I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 47



Handi mengajakku makan dimsum dekat kampus. Beberapa kali hpku bergetar panggilan dari kulkas. Kubiarkan saja sampai mati sendiri.


"Enak lho baru buka kemarin." Kata Handi bersemangat. Aku jadi ngiler juga. Dimsum anget anget di cocol saus pedas.


"Beneran? Ayo ah kalau gitu." Kataku. Kami beriringan menuju parkiran motor. Aku berboncengan dengan Handi. Keluar kampus, kulihat Revan nangkring diatas motornya. Kami bertatapan. Luka di wajahnya sudah memudar. Bodo amat. Aku pura pura gak kenal.


"Pakai 'dan'." Kata Handi. Aku menggeleng.


"Gak pakai 'dan'." Kataku ngotot. Kami mengeluarkan hp masing masing. Mengetik bunyi pasal yang kami perdebatkan. Kami memang main bunyi pasal pasal. Handi benar, pasal itu pakai 'dan'. Kami bertatapan, kemudian tertawa bersama.


"Kamu bisa didakwa karena murubah pasal Nona." Katanya kemudian. Aku makin ngakak karena bicaranya resmi sekali. Mirip pengacara dipengadilan yang beberapa kali kami saksikan langsung. Untuk tugas kuliah tentunya.


Menjadi mahasiswa jurusan hukum itu nyantai..... nyantai diawal perkuliahan. Kemudian kami dididik mengutarakan pendapat dan mendebat. Tidak harus hapal semua pasal, karena itu mustahil, tapi beberapa pasal yang dibahas terus menerus membuat kami hapal bunyinya. Handi ternyata asik. Kami nyambung nyambung saja dengan topik seputar perkuliahan. Dia minat dihukum pidana sama sepertiku saat semester kami makin banyak. Anak pidana sampai akhir. Itu julukan kami untuk anak hukum yang tertarik hukum pidana dari awal sampai akhir perkuliahan.


***


Aku pulang saat hari menjelang sore. Gak punya teman, gak ada pekerjaan. Hari hari yang sibukku melayang sudah. Dihalaman kulihat motor Revan terparkir. Hah!!! Kulkas datang. Bodo amat pokoknya aku mau cuwek banget sama dia.


Aku masuk rumah. Kulihat Revan sedang nonton tv sama Ayah. Kamarku berada tepat didepan ruang tengah. Aku nyelonong saja masuk kamar. Ganti baju rumah dan tidur. Tidur siang merupakan kemewahan saat kamu jadi orang sibuk.


Sore aku terbangun dengan suara Mas Dipo. Dia sudah pulang kerja. Hah lumayan tidur satu jam lebih. Revan pasti sudah pulang. Aku buka pintu kamar dengan santai...... Menyebalkan!!! Dia malah tidur didepan tv. Matanya terbuka saat aku membuka pintu. Kami bertatapan sebentar. Bodo amat. Aku berlalu rebutan kamar mandi dengan Mas Dipo. Kamar mandi rumah ini ada dua, tapi ada satu favorit semua penghuni rumah. Hahaha konyol sebenarnya.


"Itu kasihan si Revan nungguin dari siang." Bisik Ibu didapur. Aku diam saja. Masuk kamar lagi. Kerjain tugas. Biasanya kalau gak lagi ngambek Revan yang kuseret seret ikut ngerjain tugas. Sekarang ogah, aku ngambek berat pokoknya.


Ketukan dikamarku mengganggu. Ibu menyuruhku membeli martabak dan menarikku keluar kamar. Aku lihat dia udah mandi. Rambutnya masih basah.


"Beli martabak di depan swalayan xxx." Kata Ibu. Tempat itu lumayan jauh. Biasanya Ibu juga beli martabak sendiri sama Ayah. Itu pun cuma didekat sini.


"Itu jauh Bu, biasanya juga cuma martabak deket situ. Beli sendiri lagi." Aku protes.


"Ibu lagi pingin yang disitu. Kalau jauh biar dianter Revan." Kata Ibu. Haaaahhh aku tau ini cuma akal akalan agar aku mau ngomong sama dia. Ini orang rumah kok malah belain Revan yak. Dia ngobrol gimana tadi sama orang rumah sebelum aku pulang?


"Sama Mas Dipo aja atau Ayah juga bisa." Aku nego. Ogah sama kulkas.


"Ayah punggungnya sakit." Ayah alasan. Pandanganku tertuju pada Mas Dipo.


"Mas capek Dek, lagian itu jauh lho. Nanti kalau ada copet gimana. Salah salah kamu dicopet Mas yang digebukin." Alasan mas Dipo.


