I Love U, Mas

I Love U, Mas
gadis bermata coklat



Setelah ini part akan berisi cerita orang orang disekeliling Putri. Akan menggunakan pov 3 orang pertama. Tentang apa yang mereka rasakan dan apa yang terjadi sebenarnya... selamat menikmati.


Riyan berlari menuju kelasnya yang berada diujung koridor dekat ruang guru. Dia bukan terlambat, tapi mencari orang yang mau mencontekkan PR bahasa Inggris yang baru Ia ketahui pagi tadi saat menjadwal bukunya. PR nya banyak, hampir 3 lembar buku LKS. Hebatnya lagi jam pelajaran Bahasa Inggris itu jam ke tiga. Sebelum istirahat pertama. Harus selesai pagi ini juga.


Semalam dia sibuk meniduri wanita yang diberikan Mami padanya. Melepas masa perjaka di usianya yang sekarang genap 17 tahun.


Dia memasuki kelas 3E yang baru sebulan ini Ia tempati. Terheran heran dengan pemandangan dalam kelas. Beberapa siswa bergerombol disuatu meja. Menyalin PR yang ada dalam pikirannya. Dia langsung girang ikut bergabung.


"LKS siapa ini?" Tanya Riyan pada orang orang yang menyalin PR. LKS yang diletakkan ditengah, disalin ramai ramai oleh teman temannya.


"Punya Putri, sini masih ada tempat." Kata Doni temannya. Riyan ikut meringkuk menyalin.


Bel masuk kelas berbunyi, sekaligus bel penanda pelajaran pertama. Riyan masih asik menyalin. Teman temannya sudah selesai menyalin. Dia membawa LKS itu ketempat duduknya.


"Apa sudah selesai?" Suara seorang gadis berdiri disamping dia duduk. Riyan mendongak sesaat. Gadis berkaca mata yang duduk didepan. Tag nama didadanya Elisha Putri. Pemilik LKS yang sedang Ia salin.


"Belum, apa boleh aku meminjamnya? Sebelum jam ketiga aku kembalikan." Kata Riyan nego. Putri mengangguk.


"Oke, sebelum jam ketiga ya..." kata Putri santai kemudian berlalu. Duduk lagi dibangku depan.


Riyan agak heran sendiri. Ada gitu orang yang mau memberikan PRnya cuma cuma untuk semua anak dikelas. Apa lagi ini PR banyak dan susah menurutnya. Bodo amat!! Masih ada satu halaman paling depan yang Ia belum salin. Tertinggal tadi karena dia berangkat lebih siang dari orang orang yang menyalin.


Jam pelajaran kedua berbunyi. Guru meninggalkan kelas. Riyan berdiri menuju bangku depan.


"Ini LKSmu, terimakasih ya, lain kali aku boleh nyalin lagi." Kata Riyan pada Putri. Gadis itu melirik sekilas kemudian mengangguk, sibuk membaca novel tebal yang baru dibukanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Riyan melihat bola mata coklat dibalik kacamata tebalnya. Indah...


***


Sejak itu Riyan adalah penggemar setia contekan PR dari Putri. Datang lebih pagi kalau banyak PR. Putri selalu dengan senang hati memberikan contekan. Angin segar untuk Riyan. Ia bisa bebas main main malam harinya. Entah untuk nongkrong dengan teman temannya, atau ngeband, atau main cewek untuk menghangatkan malamnya. Mami selalu dengan senang hati memberikan 'anak angkatnya' untuk ditiduri Riyan.


"Putrii." Sapa Riyan sumringah saat gadis itu datang. Imajinasinya tentang anatomi tubuh cewek beraksi. Saat itu Putri sudah memakai baju olah raganya. Sedikit ketat dibagian dadanya dan celana pendek gombrong diatas lutut membuat paha putihnya sedikit terekspose. Riyan glagepan sendiri membayangkan gunung yang lumayan berisi itu. Pasti putih dan ranum.


"Minggir, hari ini PRnya karangan, gimana bisa dicontek. Nanti karangan sekelas sama semua." Kata Putri meletakkan tasnya dibelakang Riyan. Karena Riyan menduduki bangkunya.


"Kalau gitu bikinin satu buat aku." Kata Riyan belum beranjak. Melirik paha putih yang berdiri disampingnya.


"Edan apa, bikin sendiri lah, masih jam pelajaran terakhir." Kata Putri.


"Minggir!!" Usir Putri lagi.


"Bikinin dulu. Janji." Kata Riyan dengan muka memelas. Putri menghela nafas.


"Iya, cepat mminggir. Tapi gak janji bagus ya.. aku bikin tugasku kemarin juga lama kok." Kata Putri. Riyan mengangguk dan berdiri.


"Makasih lho." Kata Riyan sumringah.


Jam olah raga menjadi jadwal pelajaran pertama mereka hari itu. Kali ini senam lantai. Satu satu sisawa siswi dipanggil untuk lompat harimau, rool depan, roll belakang dan sikap lilin. Yang paling baik tidak melakukan kesalahan akan dapat nilai bagus.


