I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 58



Kami sampai stadion kota. Pengamanan ternyata lebih ketat dari biasanya konser. Mungkin karena demo rusuh kemarin. Beberapa polisi berseragam mengangguk hormat menyapa Revan.


"Kamu terkenal yaa Mas." Kataku. Revan tersenyum.


"Kami saling kenal Dek, bukan aku yang terkenal. Jadi kami saling menyapa." Jawab Revan merendah. Kalau cuma saling kenal sapaannya bukan mengangguk hormat, tapi lebih menjotos atau panggil nama menurutku.


"Menonton konser Pak? Bersama..... keponakan?" Sapa seorang polisi dipintu masuk. Aku langsung tertawa.


"Dia calon istriku!!" Kata Revan galak. Polisi itu kaget dan mengangguk. Memberikan jalan pada kami tanpa memeriksa. Beberapa polisi di pintu masuk ikut mesem mesem. Aku masih tertawa, Revan menarik hidungku.


"Diam, gak lucu!" Katanya sambil terus menarikku kedalam stadion.


Lautan manusia membludak dikonser malam ini. Baru sampai ditepi aku sudah merasa sesak. Revan mengajakku lebih ketengah, aku menggeleng.


"Aku sesak kalau harus berdesakan sampai tengah." Teriakku. Musik keras diatas panggung membuat pendengaran semua orang terganggu.


"Tau begitu gak usah nonton." Kata Revan setengah berteriak juga. Tapi kami tetap menikmati konser ini dipinggiran.


Band pembuka sudah tampil. Di susul band lokal pendamping sebelum band inti tampil. Aku ingat pernah menemani Simpel sebagai band lokal pendamping beberapa kali. Saat Simpel masih merangkak sebagai band lokal. Masa masa indahku bersama Riyan.


Karena aku tersenggol beberapa kali, Revan menempatkan ku didepannya. Dia memelukku dari belakang. Tangannya yang kekar mengapit kepalaku. Aku bersandar didadanya. Pose nyaman menurutku. Komunikasi juga enak karena berdekatan antara telinga dan bibir. Tidak perlu saling teriak lagi. Dia bisa berkali kali menciumi rambutku. Untung aku keramas Mas Mas. Kalau tidak bisa dipastikan serbuk kayu dari rumahmu kamu hirup juga hahahaha.


"Aku lama gak lihat konser musik." Kata Revan.


"Sama dong, terakhir lihat saat nganterin Simpel jadi band lokal." Jawabku.


"Kamu jadi menejer mereka?" Tanya Revan. Aku menggeleng.


"Jadi pacarnya Riyan." Kataku santai.


"Wooooww bodoh sekali." Kata Revan.


"Kok bodoh?" Aku protes.


"Bodohlah. Mau maunya nungguin manggung, sedangkan dia dipuja diatas panggung." Kata Revan. Haaa nadanya masih ngajak ribut. Dasar pencemburu.


Simpel tampil diiringi sorakan dari para penonton. Ada rasa bangga dalam diriku. Entah pada Riyan entah pada Simpel. Ada pula rasa haru saat Simpel membawakan lagu yang dulu aku ciptakan liriknya. Tanpa terasa air mataku menetes. Mamas mengusap air mataku dengan tangannya. Aku mendongak. Dia melihatku, bukan melihat Simpel. Aku berjinjit untuk sampai di bibirnya. Kami berciuman sekilas.


"Apa kalian pernah patah hati?" Teriak Riyan diatas panggung. Sorakan terdengar sebagai jawaban.


"Mari patah hati denganku, karena aku sedang merasakannya. Patah hati karena tersingkirkan, dipaksa pergi dari hatinya. Lalu bagaimana aku melalui hari hariku? Sedang semua cintaku dia yang bawa." Kata Riyan. Sorakan penonton terdengar. Beberapa penonton wanita histeris. Kemudian intro lagu dimainkan lagi.


"Kau menolaknya kemarin?" Bisik Revan ditelingaku. Aku menggeleng.


"Kami berciuman." Bisikku ditelinganya.


"Aku tahu." Bisik Revan lagi.


"Kamu marah?" Tanyaku.


"Iya, tapi tidak dengan perubahan setelahnya. Aku senang." Bisiknya sambil mengigit telingaku. Aku kegelian menggeser kepalaku menjauh.


"Maksudnya?" Tanyaku tidak mengerti. Dia tidak menjawab. Justru memelukku semakin erat. Saat Simpel turun panggung, aku dan Revan memutuskan pulang.


***


Kami menunggu martabak pesanan Kakak. Menurutku bukan martabak ditopingin, tapi topping dimartabakin.


