
Kaki ku pegal sekali. Seharian ini, kami muter muter cari seserahan. Kami marathon mencari semuanya dalam satu waktu. Aku ambruk duduk diruang tamu rumah Revan. Bapak tidak ada dirumah.
"Mau aku pijit?" Tanya Revan. Mencuri satu ciuman dipipiku. Dia tampak segar bugar biasa saja. Padahal jari kakiku sudah berasa sekriting rambutku.
"Kamu juga pasti capek Mas." Kataku.
"Apa aku terlihat capek?" Tanyanya sombong.
"Iya iya, Mamas ku yang kuat." Kataku.
Aku membuka to do list kami otw nikah dihpku. Sudah banyak yang tercentang. Kurang dua minggu lagi ditempatku. Tiga minggu ditempat Revan. Untung WO yang digandeng Bapak jempolan. Dia mau mengerjakan semuanya sampai selesai. Apapun itu. Termasuk menyebar undangan, mengurus pembentukan panitia, menghias seserahan nanti, dan banyak lagi yang tidak masuk cover WO diacaraku. Aku jadi gak semontang manting waktu lamaran. Pasti mahal. Tentu saja, kalau dipikir pikir ada jarak yang jauh antara finansial keluargaku dan keluarga Revan. Tapi mereka terlalu low profile, jadi tidak terlihat. Atau aku yang pura pura buta. Hahahaha.
Revan sudah ngedusel dusel manja. Aku sudah kegelian karena ciuman ditengkuku bertubi tubi.
"Mamaaasss udah, ini di ruang tamu." Kataku mendorong tubuhnya menjauh. Tidak bergeming, ini orang selain kulkas juga beton.
"Kalau gitu ayo kekamar." Kata Revan santai. Masih mode ngedusel dusel. Satu ciuman ringan sudah mendarat dibibirku. Tepok jidat dalam hati.
"Aku mau es teh." Kataku mengalihkannya dari hal hal mesum. Biasanya dia selalu sigap dengan apa yang aku mau.
"Aku mau kamu." Kata Revan. Hedeeeehhh.... jurusku gak mempan ternyata. Tangannya malah sudah kemana mana. Aku berdiri dan duduk didepannya. Kalau terus menempel lama lama pakaianku bisa dilucuti. Biasanya dia yang jadi rem kalau kita kebablasan, tapi semakin dekat dengan pernikahan remnya Revan sudah blong. Dia selalu berusaha melakukan hal hal nekat padaku.
Dia tertawa melihat aku menjauhinya.
"Aku tambah nakal yaa.. " Kata Revan.
"Banget!!!!" Jawabku ketus.
"Apa to do list yang kurang?" Tanya Revan balik kehpku lagi.
"Latihan pedang pora, kesalon perawatan... kumpulan panitia di tempatku sama tempatmu." Kataku sambil membaca to do list yang belum tercentang.
"Aku sudah menghubungi juniorku. Geladi resik nanti saat hari H pagi hari. Kesalon mau aku antar kapan?" Tanya Revan sudah kembali mendekat duduk disampingku. Tangannya sudah mencapai perutku dibagian dalam kaos menggelitiknya pelan. Aku menjauh lagi. Kami mirip main putar putar duduk dikursi tamu.
"Ayolah..... kamu seperti ketakutan sama suamimu sendiri." Kata Revan.
"Calon suami. Calon! Belum resmi jadi suami!!!" Kataku galak. Dia senyum senyum aja.
"Aku kesalon sendiri aja. Lama perawatannya. Kamu nanti bosen Mas." Kataku balik ke to do list.
"Ayo pulang. Aku capek sekali." Kataku sambil menarik tangannya.
***
Kami bergandengan tangan keluar rumah. Ingin mengeluarkan barang barang seserahan dari bagasi. Sebuah mobil minibus berhenti dihalaman. Mobil plat ibu kota.
"Kamu nunggu tamu Mas?" Tanyaku. Revan menggeleng.
"Mungkin tamunya Bapak salah jam." Kata Revan. Saat keluar kulihat Septy menggendong anak kecil. Di belakangnya bermunculan personel Simpel.
"Putriiìii!!!!!" Septy teriak. Kami kemudian berpelukan. Bocah gembil tadi beralih digendong Re.
Simpel datang untuk meminta ijin melanjutkan perjuangan dengan vocalis yang baru. Walau mereka tidak yakin nyawa bandnya akan sama dengan Riyan dulu. Dan memohon keridhoan keluarga untuk menggarap lagu lagu Riyan yang tersisa. Cleo mengeluarkan speker kecil mengtak atik sebentar.
