
Acara berganti menjadi resepsi kecil. Aku ganti baju lebih santai sama Revan. Sebuah kebaya modifikasi moderen berwarna kuning pucat. Dipadukan dengan rok mekar yang indah. Sanggulku dirubah sedikit menjadi lebih moderen, juga dengan tiara kecil menghias didepan. Revan memakai jas yang warnanya senada dengan bajuku. Lagu romantis mengalun saat kami memasuki gedung lagi.
"Kamu cantik Dek. Aku seperti berjalan bersama putri dari negeri dongeng." Kata Revan. Aku cuma senyum senyum menanggapi. Teman teman SMP, SMK, sampai kuliah datang. Walaupun sedikit yang kuundang. Aku bukan tipe orang dengan teman segudang. Keluargaku dari Ayah dan Ibu juga datang.
Dibarisan besan ada karyawan ajilis bersama anak dan istri. Juga beberapa teman polisi Revan. Ayah dan Ibunya Ine juga terlihat. Tapii.... dimana Ine?
"Kemana Ine Mas?" Bisikku saat kami sampai dipelaminan.
"Mana aku tahu Dek. Aku disini dari jam 6. Dan mataku hanya tertuju pada istriku. Yang lain tidak penting." Kata Revan.
"Haaaa apa kau salah makan? Dari kemarin bicaramu penuh gombal." Kataku. Dia tertawa.
Satu satu tamu menyalami kami. Mengucapkan selamat dan doa untuk pernikahan kami. Termasuk Tika yang memggunakan kebaya merah terang ketat berpadu dengan kulitnya yang kecoklatan. Sedikit..... tidak cocok sebenarnya. Dia menyalami kami dengan centilnya.
"Ih, suamimu mirip Riyan kalau tanpa jenggot begini." Kata Tika. Aku dan Revan saling lirik.
"Selamat ya Mas, semoga samawa sama Putri." Katanya mengapit tangan Revan dengan kedua telapak tangannya. Revan mengelap punggung tangan dan telapaknya dengan jas yang dia pakai saat Tika berlalu.
"Jahat ihhh...." Bisiku.
"Takut ada peletnya." Bisik Revan balik. Membuatku nyekikik dipanggung.
"Ah, Putri dan Pak Guru. Selamat semoga awet sampai kakek nenek. Kalian membuktikan kalau pacaran lebih lama dari cicilan motor bisa berakhir dipelaminan. Juga tanpa hamil duluan. Padahal aku tahu betul kalian suka saling gigit dimobil." Kata Tomy. Aku tertawa.
"Ada ada aja Tom. Terimakasih untuk do'a dan kehadirannya. Kamu sibuk apa sekarang?" Tanyaku.
"Seperti dulu.... sibuk kerja dan sekolah. Aku ambil pendidikan advokat. Aku yang jadi pengacara. Kamu cukup jadi ibu bhayangkari." Katanya. Aku tertawa. Handi, ines, dan beberapa teman kuliah juga datang.
"Aku langsung tahu kalau aku gak ada harapan. Sainganku seorang perwira polisi." Kata Handi cari gara gara. Revan langsung melotot siaga satu. Tangannya semakin erat mengapit tanganku.
"Hahaha saya hanya bercanda Bapak Revan. Jangan tegang gitu mukanya." Lanjut Handi. Dia memeluk Revan dan mengucapkan selamat.
"Aku pukul dia kalau tidak diatas pelaminan." Bisik Revan.
"Sabar, sabar Mas. Dia hanya bercanda." Kataku menenangkan suami posesifku. Habiba, Septy, Asna, dan beberapa teman satu genkku di SMK juga hadir. Mereka heboh minta foto sampai bikin pusing tukang fotonya. Hahahahah. Acara selesai dengan ceria.
***
Kami kembali kerumah. Revan membantuku melepaskan sanggul dikamarku. Tapi bukannya membantu dia malah menyusahkan. Berkali kali rambutku tercabut. Sakit.
"Mamas pelan pelan sakit!!" Kataku.
"Ini juga pelan Dek." Dia berkilah.
"Pelan gimana? Ini sakit. Cabut pelan pelan ada rambutku itu." Kataku lagi.
"Bukanya pelan pelan." Protesku lagi. Dia mau menarik sanggulku begitu saja padahal masih banyak pengaitnya.
"Kalau pelan pelan keburu pegel." Kata Revan. Dia memegangi sanggulku yang setengah terbuka. Pintu kamar diketuk.
"Van, unboxing nya nanti dulu. Ini masih sore. Banyak orang ini diluar." Kata Mas Dipo.
"Hati hati juga Van. Masak sampai rambutnya ketarik." Teriak Mbak Sasa. Aku dan Revan berpandangan. Revan langsung membuka pintu kamar.
"Yang ketarik rambut atas Mbak. Kami lagi buka sanggul bukan buka baju." Kata Revan. Mereka yang diluar pun tertawa. Menyimak teriakanku dan Revan tadi. Haaa memalukan...... padahal beberapa keluarga masih ada dirumah.
***
Sampai malam masih juga ada tamu yang hadir dirumah. Aku sampai ngantuk ngantuk. Badanku pegal semua.
"Ayo kabur." Bisik Revan. Ketika melihatku beberapa kali menguap.
"Gak enak, masih ada tamu." Kataku.
"Kamu udah ngantuk itu." Kata Revan.
