
Hari ini kami harus menghadiri pembentukan panitia dirumah Revan. Dia masih kerja paginya. Sore sepulang kerja, kami sudah bersiap berangkat. Aku berdandan cantik dengan derss batik selutut. Dia memintaku packing baju ganti sekitar dua stel.
"Mau kemana?" Tanyaku kepo.
"Udah, nurut aja sama suamimu." Jawabnya sambil senyum senyum. Kami berangkat setelah pamit Ibu.
***
Pembentukan panitia dirumah Revan dipimpin Mbak WO dan suaminya. Jauh lebih tertata karena mereka sangat amat provesional. Bapak selaku yang punya gawe bener bener tinggal ongkang ongkang kaki. Hebat!
Acara belum selesai padahal sudah malam, aku ngantuk. Belum juga acara selesai, Revan sudah mengurungku dikamarnya.
"Tidur. Aku gak mau gotongin kamu terus." Katanya sambil senyum. Aaaaa tau aja mataku sudah berat. Dia meninggalkan aku dan kembali keacara. Aku tidur dikasurnya.
***
Malam entah jam berapa. Ciumannya membuat aku terbangun. Badanku terasa dingin, ternyata sudah dilucuti semua. Ac kamarnya distel begitu dingin. AC? Sejak kapan kamar ini ber AC? Udara dingin membuat semua sentuhannya meninggalkan bekas hangat yang kubutuhkan. Dia melakukan hal yang sama saat dihotel. Saat aku sudah puas dia membuka bajunya. Aaaa...... apa itu perutnya... kenapa terbentuk seperti itu. Aku tidak pernah melihatnya buka baju. Dia yang sering melucuti pakaianku. Macho. Dia macho dengan badanya yang terbentuk, tapi tidak over. Juga beberapa bekas luka yang terlihat. Sepertinya tubuh itu saksi betapa ganas aksinya sebagai polisi.
"Aku mulai." Bisiknya. Benda asing hangat menyentuh tubuhku. Awalnya hanya geli tergesek diluar lama lama Revan memasukkannya pelan palan.
"Aaaaaaaaa....." aku menjerit sekuat tenaga. Dia langsung menciumi mulutku. Kukuku sudah menancap sempurna di bahunya. Yang kali ini sengaja kupanjangkan untuk acara resapsi.
"Gak mau.. gak mauu!!! ini sakit. Ini sakit." Kataku sambil menangis. Rasa perih dan sakit menjalar. Terlalu sakit. Dia menariknya.
"Sudah kuduga." Katanya sambil menyelimutiku.
"Tidur saja kalau begitu." Perintahnya sambil memelukku.
***
Pagi pagi dia mengajakku mencari sarapan. Bapak sudah cari sarapan sendiri tidak ada dirumah. Rumahnya juga sudah rapi. Hebat!!! Jam berapa mereka selesai?
"Mau cari sarapan yang agak jauh?" Tanya Revan semangat.
"Kemana?" Aku balik bertanya.
"Refreshing sebentar." Kata Revan sambil berjalan menuju mobil.
"Aku mau naik itu." Kataku menunjuk motornya. Motor matic yang masih sama sejak kami awal kenalan.
"Kita pergi jauh lho, nanti kamu capek. Naik mobil dulu, naik motornya kapan kapan." Kata Revan nego.
Kami menuju resort di tengah sawah dengan pemandangan memukau. Ini hari kerja membuat suasana itu hanya kami yang menikmati. Sarapan dengan menu ndeso, tapi enak.
"Mau dipijat?" Tawar Revan. Akhirnya kami dipijat dalam kamar kami. Dengan aroma terapi yang menenangkan. Aàaaa ini enak. Meskipun agak malu dengan terapisnya. Selesai dipijat kami disiapkan air mandi. Satu bak dengan Revan? Mandi bareng? Hehehe..... belum apa apa aku sudah merinding. Terapis mohon diri setelah air kami selesai disiapkan. Kami main mandi mandian. Main sabun sabunan dengan tangannya yang tidak bisa diam. Mulut dan tangannya memberi rangsangan dengan gencar.
Dia mengangkatku kekasur.
"Kali ini, aku tidak akan melepasmu." Bisik Revan menyeramkan. Aku jejeritan saat pertahananku ditembus olehnya. Ini sakit..... ini sakit. Benda tumpul yang menerobos paksa. Anehnya dia malah seperti keenakan. Kukuku yang kembali menancap dibahunya seperti tidak sakit sama sekali. Pelan sekali dia bergarak. Sambil menghujaniku dengan ciuman.
