I Love U, Mas

I Love U, Mas
Aku melepasmu



Setelah reuni panas yang membuat Riyan babak belur, bintang pop itu lebih banyak diam. Dia mengakui salah. Dia lah yang memancing perkelahian dengan Revan. Haaa satu nama yang merepotkan. Merepotkan untuk bisnisnya dan untuk cintanya.


"Dia bahagia bersamanya Gas, dia bahagia." Riyan mengenang sorot mata Putri saat dipanggung. Malu malu bersembunyi di dada Revan. Riyan menenggak botol anggur putih favoritnya.


"Dan si bodoh itu juga mencintainya. Aku sanggup membuatnya berduel denganku setelah aku mengobok obok aib Putri. Mereka saling mencintai.... lalu apa aku sekarang?" tanya Riyan pada Bagas. Yang selalu setia menemani curhatan Riyan tentang Putri.


"Tidak semua cinta harus dimiliki Yan. Terkadang hanya melihat dan mengagumi juga sudah cukup. Bagiku seperti itu. Jika terbalas itu bonus lebih," kata Bagas. Riyan tertawa.


"Tapi tetap menyenangkan kalau cinta kita terbalas bukan?" tanya Riyan.


Riyan semakin tidak percaya diri saat punya kesempatan bertemu Putri lagi disebuah danau. Ciumannya bahkan tidak mempan. Ia tahu sudah benar benar kehilangan Putri.


Apalagi fakta terbaru yang dia dapat dari Revan. Lucunya mereka saudara. Bagi Riyan saudara sedarah itu begitu penting. Dia bangga punya saudara polisi setangguh Revan. Putri akan aman bersamanya. Hatinya remuk tak bersisa.


"Eling Yan eling. Apa jadi gengster kurang menantang sampai kamu berencana jadi dewa mabuk?" tanya Re sesaat sebelum mereka manggung. Riyan kemana mana bawa anggur putih dari kemarin. Riyan tertawa.


"Sayangnya aku gak bisa karate Cu*k," kata Riyan. Panitia acara bilang mereka manggung sesaat lagi.


Walau setengah sadar, Riyan manggung dengan baik. Profesionalnya tinggi kalau itu tentang musik. Walaupun teman temannya geleng geleng kepala karena dia sempat curcol di akhir penampilan mereka.


"Ayo kerumah Revan Gas," kata Riyan saat mereka akan bertolak ke ibu kota. Bagas mengangguk, dia diminta Riyan untuk menyelidiki rumah Revan beberapa hari yang lalu. Mereka bertemu sebagai saudara.


Riyan lebih bersemangat menghancurkan papinya sendiri. Setelah tahu papinya dalang di balik meninggalnya Ibu mereka. Dia membocorkan kiriman besar pada Revan. Hancurrr..... Papinya marah besar.


"Dari mana Anjin* itu tahu jalurnya bodoh!! Bodoh!!!" Satu pukulan mendarat kepada asisten Nur yang paling setia. Riyan diam duduk di sofa dengan santainya.


"Menurutku ada orang dalam Papi. Mungkin dia menyusupkan orang di dalam sini," kata Riyan sambil membuka snack kentang ukuran jumbo. Ngemil.


"Menurutmu begitu?" Nur melirik Riyan.


"Kalau begitu siapa?" lanjut Nur.


"Mana aku tahu Papi. Aku ini musisi bukan dukun. Kita selidiki satu satu. Sementara ini jangan libatkan banyak orang dalam aksi kita. Cukup orang kepercayaan," kata Riyan memberi solusi. Nur manggut maggut. Menepuk pundak Riyan dengan bangga.


"Baiklah, kau memang cerdik Yan. Kalau begitu bereskan Iptu Revan untukku!" kata Nur. Riyan meremas kripik kentang yang baru dia ambil.


"Kau ingin aku membunuhnya Papi?" tanya Riyan.


"Sayangnya dia laki laki Yan. Kalau perempuan akan kunikahkan dia denganmu," kata Nur berkelakar. Riyan tertawa.


"Aku tidak suka pria berjenggot Pi," kata Riyan. Nur dan Riyan tertawa bersama.


"Kau ingin melamar seseorang Iptu Revan?" tanya Nur. Revan sudah babak belur. Nur belum tahu mau diapakan dan balas dendam seperti apa. Mati saja tidak cukup untuk Revan.


"Kenapa Nur? Kau suka? Cincinku bagus?" tanya Revan cengengesan. Nur mematikan rokoknya didada Revan. Revan mengigit bibir bawahnya agar tidak berteriak.


"Panggil Riyan!!" perintah Nur pada orang kepercayaannya.