"Kamu beneran gak marah aku..... sama Riyan?" Tanyaku pada Revan. Menyensor kata ciuman karena kami ditempat umum. Dia menggeleng.


"Tidak perlu dipakai lagi gelangnya. Buang saja. Aku malas melihatnya. Seolah dia masih bertahan dihatimu." Katanya sambil menunjuk tangan kiriku.


"Kamu tahu gelang itu dari Riyan?!!" Tanyaku kaget. Dia mengangguk.


"Dari awal aku tahu. Sayangnya kamu bukan cewek matre yang langsung melepaskan gelang jelek itu. Bahkan saat aku ingin menggantinya dengan gelang yang lebih bagus." Jawab Revan.


"Kamu malah tetap memakainya seperti menggantung kami berdua dihatimu." Kata Revan lagi. Ada nada sebal yang berusaha dia sembunyikan.


Aku jadi merasa bersalah. Bahkan dia tahu dari awal kalau gelang itu pemberian Riyan. Dia bahkan meminta kesempatan untuk mengisi hatiku. Dia menunggu walaupun aku berfikir masih menyukai Riyan. Sekarang dia masih menunggu aku yang selsai sekolah, sedang dia sudah terlambat menikah??? Kenapa dia baik sekaliiii. Bagaimana aku baru mencintainya sekarang. Bukan dari dulu dulu. Aku menangis dalam hati.


Pulangnya dimobil aku bersandar di bahunya. Memeluk lengannya yang berada disisiku.


"Aku sudah tergantung sekali sama kamu Mas. Aku sayang kamu. Mamas gak berencana meninggalkan aku kan?" Tanyaku.


"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu Dek, kalau hatiku sudah kamu bawa semua. Aku akan hidup sebagai manusia tanpa hati nanti." Kata Revan. Baru kali ini aku mendengarnya ngegombal. Lucu juga. Sudah kutahan untuk tidak tertawa. Agar suasana masih romantis. Tapi akhirnya tertawa juga.


"Kenapa ketawa? Kamu tidak percaya? Belah dadaku, maka kamu akan ditangkap polisi atas dugaan mutilasi." Kata Revan. Membuatku semakin tertawa ngakak.


"Mamas tau gak perbedaan kapal selam sama kamu?" Kataku bales ngegombal.


"Apa?"


"Kapal selam menyelami lautan, kalau kamu menyelami hatiku." Kataku. Sekarang giliran dia yang tertawa. Aaaaaa.......aku melihat rona merah dipipinya. Iptu Revan Aji Pratama bisa bersemu malu. Sama sekali tidak cocok dengan wajahnya.


Kami mampir lagi makan malam disebuah restoran.


"Kamu punya mantan Mas?" Tanyaku teringat gadis imud itu. Revan menghentikan makannya, menatapku agak lama.


"Kenapa? Kenapa tiba tiba bertanya mantan?" Tanya Revan. Aku menggeleng.


"Tidak ada, aku hanya penasaran. Kamu tahu siapa mantanku, tapi aku gak tahu sama sekali tentang mantanmu." Kataku kubuat sesantai mungkin. Aku merasa introgasi polisi, tatapannya mode kerja.


"Gak punya yaa, kamu belum pernah pacaran?" Tanyaku lagi. Revan tertawa, lesung pipinya masih manis saja walau tersamar dalam bewok.


"Ada, aku pernah pacaran. Dulu sekali. Aku sibuk bekerja setelah itu. Lalu bertemu dengan gadis PKL diswalayan. Kau tahu kelanjutannya." Katanya sambil menerawang. Ada gurat sedih diwajahnya.


"Kenapa putus?" Tanyaku makin kepo.


"Karena sudah tidak bisa nyambung." Jawabnya santai sambil melanjutkan makan.


"Berapa mantanmu?" Tanyaku lagi. Sekarang dia tertawa.


"Coba tebak." Katanya.


"Iiihhh kok gitu. Aku kan nanya. Masa malah main tebak tebakan." Aku protes.


"Lha ngapain nanya mantan Dek, gak penting. Aku juga gak mau ingat." Katanya. Aku diam melanjutkan makan. Gak mau ingat tapi fotonya masih disimpan. Mana cantik lagi.


***


Martabak untuk calon keponakan ternyata rejeki Bapaknya. Kakaku cuma menciumi baunya kemudian gak mau makan. Di sikatlah sama Bapaknya calon ponakan dengan senang hati. Ditemani Revan dan Ayah. Aku sudah menguap menahan kantuk, tapi mereka masih asik main kartu.


"Tidurlah." Kata Revan. Ayah mengangguk.


"Iya, tidur sana. Biar Revan Ayah yang temani." Kata Ayah. Aku manggut manggut meninggalkan tiga orang itu main kartu entah sampai jam berapa.