"Kami menemukan ini saat berada distodio Simpel dikota ini. Kami tidak tahu kalau Riyan sering menggunakannya sepeninggal hijrah kami ke Jakarta. Rumah itu memang dijadikan rumah Simpel, tapi biasanya kosong. Ternyata selama ini ditunggu seorang tukang kebun." Kata Cleo. Aku teringat stodio kecil tempat aku dan Riyan sering membuat lagu.
"Tapi bersiaplah, mungkin ini berat untuk kalian." Kata Cleo lagi.
Suara Riyan terdengar dengan diiringi petikan gitarnya sendiri.
Demi masa kita yang tak ada
Tolong jaga hatinya
Demi tawa yang tak pernah tercipta
Buat dia bahagia
Kutitipkan rindu
Lewat lagu merdu
Kutitip harapan
Lewat sebuah kenangan
Aku akan ada
Ada diatas sana
Bersama rinduku
Ingin aku bertemu
Kutitip doaku
Kutitip cintaku
Bahagia lah selalu
Andai malam tiada kelam
Tiada sinar bintang yang begitu terang
Biar kujadi malamu
Bersinarlah selalu
Sampai jumpa lain waktu
"Kapan dia membuat?" Tanya Revan kesedihan jelas menggantung diwajahnya. Cleo melihat hpnya.
"Sudah lama, tanggal xx bulan xx tahun xxxx" Kata Cleo.
"Satu hari sebelum dia menculikku." Kataku sendu.
"Dia sempat mememuiku dikampus pagi pagi. Memperingatkku untuk pergi jauh." Kataku sudah bercucuran air mata.
Aku tahu senyummu nyata
Aku mengerti kamu bahagia
Aku tidak lagi bertanya
Apa dia mampu menjaga
Senyum kalian akan abadi
Aku yang menjamin ini
Kupastikan bahagiamu
Pengantar tidur lelapku
Aku tidak akan mengganggu
Sudah puas kunikmati diputih abu abu
Saat senyuman hanya untuku
Tawamu tercipta dariku
Kupastikan bahagiamu
Pengantar tidur lelapku
Pengantar malam malam panjangku
Pada dimensi waktu........
Aku sudah sesenggukan dipelukan Revan. Hampir histeris. Re mengambilkan air minum.
"Pelan pelan Sayang." Bisik Revan saat meminumkanya padaku.
"Tarik nafas, tarik nafas." Kata Revan menenangkan aku. Aku menarik nafas panjang beberapa kali.
"Dia sudah berencana mengorbankan diri Mas, dia tahu dia akan mati." Kataku gelagepan diantara isak tangis.
"Aku tahu, aku tahu." Balas Revan sambil kembali meletakkan kepalaku didadanya. Mengelus ringan punggung dan rambutku.
"Rumah di jalan xx dalam kompleks perumahan. Berada dibelakang lingkungan pemda adalah tempat Riyan beristirahat sebelum beraksi sebagai bandar. Dia menjadikan tempat itu sebagai hotel saat berada disini. Aku sering membuntutinya kesana." Jawab Revan matanya menerawang jauh. Seperti mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Itu dulu rumah Mamah, dibeli Riyan dengan harga tidak wajar tingginya. Katanya mau dijadikan rumah kenangan perjuangan Simpel. Tapi karena kesibukan kami, rumah itu kupikir terbengkalai. Karena Mamah ikut aku pindah keJakarta." Kata Andi. Ikut menerawang.
Simpel bercerita kalau mereka sedang audisi vocalis setelah setahun lebih tidak manggung karena kematian Riyan. Mereka mau vocalis dari kota yang sama. Jadi mereka kesini. Bermaksud napak tilas mereka pergi kerumah itu dan menemukan karya Riyan sebelum ia meninggal.
"Lakukan yang harus dilakukan. Lanjutkan Simpel dengan vocalis baru. Garap lagu Riyan sebaik baiknya. Dia musisi, dia akan suka lagunya dikenal banyak orang." Kata Revan mantap. Personil Simpel mengangguk kompak.
***
Bayi kecil berusia dua tahunan itu bosan. Dia rewel.
"Anak kalian?" Tanyaku pada Septy yang menggendong bocah itu hilir mudik.
