I Love U, Mas

I Love U, Mas
Berita gembira



Dua tahun lebih berlalu setelah kepergian Satria......


Revan kembali kebagiannya yang dulu Satres Narkoba. Kata Pak Sidiq Revan dia lebih dibutuhkan disana. Semangat kerjanya kembali meningkat. Jam kerja kembali acak acakan. Juga penampilannya. Aku cuma bisa menghela nafas. Suka suka dia lah, yang penting bahagia.


Dia jadi super duper sibuk karena juga kuliah magister jurusan hukum. Tempat kampusku dulu. Katanya untuk menunjang karier kepolisiannya kejenjang yang lebih tinggi. Entah mau jadi jendral mungkin. Hahahaha.


***


Alya melambai pada Diki yang baru saja mengantarkannya kembali setelah makan siang.


"Hacieeeeehhh yang punya pacar baru... " Kataku pada Alya. Dia malu malu kucing. Yang kutahu hubungan mereka lumayan baik untuk saat ini. Semoga berjodoh untuk kedepannya. Aamiin.


Alya mengambil satu pil dari dalam tasnya, kemudian meminumya.


"Kamu sakit?" Tanyaku. Alya menggeleng.


"Biasa Mbak, mau mens. Perutku sakit." Katanya.


"Lah, kok bisa kamu mens lagi? Kita kalau mens hampir beriringankan?" Kataku heran. Biasanya Aku selesai, baru Alya. Lha kemarin Alya mens, aku belum mens sampai saat ini. Eh, dia udah mens lagi.


"Jangan jangan Mbak...." Kata Alya sambil membulatkan matanya.


"Jangan ngaco, aku masih pake pengaman tau." Kataku. Tapi aku gak yakin juga. Revan memakainya saat aku sudah basah. Jadi aku gak tau dia pakai atau tidak. Udah terlanjur enak. Hehehehe. Bodolah, mungkin aku yang lagi stres banyak kerjaan.


Revan pulang siang itu. Setelah semalam gak pulang karena tugas. Ada aja alasannya mengajaku kekamar. Dia akan tidur pulas kalau begitu dulu. Kami menuntaskan satu ronde lama. Kusadari cairan hangat membasahi aku. Dia gak pakai!! Benar, beberapa kali dia gak pakai. Dia menyelimuti tubuh kami menciumi mukaku beberapa kali.


"Kamu gak pakai Mas?" Tanyaku menoleh padanya. Matanya setengah terpejam. Dia menggeleng.


"Kenapa? Enak yaaa.. kamu baru menyadarinya?" Katanya.


"Sejak kapan?" Tanyaku. Tidak ada jawaban. Dia ngorok. Aku bergegas mandi dan pergi keapotik. Mencari benda yang ingin sekali kubeli beberapa tahun ini. Seperti dulu. Kubeli berbagai merek dan berbagai level harga. Aku pulang dengan berdebar.


Paginya aku hilir mudik dikamar depan kamar mandi. Benda benda itu tercelup pada wadah yang kuletakkan dimeja kecil samping pintu kamar mandi. Beberapa menit terasa lama..... kuambil salah satunya. Aku tak percaya dengan hasilnya.... garis dua!!! Iya, beberapa benda itu menghasilkan garis dua walau samar.


Aku langsung melompat ketempat tidur. Kuacungkan benda itu didepan Revan yang masih tidur.


"Mas, Mas bangun dulu lihat ini!!" Kataku antusias. Revan membuka matanya. Menyambar benda ditanganku. Giliran dia yang melompat kemeja kecil dekat kamar mandi. Memeriksa satu satu alat itu.


"Hampir semua garis dua Dek." Katanya. Aku manggut manggut sambil bercucuran airmata.


"Cari dokter kandungan hari ini!" Katanya sambil mengutak atik hpnya sendiri. Dia ijin tidak masuk. Selesai perijinan dia menghujani aku dengan ciuman tanpa henti.


Kami pergi kedokter kandungan pagi itu. Bapak kembali sumringah. Rona bahagia terlihat sekali diwajahnya.


Aku dinyatakan hamil 6 minggu. Sebulan lebih, tapi tidak ada perubahan yang terjadi pada diriku dan moodku. Tapi apapun itu aku senang. Revan kembali mendominasi hasil USG.


Kami pulang dengan riang. Bapak sudah hilir mudik menunggu kami dihalaman. Begitu mobil memasuki gerbang Beliau menyongsong dengan semangat.


"Bagaimana?" Tanya Bapak saat aku turun. Aku mengangguk angguk cepat. Kami berpelukan dalam haru. Bapak menepuk nepuk punggungku.


