I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 35



"Apa kau tidak tahu malu? Sampai datang saat sudah diabaikan?" Suara nyeletuk dari samping meja Revan. Berjarak satu meja kesamping ada nenek sihir bernama Ine. Duduk menghadap komputer acuh, tapi mulutnya sudah setajam silet.


"Apa kau tidak tahu malu punya mulut sejahat itu?" Balasku. Gak mau kalah sambil menatapnya.


"Aku hanya menyampaikan fakta. Maaf ya kalau faktanya terlalu menyakitkan." kata Ine mengejek.


"Dengar!! Aku gak punya urusan ya sama kamu. Jangan campuri urusanku!!" kataku sudah mulai geram.


"Revan itu temanku. Kami akrab sejak kecil. Kau pikir aku tidak tahu kalau dia sudah membuangmu? Aku ini tempat curhatnya kau tahu!!" Ine sok yesss. Tapi suaranya sedikit bergetar.


"Hah, menyedihkan." Balasku sambil menuju kemejanya. Menghadap mukanya di belakang komputer.


"Yang ku dengar barusan seperti curahan hati cinta yang tak terbalas. Sudah lama dekat, tapi hanya dianggap teman. Sesakit itu sampai suaramu bergetar? Kamu cemburu ya aku dicintai Revan sebagai kekasih. Maaf sudah menyakitimu. Tapi mungkin kau bisa move on mulai dari sekarang. Kami saling men-cin-ta." kataku mempertegas kata terakhir. Dia diam seribu bahasa. Aku telak memukul hatinya. Aku kembali kemeja Revan dengan kemenangan. Haa Putri dilawan adu mulut? kamu salah lawan. Batinku.


Sebenarnya aku jahat kalau seperti ini. Tapi dia sendiri yang memulai. Apalagi emosiku memuncak habis dikerjain oleh bapak angkat Revan tadi. Malunyaaa..... teriak terik menyatakan cinta dikantor polisi. Dan sekarang aku masih disini lagi. Apa meeting mereka berlangsung lama? Aku duduk tidak tenang dikursi Revan. Kubuka novel yang ada ditasku. Sekarang baca satu novel saja lamanyaaa karena kesibukanku yang berjibun. Aku tenggelam dalam kisah novel. Si nenek sihir terlihat sibuk. Untung saja diruangan ini hanya ada aku dan nenek sihir.


Satu jam berlalu. Seseorang yang tadi ada diruangan meeting masuk. Apa metingnya sudah selsai? Kulihat kearah pintu. Tidak ada lagi yang datang. Cowok tadi senyum senyum memandangku. Kemudian berlalu pergi. Dia kembali membawakan segelas air putih.


"Diminum Mbak Cantik. Pasti capek habis pernyataan cinta." Katanya nyengir. Aku hanya memandangnya. Dia duduk dimeja depan. Berhadapan dengan meja Revan.


"Tapi sebenarnya kalau boleh jujur aku ini lebih tampan dan muda dari Revan. Yaa walaupun pangkatnya tinggi Revan. Tapi pesonaku gak kalah lho Mbak." Katanya sambil mengedipkan mata. Aku memandangnya dengan heran. Dia masih memandangku sambil senyum senyum.


"Masnya mabuk yaa?" Tanyaku.


"Aku waras dan sadar mbak. Gimana? Kita jalan dulu aja...."


" Berisik Njing, bisa diam gak!!" Si nenek sihir menyela.


"Galakmu Ne, kamu harus kurang kurangin supaya laku. Itu lho pacarnya Revan. Kamu udah gak ada harapan." Kata Mas tadi sambil berlalu pergi. Sepatu Ine mengenai pantatnya. Dia berlari sambil ketawa kertawa memegangi bokongnya.


Sudah dua jam aku duduk disini. Ine sudah beres beres mau pulang. Melirikku beberapa kali sambil bersenandung kecil.


"Sepertinya yang ditunggu gak mau nemuin. Aku yakin mereka udah selsai dari tadi. Tuh Boby udah kesini dari satu jam yang lalu. Maaf yaa mengecewakan. Sepertinya kamu emang gak ada harapan Put." Katanya sambil tersenyum sinis. Berlalu sambil bersenandung ringan. Setan!! Aku menghela nafas. Harusnya aku bisa tidur sebentar sebelum nanti masuk kerja. Sekarang malah duduk disini seperti orang bodoh!!