Riyan memasang matanya saat nama Elisha Putri dipanggil. Ternyata bukan cewek yang pandai berolah raga. Tapi jantungnya berdesir saat Putri melakukan sikap lilin. Celana olah raganya yang gombrong semakin melorot turun. Paha seputih pualam terpampang nyata. Bukan cuma dia yang menelan ludah. Beberapa teman cowok gerombolannya juga.


Riyan menyadari kulit gadis itu memang lebih putih dari kulit kebanyakan cewek. Rambutnya yang ikal lebih sering Ia kuncir, justru menampilkan tengkuknya yang putih. Apalagi pakai kaos olah raga. Ingin rasanya Riyan menyesap kulit leher itu agar kemerahan.


"Ngapain Loe?" Tanya Riyan pada Doni yang seperti menyelipkan sesuatu dilaci meja Putri. Saat semua temannya antri ganti baju dikamar mandi sekolah.


"Cerewet Yan, jangan bilang siapa siapa!" Perintah Doni sambil merangkulnya keluar kelas.


"Kamu nyelipin apa?" Tanya Riyan penasaran


"Surat cinta. Diem jangan ember." Kata Doni.


"Kamu suka sama Putri? Tembak aja napa?" Kata Riyan santai.


"Gak berani Cok, lihat aja dia secuwek itu. Udah gitu pacarannya sama novel, pinter lagi anaknya. Kalau ditolak ya malu." Kata Doni. Riyan manggut manggut. Riyan justru merasa tertantang dengan Putri. Apa benar dia secuwek itu?


Ternyata benar. Gadis itu minggat begitu saja saat Riyan mencoba menyatakan cinta. Berharap besok dibahas lagi, ternyata tidak. Seolah tidak terjadi apa apa kemarin. Tapi Riyan tahu Putri selalu mencuri pandang darinya. Aaaaa dia pun modus memilih duduk sedekat mungkin dengan Putri. Siapa yang sanggup melolak pesona Riyan Nur Permana...


Secara berkala dia ikut menyelipkan surat kelaci meja Putri. Dia berdebar... berbeda dengan merayu cewek lain. Baginya rayuan dan kata kata manis itu biasa. Tak ada yang sepesial, tapi merayu Putri dengan surat cinta itu membuatnya berdebar.


Riyan sering mengungkapkan hatinya lewat lagu. Tapi sepertinya Putri terlalu cuwek menanggapi. Frustasi sendiri. Ada gitu cewek yang masih cuwek bahkan saat sudah ditembak?? Ah, harusnya dicium dan digigit bibirnya. Tanpa terasa Riyan menggigit bibir Vonika yang ada didepannya.


"Riyan, kamu ganas yaa." Komentar vonika saat mereka selesai bercum*bu panas. Haa Riyan baru sadar, bia memikirkan Putri sepanjang hari tanpa bisa menyentuhnya. Bodoh!!!


"Baca apa sih?" Riyan mencoba membuka pembicaraan. Saat itu jam kosong. Teman disamping Putri sedang entah kemana. Riyan duduk disebelah Putri.


"Novel lah, emang kamu gak lihat." Jawab Putri ketus cenderung galak.


"Iya sih, mataku masih normal membedakan mana novel mana koran." Jawab Riyan semakin gemas.


"Mau jalan jalan? Nanti pulang sekolah?" Tawar Riyan pada Putri.


"Enggak, PR hari ini banyak....." Perkataan Putri terputus.


"Ayang Riyaaan. Yuk kekantin pojok. Aku lapar." Vonika menghampiri Riyan. Vonika menggandeng tangan Riyan. Riyan berdiri dari bangku yang dia duduki. Merangkul pinggang Vonika yang ramping. Mencoba mencari tahu ekspresi Putri. Gadis itu melirik, mengerjabkan mata, fokus lagi pada bukunya.


"Mau nitip dibeliin sesuatu?" Tanya Riyan memastikan perasaan Putri.


"Gak!!!" Jawab Putri galak. Riyan yang terlalu peka dengan perasaan cewek tahu Putri agak cemburu. Aaaa... Dia tidak menyimpan suka sendirian.


"Yuk Put, duluan yaa...." Kata Vonika pamit. Dibalas dengan acungan jempol sama Putri.


"Ngapain kamu duduk sebelah Putri?" tanya Vonika begitu keluar kelas.


"Minta contekan lah... Apa lagi. Dia itu mesin contekan paling tepat yang pernah aku temui." Jawab Riyan sambil menowel dagu Vonika.


"Cantik mau makan apa?" Tanya Riyan mengalihkan pembicaraan. Vonika tersenyum mengeratkan gandengan tangannya.


...Berdasarkan pengakuan pria tengil yang sekarang menjadi sahabat saya didunia maya. Dengan tambahan bumbu royco dan masako. Terimakasih sudah mau berbagi cerita....