Alya ikut nangis. Dia juga memelukku saat aku mendekat.


"Selamat ya Mbak, semoga sehat selalu, selamat sampai kapanpun." Kata Alya.


"Makasih, makasih Al, makasih. Doakan selalu yaa..." Kataku. Karyawan Ajilis juga turut mendoakan. Kami makan makan kecil kecilan.


***


Kehamilan kali ini terhitung mudah. Aku hanya muntah beberapa kali. Tidak setiap pagi muntah. Tidak bingung dengan bau apapun. Bisa berkatifitas dari pagi sampai malam. Tidak mood swing juga. Cuma nafsu makanku meningkat drastis. Apa apa mau dimakan, dikit dikit lapar. Hahahahha lucu. Bayiku yang ini mungkin akan gendut nanti.


Revan menciumku sebelum berangkat kerja.


"Mau dibeliin apa nanti?" Tanyanya yang terbiasa kutitipi ini itu sekarang. Aku bengong sebentar. Apa kira kira yang mau kumakan. Belum ketemu. Aku menggeleng.


"Nanti kalau mau aku bilang." Kataku. Revan mengangguk. Kembali mencium pipiku dengan sayang.


Rambutnya menutupi sebagian mukaku. Sudah gondrong dan bewok lagi dia. Tiba tiba ide gila menjahilinya muncul diotakku.


"Nanti pulang sore kan?" Kataku manja.


"Kenapa?" Dia balik tanya.


"Pulang cepet yaa..... pliss. Aku mau sama kamu nanti sore." Kataku sambil nemplok nemplok manja. Melingkarkan tangan dilehernya. Dia tidak tahan kembali mencium bibirku.


"Mau kemana sih?" Tanyanya mulai penasaran.


"Pokoknya aku mau kamu nanti sore! Titik." Kataku. Dia hanya tersenyum. Tidak menjanjikan apapun.


***


Revan benar benar pulang sore. Aku sedang mengecek beberapa lemari yang akan dikirim sama Bapak.


"Tumben dia pulang sore." Bapak langsung berkomentar.


"Mau kemana?" Bapak kepo.


"Mau ngerjain dia hihihihi." Aku nyekikik bahkan sebelum ide terlakasan. Bapak tambah kepo, tapi Revan sudah dekat kami.


"Bapak diajakin yaa..." Bisik Bapak sebelum Revan benar benar sampai. Aku manggut manggut.


***


Revan sudah memasang muka masam dari tadi. Bapak sudah membekap mulutnya untuk tidak tertawa lagi. Tidak mau, Bapak tidak mau tertawa lagi karena perutnya sudah sakit katanya. Aku masih sibuk dengan kuncir kecil kecil warna warni. Masih sibuk mengepang rambut lurus dan tebal milik Revan. Senang sekali ternyata rambutnya itu enak di tata. Dikuncir kuncir seperti ini. Aku yang dari lahir punya rambut ikal yang agak susah ditata, merasa sangat senang menata rambut lurus dan tebal seperti ini.


"Aku gak percaya ini masuk katagori nyidam lho Dek." Protes Revan entah untuk berapa kalinya. Tapi tetap anteng duduk dilantai depan tv. Aku duduk disofa atasnya.


"Aku maunya gini pokoknya. Udah Mamas diem aja, sebentar lagi selesai." Kataku. Dia mencebik. Jadilah lima kepangan kecil dikepala Revan dengan kuncir warna warni. Kepangan itu memanjang dari depan kepala sampai belakang. Lucu... bagiku itu lucu dan menyenangkan. Kepangan itu bertahan sampai kami mau tidur.


Esoknya pulang kerja rambut Revan rapi tanpa acak acakan lagi. Dia memangkas pendek rambutnya. Potongan standar kepolisian. Dia sepertinya trauma dengan rambut panjang dan kunciran kecil kecil.


***


Acara mitoni digelar kental dengan adat jawa. Setahuku Om Bisma yang mengatur semuanya. Beliau menjadi ketua pelaksana bergandengan dengan WO yang ditunjuk bapak.


Acara diawali dengan sungkeman aku kepada Revan. Kemudian Revan dan aku sungkem pada ketiga orang tua. Memohon kelancaran untuk kelahiran anak kami nanti. Kemudian aku ganti baju kemben. Revan melepas bajunya. Kita dimandikan secara bergantian oleh anggota keluarga. Air yang diguyurkan terasa begitu dingin. Aku sampai menggigil padahal ini masih jam 2 siang. Air itu katanya berasal dari 7 mata air yang berbeda.


