
Aku bingung mau kemana. Hapeku juga tidak berhenti bergetar. Revan terus menelfonku. Aku putuskan muter muter sebentar. Menyusuri jalan kampusku dulu. Muter lagi entah kemana. Apa itu??? Kukira saingan terberatku Ine. Tapi aku salah, Nada lebih merasuk dihatinya. Virgin? Revan merusak anak orang sebelum ada ikatan pernikahan. Dan meninggalkannya begitu saja. Haaaa dia sama berengseknya dengan adiknya.
Aku capek muter muter gak jelas. Menghentikan motorku di taman kota. Tempat ini sepi.... tentu saja ini hari kerja.... siang siang lagi. Aku masuk ke taman bermainnya. Duduk disebuah ayunan bulat. Tempat ini cukup sepi untuk aku menangis. Belum tiga menit aku sudah sesenggukan disana. Revan yang selalu mengagumkan kini menjijikkan. Itu sebabnya dia pro sekail urusan ranjang. Aku jadi teringat tiga hari sebelum ijab dan obrolan Revan dengan kakak iparku. Haaa aku yang bodoh... aku yang tidak perdulian. Aku yang kecewa pada Revan.
Bapak menelfon. Beliau pasti khawatir.
"Iya Pak." Kujawab dengan suara seriang mungkin.
"Dimana Nduk kok belum pulang?" Tanya Bapak dengan nada khawatir.
"Main sebentar kerumah Ibu. Aku kangen." Kataku berbohong.
"Owalah, ya udah disitu dulu. Pulangnya mau Bapak jemput? Atau mau dijemput Revan nanti sepulang dia kerja?" Astaga.... Bapak mertua yang amat sayang.
"Nanti gampang Pak, nanti Putri kabari. Aku tutup dulu yaa.. " Kataku. Kami mengakhiri pembicaraan. Telfonku berbunyi lagi.... Mamas..... nama yang tertera dilayar telpon bodo amat!!!
Telfon mati sendiri setelah sekian lama berbunyi. Aku membuka aplikasi pesan. Haaa ada pesan dari Habiba mengomentari masakanku. Dan puluhan pesan dari Revan.
'Duh yang lagi seneng senengnya jadi istri.' Komen Habiba. Iya, aku lagi seneng banget!!!!, banget banget!!!! Seneng banget sampai kecewa. Batinku.
'Iya dong... pasti.' Kuselipkan emosi ketawa berderet deret. Tiba tiba ide gila terpikir olehku.
***
Habiba menyambutku dengan riang. Kami lama sekali tidak bertemu dan ngobrol. Anaknya udah empat tahunan terbengong bengong menatapku.
"Masuk masuk.... aku gak nyangaka kamu masih inget jalan rumahku." Kata Habiba senang. Kami mengobrol dari siang sampai sore. Ketawa ketawa mengingat masa masa indah di SMK. Gosip gosip terbaru juga ada. Tika akan menikah tiga bulan lagi, Septy hamil anak kedua. Kami sempat vidio call sama Septy. Dia bengong bengong aku kerumah Habiba. Mupeng banget dia.
"Aku juga mau ikut kumpul kumpul. Ayo ah kapan kapan ngumpul. Nanti izin sama Re aku. Pulang dulu ke Sol*." Kata Septy menyebut kota asal kami.
"Ibu bhayangkari makin cantik aja udah isi belum??" Tanya Septy padaku. Aku tertawa.
"Jelas udah, isi nasi." Jawabku sambil mengelus perut.
"Dasar somplak." Jawab Septy diujung sana. Diki melintas dibelakang Septy. Menatap sekilas kearahku dan melambaikan tangan. Aku balik melambai ke Diki. Mereka berbicara sesuatu dan Septy pamit. Dia ternyata sedang ada dibascam Simpel di Jakarta. Aku bahagia.....aaaaa sejenak aku lupa sama Revan. Aku pamit pulang dari rumah Habiba saat sudah sore.
Aku jadi bingung mau kemana lagi. Aku gak mau ketemu Revan, tapi kalau pulang kerumah Ibu, mereka pasti khawatir dan tahu aku ada masalah. Ada notif perkumpulan bhayangkari rutin besok. Sial, mau gak mau aku harus pulang kerumah Revan kalau begini.