***


Riyan datang ngomel ngomel.


"Aku sibuk Papi, kau tahu anakmu ini artis terkenal. Apa mengurusi satu polisi bodoh saja kau harus memanggil anakmu yang tampan ini?? Aku kira kau gengster narkoba, ternyata cuma bapak bapak yang perlu bantuan anaknya yang tampan ini," kata Riyan penuh percaya diri. Padahal sudah sejak lama dia ada dikota ini.


"Carikan pemilik cincin Iptu Revan," kata Nur melepar kotak cincin itu. Riyan menangkapnya dan membukanya. Tersenyum saat ada inisial Putri dibalik cincin. Desiran cemburu menguasainya sesaat. Bertahun tahun dia memimpikan memberikan cincin untuk gadis yang sama. Riyan berusaha menahan ekspresinya. Kalau Papinya tahu mereka saudara dan menyukai gadis yang sama, hancur.... bisa dipastikan Putri jadi teman tidurnya dan Revan melihatnya secara live.


"Apa kau mau menikah Iptu Revan? Haaa adakah yang mau denganmu? Pasti dia jelek karena kamu juga jelek," kata Riyan. Tatapan Riyan dan Revan bertemu. Revan menggeleng kecil. Gelengan yang berarti dua hal. Tidak untuk melindungi kekasihnya. Gelengan untuk tidak melibatkan Putri dalam kasus ini. Riyan melihat sorot permohonan Revan. Riyan tahu pria itu memohon untuk tidak melibatkan Putri.


"Aku akan menyelidikinya Papi," kata Riyan kemudian. Tangannya meremas keras cincin kecil itu seolah menggenggam tangan Putri dengan erat.


"Aku mau sore ini juga. Aku akan mengajarimu cara balas dendam terbaik. Jangan lamban dan jangan bodoh!!" kata Nur memberi ancaman pada Riyan. Riyan pergi dengan santainya. Dia sudah memperingatkan Putri tadi pagi. Sekarang semua tergantung gadis itu. Dia.... tidak berharap banyak. Gadi itu terlalu bodoh untuk dunia gengster seperti ini.


Dugaan Riyan benar. Gadis itu bahkan masih bekerja. Tidak peduli dengan ancamannya. Dia dengan mudah menangkapnya. Mengikat tangan dan kakinya. Riyan meminta lakban yang ditambahi lem agar Putri tidak cerewet dan mengganggu rencananya.


"Dengar, apapun yang terjadi nanti Putri dibawah perlindunganku. Aku tidak bisa menebak apa yang akan Papi lakukan. Dia randhom, tapi lindungi Putri apapun yang terjadi. Lakukan yang kalian bisa. Jika Nur berulah kita bisa langsung menghabisinya. Dia kalah jumlah bukan?" kata Riyan pada orang orang kepercayaannya. Setahu Riyan, Nur kesini hanya dengan 3 atau 4 anak buahnya. Sedangkan Riyan sudah membentuk tim kepercayaannya khusus dia yang merekrut. Mereka ada banyak. Semua dia bawa pagi ini. Ini akan jadi kejutan untuk Nur.


Namun jujur dalam hati, Riyan tidak bisa melukai Nur dengan tangannya. Dia tidak tega. Pria itu tetap Papi untuknya. Entah.... apa yang terjadi nanti.


Riyan mengusir semua orang untuk pergi. Dia merapikan rambut Putri yang tergeletak karena pengaruh bius. Menciumi kepalanya dengan sayang.


"Ini tidak mudah sayang, mungkin aku juga akan mati, tapi setidaknya kamu akan bahagia," katanya kemudian meninggalkan Putri. Dia berbalik saat menerima pluru dari Nur. Dia berharap bisa selamat. Punggung kanannya tertembak.


Suara musik entah darimana terdengar. Nyanyian untuk bayi agar terlelap. Riyan membuka matanya. Ruang hampa yang indah. Seorang wanita datang. Riyan tahu itu Ibunya.


"Ikut Ibu atau kembali," tanya Ibunya dengan suara merdu. Riyan menggeleng.


"Aku mau Ibu. Dunia terlalu sepi untukku," kata Riyan haru. Mereka berpelukan. Kerinduan yang membuncah memenuhi dada masing masing, kini tersalurkan. Mereka akan bersama selamanya.


Jika bukan Ibu yang menjemputya, Riyan akan memilih kembali. Setidaknya dia bisa melihat Putri bahagia. Tapi kerinduannya pada sosok ibu membuatnya tak ingin terpisah lagi oleh Sang Ibu. Riyan ingin dibelai ibu, disayang ibu, sesuatu hal yang mustahil dilakukan didunia dulu. Riyan pergi....