
Saat aku ambil minum, Tomy mendekat kepadaku. Mukanya kesal setengah mati.
"Udah dibilangin jangan bawa dia. Masih aja ngeyel. Udah gitu sok romantis lagi diatas panggung!!" Tomy kesal.
"Lha gimana Tom, emang dasarnya kita romantis." Jawabku sambil nyengir. Biar agak adem mukannya. Aku udah sesek ngelihat muka masam dua orang laki laki. Gak mau nambah lagi lihat orang dengan muka masam.
"Kamu gak kasihan sama Riyan? Dia jauh jauh datang dari Jakarta kesini buat hadir direoni ini sebagai special guess. Buat nyepesialin siapa kalau bukan kamu!! Eh, kamunya malah gandengan sama tuh bapak bapak." Kata Tomy lagi. Aku kaget. Benarkah Riyan datang sepesial untukku?
"Beneran?" Tanyaku gak percaya.
"Ya benerlah!! Aku panitianya." Kata Tomy sambil menepuk dadanya. Kesal jelas terlihat dimatanya. Aku memandang kearah tempat duduk Riyan tadi. Dia sudah dikrubungi cewek cewek. Cekikikan entah karena topik apa. Sepertinya happy happy aja.
"Tuh, orangnya udah dikerubungi fans. Udah happy aja. Kamu yang masih sewot." Kataku santai. Ada yang bergejolak didadaku juga, tapi kutahan. Kami sudah putus dulu. Terserah dia mau cekikikan atau ciuman sekalian.
Aku lupa meninggalkan Revan dengan cewek yang selalu suka dengan apa yang aku sukai. Aku sudah mengumpat kesal saat Tika sudah duduk ditempatku duduk tadi. Badannya miring kearah Revan. Satu tangannya berpegangan pada sandaran Revan. Seperti merangkul Revan. Revan melihat kedatanganku. Dia membalik kursi didepannya. Menepukya pelan. Aku duduk dikursi itu sambil menyerahkan minum.
"Kapan kapan ajari aku ya Masmas biar bisa cepet dietku." Kata Tika manja. Semakin kesini semakin kulihat dia mirip wanita gatel. Mau kuusir tapi aku bingung alesannya. Ikut ikutan manggil Mamas lagi itukan panggilanku buat Dia!
"Cari aja diinternet Mbak, banyak kok. Gak usah ketempatku." Kata Revan santai. Entah pembicaraan apa yang mereka bicarakan.
"Tapi kan....." Ucapan Tika kupotong.
"Mau diajarin apa sama Mamas Tik?" Tanyaku.
"Aku tuh mau diet, kebetulan Mamas ini guru olah raga kan. Pass banget aku butuh olahraga tepat biar dietku berhasil." Kata Tika santai. Tangannya masih bersender disandaran kursi Revan. Revan menatap lekat wajahku. Aku ber oww ria sambil makan sosis basah khas kotaku.
"Tapi kalau kamu mau belajar langsung boleh datang kerumahku Mbak Jalan xxx nomer xxx." Revan menyebutkan rumahnya yang sesunghuhnya. Cari mati!!!! Aku langsung memelototinya kesal.
"Apa?!! Ngapain datang kerumahmu??!!! Dia itu cuma guru olahraga Tik, bukan personal terner. Kamu cari aja personal trener digym. Mereka lebih pro!! Atau cari dokter buat diet. Konsul!! Mereka akan dengan senang hati jadi mentor kamu!!!" Tanpa kusadari nadaku meninggi.
"Ahhh tapi kayaknya enak sama Mamas deh, aku udah kenal. Minta nomer hpnya aja Mas, nanti tak hubungi." Kata Tika modus sudah mengeluarkan HPnya. Aku sudah melorot dari tadi kearah Revan. Yang dipelototin malah mesem mesem hampir ketawa.
"Boleh Mbak, 081xxxxx." Revan menyebutkan nomer untuk dicatat dihp Tika. Menyebalkan!!!!! Dia kan punya ilmu mengerti isi pikiran orang. Dia tahu pasti Tika itu modus!!! Malah diladeni.
"Aku ketoilet dulu!!" Pamitku kesal.
Aku ngumpat ngumpat sendiri sambil mencari toliet. Melewati grombolan Riyan dengan cewek ceweknya. Tiba ditoilet aku cuma gebrak gebrak wastafel. Menyebalkan!!!! Revan itu nyebelin!!! Apa dia tertarik dengan Tika?? Matanya taruh mana kalau dia tertarik dengan Tika. Untung toilet sepi. Gak ada yang melihatku bete.
