I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 33



"Van kamu bawa mobilkan?" Tanya Mas Dipo saat mereka mau pulang. Revan mengangguk


"Bawa Mas, kenapa?" Tanyanya. Sebenarnya Mas Dipo dan Revan itu justru lebih tua Revan 2 tahun, tapi mereka terbalik memanggil karena membiasakan diri dirumah ini. Mas Dipo jadi besar kepala di panggil Mas sama orang yang lebih tua, polisi lagi.


"Kepasar malem yuk. Mumpung ini belum terlalu malem banget." ajak Mas Dipo.


"Mas ngajakin aku kencan kepasar malam? Nanti aku minta arum manis lho." Kata Revan. Kami tertawa mendengarnya. Revan yang anteng bisa melucu. Sudah ketularan aura Mas Dipo yang ada dirumah ini.


"Ya sama dua anak gadisnya Pak Har. Ngapain aku ajak kamu berduaan. Kurang kerjaan." Kata Mas Dipo.


Kami di izinkan pergi dengan omelan Ibu. Juga wanti wanti Ayah pulang sebelum jam 10. Jadilah kami dobel date malam itu. Seru juga bisa ngedate bareng Kakak.


"Ini gak boleh telat mulangin anak orang Mas. Kita udah seharian sama mereka." Kata Revan diparkiran.


"Setel alarem masing masing, satu jam lagi kumpul disini." Perintahnya. Kami pun manggut manggut nurut. Awalnya kita masih barengan. Lama lama hilang. Tinggal aku dan Revan yang sudah ganti kaos oblong hitam dan celana jeans sebatas lutut. Kami main lempar bola. Dapat hadiah boneka besaaaarrrr sekali. Aku senang bukan main. Ketangkasannya luar biasa. Dia sampai diminta Mas Mas memainkan lempar gelang yang berhadiah rokok. Yang tadi memperhatikan cara Revan melempar bola.


"Mau rokok yang mana aja Mas?" Tanya Revan sambil memegangi gelang gelang itu.


"Wah, boleh rikues yang mana gitu?" Tanyanya girang. Revan mengangguk. Mas mas itu tunjuk rokok yang dia mau. Revan mendapatkannya semua dalam tiga kali lempar. Hebat!! Dia bisa bikin bangkrut semua permainan dipasar malam kalau begini. hahaha... Revan diberi satu bungkus rokok sebagai imbalan. Tapi dia menolak.


"Saya gak ngerokok kalau sama dia." Tunjuknya padaku. Aku tertawa.


Kemudian naik wahana yang menantang.


"Aku takut Mas." Kataku.


"Aku jagain deh. Percaya sama aku." Katanya. Kami mencoba dua wahana ekstrim. Satu kora kora, satunya ombak air. Menyenangkan juga. Walaupun kata Revan tidak terlalu seru dan menantang. Aku sudah teriak histeris dia bilang kurang menantang dasar aneh.


Untuk cooling down kami naik biang lala. Mendudukan boneka besarku dikursi depan kami. Bersandar pada pundaknya yang kokoh sambil menikmati ketinggian. Awalnya romantis, tapi saat putaran kedua, saat kami berada dipaling atas, bianglala macet. Teriakan histetis terdengar. Aku juga panik.


"Tenanglah Dek, ini gak papa. Lihat aku." Kata Revan sambil memelukku. Aku diam melihat wajahnya. Kami saling pandang dalam diam. Dia justru menciumku di tengah kepanikan. Sejenak aku lupa kalau berada diketinggian. Lupa jejeritan orang yang ketakutan.


Kami tersadar saat lampu biang lala kembali menyala dan berputar. Tubuhku menghangat bahkan gerah. Ciumannya lembut, lama, tapi menuntut. Sebelum biang lala benar benar melorot turun dia masih memberikanku satu kecupan dalam. Kemudian mencium leherku sekilas.


"Jangan salahkan aku kalau terus melakukan ini. Kamu...... sangat menggoda." Katanya. Kami kembali keparkiran. Mas Dipo dan Mbak Sasa belum nampak. Aku memberikan tisue padanya.


"Untuk apa?" Tanya Revan.