"Mbak, ini masih lama? Istriku kedinginan." Protes Revan pada pemandu acara.


"Sebentar lagi Mas. Memang biasanya airnya sedikit dingin dari air biasa." Jawab Mbak Pemandu. Revan sudah akan membuka mulutnya untuk mendebat. Kupegangi lengannya. Dia menahan diri.


Acara berlanjut. Aku ganti busana sebanyak tujuh kali dengan berbagai motif jarik dan artinya yang berbeda beda.


"Apa ini cocok?" Tanya pemandu acara pada para tamu.


"Tidak cocok!" Ucap tamu serempak.


Baru busana ketujuh para tamu undangan menyatakan cocok. Acara berlanjut untuk Revan. Pemecahan telur, pemutus janur, dan brojolan dengan kelapa yang sebelumnya sudah digambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Brojolan dilakukan dengan menurunkan kelapa itu dari atas dadaku, melewati perut, diterima Revan dibawah.


Kemudian Revan memilih satu kelapa itu. Membelah kelapa itu dengan golok.


"Satu.... dua..... tiga!!" Teriak pemandu acara dan para tamu bersamaan. Revan mengayunkan goloknya.


"Tepat ditengah!!" Seru pembawa acara. Pembawa acara kemudian menjelaskan mitos yang selama ini diyakini.


Mitosnya jika kelapa terbelah tepat ditengah maka akan lahir anak laki laki. Kalau dipinggir berarti anak perempuan. Menurutku itu karena ketepatan Revan saja. Karena beberapa kali USG menyatakan anak kami perempuan.


"Percaya yang mana Mas?" Bisikku pada Revan saat MC dengan yakin menyebut laki laki.


"Jenis kelamin gak penting. Yang paling penting Aku percaya kalau anak itu anakku." Jawab Revan nyeleneh, tapi bisa membuatku nyekikik.


Acara terakhir berlanjut. Kami berdua berjualan dawet dan rujak. Yang dibayar dengan kreweng atau pecahan genteng. Itu juga acara ramah tamah menyapa tamu yang telah kami undang. Mereka memberikan doa agar lancar sampai persalinanku kelak. Ada keluargaku, karyawan Ajilis, tim Revan, Pak Sidiq dan Bu Nirmala.


Acara usai. Satu persatu tamu berpamitan. Termasuk keluargaku.


"Nginep lah Bu." Aku merayu Ibu agar mau nginep.


"Nanti kalau lahiran Ibu nginep sini." Janji Ibu.


"Aku gak mau nginep sini." Kata Mas Dipo yang makin hari makin montok.


"Aku gak ngajak kamu nginep Mas. Makanmu banyak. Hahahaha." Kataku bercanda. Dia juga tertawa.


"Aku senang adikku bahagia. Selamat yaa semoga lancar sampai persalinan." Katanya lagi.


"Kamu gak salah makan kan Mas?" Tanya Revan karena tumben omongan Mas Dipo bener. Kami semua jadi tertawa lagi.


Om Bisma dan Istrinya pulang paling akhir.


"Boleh bicara sebentar?" Tanyanya pada Revan setelah memberikan doa. Kami pun duduk sebentar.


"Om punya kabar baik juga untuk mu Van. Keluarga resmi memberikanmu gelar kebangsawanan yang harusnya kau sandang. Meski gelar dari Bapakmu sudah tercabut." Kata Om Bisma. Revan hanya manggut manggut saja tanpa berkata.


"Terimakasih Dik, aku tahu kamu pasti sudah mengusahakannya." Kata Bapak. Om Bisma pun pamit pulang.


"Wahhh, suamiku dapat gelar baru." Kataku saat didalam kamar berdua dengan Revan. Dia hanya tersenyum.


"Jadi bagaimana aku harus memanggilmu?" Tanyaku. Gak ada jawaban dia sibuk slonjoran dikasur sambil main hp.


"Papa Raden lucu juga." Kataku. Dia diam seperti tidak peduli. Cenderung kesal sepertinya. Kenapa? Aku tidak tahu. Mulutnya rapat terkunci.


Gelar baru yang diberikan pada Revan membuka tali silaturahmi yang baik dengan keluarga Bapak kembali. Awalnya Revan tak acuh, tapi lama lama hatinya luluh.


"Tidak baik memutus tali persaudaraan. Yang sudah lalu lupakan saja. Bukankah saudara harus saling memaafkan?" Kataku berkali kali. Akhirnya Ia mau ikut dalam pertemuan rutin keluarga. Sebelumnya hanya Aku dan Bapak yang bersedia menghadirinya.