
Seperti biasa setelah mendapat panggilan mendadak Mas Revan akan hilang sejenak. Aku sudah biasa tanpa kabar seperti ini. Tapi.... kali ini aku sering melihat Hp siapa tahu dia sudah menghubungiku. Aku semakin penasaran dengannya.
Aku dan Icha, teman seles ku berkeliling menawarkan rokok. Agak dingin juga pakai baju off sholder begini malam malam. Kami sedang berada di tongkrongan anak muda. Siulan atau godaan sudah menjadi hal wajar untuk kami. Aku gak peduli. Karena pekerjaan ini aku juga akrab dengan makeup dan softlens. Penampilanku agak berbeda, makeup lengkap, baju kurang bahan dan high hells. Walaupun kalau tidak bekerja aku masih nyaman dengan kacamata. Tapi tetap merubah penampilanku sehari hari. Yang biasanya kumel jadi sering make up dan perawatan.
"Kurang dikit Put bisiknya." Aku mengangguk
"Ayo kita rayu mereka dan pulang." Kataku menunjuk grombolan bocah ingusan nongkrong. Lumayan dengan sedikit kata kata manis dan senyuman nackal mereka tergoda dan membeli sisa dagangan kami. Hahahha.
"Akhirnya pulang cepet." Kataku pada Ica. Jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam.
"Mau gabung sama aku seneng seneng sebentar? Ini malam minggu lho." Tawarnya
"Kemana?" Tanyaku
"Wesss pokok e asik ajah." Katanya sambil menarik tanganku. Icha ini tajir. Dia seorang penyanyi. Penampilannya juga mewah. Dia menggandengku sampai mobil yang dia kendarai.
"Tapi aku gak bawa baju ganti Ca." Kataku. Masak iya mau pergi dengan baju berlogo merek rokok.
"Ukuran tubuhmu sama kaya aku kan? Aku punya baju ganti di belakang." Katanya
"Ganti disini aja biar cepet. Kamu dulu baru aku" lanjutnya. Aku pindah ke jok belakang
"Ini baju manggung kamu Cha, kurang bahan semua." Protesku. Bajunya pres body semua. Hampir tidak berlengan. Hedeeehhh ini baju kalau dipakai sexy sekali mirip dengan baju rokok. Ica pindah belakang juga
"Ih, crewet deh, bukannya kalau kerja bajumu juga gini. Udah buruan pilih lalu cusss seneng seneng." Katanya. Dia sudah membuka bajunya. Mengganti dengan mini dres warna soft pink yang manis dimata lelaki. Aku memilih rok kotak kotak ala korea yang agak panjang. Juga baju lengan panjang sebatas dada. Hedehhh perutku terlihat. Minimal gak terlalu sexy. Kata Icha beberapa teman kami juga ikut. Hummm mau kemana sih? Tapi lumayan lah malam mingguan setelah menjomblo bertahun tahun.
Mobil berhenti disebuah bangunan yang ramai kendaraan, tapi sepi gak ada orang. Bangunan berkaca hitam itu terlihat sepi dari luar.
"Ini tempat apa Ca?" Tanyaku
"Eh, serius kamu nanya ini? Kamu belum pernah kesini?"
"Nanya malah balik nanya" kataku
"Ini tempat asik asik" katanya sambil keluar mobil. Aku mengikutinya. Dia mengatakan tamunya seseorang pada penjaga kemudian masuk.
Astagaaaaa!!! Ini diskotik atau sejenisnya. Tempat hiburan malam ternyata. Banyak sekali orang didalam. Aku justru takut dengan tempat ini. Gelap tapi banyak orang, musiknya juga membuatku sesak nafas. Aku berteriak pada Ica mau pulang, tapi dia justru terus masuk dan naik keatas. Aku takut sendirian terpaksa mengikutinya.
Aku berusaha menghubungi Mas Revan minta jemput. Beberapa kali dihubungi namun tidak diangkat. Aku menchatnya minta jemput. Tidak juga terbaca. Icha sudah masuk ruangan dan bercipika cipiki dengan temanku sesama SPG dan pak Genta, supervisor kami. Ternyat benar beberapa teman kami berkumpul disini.
"Putri??!!! Kejutan mau datang kesini." Kata Pak Genta.
"Biar nakal dikit." Kata Icha, menyuruhku duduk disampingnya. Kami diberikan minum oleh Pak Genta. Aku menerimanya dengan senyum. Berbisik pada Icha
"Ini bikin mabok nggak."
