
Apa? Kenapa? Apa hubungannya rambut basah dengan wisuda dan room servis?" Tanyaku saat Revan masuk mobil. Dia senyum senyum. Tidak mau menjawab.
"Apa jawab?" Aku semakin penasaran.
"Room servis berhubungan dengan hotel...... kita pacaran...... apa yang.... dilakukan orang pacaran dihotel yang.... membuat kamu harus mandi." Kata Revan terbata, tapi mukanya menahan tawa. Aku semakin bingung, tapi tetap mencoba menghubungkan.
"Tidur, maksudku mesum.... Astaga MALU...." Aku berteriak. Revan tertawa.
"Tidak apa apa, mereka hanya bercanda." Kata Revan. Tetap saja rasa malu ini tidak tertahankan. Apalagi ada Pak Sidiq. Dikira aku cewek apaan. Gara gara rambut basah jadi salah paham begini.
"Kamu juga kenapa gak bawa handuk? Peralatan mandi lengkap. Baju ganti lengkap kenapa tidak bawa handuk?" Tanyaku sebal.
"Handuk bukan kebutuhan inti Dek, tidak ada tidak apa. Mandi tanpa dihanduki juga bisa." Katanya. Aku tepok jidat.
"Gak gitu juga Mamas, bajumu akan basah tanpa handuk, rambut juga akan basah. Kalau begitu mirip orang kecemplung sumur bukan mandi beradap seperti manusia normal." Kataku.
"Tidak akan lama basahnya Dek, mungkin karena rambutmu panjang jadi lama keringnya. Aku tidak pernah bermasalah mandi tanpa handuk." kata Revan. Aku mengomel lagi. Pekara rambut basah dan handuk itu membuatku lupa ngambek sesaat.
***
Aku kembali cemberut saat mobil tiba didepan rumah. Revan tahu diri.
"Maaf yaa. Nanti malam minggu aku jemput. Kita malam mingguan. Oke. Kalau sekarang aku harus kekantor." Katanya mencium keningku sekilas. Aku nylonong aja masuk rumah tanpa berkata apa pun. Dia pamit pulang sendiri dengan Ayahku. Sambil menyerahkan baju wisuda ku yang tertinggal di mobilnya.
"Lha kok bisa ganti baju?" Tanya Ayahku heran. Aku mendengar percakapan mereka dari dalam kamar.
"Tadi Putri nyemplung sumur Yah." Kata Revan santai kemudian pamit pergi. Menyebalkan!!
***
Mas Dipo mengetuk kamarku sesaat setelah Revan pergi. Aku sudah setengah terpejam mau tidur siang.
"Dek, kamu mau ini gak? Kalau gak mau buat Mas semua juga boleh." Teriaknya dibalik pintu. Apaan? Aku jadi kepo. Kubuka pintu kamar. Ternyata Mas Dipo bawa buket snack besar dengan isi snack yang beraneka ragam.
"Dari siapa?" Tanyaku.
"Dikirim kurir buat kamu, tapi kalau kamu gak mau buat Mas semua juga gak nolak." Katanya. Aku mengamati snack itu. Ada kartu ucapan.
'Selamat atas wisudanya cantik.' Kalimat pendek yang diketik dengan komputer. Lagi lagi tanpa nama pengirim. Mas Dipo langsung saja mritilin snacknya. Dibuka dan dimakan dengan santai. Aku mengamati.
"Apa kok ngelihatin? Gak boleh dimakan?" Tanya Mas Dipo.
"Aman kan? Gak ada tanda tanda seseg atau gimana habis makan?" Tanyaku.
"Aman lah, masak calon adik ipar ngeracuni." Kata Mas Dipo santai. Dia pikir buket snack itu dari Revan. Aku melirik gelang ditangan kiriku. Mustahill....... dia sudah memberiku hadiah. Buket ini.....dari siapa????
***
Malam minggu datang. Bukannya ada kabar kemana, dia malah tidak ada kabar dari semalam. Huft..... kata Bapak dari semalam tidak pulang. Terserah lah.... Pekerjaannya selain berbahaya juga tidak kenal waktu.
Aku sudah pamitan sama Bapak. Mau pulang setelah selsai urusan gajian karyawan. Mobil Nada memasuki halaman. Aku menghela nafas. Dia cantik sekali dengan rok model A dan kemeja feminim. Tentu saja, yang aku tahu dia seorang dokter.
"Bapak, Revan ada?" Sapanya sambil menyalami Bapak.
"Belum pulang Nduk, ada apa?" Tanya Bapak. Matanya panik menatap aku dan Nada bergantian.
