
Revan baru saja dipindah tugaskan dikota ini. Kota yang dekat dengan rumahnya, bisa dijangkau dengan kendaraan dari rumahnya. Baru saja dapat pangkat baru. Menanggalkan pangkat ipda berubah menjadi iptu. Dia senang sekali ditugaskan disini. Dekat dengan semua orang yang dia cintai. Bisa pulang kerumah, tinggal dengan Bapak, kemudian atasannya juga sudah mirip ayah angkat untuknya.
Ini hari pertamanya akan diperkenalkan sebagai kanit rese narkoba. Bodohnya jam tangannya justru tertinggal. Ini gara gara Bapak yang membahas istri untuknya pagi tadi. Orang tua satu satunya itu ingin dia menikah.
"Bapak ingin lihat kamu nikah Lee, kamu ini sudah tua. Mau nikah umur berapa?" tanya Bapak.
"Buburnya enak, tapi porsinya terlalu sedikit untuk sarapan. Nanti Revan sarapan dikantor lagi. Revan buru buru. Berangkat dulu ya Pak," jawab Revan gak nyambung.
"Bapak bicara istri kamu bicara bubur." Bapak protes.
"Revan akan nikah bareng Bapak? Gimana? Seru kan bapak dan anak nikah bareng," kata Revan cengengesan berlalu nyelonong begitu saja. Kabur dari ruang makan setelah dengan cepat menghabiskan sarapan.
Bagi Revan patah hatinya dengan Nada masih terasa, walaupun itu sudah lama berlalu. Dia buru buru kabur berangkat kerja sebelum bapak bicara lebih lanjut.
Revan menghentikan motornya diswalayan dekat rumah. Langsung naik kelantai tiga. Seingatnya dulu swalayan ini juga menjual aksesoris termasuk jam tangan di lantai tertingginya. Anggap saja nambah jam, karena jam tangannya cuma satu.
Dia disapa dengan ramah oleh seorang SPG. Revan menyadari mata coklat dan kulit SPG itu yang seputih pualam dalam tatapan kedua. Cantik. Bahkan dengan kacamata minus yang melekat. Kesan pertama. Apalagi dia ramah dan mau diajak bercanda. Revan seperti tertarik magnet oleh SPG itu. Tapi nyatanya SPG itu hanya ramah urusan pekerjaan. Dia begitu dingin untuk urusan pribadi.
'Haa bukan Revan kalau tidak bisa mengetahui namanya.' Batin Revan saat membayar dikasir.
Benar, mereka bisa berkenalan meski tidak resmi. Ternyata bocah!!! Masih siswi SMK. Revan tersenyum sendiri saat menuruni tangga swalayan. Ia merasa mirip pedopil kalau begini. Perkiraan jarak umur mereka cukup jauh. Tapi senyum dan kecantikannya susah diabaikan.
Secara berkala Revan mengunjungi swalayan itu. Tidak sulit baginya menemukan Putri. Apa lagi dengan kecerdasannya sebagai polisi. Dia belum mau berhubungan lebih dengan wanita manapun. Akan tetapi Putri benar benar menarik. Bocah yang cuwek dan terlihat pintar. Gadis itu benar benar mengganggu pikirannya.
***
Ine minta diantar belanja bulanan. Setelah bertahun tahun mereka terpisah jarak. Mereka menghabiskan sabtu siang itu untuk belanja.
"Van mau di traktir dong!" kata Ine blak blakan. Revan tersenyum.
"Mau apa?" tanyan Revan santai. Ine menggenggam tangannya. Revan melirik tangannya dalam genggaman Ine.
"Aku lagi pingin pizza di Gran* Mall," kata Ine semangat.
"Cih, pizza gayamu Nee, biasanya juga makan gendar bikinan ibumu," kata Revan mencibir. Ine cemberut memukul lengannya, tapi justru mengeratkan pelukkannya ditangan kiri Revan. Revan menggerakkan tangannya. Menariknya dari pelukan Ine. Pura pura melihat jam tangan. Wajah Putri justru tergambar nyata. Jam itu yang dibelinya dari Putri. Ahh... Revan kangen.
"Ayo berangkat. Sebelum malam," kata Revan.
Mereka beriringan menuju mobil. Revan tahu ia harus menjelaskan dan memberi batas pada Ineke. Agar dia tak kecewa. Revan tahu rasa cinta Ine kepadanya belum luntur juga.
