I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 117



Aku pulang kerumah ibu, saat suasana rumah masih sepi. Ibu masak sarapan didapur. Damar belum bangun seayah ibunya.


"Masak apa Bu?" Tanyaku pada Ibu.


"Ngapain kamu pulang? Gak sekalian nginep sama Diki itu? Bocah ngeyel kamu itu! Udah dibilangin jangan deket deket sama Diki. Statusmu itu istri orang!! Bukan gadis lagi. Kalau begitu jangan ajukan gugatan sama Revan, biar Revan yang gugat kamu!!" Kata Ibu sebal. Aku sampai terbengong bengong. Ada apa ini? Revan mengadu?


Aku berlalu membuka kamarku. Pemandangan didalam kamar membuatku geli sekaligus terkejut. Revan tidur berpelukan dengan Pak De Bass. Posenya sama saat memelukku, tapi yang dipeluk kali ini laki laki berkumis. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak tertawa. Ibu menarik tanganku keluar.


"Jangan berisik! Mereka baru pulang dini hari. Ayah membiarkan Revan mabuk dengan Pak De mu. Biar dia ada pelampiasan amarah." Bisik Ibu.


"Haa kenapa?" Tanyaku.


Ibu menjelaskan kalau Revan menghubungi Mas Dipo meminta kontak Pak De Bass. Ketika ditanya untuk apa katanya mau bersenang senang. Mas Dipo khawatir karena suara Revan yang sedikit melantur, mendatangi tempat Revan nongkrong. Dia sudah setengah mabuk. Ayah dan Pak De Bass datang. Mereka nongkrong berempat sampai pagi. Pulang kesini dini hari.


"Ayahmu bilang Revan gak ada ngomong apa apa, tapi dia sempat bertanya apa Diki sering datang kerumah. Kami jadi menyimpulkan kalau ini semua gara gara kamu dan Diki. Ngapain kamu sama Diki?!!!" Hardik Ibu.


"Diki kemarin mengirimkan makan siang ketoko dan Revan tahu." Kataku menyederhanakan masalah.


"Kamu harus tegas Nduk. Tolak Diki dengan tegas." Bisik Ibu. Beliau kemudian mengintip kedalam kamar. Senyum senyum melihat pose Revan memeluk Pak De Bass.


"Apa dia selalu tidur dengan pose memelukmu?" Tanya Ibu. Aku mengangguk. Ibu tersenyum.


"Bodoh kalau kamu menyianyiakan laki laki seperti Revan Nduk. Apa yang kurang dari dia? Karir bagus, bertanggung jawab, sayang sama kamu." Kata Ibu.


"Memilih pekerjaannya dari pada menungguku yang sedang sakit dan anaknya masuk NICU?" Tanyaku pada Ibu. Beliau seakan lupa kesakitanku. Atau sudah memaafkan mantu kesayangannya itu.


"Dia melakukannya untuk menangkap orang yang menyebabkanmu sakit. Sebagai wujud tanggung jawabnya pada Istri dan anaknya. Ada macam macam cara tanggung jawab. Dan ada macam macam alasan terluka. Yang paling penting bagaimana kita menyikapi dan menerimanya." Kata Ibu kemudian berlalu. Aku jadi.... Galau.


Aku sudah berganti baju bersiap mau kerja. Hari ini aku akan pamit pada pemilik toko. Tidak enak pada Bapak. Kebetulan ini hari Sabtu. Saatnya aku gajian dan pemilik toko ada ditempat.


Revan sudah bangun. Aku yakin walaupun matanya terpejam. Suara berisik aku ambil baju pasti membangunkannya. Tapi dia tidak bergerak. Diam seolah masih tidur. Tanpa terasa aku justru mendekatinya disisi ranjang. Tanganku terulur membelai rambutnya. Apa benar aku sanggup hidup tanpanya?? Batinku. Teringat kilasan manis kenangan kenangan kami. Perjalanan dari awal aku kuliah sampai sekarang. ahhhh.... Kalau boleh jujur dia masih menguasai hatiku sepenuhnya. Aku menarik tanganku dan berlalu.


Aku memikirkan kata kata Ibu dijalan. Tanggung jawab yaaa....... dengan meninggalkanku sendiri? Tapi sebenarnya dia tahu aku akan dalam dukungan penuh keluargaku. Apa karena itu dia meninggalkanku? Karena tahu aku tidak sendiri? Kemudian menggunakan kapasitasnya sebagai polisi memburu Tomo. Sampai dia sendiri kena sanksi dan nombok satu motor? Entahlah..... Tapi aku mulai bisa memaafkannya. Mulai bisa.... atau kembali menyerah pada kebucinanku pada Revan.


