
Aku menangis juga. Tak menyangka Tika seburuk itu. Bukankah dia selalu niat banget jodoh jodohin aku sama Riyan? Kenapa sekarang malah dia seperti makan pacar teman. Apa mungkin karena aku juga yang selalu bungkam. Seolah olah aku gak suka sama Riyan dan Riyan masih mengejar ngejar aku? Tapi harusnya dia hafal aku. Harusnya dia juga tau aku suka cowok berengsek ini.
Aku memukul dada Riyan. Dia diam saja. Malah mengeratkan pelukannya. Aku mendongakkan kepalaku.
"Trus tadi ngapain?" Tanyaku masih sesenggukan. Aku mau melepaskan pelukan, tapi dia mengunci tubuhku.
"Yakin mau tahu?" Tanyanya setengah berbisik. Aku mengangguk. Dia kembali meletakkan kepalaku di dadanya.
"Dia minta ketemu. Aku juga ada perlu dengannya. Saat pulang dia....... merogohi kemaluanku dari belakang. Aku sudah hampir meninggalkan dia di jalan. Kalau saja aku gak ingat dia itu temanmu. Aku sempat memakinya tadi. Berengsek balasannya dia tidak lagi menghide kamu di wall fbnya."
"Dia masih meng hide kok. Aku tahu dari fbnya Septy." Kataku sambil mendongak menatap matanya. Mencari kebohongan dari semua penjelasannya.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" Lanjutku
"Aku mau bersumpah atas nama apapun." Katanya sambil melihat mataku. Kemudian dia menciumku. Awalnya lembut. Lama lama semakin menuntut. Lidahnya lincah menari dirongga mulutku. Kami berhenti saat aku kehabisan nafas.
"Bernafas sayang, bernafas. Belum ada sejarahnya mati karena ciuman. Kau tidak ingin mengukir sejarah itu kan?" Katanya sambil nyengingis. Kucubit perutnya agar dia semakin meringis.
Aku ingat percakapan kami dulu. Dia ingin mengambil Riyan dariku kalau aku tak segera berpacaran dengannya. Yaaa benar juga, dia kira kami hanya saling kejar tidak seperti ini. Dia memamg agak nekat masalah cinta. Dulu waktu SMP aku ingat dia pernah membuat geger disekolah gara gara di putusin pacarnya. Mau lompat dari jendela sekolah dan bawa silet untuk rautan pensil kalau gak salah. Dulu aku gak terlalu dekat dengannya di SMP.
Riyan masih memelukku. Dia kini bersandar dipundakku. Satu tangannya menggalyut dipinggangku. Satu tangannya menyibak rambutku yang jatuh kedepan. Tiba tiba dia mengecup leherku. Kecupan keras seperti dengan gigitan atau sejenisnya. Aku berteriak tapi yang keluar erangan. Dia melepaskan pelukannya. Meminum air dari kulkas kecilnya. Menghabiskan satu botol penuh. Mukanya merah padam aneh. Kemudian permisi ketoilet.
Aku rasa benar Riyan tidak tertarik dengannya. Toh kalau tertarik mau apa? Bukankah berkali kali aku diselingkuhi? Di selingkuhi? Memang apa hubungan kami? Cuma temankan? Yaaa selama ini kami memproklamirkan hubungan hanya teman. Yang salah bukan hanya Tika, tapi hubungan yang tidak jelas ini juga. Lagi pulaa.... dengan pede masih bisa kukatakan aku berani bersaing secara fisik dengan Tika. Kalau Riyan memilih Tika, mungkin ada yang salah dengan matanya.
Lama aku bermololog, tapi Riyan tak kunjung keluar dari kamar mandi. Apa dia sakit perut?. Aku berjalan mengitari kamar berhenti dimeja rias mini. Ada parfum, pelembab wajah, deodorant, hand body, minyak rambut dalam bentuk gel, dan masih banyak lagi botol botol perawatan kulit. Pantas saja dia selalu tampil klimis dan wangi. Perawatannya saja melebihi perwatan kulitku. Ternyata dia pakai parfum mahal. Pantas saja harumya tahan lama. Aku membuka parfum itu. Kusemprotkan sedikit ditanganku. Wanginya....... sudah melekat menjadi ciri khas Riyan. Seperti wangi yang cocok menggambarkan dia. Bebas, buaya, cerdik, lembut. Ahhh, atau mungkin aku yang lebay karena suka padanya.
Aku melihat kecermin. Ada bekas merah dileherku. Seperti baru di gigit serangga. Tiba tiba ada rasa yang aneh ditubuhku. Merinding disko gak jelas saat mengingat Riyan melakukannya. Aku menutup krah bajuku. Tanda itu ada di samping agak depan. Sepertinya tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan dengan seksama.
