
Keluargaku menunggu dirumah Revan. Mereka lengkap ada Ayah, Ibu, Mbak Sasa dan Mas Dipo. Mereka belum pulang setelah upacara pemakaman tadi siang.
"Ayo pulang Nduk, kamu sudah terlalu lama meninggalkan rumah." Kata Ibu.
"Biar Revan yang antar Bu." Kata Revan menawarkan diri.
"Apa tidak merepotkan, kami naik taksi saja." Kata Mbakku. Revan menggeleng dan mengambil kunci mobilnya. Kami pulang setelah berpamitan dengan Bapak.
Mobil Revan berjalan memecah kepadatan lalu lintas sore itu. Aku, ibu, dan Mbak Sasa ada dimobil itu. Ayah dan Mas Dipo bawa motor masing masing.
"Jadi kamu sama Riyan itu satu ibu Van?" Tanya ibu memastikan. Revan mengangguk.
"Kami satu ibu beda bapak. Kami baru saja mengetahuinya Bu, tapi Dia sudah pergi sekarang." Kata Revan getir. Kami semua terdiam dimobil. Aku jadi lebih pendiam dari Revan sekarang. Semua yang sudah kulalui seperti mimpi. Entah nyata entah mimpi aku tak bisa membedakan. Semuanya baur, bias, membayang.
Mobil Revan sampai dihalaman rumahku. Ibu dan kakak sudah turun. Motor Ayah dan Mas Dipo sudah terparkir, mereka sampai duluan. Aku melepas seat belt mau turun. Revan memegang tanganku.
"Maaf untuk beberapa hari terakhir. Aku merasa bersalah untuk setiap air mata yang menetes dimatamu. Maaf untuk kesedihan dan trauma ini. Ini salahku." Kata Revan. Aku mengangguk dalam diam. Revan pamit langsung pulang.
Aku merindukan rumahku. Terakhir aku disini sekitar 6 hari lalu. Berangkat kuliah pagi pagi. Kemudian hari hari panjang berlalu. Hanya enam hari, tapi serasa bertahun untukku.
"Mandi dulu, makan, kemudian tidur. Kamu terlihat lelah sekali." Kata Mbakku. Aku mengangguk lagi dalam diam. Aku mandi, tapi tidak tertarik untuk makan. Langsung masuk kamar kemudian tidur dikasurku yang empuk. Berharap semua itu mimpi buruk. Mimpi yang tidak pernah aku temui lagi.
Esoknya seisi rumah mencoba menghiburku.
"Pagi Nduk, Ibu masak timlo kesukaanmu." Kata Ibu begitu aku keluar kamar.
"Weeeehhh..... ini dia Putri tidur yang baru siuman. Mukanya asem kayak baunya." Mas Dipo cari gara gara. Biasanya aku langsung menanggapinya dan kita akan berdebat. Kali ini aku lebih suka diam.
"Enggak kok baunya wangi, cuma mukanya yang masih asem. Nanti beli brownis Amand* langsung ceria kayaknya." Mbakku nyambung obrolan. Aku cuma senyum senyum kecut menanggapi.
"Ini gimana ya Nduk, kok Ayah bingung." Kata Ayah selsai aku sarapan. Beliau bawa hp android yang belum sepenuhnya dimengerti. Aku mengamati sebentar.
"Ow, ini begini Yah....." Aku menjelaskan menu hp itu pada Ayah. Mereka mencoba menghiburku dengan cara masing masing.
"Ocha datang !!!!Ocha datang!!!!" Teriakan gadis kecil itu ketika memasuki rumah. Suasana rumah jadi hidup. Kakak pertamaku datang. Merengkuhku dalam pelukannya.
"Kamu hebat Dek, kamu hebat." Katanya sambil mengelus punggungku. Mas Kris menjabat tanganku. Mengacak acak rambutku.
"Kamu bukan bocah lagi sekarang, aku mau tukar tambah istri kalau begini." Katanya cengengesan. Langsung dapat cubitan dari istrinya. Membuatku sedikit menyimpulkan senyum. Jauh jauh mereka dari luar kota. Aku mencoba tersenyum dan ceria lagi. Menghargai mereka yang susah payah menghiburku.
Walaupun dalam hati masih gelap gulita. Seperti biasa. Aku menyimpannya dalam diam. Ocha dengan segala tingkahnya juga sedikit mengalihkan semua kegelapan ini. Bayangan Riyan bersimbah darah masih membekas. Kemudian senyumnya, kemudian parfumnya.....
Malam hari tiba. Waktunya aku mengingat semua, karena sendirian dalam kamar. Aku menangis mencurahkan semua pilu yang tertutup senyuman di depan keluargaku. Hpku bergetar. Vidio call dari Revan. Aku mengangkatnya dengan air mata yang bercucuran.
"Aku tahu kamu pasti menangis sendirian dimalam hari. Menangislah aku temani." Kata Revan. Aku seperti diberi ruang mencurahkan. Aku menangis dalam diam. Berusaha untuk tidak bersuara agar tidak mengganggu penghuni lain dirumah ini.
Setiap malam Revan menelpon. Tidak untuk berbicara apapun. Hanya melihatku menangis sebelum tidur. Dia menungguku tidur. Memastikan aku tidur kemudian mematikan vidio call.
***
Seminggu berlalu....
Aku mulai bekerja dirumah Revan. Pekerjaan menumpuk. Orderan lagi banyak banyaknya. Aku dan Revan sedang tidak bisa diandalkan penuh. Kasihan bapak sendirian pontang panting. Aku kembali menghendel pembukuan. Revan sudah masuk kerja dari tiga hari setelah kepergian Riyan. Aku disana dari pagi sampai sore, kadang sampai malam. Karena pekerjaan yang menumpuk.