"Iya, kami menikah empat tahun lalu." Kata Septy
"Kamu sudah menikah dengan Mas Revan?" Tanya Septy.
"Dua minggu lagi." Jawabku.
"Wooow, bagaimana kalau kita hadir? Menyanyikan satu lagu dua lagu mungkin. Tentunya dengan vocalis yang baru. Itung itung perkenalan dengan vocalis pengganti Almarhum." Ide Re muncul.
"Acaraku sederhana sekali, tidak memungkinkan untuk ada band papan atas." Jawabku.
"Bisa diacaraku. Tiga minggu lagi. Nanti biar aku bilang sama WO ku." Revan memberi usulan. Mereka setuju manggung ditempat Revan tiga minggu lagi.
Usai Simpel mohon diri, Revan bertanya padaku:
"Kamu mau kesuatu tempat Dek?" Aku mengangguk sudah sambil meneteskan air mata. Tibalah kami ditempat ini. Dua makam berdampingan bahkan dengan nisan yang sama.
"Ibu apa kabar? Aku mau nikah sama Putri. Apa Riyan tengil disana. Pukul saja kepalanya." Kata Revan.
"Dan kamu Yan, kamu mau memberi hadiah pernikahan pada kami yaa. Terimakasih." Kata Revan lagi. Kami duduk diantara dua makam itu, saling menyandarkan punggung menghadap lain arah. Membebaskan masing masing agar tidak malu meneteskan air mata.
"Ibu, aku mohon restu yaa....Riyan, terima kasih untuk lagunya." Kataku. Kami diam tengah dua nisan itu hingga mau magrib.
"Ayo pulang Dek, kata Riyan pistolku tidak bisa melindungi dari hantu hantu di pemakaman." Kata Revan berusaha mencairkan kesedihan. Aku tersenyum.
"Dia memang penakut dari dulu." Kataku.
***
Sepanjang perjalanan dari makam kuceritakan kisah Riyan saat SMP dulu. Saat itu kami pesantren kilat menginap satu malam disekolah. Untuk do'a bersama sebelum ujian kelas tiga. Dia membolos saat doa bersama diaula. Malah mojok dengan pacarnya Vonika. Ciuman diluar pojok aula yang gelap.
"Aku melihat mereka, karena sebel dan cemburu, kutakut takuti mereka. Aku tertawa nyekiki dibelakang pintu kelas yang kosong. Si Vonika kabur tanpa suara. Kalau menjerit pasti ketahuan mereka membolos. Riyan diam ditempat tidak bergerak. Celananya sudah basah. Ada genangan air dibawah kakinya. Dia ngompol dicelana." Ceritaku sambil menggelayut ditangan Revan. Dia nyekikik.
"Untung saat itu sepi. Dia berdiri beberapa saat kemudian dan langsung ganti celana. Aku menungguinya di kejauhan. Takut dia pingsan ditempat. Untung dia tidak tahu kalau itu ulahku." Lanjutku mengakhiri kisah. Revan tertawa terpingkal pingkal.
"Mafia yang takut hantu. Dia lebih bodoh dari yang kukira." Kata Revan.
Kami masuk mobil setelah menurunkan barang barang seserahan dan mengunci pintu rumah.
"Itu sebabnya dia cepat datang saat demo itu terjadi. Karena dia ada dirumah Andi. Posisinya dekat dengan TKP." Kataku. Revan mengangguk sambil menjalankan mobilnya.
"Aku tahu dia baru saja sampai dengan pesawat pagi disini." Kata Revan. Sepanjang perjalanan pulang, kami bercerita tentang Riyan. Pengalaman waktu SMP, pacaran waktu SMA. Revan menceritakan saat dia membuntuti Riyan. beberapa aksi kucing kucingan Riyan dan Revan sebagai mafia dan polisi. Mengenang orang yang kami sayangi. Orang yang menyelamatkan hidup kami. Haaaahhhh Riyan...... Kami kangen.
"Dia itu licin dan cerdik. Aku gak tahu dia takut hantu tapi.... hahahaha." Revan tertawa lagi. Sepertinya aib Riyan yang itu begitu dia sukai. Kami sudah tiba di halaman rumahku.
"Dia juga sangat romantis ternyata." Lanjut Revan.
"Riyan itu buaya darat yang mampu meluluhkan semua wanita." Kataku.
"Dia menjagamu sampai datang aku. Aku harus berterimakasih karena dia menjagamu dengan baik." Kata Revan. Kami berciuman sebentar sebelum masuk rumah.