Pintu dikamar mandi terbuka. Rupanya dia mandi sekalian. Ada tetesan air dirambutnya. Dia juga menganti seluruh baju dan celananya.
"Apa kau sakit perut dan eek di celana? Sampai mandi dan lama sekali?" Tanyaku. Dia melihatku dan tertawa.
"Percayalah kau tak akan ingin tahu apa yang kulakukan dikamar mandi." Katanya
"Memangnya kenapa? Kau benar eek dicelana?" Tanyaku sedikit heran.
"Apa perut mu sakit?" Lanjutku sedikit khawatir.
"Tidak, tidak, ada yang sakit tapi bukan perutku. Ayo pulang. Untung orang rumahmu percaya padaku jadi tak masalah mengantarkanmu sedikit terlambat." Katanya sambil merangkul pundakku. Kami berjalan dengan berangkulan menuju garasi.
Rumahnya benar sepi. Aku hanya melihat satu pembantu didekat tangga. Juga satpam depan.
"Kemana Mami?" Tanyaku
"Lalu ayahmu?"
"Dia lebih sering ke luar kota. Sesekali mampir kesini. Kenapa? Kau ingin lebih akrab dengan calon mertua?" Tanyanya. Aku tertawa mendengarnya.
"Mertua yaa, kita masih anak anak Yan, jalan kita masih panjang . Lulus juga belum. Memang kau yakin mau memperistri aku?" Kataku sambil tertawa.
"Kalau aku boleh memilih aku ingin bersamamu selamanya. Hanya kamu yang membuatku berdebar. Hanya kamu yang ingin aku lindungi selamanya. Meski dengan tanganku yang kotor." Katanya sambil membuka pintu mobil dan masuk. Aku tesentuh dengan kata katanya.
"Aku agak trauma dengan pencabulan diatas motor. Jadi sementara pakai mobil dulu." Katanya saat aku ikut masuk dan duduk di kursi penumpang depan. Aku tertawa.
"Memang bisa ya pegang pegang itu diatas motor?" Tanyaku
"Bisa lah, malah sering orang ngelakuin. Tapi ya atas dasar suka sama suka. Bukan atas dasar kegatelan yang maksa. Kamu mau praktek? Tapi kalau mau praktek denganku, aku gak janji bisa berhenti sampai disitu." Katanya. Aku geleng geleng kepala mantap.
"Ciuman saja sudah cukup buat saat ini. Aku gak mau ngerusak apa pun. Belum waktunya." Kataku.
"Bagus, aku juga gak mau ngerusak kamu. Biar aku yang bobrok, kamu jangan."
"Kamu pernah tidur dengan berapa cewek?" Tanyaku
"Yakin mau tahu? Nanti cemburu." Jawabnya. Aku diam. Ada sisi buruk Riyan yang tak ingin sama sekali aku mengetahuinya. Terserahlah yang penting dia baik padaku.
"Kau akan minta kejelasan sama Tika?" Tanya Riyan saat dijalan.
"Tidak, biarkan saja. Asal kau tidak menanggapinya. Lagi pula kalau kau menanggapinya ada yang salah dengan matamu. Aku lebih baik dari segi wajah, body, dan otak. Dia hanya suka dengan apa yang aku sukai. Nasib foto copy dan aslinya." Kataku.
Riyan menepuk pahanya dengan tangan kiri sebagai ganti tepuk tangan.
"Wooo that's my girl Aku suka cara berfikirmu. Kenapa harus meributkan manusia receh yang setingkat dibawah kita. Dia hanya mendongak, mengomentari kita sambil meneteskan air liur. Berkhayal untuk jadi kita. That's my girl. You are my girl." Katanya sambil mencium tanganku.
Perjalanan berikutnya diisi dengan canda tawa kami. Riyan berhenti disebuah mini market dan memesan kerak telor, kebab, martabak dan terang bulan bersamaan.
"Kau mau apa dengan makanan makanan ini?" Tanyaku bingung.
"Aku butuh alasan karena mengantarmu pulang terlambat. Mereka jadi alasan dan sekaligus membikin orang tua mu shok jadi tidak bertanya macam macam lagi." Katanya santai.
"Dasar picik." Kataku. Dia tertawa
"Ku anggap itu pujian."
Benar saja. Sampai rumah ayah ibuku shock dengan bermacam oleh oleh yang dibawa Riyan. "Saya bingung mau cari oleh oleh apa. Jadi saya beli semuanya ternyata beli semuanya butuh waktu yang lama. Maaf terlambat mengantar Putri pulang." Katanya santai. Orang tuaku tertawa dan memakluminya. Buaya buaya susah dilawan.