Revan menyodorkan hpnya pada Ine saat mereka makan pizza.
"Cantik gak?" tanya Revan pada Ine. Ine melihat hp Revan. Akun sosmed seorang gadis. Ine menggulirkan sampai bawah.
"Tapi cantiknya mengobrak abrik konsentrasiku," kata Revan. Ine bungkam, masih serius memandangi sosmed Putri.
"Dia masih bocah, sebentar lagi wisuda SMK. Aku.... tertarik sekali padanya. Follower di akun publiknya banyak. Aku yakin punya banyak saingan," kata Revan. Sengaja bercerita pada Ine agar gadis itu mengerti. Batas antara kakak adik dan pacar.
"Hah, Iptu Revan tidak percaya diri menghadapi gadis ingusan? Kau bodoh atau gadis ini yang kelewat sombong?" tanya Ine sinis.
"Dia tidak tahu aku polisi," kata Revan. Ine melongo. Sejak saat itu Putri menjadi andalan Revan saat Ine keluar dari batas adik. Revan tidak tahu itu justru membuat masalah baru dikemudian hari saat dua gadis itu bertemu.
***
Revan datang ke acara wisuda Putri. Ada sorot kesedihan yang tidak bisa disembunyikan Putri saat mereka menatap rombongan band baru. Revan sedikit penasaran, tapi ia tahan. Tidak ingin membuat konflik dihubungan mereka yang semakin mendekat.
Dia berhasil mengantarkan Putri pulang. Haaa sambutan orang tuanya membuat Revan pusing. Sepertinya ada masalah sebelum dia datang. Seperti hati hati sekali takut tertipu. Revan sudah mau buka mulut kalau profesinya polisi. Akan tetapi dia takut Putri merasa dibohongi. Urung niatnya memberi tahu. Itu berlangsung selama bertahun tahun.
Tapi dia bisa mengajak gadis itu malam mingguan, nonton atau malam minggu khas anak muda. Hahaha sebenarnya ini terlalu muda untuknya.
"Malam Pak Revan, ngantri tiket juga buat nonton?" sapa bawahannya yang menggandeng pacarnya. Revan melihat Putri mendekat, setelah tadi gadis itu ijin ketoilet.
"Panggil nama! Jangan bilang apapun soal polisi," bisik Revan sebelum gadis itu benar benar sampai. Jery terbengong.
"Maaf lama yaa toiletnya ngantiri," kata Putri. Revan mengangguk.
"Ini Jery, teman mengajar di sekolah, ini pacarnya," kata Revan mengenalkan dua orang di depannya.
"Halo Mbak, saya wakil kepala sekolah, Revan ini bawahan saya yang suka bandel. Mbak tahu dia suka ketahuan merokok dengan siswa lain," kata Jery ngelunjak pada atasannya sendiri. Revan sudah membulatkan matanya, tapi gak berani komen.
"Oh yaa, waa itu contoh gak baik lho Mas," kata Putri menasehati dengan polosnya. Revan mengangguk. Dia sudah membayangkan akan membuat Jery ngos ngosan push up besok.
"Ayo kita pilih filem. Pak kepala sekolah, saya tunggu dikantor besok," kata Revan dengan senyum mengancam pada Jery.
"Aku mau lihat itu," tnjuk Putri pada banner filem yang diputar.
"Aku lihat sinopsisnya bagus, tentang polisi yang nyamar sampai istrinya gak tahu. Ih, tau gak sih Mas, aku tuh suka detektif detektif misteri polisi gitu deh," oceh Putri. Revan merasa Putri telak menamparnya. Jery sudah mesem mesem.
"Bapak Jery mau ikut nonton?" tanya Putri ramah.
"Bapak kepala sekolah bosen dengan cerita polisi. Kita saja yang nonton. Selamat malam bapak kepala sekolah yang terhormat!!" kata Revan. Jery sudah bergetar menahan tawa. Menyembunyikan merinding. Besok pagi jelas dia disidang atasannya yang galak itu dikantor.
Malam minggu itu dihabiskan Revan dengan menguap distodio filem. Dia baru saja pulang kerja. Main detektif dalam dunia nyata. Sekarang disuguhi filem detektif lagi. Tidak tertarik, tapi dia senang menghabiskan malam minggu dengan Putri walau sebentar.