"Filemnya bagus ya Mbak, aku suka adegan saat ceweknya ternyata juga pandai karate." Katanya padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Iya lumayan bagus filem tadi." Kataku sambil membereskan sampah sisa popcron dan minumanku.
"Kok sendirian aja Mbak? Pacarnya dimana?" Tanyanya lagi. Aku jadi tertawa. Kutinggalkan dia begitu saja dengan seorang teman cowok disampingnya. Dia mengikutiku keluar dari stodio filem.
"Mbak, Mbak. Namaku Edi. Senang berkenalan denganmu." Katanya sambil merentangkan jabatan tangan didepanku.
"Aku Putri. Tidak memiliki pacar, tapi aku udah punya suami." Kataku sambil menerima jabatan tangannya. Dia melongo.
"Aku tidak percaya, kenapa orang cantik selalu laku duluan." Kata Edi.
"Selamat malam." Kataku sambil berlalu. Menahan senyum dibibir ini. Hahaha apa aku masih cantik yaaa? Sampai diajakin orang kenalan, padahal udah bersuami. Suami yaa.... ah iya suamiku ternyata bekas orang. Sial!!!!
Aku pulang kerumah Revan. Dia ada diteras mengerjakan pekerjaanku. Ini sudah jam sepuluh lebih. Aku masuk rumah lewat pintu garasi, tembus kedapur. Langsung lurus masuk kamar. Revan sudah menunggu didalam kamar ternyata. Aku diam. Dia melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayo bicara." Ajaknya. Aku lurus kekamar mandi. Bodo amat. Selsai mandi aku langsung tidur. Tanpa skincarean dulu seperti biasa. Dia duduk dimeja riasku menghembuskan nafas. Ikut nimbrung tidur memelukku. Menciumi tengkuku dengan gemas. Kubiarkan saja.
"Aku khawatir kalo kamu gak ada kabar. Kamu kalau marah bikin aku bingung. Maaf yaa aku salah... aku......"
"Aku mau tidur." Potongku cepat. Rasanya malas sekali mendengar mulutnya bersuara.
"Tidurlah, besok kita bicara." Kata Revan sambil merapikan rambutku. Menciumi pipiku sekilas dan terus mengelus kepalaku dengan sayang. Jenggotnya sudah kemana mana. Rambutnya juga sudah tidak dirapikan sejak menikah. Dia mau gondrong katanya. Terserah dibilangin juga keras kepala. Aku pura pura tidur. Terlelap beneran tidak lama. Capek.
Sepertinya pekerjaan ku cukup banyak hari ini. Entah dia mengerjakan sampai jam berapa. Aku terbangun karena ciuman ciuman kecilnya dimukaku. Aku berdecak dan mendorongnya menjauh.
"Maaf, kamu cantik. Aku gak tahan lihat bidadari tidur pulas." Kata Revan berusaha menciumku lagi. Aku menolak. Memalingkan wajah. Dia tidak memaksa seperti biasanya.
"Tidurlah lagi." Katanya kemudian dia ikut tidur disampingku. Memeluk pinggangku dengan erat dengkuran halus langsung terdengar.
Apa yang dia lakukan? Kukira dia pria baik yang pendiam dan dingin. Kalau begini dia tidak bisa dianggap dingin. Apa lagi yang dia lakukan? Dia memang sangat tertutup. Tidak bicara kalau tidak dipancing. Itu pun kalau mau buka suara dengan ikhlas. Kalau tidak mau sampai kucing cukur kumis juga tidak buka mulut. Tidak bicara kalau tidak ketahuan. Seperti sekarang ini.....Aku malah tidak bisa tidur. Aku biasa tidur nyungsep didadanya. Kalau gini ya gengsi mau berbalik dan nyungsep. Sial, mataku segar dia pules.
Aku memainkan hp berharap bisa tidur. Sampai dini hari juga masih melek. Aku ini kenapa? Dulu waktu gadis gampang banget tidur. Gak pakai acara nyungsep juga bisa. Tangannya masih melingkar diperutku. Aku pegal membelakanginya. Aku berbalik terlentang. Kekamar mandi pipis. Tidur lagi. Telentang, tengkurep. Masih melek aja. Dia terbangun menarik tubuhku dalam pelukannya. Aku meronta.
"Diam. Besok aku ada tugas penting. Kalau kamu terus bergerak aku gak bisa tidur." Kata Revan sambil mendekatkan dadanya dimukaku. Aku langsung mengantuk.