Tiba tiba pintu utama toilet tertutup. Aku kaget dan menoleh. Riyan sudah berdiri disana. Dengan baju dalaman biru muda dan kemeja kotak kotak biru tua yang dibiarkan terbuka. Lengannya tergulung sampai siku. Mukanya bersih, rambutnya dipotong rapi dengan gambaran disamping. Aku baru sadar kalau dia semakin tampan. Tadi bahkan aku tak sempat melihatnya lebih dalam. Kami berpandangan dalam diam.
"Apa seleramu berubah seburuk itu sampai memacari polisi bodoh?" Tanyanya. Aku kaget dia tau Revan polisi. Tiba tiba keributan datang dari luar toilet. Aku seperti mendengar suara Revan.
"Haa dia awas sekali ternyata." Kata Riyan kemudian membuka pintu utama toilet.
"Apa kelaminmu sudah berubah!!! Kenapa masuk toilet wanita!!! Apa yang mau kau lakukan??? Menempatkan penjaga di depan toilet??? Aku bisa dapat alasan menangkapmu sekarang." Kata Revan sinis. Sudah menarik tubuhku kebelakang tubuhnya. Kembali menggenggam tanganku dengan erat.
"Apa pasalnya? Perbuatan tidak menyenangkan?? Heh, dengan mudah pengacaraku mengeluarkanku. Kau tahu itu. Lagi pula..... belum tentu pacarmu itu mau memasukkan aku dalam penjara. Aku.... cinta pertamanya yang sulit dilupakan. Mantan terindah yang pernah dia miliki.Tanya sendiri kalau tidak percaya." Kata Riyan percaya diri, kemudian berlalu dengan seseorang dibelakangnya.
Revan berbalik memandang kearahku. Menatap lekat mataku.
"Apa yang dia lakukan didalam?" Tanyanya. Aku menggeleng.
"Dia datang, kemudian Kamu datang." Kataku. Benar dugaanku. Mereka sudah saling kenal sebelum bertemu disini. Revan mengangguk.
"Ayo pulang." Katanya kemudian menarikku keluar restoran yang sepertinya disewa kuhusus untuk reuni ini.
Aku ngomel sama Revan sepanjang perjalanan menuju parkiran. Aku kesal padanya karena memberikan alamat rumah dan nomer ponsel pada Tika. Yang diomeli senyum senyum gak jelas.
"Dia kan sahabat dekat banget sama kamu. Yaaa aku kasih dong. Supaya kita cepat akab pula." Kata Revan santai.
"Apa kamu gak tahu dia itu.... dia itu...... cewek...." Aku kehilangan kata kata menyebut Tika. Mau kubilang penggoda, tapi sepertinya tidak tepat. Pelakor... tidak juga karena belum ada laki lakiku yang berhasil dia rebut. Revan mengangkat alisnya. Menungguku menyelsaikan kalimat sambil senyum senyum.
"Gatel." Jawab Revan saat aku kesulitan menyelsaikan. Aku mengangguk cepat beberapa kali. Dia membuka pintu penumpang depan dan menungguku masuk.
Aku tidak masuk, justru mencubit perutnya yang beotot keras.
"Sudah tau gatel. Masih ditanggapi." Kataku memperkeras cubitanku. Dia mengaduh, tapi juga tertawa.
"Kamu lucu kalau cemburu." Katanya sambil melepaskan cubitanku.
"Siapa bilang aku camburu!!! Kalau kamu lebih pilih dia dari pada aku, ada yang salah dengan matamu!!" Kataku sadis. Revan tertawa masih memegangi pintu mobil yang terbuka.
"Kamu sudah tahu siapa dia tapi masih berteman dengannya? Kamu sepertinya bermasalah dengan teman dekat. Pilih pilih teman aku bilang. Tidak semua orang tulus berteman dengan kita." Kata Revan. Matanya lekat memandang kebelakangku.
"Sekarang bukan hanya teman yang bermasalah. Mantan terindahmu juga mau cari masalah!!!" Kata Revan menutup pintu mobil. Menatap lurus orang yang ada dibelakangku. Aku ikut menoleh, ternyata Riyan dengan beberapa orang dibelakangnya.
FN (for note): Kejadian ini benar terjadi walau tidak sedramatis ini hahahhha. Aku belum sempat mohon maaf dengan Riyan dalam dunia nyata. Disini aku mau minta maap. Lain kali kalau mau ngasih kejutan kasih bocoran dikit. Jadi kejutannya gak gagal karena aku bawa cowok lain. hihihihihi.