"Aku sudah pakai lipstik watter proof, tapi bibirmu menempel terlalu lama. Jadi.... lipstiku sedikit menempel disana." Jawabku. Dia senyum senyum sambil mengelap bibirnya berkaca pada sepion. Dia mirip Riyan dulu......Mas Dipo dan Mbakku muncul. Kami makan malam bersama. Menceritakan pengalaman masing masing tadi. Mbakku iri aku dapat boneka itu dari main permainan.


"Tau kamu jago, aku minta sekalian Van." kata Mbakku mupeng. Revan tertawa.


Kami pulang sebelum jam 10. Dijalan Revan bertanya tentang Pak De Bass. Aku jawab dia teman ayah dari muda dulu. Teman ayah saat beliau masih begajulan dan hidup dijalan.


"Siapa?" Tanyanya yang kedua sambil melihat aku sekilas.


"Nur juga teman Ayah saat hidup dijalanan. Dia Ayah Riyan mantan Putri yang tidak direstui dulu. Kata Ayah sekarang Nur masih hidup di dunia hitam. Bahkan menjadi bandar narkoba." Mbak Sasa mewakiliku menjawab. Dia tahu aku tak mau membicarakan Riyan. Air mataku sudah berdesakan mau keluar. Kutahan sebisanya.


"Jangan bicara bandar narkoba sama reserse narkoba. Nanti salah salah kita gak bisa pulang. Dimintai keterangan dikantor polisi." Kata Mas Dipo. Revan melihat mataku lebih lama saat dilampu merah. Kami berpandangan dalam diam.


"Tidak semudah itu menggelandang orang kekantor polisi Mas. Kami bergerak harus punya bukti yang cukup." Katanya.


"Dan tidak ada pidana untuk orang yang mencintai dalam diam, walaupun diamnya menyakiti orang lain sekalipun." Katanya lagi.


Dia tidak lagi berbicara. Menjalankan mobil dalam diam. Mas Dipo dan Mbak Sasa asyik bercanda di jog belakang. Kami hanya jadi pendengar walaupun sesekali Revan menimpali. Sampai dirumah, Revan dan Mas Dipo mngucapkan selamat malam. Revan lebih asik berbicara dengan Mbak Sasa. Aku dicuwekin. Kemudian melesat pergi dengan Mas Dipo.


"Sepertinya Revan cemburu dengan Riyan. Kamu terlihat sekali masih menyukai Riyan tadi." Kata Mbakku.


"Ah masak... " Elakku. Walaupun hatiku perih tak terkira. Aku masuk kamar. Tidak mau membahas apapun lagi hari ini. Ganti daster yang paling nyaman agar hatiku ikut nyaman.


Dia tidak mengabariku sudah sampai rumah belum. Tidak juga mengucapkan selamat tidur. Padahal status dichatnya aktif. Aku juga gak mau memulai percakapan. Salah sendiri nanya nanya hal yang membuatku galau. Bodo amat lahhh. Ayo tidur aku lelah. Aku punya teman peluk baru sekarang. Boneka beruang itu ternyata enak sekali dipeluk. Apa yang memberikannya juga enak dipeluk??....Ehh.... ini gimana konsepnya...


Berniat memejamkan mata, aku justru tidak bisa tidur. Aku mengobok obok berita Simpel terbaru di internet. Sambil mengelus elus gelang yang sekarang cukup terlihat berumur ini. Tapi masih setia melekat ditangan kiriku. Aku kangeeeeennn...... aku kangen....


Bagaimana cara mengeluarkan dia dari pikiran?


Dia terlalu sempurna untuk dilupakan.


Bagaimana dia selalu menakjubkan?


Padahal aku hanya melihat bayangan.


Bagaimana malam ini begitu sunyi?


Padahal airmataku begitu riyuh membasahi pipi


Satu lagi tertumpah


tangisan kerinduan untuk dia yang indah.


Puisi itu menjadi update setatusku di medsos platfom biru. Aku memang sering mgengup date setatus puisi disitu. Apapun yang kurasakan langsung tercurah. Puluhan puisi dan cerpen cerpen receh memenuhi wallku. Revan dan beberapa temanku selalu setia memberikan like.


Tak lama ada notif pemberitahuan. Revan memberikan jempolnya, tapi tidak mengabari apapun padaku. Apa benar dia ngambek? Masak udah tua ngambek. Ini kan juga salah dia. Salah sendiri kepo kepo.