"Mungkin kalau mau cari Revan dikantor polisi Mbak, atau dihubungi saja hpnya." Kataku mencoba santai.
"Aku udah telfon, tapi gak diangkat." Jawab Nada. Dasar muka tembok.
"Pulang dulu Pak." Kataku lagi, kemudian berlalu.
Aku mengetik pesan diponselku.
'Gak usah kerumah. Tuh udah diapelin Nada.' Kukirim pada Revan.
Jangan harap dia merayu atau menelfon. Tidak ada balasan sampai minggu siang. Dibaca saja tidak. Menjelang sore, dia menelfon. Ku biarkan saja sampai dering berakhir.
"Itu hp mu bunyi Dek." Kata Mbakku.
"Biarin paling juga salah sambung." Jawabku santai. Mbakku malah mengambil hpku.
"Ini dari Revan lho. Salah sambung gimana?" Tanya Mbakku.
"Pokoknya kalau salah sambung ya salah sambung!" Kataku ngeyel. Mbakku manggut manggut sambil senyum. Paling dia tahu aku lagi ngambek.
Sampai lima kali dering pun ada. Gak peduli!!! Aku sibuk main sama Damar.
Revan datang saat aku dan kakak mau ngajak Damar jalan jalan sore. Revan keluar dari mobil dengan senyum gak bersalah. Bodo amat. Aku meninggalkannya sambil menggendong Damar. Sialnya aku lupa kalau boneka hidup kecil ini ngefans sama Revan. Dia malah meronta minta gendong Revan.
"Mau main sama Om yaa, yuk naik mobil Om sini." Katanya dapat angin. Membukakan pintu penumpang. Kakakku malah kabur kedalam. Tahu aku sedang dibujuk Revan.
Aku berdiri kebingungan. Damar sudah meronta mau digendong Revan. Terpaksa aku mendekat. Revan langsung menggendong Damar dan menciuminya. Damar kegelian, tapi ketagihan. Revan sekilas mencium pipiku. "Masuk ya, aku balikin dulu Damar sama ibuknya." Bisiknya. Dia kembali secepat kilat. Menungguku masuk dan menutup pintu mobil.
"Cantik ya kalau ngambek gini." Katanya sambil memutar mobil.
Dia bercerita kalau pekerjaanya sedang padat. Dia tidak pulang dari Jumat. Pulang tadi dini hari. Lelah sekali tidak buka hp bla..... bla.... bla.....
"Maaf ya Dek, maaf banget. Aku salah." Katanya sambil memegang tanganku. Aku menghindar. Tangannya justru turun kepahaku yang tidak terhalang apapun. Aku mengenakan kaos longgar dan celana hot pants. Tangannya tetap dipahaku. Aku jadi geli. Saat aku menyingkirkan tangannya dia menangkap tanganku dan menciuminya. Haaaa modus... dua kali menang banyak kalau begini.
"Kelapangan kota yuk, ramai lho kalau minggu." Kata Revan.
"Yakin mengajaku pergi dengan bajuku yang seperti ini?" Tanyaku sebal.
"Kenapa? Kamu cantik." Rayuan gombal apek.
"Haa muji cewek cantik, dengan pakaian seperti ini dan belum mandi?" Aku mencibirnya.
"Mau aku mandikan?" Tawarnya enteng sambil senyum senyum. Aku mlengos saja tidak menjawab.
"Aku mau pulang dulu ihh, mandi sebentar badanku lengket " kataku saat dia terus mengemudi.
"Mandi dijalan, aku gak punya banyak waktu. Pekerjaanku padat." Kata Revan.
"Gak mau gak ada handuk. Lagian nanti ada tugas mendadak lagi. Gak mau pokoknya gak mau!!! Aku mau pulang dulu." Kataku. Dia meliriku sejenak, kemudian putar balik pulang. Tumben nurut.
"Beneran pulang dini hari? Gak malam mingguan sama Nada? Udah cantik lho dia kemarin." Kataku kepo. Dia malah tertawa.
"Aku malam mingguan sama Ine, introgasi saksi sampai dini hari. Susah ya kalau punya tiga istri seperti ini. Susah yang atur waktunya." Katanya cengengesan. Aku melengos.
"Mungkin Nada malam mingguan sama Bapak. Soalnya waktu aku pulang Bapak udah tidur dan gak ada orang lain lagi." Katanya sambil cengar cengir. Bodolah....
***
Lagi dalam tahap sediiiiihhhh banget Bestie. Badanku disini, tapi pikiranku dikota lain. Doakan yang sakit segera sembuh yaaa....