"Gak papa masih bisa ditahan." Kataku ngeyel. Tapi ternyata aku nyender nyender manja dilengan Revan dan.... tertidur.
***
"Maaf ganggu yaa... tidur lagi. Aku cuma ambil baju." Bisiku.
"Ngapain pakai baju?" Tanya Revan nyeleneh. Menarikku ketempat tidur lagi. Aku terjatuh ketempat tidur diatas pelukannya.
"Aku bisa masuk angin." Protesku.
"Pakai selimut. Biasakan tidur gak pakai baju." Katanya setengah gila. Aku meronta dari dekapannya. Kuambil lagi dalaman dan daster tidurku. Kupakai cepat cepat. Dia senyum senyum gak jelas. Aku menubruk dadanya dan kembali tidur. Sepertinya dia juga lelah. Tangannya anteng memelukku. Ide gila dari mana itu. Dia aja tidur pakai kaos dan celana kolor. Aku dilarang pakai baju. Dasar!!!
***
Aku bangun karena alarm dihpku. Belum kumatikan sudah ada yang duluan mematikan. Setengah ngumpulin nyawa bibirku sudah diserang dengan rakusnya. Bibirnya dingin. Sepertinya selesai minum.
"Pagi istriku." Bisiknya diantara ciuman kami. Kubiarkan saja. Tangannya juga sudah kemana mana. Wes, karepmu Mas.... aku sudah halal bagimu.
Kami menghabiskan hari itu dengan beres beres. Rumah sudah seperti kapal pecah. Bahu membahu kami sekeluarga membersihkan. Diiringi clotehan Ocha dan Damar yang kadang akur kadang jadi musuh. Cilok langganan lewat. Semua orang sudah menatap kearahku. Mbak Sasa sigap memberi uang.
"Aku udah punya suami lho." Protesku.
"Ibu gak pakai kecap." Kata Ibu santai.
"Ayah juga." Ayahku request.
"Aku dan Mas mu pakai sambel kacang." Kakak pertama ikut nimbrung.
Tepok jidat. Gak ada yang denger. Revan cengingas cengingis malah ikut request. Masih ngantrilah aku bersama bocah bocah dikampung. Ini gimana konsepnya Gusti..... aku masih dianggap paling kecil, padahal udah mantenan. Apes.....
***
Dua hari dirumahku membuat Revan makin akrab dengan dua kakak iparku juga Ayah. Mereka sering bercanda absrud dengan topik yang sedikit gila. Kini Ayah punya tiga anak laki laki dewasa yang siap masuk genknya dengan senang hati.
***
Revan tidak terlihat sejak sore habis mandi. Ngapain dikamar sendirian?? Aku buka kamarku. Dia lesehan didepan meja belajarku. Laci bagian bawah terbuka. Ala makkk dia membaca buku diaryku jaman sekolah sambil senyum senyum lagi. MALU.....
"Istriku ternyata penggemar rahasia Riyan sejak lama." Katanya saat melihat aku masuk.
"Malu ihh kenapa baca yang itu. Novel banyak dirak atas." Kataku.
"Aku lagi baca novel hidupmu kok." Kata Revan. Dia menyerahkan amplop amplop bergambar norak. Dulu baunya wangi. Sekarang sudah menguning. Tapi aku masih menyimpannya. Dibuang sayang dilihat juga tidak.
"Ini tulisan tangan Riyan." Kata Revan sambil menyerahkan beberapa amplop.
"Yang ini tulisan tangan Bagas." Katanya lagi menyerahkan tumpukan amplop lebih sedikit. Haaa polisi gabut sedang main ternyata. Aku cuma tertawa.
"Sisanya aku tidak tahu. Ada tiga tulisan tangan berbeda selain milik Bagas dan Riyan. Kamu banyak penggemar dulu." Kata Revan terlihat tidak suka. Aku cuma tersenyum.
"Gak ada yang berani ngaku selain Riyan. Kuanggap itu penggemar kosong." Kataku.
"Tapi Riyan cukup bodoh mendekatimu. Sudah tahu kamu secuwek itu, masih saja hanya mengirimkan puisi. Tipe kayak kamu harus dipepet." Kata Revan berapi api. Seolah Riyan yang sedang diajak bicara. Aku tersenyum.
"Paduka buaya sedang menganalisa." Kataku. Revan menghela nafas.
"Aku mengenal Riyan dari tulisan diarymu dan surat cintanya." Kata Revan. Ada nada sedih didalam ucapannya.
"Nikmatikah. Aku banyak menceritakannya dikelas tiga. Lalu sambungannya yang ini. Ini diary waktu SMK." Kataku sambil mengambil satu buku lagi.
"Tapi sampai kelas dua. Aku tidak pernah menulis diary lagi saat putus dengannya." Kataku.
"Itulah kamu, menyimpan rapat rapat semua kesedihan. Mulai sekarang aku gak suka itu. Mulai sekarang kamu harus membaginya denganku. Entah itu kesedihan atau kebahagiaan. Aku menuntut itu." Kata Revan serius. Malam itu kami habiskan untuk menceritakan masa masaku bersama Riyan dulu. Aku enteng saja bercerita. Sepertinya hatiku sudah berdamai dengan kenyataan.
***
Mengingat awal awal penyesuaian saat menikah. Revan didunia nyata itu sangat peka dan disiplin, sedangkan aku sangat ceroboh. weleh wesss.... ajur hahahaha