"Nggak kalau dikit, disesep dikit dulu aja."
Beberapa pria masuk, mereka langsung mengajak kami bergoyang. Teman temanku ikut bergoyang meliuk liuk. Aku di minta juga, tapi gak mau. Aku hanya duduk menonton. Beberapa dari mereka sudah mengerikan. Sampai terlepas baju atasnya pun ada. Aku bolak balik mengecek hp. Nihil. Mas Revan........ aku takut.
Tiba tiba terdengar suara teriakan dan senter yang bersorot banyak sekali, menyilaukan mata. Beberapa laki laki dan perempuan tegap sudah berada diruangan. Temanku sedang setengah teler tanpa busana lengkap langsung disergap. Semua barang digeledah. Ku dengar salah satu dari pria itu membawa narkoba, dan beberapa lagi membawa alat kontrasepsi. Dan yang paling menakutkan semua orang disuruh ikut mereka kekantor. Aku panik minta ampun. Tapi aku bersama mereka yang tertangkap basah. Kata polisi 'nanti dijelaskan dikantor' itu alasan tiap kali aku mengelak terlibat apapun.
Kami benar benar dibawa kekantor. Ica bilang tenang saja. Hanya didata. Tidak ada bukti kita mesum. Tapi tetap saja aku ketakutan. Bagaimana harus menjelaskan pada orang tuaku. Aku pasti kena marah habis habisan. Bisa bisa dilarang sekolah dan kerja lagi. Bahkan dilarang keluar rumah juga. Aku pusing sendiri memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi.
Tiba dikantor polisi semua orang disuruh berbaris. Aku melihat kearah barisan polisi yang seperti juga sedang berbaris. Sekilas kulihat Mas Revan ada disana. Apa aku benar benar merindukannya sampai berhalusinasi dia ada disekitarku?
Kami ditempatkan dalam satu ruangan. Menunggu cek urin katanya. Duh Gustiii apa lagi ini. Sambil satu satu diminta KTP untuk di data. Aku berjongkok sudah dengan air mata bercucuran. Seseorang menarikku berdiri Mas Revan???? Dia membawaku pergi dari ruangan.
"Maaf pak, kita sedang mendata dia belum didata dan belum cek urine." Kata petugas pendata.
"Dia pacarku apa data yang kau butuhkan akan kulengkapi!!!" Kata Mas Revan membentak dengan suara tinggi. Aku sampai terlonjak kaget.
Aku dibawa keluar ruangan. Masuk ruangan lain yang sepi. Aku memeluknya sangat erat.
Sesenggukan aku bilang kalau takut. Dia tidak membalas pelukanku atau berkata apapun. Dia menyuruhku duduk. Menghentaku duduk dengan kasar. Membuka jaket yang dia kenakan. Ada rompi berat dibalik jaket itu. Diaaaa..... polisi?
"Kenakan!!! Kancingkan sampai atas!!" Bentaknya. Aku nurut saja. Dia menakutkan sekali. Dia kemudian menyorot mataku. Membaui nafasku.
"Apa yang kau lakukan disini!!! Terjaring operasi club malam??? Sedang apa kau? Memalukan!!" Katanya. Aku diam masih sesenggukan.
"Cepat ceritakan!!" Dia kembali membentak. Aku terlonjak dari duduk. Dengan terbata kuceritakan dari awal.
"Kau tidak bekerja diwarung tenda?" Tanyanya lagi. Sekarang dia duduk menghadapku. Aku menggeleng.
"Apa bajumu kerja seperti itu?" Tanyanya melihat paha mulusku yang terbuka separuhnya. Aku menarik rokku agar lebih menutupi pahaku.
"Hampir seperti ini." Jawabku. Kemarahannya sedikit mereda. Dia menghembuskan nafas kasar.
"Bodoh!! Sudah kubilang untuk pilih pilih teman. Ngapain juga kerja kayak gitu. Bodoh, merepotkan saja."
"Gajinya besar Mas, bahkan aku bisa membuayai kuliah sendiri." Kataku jujur
"Aku juga bisa membiayai kuliahmu Put.. Sudahlah, ayo pulang ini sudah pagi." Katanya. Kami keluar ruangan beriringan. Tangannya tak lepas menggandengku.
Seseorang wanita memanggilnya.
"Ree.... Reee tunggu..." Mas Revan menoleh.
"Kau mau pulang?" Tanya wanita itu lagi. Sepertinya seorang polwan. Ada lencana menggantung dilehernya. Mas Revan mengangguk.
"Aku ikut yaa..."