
Tepuk tangan menggema. Diki turun dari panggung dikrubungi beberapa vans. Melakukan jumpa vans sebentar, kemudian Diki menuju tempatku dengan senyuman.
Sesaat aku melihat Diki seperti Riyan dengan segala karismanya. Aku merasa akan bahagia bersama dengan Diki. Dia orang sipil. Tidak perlu menunggu was was saat tugas malam. Tidak akan ditinggal untuk tugas saat kita membutuhkannya.
Ahhh..... tidak. Ini fatamorgana... cinta Revan dan aku sudah teruji. Kami tangguh sejauh ini.
"Apa suaraku masih bagus?" Tanya Diki. Membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk.
"Bagus, tentu saja bagus. Kamu seorang penyanyi." Kataku.
"Lalu, apa aku bisa berharap lebih?" Tanya Diki sambil menggenggam tanganku. Kami berpandangan dalam diam. Aku menarik nafas dalam sebelum bicara.
"Dik, aku baru menyadari perasanmu padaku kemarin. Sebelumya aku menganggap kamu tulus berteman denganku. Terimakasih untuk perhatianmu selama ini. Aku senang. Kamu menemaniku saat terberat dalam hidupku. Tapi aku..... Aku..... mungkin akan kembali pada Revan. Maaf menyakitimu." Kataku walau masih terselip keraguan.
Dia pasti kecewa. Dia selalu ada untukku beberapa waktu ini. Berbagai cara dia lakukan untuk menghiburku. Hatinya pasti terluka. Aku yang dihibur, kini mematahkan hatinya.
Senyum diwajahnya sirna.
"Aku sudah berharap menjadi matahari setelah hujan airmatamu.... "
"Aku sudah memiliki matahari sejak dulu. Parjalanan cintaku dengan Revan bukan dalam waktu yang sebentar. Banyak cerita sudah kami lalui. Aku marah padanya. Kuakui aku marah. Namun seperti dia yang hancur, aku juga hancur tanpanya. Maafkan aku." Potongku. Diki diam memandangku. Hening....
"Aku terima, aku terima segala yang kamu putuskan. Walaupun aku kecewa, aku akan menerimanya. Memang cintaku yang salah tempat sejak awal." Kata Diki sedih. Hening beberapa saat....
"Bolehkah aku mengajakmu jalan jalan sebentar?" Tanya Diki penuh harap. Aku tak sanggup menolaknya.
"Kemana?" Tanyaku balik.
"Hanya mengitari tempat ini. Anggap saja kenangan terakhirku bersamamu." Kata Diki kemudian bangkit merentangkan tangannya padaku. Aku menyambutnya sebentar. Kemudian melepaskan tangan kami perlahan saat kami sudah berjalan. Kami jalan sendiri sendiri tanpa tautan tangan.
Ada dua gedung berjajar disini. Satu Pusat Grosir S*** tempatku bekerja. Satunya Beteng Trade Center. Dua gedung bersisihan menjual aneka baju dan aksesoris. Kemudian disamping Beteng Trade center ada benteng peninggalan Belanda dipinggir perempatan. Yang meghadap ke sisi jalan yang lain. Sekarang jadi tempat iconic untuk berfoto. Kami berjalan dipinggir tiga bangunan gedung itu di temani hilir mudik orang jalan kaki. Banyak wisatawan yang melakukannya juga. Berpindah dari benteng tua menuju Night Market atau sebaliknya. Apa lagi ini malam minggu. Ramailah tempat ini.
Diki terus berjalan melewati benteng tua. Berbelok kesamping benteng dan belakang gedung BTC. Sampai di belakang gedung Pusat Grosir S*** suasana mulai sepi. Kios para penjual batu akik disiang hari sudah pada tutup. Kami masih saling ngobrol dan bercanda.
"Jadi Riyan itu cinta pertamamu? Apa kamu juga cinta pertamanya?" Tanya Diki.
"Tentu saja tidak. Dia itu play boy. Banyak gadis mengerubunginya bahkan saat kami masih SMP." Jawabku. Ahhh Riyan.... aku jadi mellow kalau membicarakannya.
Dia merangkul pinggangku. Menarik tubuhku merapat. Kami berhadapan dalam gelap. Wajah Diki sudah mendekat. Aku tahu yang dia akan lakukan. Aku berpaling.
"Tidak Dik, aku tidak mau melakukannya." Kataku lembut. Takut menyinggung perasaannya. Aku baru saja mematahkan hatinya.
"Sekali saja sebagai perpisahan, aku... tahu tidak ada harapan lagi untukku." Kata Diki. Bibir kami menyatu. Aku tak bisa menolaknya. Ciumannya tidak lebih baik dari Revan.
Tiba tiba segerombolan orang mengitari kami. Pisau lipat jelas berkilat dalam kegelapan. Ada sekitar 5 orang.
