
Bayi kecilku kini berusia 6 bulan seminggu lagi. Perutku sudah terlihat membuncit lucu sekali. Dia aktif bergerak. Akan mirip siapa dia??? Aku tidak sabar menanti beberapa bulan lagi. Aku juga sudah tidak mabok sama sekali. Sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Bahkan bau keringat sudah tidak mengganggu. Cuma bawang goreng masih wajib dalam setiap menu yang aku makan.
Sudah bisa bantu Bapak walaupun terbatas. Karena Bapak sama overprtektifnya dengan Revan. Tapi yaaa.... itu pekerjaan Revan padat sekali.
"Aku jarang ketemu suamiku padahal tinggal serumah." Protesku pada Revan. Dia cuma senyum senyum gak jelas.
"Aku kerja sayang, gak main main atau nakal." Kata Revan membela diri. Beberapa kali aku ngambek, tapi ya tinggal ngambek. Revan itu masih sama kulkasnya.
Bapak akan mengadakan acara 7 bulanan 2 minggu lagi. Semua persiapan beres. Kembali menghubungi WO saat nikah. Untuk pernikahan semewah itu saja sanggup, apalagi untuk acara 7 bulanan. Haaa kecil sekali pasti.
Siang ini Bapak pergi menjemput orderan besar. Tinggal aku dan Alya dirumah. Diki datang dengan mobilnya. Sudah senyum senyum dari kejauhan.
"Ibu hamil siang siang masih kerja aja." Kata Diki menghampiri mejaku. Alya senyum senyum dimeja sebelahku. Dia seperti kagum melihat Diki. Sepertinya naksir. Apa aku jodohin aja yak. Hehehehe.
"Bapak Diki siang siang ngapain kesini?" Tanyaku balik. Dia mengacungkan nota pembayaran. Beserta dengan setoples bawang goreng asli.
"Haaa tentu saja. Aku lupa. Yang kemarin sudah jatuh tempo yaa..." Kataku beranjak. Aku bergegas kedalam rumah. Menuju kamar Bapak. Memasukkan beberapa digit kode untuk mencari uang cash. Kosong.... Bapak belum mengambilnya. Tepok jidat. Aku kembali kedepan.
"Dik, ditransfer aja gimana?" Tanyaku.
"Aku udah bilang lho kemarin. Aku maunya cash. Gak banyak juga." Diki merajuk. Bibirnya sudah mengerucut mirip bebek. Kebiasaan kalau ada yang tidak dia sukai.
"Anterin ke ATM kalau gitu." Kataku. Dia mengangguk.
"Kebulan pun akan aku antar, kalau itu kamu yang minta." Kata Diki ngegombalin orang hamil. Aku jadi tertawa. Secepat kilat aku mengganti daster batikku dengan dres hamil kesukaan Revan. Katanya aku cantik kalau pakai ini. Tak lupa kartu ATM tempat uang operasional mebel.
"Ayuk ah." Kataku pada Diki. Dia segera berdiri.
"Pergi dulu ya Al, kalau Bapak datang bilangin ambil uangnya Diki." Kataku pada Alya. Dia mengangguk. Diki sudah duluan menuju mobil.
"Mau tak sampaiin salam buat Diki?" Bisikku pada Alya. Dia langsung kaget. Memerahlah pipinya. Aku tertawa aaaaa benar dugaanku dia suka Diki.
"Diki, Alya nitip salam sama kamu. Kalau diajakin makan atau nonton juga mau." Teriakku pada Diki.
"Mbak Putriiiii!!!" Teriak Alya salah tingkah. Aku tertawa sambil meninggalkan Alya menuju mobil Diki.
"Dia naksir kamu lho Dik." Kataku dimobil. Diki cuma mesem mesem.
"Ihh gak ada tanggapan gitu? Malu malu yaaa..." Kataku. Diki malah tertawa.
"Udah aku bilang, aku gak sempat mikirin cewek lain." Kata Diki.
"Ya kali masak mau jadi perjaka tua demi cinta yang bertepuk sebelah tangan." Kataku protes. Dia cuma senyum senyum.
"Ini mau ke ATM mana Nyonya?" Tanya Diki.
"Ke xxx aja." Kataku menyebutkan central ATM yang ada didepan sebuah hotel. Yang kutahu ATM itu cukup sepi, jadi tidak perlu mengantri.
Tiga kali tarik tunai kuserahkan uang cash pada Diki. Dia memasukkanya dalam kantong kresek dan melempar asal ke bagasi mobilnya.
"Aku lebih suka menyimpan yang berharga sembarangan. Agar tidak ada yang menyangka dia berharga." Kata Diki aneh.