"Masih disini Dek?" Tanya Revan. Hari ini dia pulang sore. Wajahnya segar. Dia baru selesai mandi. Aku mengangguk saja sebagai jawaban.
"Mau aku bantuin?" Tawar Revan padaku. Dia menduduki kursi didepanku. Aku menggeleng.
"Tugas kuliah? Mau kubantu?" Tanyanya lagi. Aku diam sejenak. Tugas kuliah sudah seperti gunung. Teman temanku memulai skripsi. Aku judul saja belum. Tidak lagi berselera masuk kuliah.
Revan memegang tanganku.
"Semangat Dek, kita harus hidup lebih baik agar Riyan tidak kecewa." Katanya sambil menggoyangkan tanganku. Aku mengangguk dan tersenyum. Dia menatapku lekat.
"Tolong jangan sembunyikan ini dari aku. Tolong jangan bersikap baik baik saja. Ayo kita bangkit bersama Sayang. Aku tidak suka melihatmu tersenyum atau mengangguk, tapi hatimu muram." Kata Revan. Aku langsung meneteskan air mata. Menangis lagi. Tersedu sedu lagi didepan Revan. Dia memberikan aku waktu menangis.
Saat sudah tenang dia membimbingku kekamar mandi.
"Ayo cuci muka kemudian jalan jalan." Kata Revan.
"Kemana?" Tanyaku.
"Aku tidak tahu. Kita putar putar saja. Kalau lihat tempat bagus kita berhenti." Kata Revan. Dia juga bingung menghibur diri sepertinya. Kami menikmati malam sampai waktunya aku pulang.
***
Sebulan aku membolos kuliah. Orang rumah sudah marah marah gak jelas. Orang rumah terus bertanya kenapa aku lama gak kekampus. Aku enteng menjawab kalau ini masuk skripsi, jadi gak harus kekampus.
Revan lebih jeli dari mereka. Suatu pagi dia memergoki aku pagi pagi sudah dirumahnya.
"Masuk!" Katanya sambil menarik tanganku. Dia membawaku kekamarnya.
"Apa yang kamu lakukan disini. Jadwal kuliahmu pagi kan?" Kata Revan dengan muka tidak bersahabat.
"Kerja." Jawabku pendek. Aku mau berlalu. Dia mencengkeram lenganku.
"Aku belum selsai bicara Dek!" Kata Revan.
"Aku sudah selesai. Pekerjaanku banyak." Kataku sambil mencoba berkelit. Tangannya semakin keras mencengkeram.
"Sampai kapan mau seperti ini? Kamu mau drop out? Selangkah lagi Dek, selangkah lagi. Jangan terpuruk sampai kamu menjadi buruk. Mana Putri yang kukenal semangat, dia yang katanya selalu juara. Mana semangatmu saat awal masuk kuliah memilih jurusan hukum?" Kata Revan panjang lebar.
"Semangatku mengambil jurusan hukum sudah berkalang tanah Mas. Dia sudah tidak ada." Kataku pilu. Mencoba menahan desakan air mata ini.
"Kenapa aku mengambil hukum? Bukan sastra yang jelas jelas menunjukkan bakatku? Karena aku mau menjadi pengacara. Aku akan membela Riyan. Dia akan kubela, kukeluarkan dari lingkungan hitam yang mengelilinginya. Karena dia pria baik yang terjebak dalam lingkungan yang buruk." Kataku sambil menerawang. Revan diam mendengarkan.
"Kenapa aku jungkir balik cari uang untuk membiayai kuliah? Padahal orang tuaku mampu membiayainya? Karena aku tidak ingin siapapun menuntutku, memprotesku saat aku membela Riyan kelak. Terutama keluargaku. Mereka tidak boleh menuntutku. Cukup mematahkan hatiku begitu saja dulu." Kataku lagi. Kali ini air mata sudah lolos begitu saja. Aku tak sanggup membendungnya.
"Lalu kamu mau mengecewakan kami orang yang masih hidup?" Tanya Revan mendengar alasanku.
"Mengecewakan orang tuamu, Kakakmu, Masmu dan aku? Kami bahkan masih hidup, tapi kau sibuk menangisi dia yang sudah mati." Kata Revan.
"Dia alasanku. Dia yang sudah mati semangatku untuk sekolah." Kataku gak mau kalah.
"Dan kamu alasanku untuk masih hidup!!!" Bentak Revan. Aku kaget. Ini pertama kalinya Revan membentakku.
"Melihatmu bahagia dan baik baik saja adalah tujuanku hidup. Aku tidak pernah memperlakukan wanita sesepesial kamu. Tidak pernah. Kamu juga sepesial untuk keluargamu!! Mereka hanya mau yang terbaik. Ibumu sampai datang padaku memintaku melakukan ini. Karena mereka tahu kamu dirumah hanya berpura pura baik baik saja." Kata Revan sambil memegang pundakku.
"Jangan kecewakan kami yang masih hidup Dek, kami masih ingin melihatmu bahagia." Katanya dengan nada lembut. Aku diam. Dia merengkuhku dalam pelukannya.
Lama kami berpelukan. Dia mulai menghujani kepalaku dengan ciumannya. Kemudian mencium bibirku ringan. Dia mau mengulang lagi. Aku yakin bukan kecupan saja. Aku menghindar. Aku belum siap melakukan kontak fisik seperti itu.
"Aku janji menyelsaikan sekolahku." Kataku kemudian berlalu. Dia terlihat kecewa, tapi diam saja. Membiarkan aku berlalu dari kamarnya.