"Wow wow wow.... mesum sewa hotel bos." Kata seseorang dari mereka.
"Kami hanya ingin uang dan hp. Juga benda berharga lain. Tidak menyakiti." Kata seseorang berambut gondrong. Diki mendorongku menjauh. Aku menepi mepet pagar. Lututku lemas. Diki menyerang orang orang tadi. Aksi saling pukul terjadi. Diki kuwalahan dikroyok mereka. Aku teriak minta tolong, tapi tempat ini terlalu gelap dan sepi.
Orang yang membawa pisau tadi maju mendekat kearahku.
"Aku pahit, kau tidak akan suka.... percayalah." Kataku asal. Seseorang datang dari arah belakang, tempat kami datang tadi. Dia tepat menendang ulu hati pria berambut gondrong tadi. Pria itu terjengkang keaspal. Orang itu menodongkan pistol. Revan!!!
"Maju sedikit lagi kepalamu ambyar." Kata Revan berjongkok sambil menodong pistol tepat dikepala pria gondrong. Orang orang yang mengeroyok Diki ikut terdiam.
"Pergi!! Atau mau ku urus lebih lanjut." Kata Revan mengeluarkan lencananya. Berkilat diantara kegelapan. Mereka berlari pencar. Aku menarik nafas lega.
Revan bangkit berdiri. Aku memeluknya dari belakang. Dia.... masih jadi super heroku. Pelukanku ditepis dengan kasar. Aku jadi sedih. Dia berbalik menatapku tajam.
"Lain kali jaga dirimu dengan baik. Jaga bibirmu juga untuk tidak dicium baji**ngan sembarangan!!" Kata Revan keras kepadaku. Aku merinding. Dia tahu kami berciuman.
Diki bangun dari aspal. Tatapan Revan beralih kepadanya.
"Kalau mau dekat dengannya sebaiknya kau mulai berlatih karate. Menembak kalau perlu. Karena bakatnya terkena masalah dan berada ditempat yang salah sangat tinggi." Kata Revan memandang Diki yang babak belur. Diki diam tidak menjawab.
"Maaf mengganggu kencan kalian. Selamat malam." Kata Revan. Dia kemudian berbalik mau meninggalkan kami.
"Mamas!" Panggilku. Dia berhenti dan berbalik.
"Ambil motormu dibasement. Aku tunggu dirumah Ibu." Kata Revan Dingin. Kemudian berjalan cepat menghilang ditelan kegelapan. Aku merinding.... apa yang akan dia lakukan padaku nanti???
Aku berjalan kearah Diki.
"Kamu baik baik saja?" Tanyaku sambil mengamati mukanya. Dia mengangguk.
"Darimana dia datang? Kenapa suamimu menakutkan sekali?" Tanya Diki heran. Sambil memandang arah perginya Revan.
"Dia biasa datang tak diundang dan pergi tak diantar." Kataku asal. Kami memeriksa luka Diki. Luamyan babak belur. Tapi katanya gak papa. Aku berpisah dengan Diki didepan basement gedung Pusat Grosir.
***
Autor poff
Hp Putri sudah disetting terhubung dengan hp Revan kembali. Revan mengamati pergerakan istrinya dirumah Putri. Hampir seharian dia disini. Dirawat Ibu dengan baik. Balik kerumahnya sebentar untuk menata barang barang Putri. Dia bahkan tidak dimarahi pulang mabuk dirumah mertua. Hahaha rumah ini memang asik untuk Revan.
Titik itu tidak bergerak bahkan saat sudah jam pulang. Revan menunggu sampai 15 menit. Tidak bergerak juga.
"Ngapain dia?" Gumam Revan seorang diri. Dia mengambil kunci motornya dan berlalu keluar rumah.
"Mau kemana Van?" Tanya Mbak Sasa.
"Keluar sebentar cari angin Mbak." Kata Revan asal.
Revan memarkirkan motornya diparkiran wisata beteng kuno. Matanya menangkap sosok Putri dan Diki berjalan beriringan. Revan mengikuti mereka. Mengambil jarak aman.
Revan melihat pemandangan yang membuatnya benar benar terbakar. Revan mengeratkan genggaman tangannya melihat adegan didepan sana. Putri manut saja dicium Diki. An*jing!!! Makinya dalam hati. Istrinya itu lemah dengan vocalis band. Putri menganggap semua vocalis band adalah Riyan. Dia tahu itu.
Preman datang mengeroyok Diki. Revan sudah akan berlalu tidak peduli. Namun satu diantara mereka terlihat mendekati Putri. Diki sudah kualahan dikroyok. Tidak akan mampu menolong Putri. Sesaat Revan perang batin sendiri.
"Dasar istri kecil Bereng**sek!!!" Maki Revan pada Putri sebelum Revan berlari menolongnya. Dia tetap tidak mau. Tidak mau Putri tersakiti dengan cara apapun. Walaupun hatinya panas membara.