I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 89



Namanya juga Revan. Pria cerdas dengan segala akal. Sudah dilarang tidak melakukannya dua hari. Dia terima, tapi mengrayangiku sepanjang malam. Siapa yang tahan.


"Mas!! Ya jangan gini dooong." Aku protes.


"Aku cuma pegang Dek, gak gituan boleh kok. Aku kan masih dihukum." Katanya santai.


"Tapppiii..... awhh....... Masss......" Kataku semakin absrud. Akhirnya kubuka bajuku sendiri.


"Kamu yang minta ya Dek." Kata Revan sambil tersenyum menang. Iya aku yang minta!! Dia menggrayangiku sampai seperti ini. Masak iya tidak dilanjutkan. Dasar licik!!!


***


Aktifitasku dimulai sebagai istri dan sebagai admin. Pekerjaanku dirumah. Enak sekali. Awalnya aku biasa saja mengikuti ritme hidup Revan dan Bapak. Makan beli, baju laundry, air galon. Lama lama tangan ini gatal juga. Makanan yang terus dibeli. Mau makan beli dulu. Porsinya segitu. Enak gak bisa nambah. Aku kangen sayur satu panci penuh dirumahku. Lama lama ku acak acak juga dapur rumah Revan.


"Mas, ayo belanja. Aku butuh beberapa panci, juga stok bahan makanan." Kataku saat dia libur.


"Baik nyonya Revan, mau belanja kemana?" Kata Revan sigap. Untuk pertama kalinya aku berbelanja dengan suamiku. Enak ternyata. Kita yang pilih, dia yang bayar. Hahahaha.


Aku selalu vidio call Ibu kalau masak. Awalnya kacau. Lama lama aku terbiasa. Butuh perjuangan, tapi aku optimis bisa.


"Aku punya sesuatu buat kamu." Kata Revan sepulang kerja. Aku masih sibuk dengan laptopnya. Ngadmin diteras.


"Apa?" Tanyaku tanpa menoleh. Revan meletakkan kardus cukup panjang dihadapanku. Sebuah kardus tripod.


"Modal untukmu belajar memasak." Kata Revan. Perhatian kecil yang membuatku terharu.


Dia membeli kotak bekal sendiri. Dan memintaku mengisinya kalau aku masak pagi. Aaaa lucunya dia kerja bawa bekal makanan.


Lama lama dapur mereka penuh minyak dan bahan makanan. Aku nurut menerapkan sistem Ibu.


"Belanja seminggu sekali untuk sayur. Sayur dipotong potong dimasukkan wadah kedap udara yang sudah dialasi tisue bawahnya. Maka sayur sayur itu tahan lama. Daging di bagi per porsi masak. Tidak dicuci langsung masuk freser." Kata Ibu memberi ilmu turunan yang sangat berguna. Selain tidak keteteran waktu masak, juga menghemat uang belanja.


Karena dapur mereka berantakan itu, Revan dan Bapak memberiku uang belanja. Lha, gimana ini.


"Uang dari hasil mebel yang masuk rekeningku sudah cukup. Kalau dua orang memberiku ATM begini malah aku bingung dong." Kataku saat dua orang itu memberiku kartu ATM mereka.


"Biar Bapak yang nanggung uang blanja, uang kalian dikumpulkan untuk kepentingan yang lain." Kata Bapak.


"Gak bisa lah Pak, Putri itu istriku. Aku yang harus bertanggung jawab." Kata Revan. Mereka berdebat. Dua orang itu tidak mau mengalah. Sama sama keras kepala dan maunya harus dituruti. Kalau begini mereka itu mirip sekali. Hanya beda generasi.


"Sudah sudah, begini saja. Aku pakai uang dari Bapak untuk belanja bulanan. Uang dari Mamas untuk belanja sayur mingguan dan kebutuhan mendadak lain." Kataku menengahi. Akur. Mereka setuju. Aku juga beli mesin cuci baru. Mesin cuci lama mereka sudah rusak. Sekarang tidak perlu laundry. Irit dicuci sendiri.


Aku berusaha masak tiap hari. Mereka anteng saja kumasakkan. Cenderung senang. Walaupun kadang rasanya masih ngalor ngidul. Hahahaha tapi setahuku mereka jarang protes kalau gak keterlaluan. Aku senang. Seperti kebanyakan wanita yang memulai hidup baru dengan dukungan penuh.