Lama lama tempo pemainan semakin cepat. Enak, sedikit sedikit aku merasa ini enak, walaupun masih terasa perih. Aku ******* lagi. Dia menunggu dan memulai lagi. Mataku sudah terpejam ini lama dan terlalu enak. Permainannya makin cepat. Dia ambruk menindihku setelah ada cairan hangat meleleh, tulangku ngilu didalam. Punyanya menghujam dalam sampai mentok seperti mendorong tulangku. Dia tersenyum, memciumiku lama sekali. Kemudian berguling kesamping. Cairan hangat merembes keluar.
"Kamu..... enak, sempit sekali." Katanya sambil mengatur nafas.
"Sakit yaa?" Tanyaku setengah mengantuk. Aku lemas.
"Aku jadi seperti meniduri cat women." Katanya sambil tertawa. Empat cakaran memanjang dan dalam menghiasi bahunya yang kokoh.
"Tidur." Bisiknya kembali kekasur dan memelukku.
Seharian itu kami dikamar. Dia mengulanginya beberapa kali. Dengan berbagai gaya yang berbeda. Dia mentor yang baik untuk urusan beginian. Aku nyaris tanpa baju seharian. Makan siang dan makan sore diantar kekamar. Badanku serasa remuk tidak bertulang. Tapi dia terlihat segar dan riang.
Esok hari aku bangun siang sekali. Sudah tidak mau bergerak. Badanku remuk. Tadi malam entah sudah berapa kali. Rasanya semakin enak tapi ini melelahkan.
"Aku capek." Keluhku.
"Capek apa enak?" Tanyanya sambil senyum.
"Enak tapi capek. Rasanya gak mau bangun. Aku mau tidur lagi." Kataku berguling membelakanginya.
"Makan dulu!" Perintah Revan memaksaku bangun. Aku makan disuapinya. Ini rekor terlamaku telan*jang. Gila!!!
Kami kembali kerumah malam hari. Aku sudah ampun ampun sama dia. Aku bisa pingasan kalau begitu terus.
"Ayo pulang, udah dulu ya Mas. Aku beneran capek." Kataku memelas.
"Emmmm.... aku belum capek." Kata Revan.
"Ayolah Mas. Ayo pakai baju dan pulang. Masih ada resepsi ditempatmu." Rayuku pada Revan. Dia tersenyum. Mengambil bajuku dan memakaikannya dengan banyak sekali mengambil kesempatan. Terserah.... yang penting pakai baju dan pulang.
***
Sampai dirumahnya, Bapak marah marah.
"Sudah Bapak bilang jangan pergi kemana pun dulu. Tapi nekatmu itu sudah seperti penyakit. Kemarin Bapak dengar kamu bawa Putri tiga hari sebelum acara. Kebangetan kamu Van. Bikin malu saja." Kata Bapak dengan nada tinggi. Baru kali ini aku melihat Bapak marah. Yang dimarahin suasana hatinya lagi baik banget cuma senyum senyum.
***
Esoknya dia kembali kerja. Sedangkan aku gabut dirumah sama Bapak. Bapak meliburkan semua karyawannya dua minggu penuh. Padahal dirumah ku sendiri pasti sedang ribut menyiapkan apa yang akan dibawa kesini. Aku minta ijin Bapak untuk pulang kerumah. Tenagaku pasti lebih dibutuhkan disana.
"Bapak, Putri kerumah Ibu boleh?" Tanyaku.
"Boleh tapi diantar yaa... mau Bapak yang antar, atau mau di panggilkan orang?" Tanya Bapak.
"Itu motor satunya nganggur Pak, Putri berangkat sendiri. Nanti sore sebelum Mamas pulang Putri udah balik." Kataku. Bapak menggeleng.
"Bapak antar kalau begitu." Mengambil kunci mobil Revan. Aaaa jadi malu sendiri. Masak diantar mertua. Tapi mertuaku ini sepesial. Beliau sangat memahami aku.
"Pulang dulu kerumahmu gak papa Nduk. Senyaman kamu aja tinggal dimana. Kalau nanti mau rumah sendiri Bapak gak papa. Walaupun Bapak berharap kamu mau tinggal sama Bapak. Bapak janji gak akan rewel dan merepotkan." Kata Beliau dimobil. Aku jadi terharu.
"Putri mau tinggal sama Bapak kok. Tapi dirumah Putri banyak kerjaan Pak. Persiapan untuk acara ditempat Bapak. Jadi tenaga Putri lebih dibutuhkan." Kataku. Bapak mengangguk.
Beliau mengantarkan aku sampai rumah. Berbasa basi sebentar dengan Ibu dan Ayah kemudian pamit pulang.