"Tampangmu mirip copet ya Poo. Hahahhaha" Kata Ayah. Membuat semua orang tertawa minus aku. BETE.


"Kalau sama Revan kan aman. Gak ada copet yang berani gangguin kamu." Tambah Mas Dipo. Aku menghela nafas.


Aku masuk kamar, ambil jaket dan kunci motor. Hah, jangan memaksa Putri. Kamu licik, aku juga bisa.


"Oke gak papa dianter, tapi naik motor sendiri sendiri. Gak harus ada syarat boncengankan." Kataku sambil memakai jaket. Mas Dipo langsung tepok jidat. Kakak, Ibu, dan Ayah nyekikik. Revan malah senyum senyum sambil ambil kunci motornya.


Aku sampai ditempat martabak. Revan justru memasukan motornya kedalam parkiran swalayan. Bodolah!!!! Suka suka dia. Dia duduk disampingku dalam diam. Beberapa kali melirik kearahku. Pesanan selsai, aku membayar dan menuju motorku didepan gerobak.


Revan merampas kuci motorku dengan cepat. Saat aku akan mengeluarkannya dari saku celanaku. Aku diam diatas motor.


"Bagaimana kita bicara kalau kamu terus menghindar?" Katanya dengan nada lembut.


"Ngapain aku bicara dengan orang yang gak percaya sama aku!!" Kataku ketus.


"Oke, kita bicara. Jangan disini Mundur." Katanya sambil menarik tubuhku ke jok belakang. Mirip anak kucing yang diseret di tengkuknya. Dengan cepat dia tancap gas. Kami berboncengan dengan motorku. Licik, ini sebabnya dia menitipkan motor diswalayan itu.


Kami duduk berhadapan dicafe. Dia ambil tempat privat.


"Kamu gak kangen aku?" Katanya. Aku diam saja buang muka.


"Aku lho kangen banget sama kamu. Aku tungguin dikampus, malah pergi entah kemana tadi. Ditungguin dirumah, malah dikacangin. Untung orang rumahmu pengertian." Katanya memelas.


"Iya, Kamu ngomong apa sama orang rumah? Kamu yang salah, Kamu yang dibela." Kataku sinis.


"Mereka gak bela aku kok. Mereka cuma ngasih kesempatan kita bicara." Dia meraih tanganku.


"Aku minta maaf yaa. Aku masih terbawa emosi kemarin. Aku percaya kamu kok Dek. Tapi emosiku susah dikontrol kalau itu berhubungan sama kamu. Dan.... kata kata Riyan membuatku pusing." kata Revan masih erat memegang tanganku.


"Trus kamu bilang kalau aku udah diapa apain Riyan kan. Kalau emang udah, kamu mau apa? Ninggalin aku? Ya udah sana!!" Kataku. Dia malah mengigit jari jariku. Aku kaget menariknya.


"Kamu kok gigit sih!!" Kataku kaget. Bukan gigitan yang sakit, tapi ini pertama kalinya jariku digigit orang. Ada ada aja.


"Aku gemes." Alasannya. Sekarang memutar duduknya disampingku.


"Aku gak akan ninggalin kamu. Mau kamu udah diapa apain atau masih utuh bodo amat. Aku sayang sama kamu." Katanya. Dia mengusap pipiku dengan bibirnya sekilas.


"Aku janji ini gak akan terulang lagi. Harusnya aku emang gak nanyain yang udah terjadi." Lanjutnya.


"Maaf yaa." Katanya lembut. Mengecup bibirku sekilas. Aaaa aku kangeeenn......


Dia memperdalam ciumannya tahu aku tidak menolak. Ciuman lama yang memabukkan.


"Gelangmu ini sudah jelek Dek, dilepas saja. Aku ganti yang satu set sama kalung kamu itu mau?" Kata Revan saat Kami sudah selsai mengatur nafas. Kami berdua mengamati gelang tali itu dalam diam. Aku menggeleng.


"Ini masih bagus, aku suka." Kataku. Wajah Riyan berkelebat sekilas. Entah suka gelangnya atau suka orangnya. Aku tidak tahu, tapi tidak rela kalau gelang ini terlepas dari tanganku. Revan menghela nafas dan mengangguk beberapa kali.


***


Sebentar lagi memasuki episode roller coster Bestie.... Sudah kubuat kerangka karangannya tadi malam sambil nungguin Revan dalam dunia nyata. Selamat pagi, selamat bekerja, selamat sibuk sibuk ria.