I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 116



Hape ku berbunyi. Pesan dari Diki.


'Apa aku masih boleh mengantar makan siang?' Tanya Diki setelah beberapa pesan diatasnya hanya terabaikan. Tentu saja terabaikan aku punya admin tengil dua hari kebelakang.


'Aku gak mau merepotkan. Jangan datang, aku gak enak sama kamu.' Jawabku.


'Apa benar kamu balikan dengan Suamimu?' Tanya Diki lagi.


'Tidak, itu hanya akal bulus dia. Dua hari hpku disita dengan pembajakan full. Menyebalkan!!' Ketikku. Dia membalas dengan emoti tertawa berderet deret. Setidaknya ada orang yang percaya padaku.


Tiba tiba Diki datang dengan beberapa kotak pizza, box ayam kermes dan beberapa balon helium berbentuk hati. Temen temanku langsung gembira. Yang heboh bukan cuma teman satu kios. Teman kios tetangga juga heboh. Aku jadi malu sendiri.


"Wah bener Mbak, fansmu setia setia. Aku mendoakan yang sering ngasih makanan gratis yang jadi." Kata Sofi sambil menerima box dari Diki. Diki tertawa menanggapinya.


"Terimakasih doanya, aku semakin percaya diri. Walaupun sainganku berat." Kata Diki tanpa nada candaan. Matanya lekat melihatku. Aku tetap mencoba tertawa agar tidak canggung.


"Jangan menambah arang dalam bara." Kataku menepuk lengannya. Diki malah memegang tanganku dan menciumnya. Memberi elusan sekejab dipipiku. Aku kaget dan menepisnya. Tidak biasanya sentuhan Diki begitu intens.


"Sayangnya itu bukan candaan Put. Aku harap kamu memikirkannya." Kata Diki kemudian berlalu. Aku bengong, hatiku berdesir. Apa dia.... Menyukaiku?


"Mbak mbak, masak Mbak putri gak sadar Mas Diki itu suka sama Mbak Putri." Kata Sofi mengagetkan lamunanku. Dinda manggut manggut sambil makan pizza.


"Dilihat darimana pun emang kelihatan suka sih." komentar Dinda sambil terus ngunyah. Kami membagikan pizza Diki pada tetangga kios. Terlalu banyak dimakan bertiga.


Sekarang aku yakin Diki menyukaiku. Tidak!!! Dia pernah mengatakan menyukai seseorang dalam diam. Apa itu aku??? Haaaa selama ini aku memberinya harapan untuk dekat.... tapi kami hanya berteman kan??? Dia sama sekali tidak menyatakan cinta walau tahu hubunganku dan Revan merenggang. Tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia tulus berteman denganku. Kupandangi balon hati yang dia bawa. Balon itu.... memperjelas perasaannya. Haaaa pusing.


***


Jam pulang tiba. Revan sudah datang menjemputku. Dia kembali bersandar dibesi pembatas menunggu kami beres beres.


"Yang ini kalau gak bewokan juga ganteng Mbak." Bisik Dinda.


"Ketat yaa persaingan. Yang satu jemput, yang satu ngirim makanan hobynya. Pilih yang mana Mbak?" Bisik Sofi.


"Yang ini udah ngajakin liburan kemarin. Mas Diki tadi udah cium tangan dan elus elus pipi manja. Hihihihi kayaknya dua duanya gencar." Kata Dinda. Walaupun berbisik, aku yakin Revan mendengarnya. Aku pusing sendiri. Mereka membocorkan kelakuan Diki pada Revan kalau begitu.


Kulirik Revan sudah mengamati box pizza yang teronggok ditempat sampah. Terlalu besar masuk hingga hanya diletakkan diatasnya. Haaaa mati. Dia sudah dapat bukti.


"Mbak balonnya gak dibawa pulang?" Tanya Sofi. Aku sudah mau kabur saja. Sekarang Revan pasti tahu balon itu dari Diki.


"Buat kamu aja kalau mau." Kataku pada Sofi. Kulirik Revan mukanya makin dingin. Pancaran amarah nyata dimatanya. Aku merasa kedinginan dan gelisah.


Kami berjalan pulang dalam diam. Dia memarkirkan motornya diujung jalan sana dekat dengan benteng peninggalan belanda. Cukup jauh berjalan. Walau tidak mengitari gedung ini kebelakang.


"Capek jalan jauh begini, besok aku pakai motor aja yaa." Kataku. Hening tidak ada tanggapan.


"Ribet kalau dijemput, tapi harus jalan sejauh ini." Lanjutku. Dia diam menyerahkan helm padaku. Aku jadi merinding merinding gimana..... tatapanya dingin menusuk. Ditambah mulutnya yang bungkam seribu bahasa. Menakutkan.


Dia membawaku pulang kerumahnya. Aku protes keras tidak dihiraukan. Dia masih bungkam.