"Kamu mau masuk bagasi sekalian? Karena kamu sama berharganya." Kata Diki sambil tangannya mendorongku pelan kedalam bagasi yang terbuka. Aku menampik tangannya dan tertawa. Selera humor Diki memang anti mainstrim. Dia selalu bisa membuatku tertawa ngakak.
Tiba tiba suara gaduh datang dari arah basement hotel. Seorang berlari dan menyambar Diki. Pistol teracung disamping kepala Diki. Revan dan timnya langsung mengepung kami.
"Bergerak sedikit dia mati." Kata orang itu pada Revan yang sudah ada didepannya.
"Apa bedanya dengan kamu. Kamu juga akan mati!" Kata Revan. Masih tegak mengacungkan pistolnya. Aku merinding ketakutan.
"Ayo kita lihat siapa yang mati duluan." Kata orang itu. Dia menyuruh Diki menyerahkan kunci mobilnya dengan kasar. Aku syok dibelakang orang itu. Kuraba payung yang ada didalam bagasi mobil Diki. Revan dan tim masih mengepung dengan pistol. Mata Revan mengikuti gerakan tanganku. Kupukulkan payung kekepala orang itu sekuat yang aku bisa. Pistol di tangan orang itu meletus, tapi tidak mengenai Diki. Dia berbalik mendorongku. Perutku terkena pinggiran bagasi. Aku terpental jatuh terduduk diaspal. Darah merembes dari baju yang aku pakai.
Suasana jadi kacau orang tadi berhasil melarikan diri. Perhatian Tim Revan terpecah antara mengajar pria tadi atau menolongku. Aku sudah berteriak kesakitan. Perutku menegang, darah yang merembas semakin deras.
"Jery, Wili, Daniel, kejar Tomo!!" Perintah Revan. Dia menggendongku.
"Pakai mobilku saja Van." Kata Diki membuka pintu belakang mobilnya. Revan memasukkanku kedalam mobil Diki.
"Bawa istriku kerumah sakit." Kata Revan. Mukanya masih mode kerja. Aku mencengkeram tangan Revan dengan erat.
"Jangan pergi...." Kataku pada Revan. Aku mau ditemani Revan. Ini sakit. Dia malah melepas cengkeraman tanganku dengan paksa. Pergi menjauh mengejar orang tadi.
Aku dibawa kerumah sakit sama Diki, Boby dan Nando. Dijalan Diki berinisiatif menghubungi keluargaku. Sampai dirumah sakit dokter mengatakan aku harus dioperasi saat itu juga. Sakitnya luar biasa. Mulai dari tulang belakang sampai tulang s31ng**kangan. Perutku juga menegang dari tadi. Aku tidak kuat.
"Aku mau Revan, aku mau Revan. Bawa dia kemari. Ini sakit. Tolong panggilkan dia." Kataku. Diki menggenggam tanganku sejak kami tiba dirumah sakit.
"Tenang Put, tenangkan dirimu. Ada aku. Ada aku." Katanya sambil menciumi tanganku.
"Aku mau Revan Dik, aku mau dia." Kataku sebelum semua menggelap.....
***
Aku bermimpi melihat cahaya indah. Cahaya putih yang indah. Cahaya yang paling indah yang pernah kulihat. Bukan cahaya lampu atau matahari. Cahaya itu putih, indah, tapi tidak menyilaukan mataku. Teduh dan terang dalam waktu yang sama. Aku menggandeng bocah laki laki kecil. Aku membelainya rambutnya ikal mirip rambutku. Dia tersenyum dengan lesung pipi yang mirip Revan. Gigi dan bibirnya juga sama persis. Hanya ini dalam ukuran kecil. Dia berlari kearah cahaya tadi. Aku memanggilnya..... namun dia malah melambai sambil berlari......
***
Aku sadar dalam ruangan besar dan terang. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Detektor jantung bergerak seirama detak jantungku. Selang oksigen terpasang di hidungku. Seorang suster menanyaiku.
"Apa yang dirasakan Bu?" Aku menggeleng.
"Mana suamiku?" Tanyaku dengan suara lemah. Dokter mengecek kondisiku.
"Sebentar lagi akan dipindah diruang perawatan ya Bu." Kata dokter dengan ramah.
Aku dipindahkan kebed lain. Meninggalkan ruangan besar yang dingin. Diganti baju baru dan selimut baru. Kakiku benar benar mati rasa. Badanku serasa remuk seperti baru terbanting. Hei, terbanting!!! Aku memang terbanting. Darah..... anakku. Mana dia. Kuraba perutku ada perban besar disana. Dan.... mengempis.