Aku masukkan novel yang kubaca kedalam tas. Meneguk habis air putih dari Boby tadi. Menghentakan gelas dengan kasar, namun tidak sampai pecah. Beranjak dari kursi Revan. Kurang ajar menang. Aku di kerjain teriak teriak bilang cinta. Sekarang dikerjain lagi jamuran nunggu orang itu muncul. Bilang lah kalau gak mau bicara. Tidak seperti ini. Aku yang bodoh datang kesini sedang dia selalu mengabaikan pesan pesanku. Aku yang kepedean minta bicara sedang dia gak mau bicara. Bodoh!! Kenapa aku jadi mirip cewek murahan yang gak laku. Jelas jelas aku sudah dikerjain.


Aku muring muring dalam hati. Berjalan cepat sampai di halaman kantor. Tiba tiba tanganku digandeng dari belakang. Menarikku menuju parkiran mobil. Aku berusaha melepaskan tanganku. Dia justru membuka pintu penumpang depan sambil tersenyum manis.


"Masuk! Katanya mau bicara denganku." Kata Revan. Aku diam mematung. Memasang wajah sedingin mungkin. Ingin kucakar jenggot tipis yang membingkai wajahnya.


"Ayo, kamu mau berdiri sampai kapan?"


Diam. Beberapa saat kami terdiam. Kesalku bukan main sampai gak bisa marah atau berteriak.


"Kau mau diam seperti ini sampai rumah?" tanyanya. Aku diam.


"Tidak jadi bicara denganku?" Tanyanya lagi. Aku masih diam sangking keselnya. Dia melihatku sekilas. Kemudian menepikan mobilnya.


"Aku terima permintaan maafmu." Katanya.


"Aku terima juga pernyataan cintamu." Katanya sambil menahan senyum.


"Aku juga mencintaimu." Katanya membuat air mataku luruh seketika.


"Kamu jahat, kamu nyebelin, kamu dingin kaya kulkas!!! Menyebalkan menyebalkan!!!" Kataku sambil sesengkukan. Dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku lama menangis didadanya. Menumpahkan kesedihan yang sudah tiga bulan ini menyengsarakanku. Aku.... kangen.


Dia mau menciumku. Aku berpaling menghindar.


"Aku mau pulang. Aku harus siap siap kerja." Jawabku berbohong. Ini masih jam 5 sore aku selalu masuk malam.


"Bukannya kamu sift malam? Ngapain jam segini sampai minimarket?" Tanyanya. Aku kaget. Dia ternyata tahu sift dan tempatku bekerja? Apa aku dibuntuti selama ini?


"Aku juga merindukamu Put. Jangan harap kamu lepas dari pantauanku walau kita tidak bertemu." Katanya.


"Lagipula.... kamu nekat juga. Kukira keberanianmu hanya sampai memantauku didepan kantor. Aku gak nyangka kamu berani masuk dan membikin keributan." Katanya sambil tersenyum. Perbedaan Revan dan Riyan adalah lesung pipi Revan yang manis.


"Kau tahu? Kau sudah mematahkan hati semua fans fansku dikantor. Tidak ada wanita bahkan polwan sekalipun menyatakan cinta dengan gamblang dikantor." Katanya sambil senyum senyum senang. Menyatakan cinta gundulmu!!! Aku malu tahuuu!!! Batinku.


"Apa Ine gak pernah bilang sayang sama kamu?" Tanyaku


"Ine yaaa...." Dia berhenti sejenak.


"Pernah dulu waktu aku masih SMA. Tapi aku bilang menyukainya sebagai adik. Aku berharap dia dapat laki laki yang baik." Katanya.


"Sudah tahu disukai tapi masih dekat sampai sekarang? Yang tidak tahu malu siapa?" Tanyaku heran.


"Kalau dekat kenapa? Kami hanya berteman. Tidak pernah melakukan ciuman seperti ini." Katanya mendekat dan dengan cepat memberikan kecupan ringan dibibirku. Aku bengong. Dia malah menciumku lagi. Lebih lembut, lebih lama dan lebih menuntut. Kecupannya turun keleher. Kecupan kecupan ringan yang membuatku semakin erat mencengkeram bajunya dan sandaran jok mobil. Berhenti saat aku sudah kegerahan. Dia tidak pernah menciumku sebentar. Aku kangen, aku kangen.... sepertinya dia juga kangen.


Capek bestie, kegiatan didunia nyata menyita tenaga, waktu dan pikiran. Semangat!!!!!!