"Mamas ihhh kamu denger gak tadi aku ngomong!" Suaraku meninggi jengkel juga dicuwekin. Aku menghadang jalannya. Kami berhadap hadapan. Sudah sampai ruang keluarga.


"Dengar!!! Aku dengar semuanya!! Kenapa gak mau dijemput karena mau menghabiskan waktu dengan Diki??? Enak ya di perhatikan!! Dikirim makanan tiap hari!!! Haaa enak ya!!! Mulai sekarang kamu tinggal disini!!! Selama kamu masih bersetatus sah istriku!!!" Kata Revan dengan suara bariton yang keras. Aku terlonjak dan ketakutan. Air mata sudah banjir dengan derasnya. Ini pertama kalinya dia membentakku sekeras itu. Aku mundur ketembok sampingku agar tidak merosot turun. Lututku lemas. Dia menakutkan sekali.


"Aku sudah sabar Put!!! Aku sabar meladeni semua tingkahmu!! Aku sabar, tapi jangan membuatku hatiku terus panas!! Kamu pikir cuma kamu yang tersakiti!! Aku juga sakit kehilangan Satria. Aku sakit kau abaikan. Kita sama sama terluka, tapi kau menambah lukaku!!!" Kata Revan sudah mendekat kearahku. Matanya menyala menyiratkan amarah. Dia menarik kaosku berbicara tepat didepan mukaku.


"Semua usahaku akan gagal kalau hatimu sudah berpaling! Aku sia sia. Kau tahu, aku sia sia!!!" Bentaknya didepan mukaku. Memukul keras tembok dibelakangku dengan tangannya. Getaran tembok bahkan terasa sampai dipunggungku.


"Revan!!!" Suara Bapak memanggilnya. Jelas suara Revan membentak mungkin sudah sampai didepan sana dan rumah rumah disamping. Revan melepaskan cengkeramannya. Aku merosot ketakutan.


Bapak mendekati kami. Menepuk pundak Revan.


"Sabar, sabar, istrimu ketakutan. Pergi sana tenangkan diri." Kata Bapak. Dia pergi setelah membanting satu kursi makan sampai hancur. Tubuhku masih bergetar menahan ketakutan.


Bude Marni ternyata masih disini. Dia memelukku dan menuntun kekamarku. Menghapus air mataku dan mencium pipiku sekilas. Bapak mengikuti kami. Memberikan minum padaku.


"Istirahat Nduk, sudah jangan takut. Dia sedang meledak karena tumpukan emosi beberapa bulan ini. Dia akan tenang sendiri. Tidak apa apa Nduk. Tidurlah." Kata Bapak sambil mengelus rambutku sebentar.


"Mau tidur ditemani Bude?" Tanya Bude marni. Aku menggeleng.


"Aku mau sendiri Bude." Kataku. Air mata sudah banjir dimataku.


"Pulanglah Mar, terimakasih untuk hari ini." Kata Bapak kemudian berlalu. Bude Marni juga pamit pergi.


***


Pagi datang. Aku bangun dengan tidak bersemangat. Revan tidak pulang semalam. Aku mengecek hp tidak ada kabar. Kemana dia?? Kubuka lemari tidak ada bajuku. Aku mau mandi dan kerja. Belum lagi ganti baju kerumah Ibu. Haahhh ini pasti hari yang panjang untuk berangkat kerja saja.


Aku pergi buru buru berpamitan pada Bapak.


"Bapaakk, Putri pamit dulu mau kerja." Kataku sambil mencium tangannya.


"Dirumah kerjaan juga banyak Nduk, kenapa kerja ditempat lain?" Tanya Bapak. Aku tersenyum gak enak.


"Kau juga mematahkan hati Bapak kalau begini. Dengar Bapak, pamitlah pada atasanmu. Kerja disini sama Bapak lagi. Bapak akan janji melindungimu dari Revan. Entah pernikhan ini berlanjut atau tidak. Ayo kerja dengan profesional. Jadilah patner Bapak Nduk. Bapak mau kerja dengan siapa lagi? Bapak udah klik sama kamu." Pinta Bapak dengan getir. Pria tua yang selalu tulus dan jujur. Aku mengangguk gak tega sama Bapak kalau begini. Apalagi dia sempat sakit ku tinggal.


"Putri akan kembali kerja disini Pak." Kataku. Bapak tersenyum.


"Akhirnya ada kabar baik setelah beberapa bulan kesedihan." Kata Beliau senang.


"Mamas ada kabar?" Tanyaku sedikit khawatir.


"Kalau penasaran dihubungi. Ditanya, Bapak kan juga gak tahu." Kata Bapak sambil senyum senyum. Aku diam nyelonong menuju garasi.


Aku ngecek Mimin ternyata mati tidak bisa hidup. Bapak menawarkan diri mengantar seperti biasa. Aku menolak karena harus pulang dulu ganti baju. Akhirnya aku naik ojol.