***


"Kenapa cepat pamit? Kalau tahu pamit pamit aja seperti ini mending gak usah kerja kemarin." Kata pemilik toko sadis. Aku cuma mesem mesem aja. Biar cepet kelar acara pamitan ini. Dia memang terkenal sadis diantara pemilik kios lain disini.


"Gak bisa pamit trus langsung cabut. Tunggu seminggu lagi sampai ada gantimu." Katanya sambil menyerahkan gajiku minggu ini.


"Gajimu tak ambil separo. Tak kasih minggu depan kalau udah pamit beneran." Katanya lagi dengan santai. Tepok jidat!!! Sudahlah manggut manggut saja dari pada banyak masalah. Udah gaji kecil, ngasihnya di cicil. Makan tuh boss sisa gajiku minggu ini. Aku mau balik kerja dipondok mertua indah. Batinku.


Seharian aku berdebat dengan pikiranku. Memaafkan atau melepaskan? Seorang polisi datang kekios kami. Kulayani dengan semangat. Dia bertelpon sebentar dengan seseorang.


"Iya aku pulang. Ini beli oleh oleh sepesial buat kamu. Hahaha... Tentu saja aku ingat jalan pulang sayang, cuma tugasku menumpuk. Terimakasih sudah sabar menunggu." Katanya mengakhiri percakapan.


"Iya, agak ngambek karena aku gak pulang pulang. tugasku lagi banyak Mbak, tidak bisa diabaikan karena tanggung jawab profesi." Katanya sambil tersenyum. Aku jadi kangen sama polisi seremku.


Waktunya pulang tiba. Aku berpamitan pada Sofi dan Dinda.


"Kok udah pamit Mbak? Kan keluarnya seminggu lagi?" Tanya Sofi.


"Aku gak akan sempet nunggu seminggu. Bapakku ngajakin aku kerja ditempat beliau." Jawabku.


"Aaahhhh.... Teman baru lagi, teman baru lagi. Kok gak ada yang betah ya kerja disini." Kata Dinda dengan polosnya. Aku tertawa.


"Usahakan untuk kuliah, sekolah lagi. Cari beasiswa atau cari pandangan kerja ditempat lain. Ada banyak tempat dimana tenaga kita lebih dihargai." Kataku pada Dinda dan Sofi.


Aku sudah main tarik tarikan sama roling door macet. Kalau ada Revan aku gak perlu bergelayut mirip monyet gini buat narik rolling door. Aku mulai tergantung lagi sama dia.... huft....


Tiba tiba hpku berbunyi. Diki menelfon.


"Halo, kenapa Dik?" Tanyaku.


"Keluar ke Night Market, aku tunggu disana." Kata Diki kemudian mematikan telfon. Aku harus tegas pada Diki yaa.... baiklah mungkin ini saatnya. Aku pun bergegas turun kelantai dasar. Berjalan keluar gedung pusat pertokoan ini. Suasana sudah ramai. Diki melambaikan tangan. Aku mendatanginya.


"Ada apa?" Tanyaku sambil duduk didepannya.


"Hanya ingin menikmati malam minggu denganmu." Kata Diki. Aku tertawa. Diki memesan makanan untuk makan malam kami. Kami makan sambil bercanda.


"Ada yang harus aku bicarakan serius kepadamu Put." Kata Diki selesai makan.


"Apa?" Tanyaku walaupun aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya nanti.


"Aku tidak tahu ini salah atau benar. Aku takut mengungkapkan walau rasanya sangat menyiksa. Tapi... Aku tahu aku punya kesempatan." Dia berhenti sebentar melihat reaksiku.


"Jangan muter muter kaya obat nyamuk. To the point aja." Kataku.


"Tunggu disini sebentar." Kata Diki kemudian meninggalkan aku.


Diki beranjak dari duduk menuju panggung kecil yang sedang live musik. Berbicara sebentar pada pemegang orgen.


"Satu lagu untuk teman saya, saya tidak ingin dia bersedih. Kisah hidupnya membuat dia meneteskan banyak air mata akhir akhir ini. Aku harap akan ada matahari indah setelah ini. Kemudian ada pelangi.... Jamrud, Pelangi Dimatamu." Kata Diki diatas panggung.


Tepuk tangan menggema di Night Market ini. Sebagian dari mereka mengetahui Diki adalah vocalist pengganti Riyan. Mereka meneriakkan nama Diki. Musik intro mengalun. Suara Diki lebih berat dari suara Riyan membuat lagu ini cocok untuknya.


30 menit kita di sini


Tanpa suara.....