasih Bude, Bude menguatkanku." Kataku.
"Bude cuma niru kata kata Mas Revan Mbak...."
Bude Marni cerita kalau Bapak sempat sakit ditinggal Satria dan aku. Beberapa malam mengigau teriak teriak memanggil Satria dan aku. Sampai akhirnya beliau dirawat dirumah sakit beberapa hari.
"Mas Revan montang manting mirip kipas angin Mbak. Antara rumah, mebel, kantor polisi, dan rumah sakit. Trus bude dengar kata kata Mas Revan itu. Buat Pak Aji saat beliau pulang dari rumah sakit. Bude terngiang kata kata bijak Mas Revan sampai sekarang. Bude pikir itu benar." Kata Bude Marni mengakhiri kisah. Hatiku perih dan berdesir. Bukan hanya aku yang kehilangan dan sedih. Keluarga ini juga hancur karena kepergian Satria.
***
Setengah hari aku disana. Gosip sana sini dengan Alya, Bude, Bapak, juga para pegawai cowok. Main main kayu dan bercanda. Revan datang dengan motor barunya. Motor cc besar berwarna hitam. Dia membuka helemnya. Seolah gerakan itu melambat dimataku. Dia.... keren. Bodoh!!! Tidak ada yang keren dari laki laki itu. Aku perang batin sendiri.
Rambutnya cepak terpotong rapi. Juga jenggotnya hilang entah kemana. Dia tersenyum manis kearahku. Seragam lengkap polisi melekat ditubuhnya. Tertutup jaket flanel hitam buluk kesayangannya.
"Maaf, aku kekantor sebentar tadi." Kata Revan saat tiba di dekatku. Aku sedang ngecek finishing meja estetik akar dari sebuah pohon.
"Minimal balas pesanku! Seneng banget membuat orang jamuran!!" Bentakku sangking jengkelnya. Aku berlalu masuk rumah.
"Semangat Mas!!" Teriak para pekerja. Entah apa yang diisyaratkan Revan. Mereka tertawa dan bersuit suit.
"Mana kuncinya?" Tagihku saat dia ikut masuk rumah. Aku duduk disofa singgel ruang tamu. Dia duduk disandaran tangan sampingku.
"Ada syaratnya." Kata Revan santai. Aku menghela nafas kasar.
"Ambilkan saja laptopku dan surat suratku. Aku akan segera pergi." Kataku nego. Dia diam mematung. Aksi saling pandang terjadi.
"Baiklah baik, apa syaratnya?" Tanyaku menyerah. Kulkas satu ini kepalanya lebih keras dari batu.
"Mudah, berkencan denganku hari ini." Kata Revan sambil intens menatapku.
"Omong kosong!" Kataku berdiri mau meninggalkannya. Dia memegang tanganku dengan cepat.
"Bukankah aku masih suamimu Dek? Harusnya aku tidak usah meminta ini. Cukup mengajakmu pergi. Anggap saja kau memenuhi permintaan terakhirku sebelum... cerai." Kata Revan terlihat murung. Aku diam.
"Tunggu sebentar disini. Aku ganti baju dan kita pergi." Lanjutnya sebelum aku menjawab apapun. Dia membuka pintu kamar yang ternyata kuncinya menyatu dengan kunci motor.
Dia kembali dengan kaos dan celana jeans. Juga hodie yang tersampir ditangannya.
"Mau naik motor yang baru? Aku belum mencoba boncengannya pada siapapun." Katanya. Aku diam mengikutinya. Dia berpamitan pada Bapak. Beliau menepuk pundak Revan berkali kali.
"Rebut kembali Lee." Kata Bapak.
"Ini akan lebih sulit dari mengejar penjahat manapun." Kata Revan sambil menoleh kearahku yang ada di belakangnya. Aku cemberut sambil mencium tangan Bapak. Jelas sekali Bapak mendukung Revan walaupun dengan segala kesalahannya. Tentu!! Mereka bapak dan anak.
Motor melaju kencang menembus jalanan yang lengang siang itu. Dia tidak mengendarai dalam kecepatan yang rendah. Walaupun tetap berhenti saat lampu merah dan taat aturan, tapi kecepatannya diluar wajar. Haaa untung Revan yang didepan, kalau orang lain sudah kupukul kepalanya karena takut. Aku masih bisa percaya dengan orang didepanku ini. Dia tidak akan bermaksud mencelakaiku.