***


Tiga bulan berlalu....


Aku mengupload hasil masakanku sebagai setatus terbaru. Pamerrrr bisa masak hihihihi. Sekarang masakanku bisa dibilang lumayan.


'Mau dong.....' Revan komen cepat.


'Sini pulang.' Balasku.


'Gak bisa banyak kerjaan.' Ketiknya dengan emosi sad.


'Ya udah, aku habisin berdua sama Bapak.' Balasku dengan emosi melet.


'Jahat yaaa.' Ketik Revan dengan emosi nangis berderet deret. aku tertawa. Dia memang lebih ekspresif kalau dichatting. Kuambil kotak bekalnya. Ini belum waktunya makan siang. Dia pasti suka kalau kuantar makan siang kekantornya.


"Bapak Putri kekantor Mamas sebentar ya." Kataku sambil mengacungkan tas bekal.


"Bapak antar yaa..." Kata Bapak sambil membersihkan serbuk kayu ditangannya. Bapak mertua satu ini mirip cadangan body guard. Gak pernah ngijinin aku kemana mana sendiri. Anaknya juga gitu. Sesibuk apapun mereka dengan senang hati mengantarkanku. Entah itu belanja kepasar, atau kesalon sekalipun. Aku jadi tambah manja kalau begini.


"Enggak mau, aku mau berangkat sendiri." Kataku cepat menuju motor. Bapak mengikutiku.


"Bapak antar gak papa Nduk, Bapak cuci tangan dulu." Mertua ngeyel mirip anaknya.


"Cuma kekantor Mamas sebentar Pak. Gak usah." Kataku maksa. Akhirnya diizinkan juga pergi sendiri.


Aku masuk kantor Revan. Orang di penjagaan depan senyum senyum saja. Menyapa tanpa menanyai kepentingan. Paling mukaku sudah viral disini gara gara banyak kasus sebelum nikah kemarin. Ruangannya ada diujung koridor. Aku mempercepat langkahku saat melihat Ine dan Boby keluar ruangan.


Aku menepuk pundak Ine. Dia terlonjak mirip lihat hantu.


"Puuuu Putri. Astaga kenapa kesini?" Kata Ine aneh.


"Revan didalam kan?" Kataku sambil menuju pintu.


"Eh, Put Put." Ine memanggil berusaha menggapai tanganku. Aku sudah ada didepan pintu ruangan mereka.


"Kamu tega Van!!! Kebangetan. Kamu tahu kan aku masih suka kamu. Kamu tahu aku masih virgin saat sama kamu. Kamu yang ngerusak aku. Kamu!!! Sekarang kamu tinggalin aku gitu....." Suara Nada parau. Dua tangannya berada dalam genggaman tangan Revan.


"Virgin katamu? Kamu lupa siapa menghianati siapa? Apa aku pernah menghianatimu dulu?" Revan memotong dengan sadis. Matanya lurus menatap Nada. Virgin? Darahku langsung berdesir. Mereka bersitatap dengan tegang. Nada sudah bercucuran airmata.


"Aku khilaf, aku gak sengaja. Apa kurang caraku minta maaf. Apa aku kalah cantik dari istrimu yang kekanakan itu." Kata Nada setengah berteriak.


"Tutup mulutmu!! Memang berapa kali khilafmu hah!!!! Pergi dari sini. Pintunya ada di sebelah........" kata kata Revan berhenti saat melihatku didepan pintu. Secepat kilat aku pergi dari pandangannya.


"Dek, Adek tunggu!!!" Teriak Revan padaku. Tidak aku perdulikan. Kulemparkan kotak makan Revan dalam pelukan Boby. Yang menerimanya dengan gelagepan. Aku berlari menyusuri koridor itu dan keluar kantor. Masih kudengar teriakan Revan marah pada Ine dan temannya yang lain.


"Siapa yang mengijinkan istriku mendekat?!!!...." Teriak Revan. Entah apa lagi. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak nangis dijalan menuju parkiran. Polisi dipenjagaan depan bengong melihat aku jalan buru buru.


Dia sampai dihalaman saat aku sudah menaiki motorku dan berlalu. Aku tahu tidak akan mudah lepas darinya kalau tertangkap sekarang. Emosi kami sedang tinggi tingginya. Entah apa yang terjadi. Dia keras kepala aku gak mau ngalah.