
Aku pulang diantar Diki. Berangkatnya tadi aku memang naik taksi onlen. Aku takut ngantuk dijalan kalau naik motor. Apalagi habis pertempuraku dengan Revan.
"Aku dengar dulu Riyan tidak bisa melupakanmu Put." Kata Diki membuka percakapan.
"Aku tidak tahu." Jawabku.
"Kami berpisah, kemudian tidak saling berhubungan dalam waktu yang lama." Lanjutku sambil mengenang Riyan.
"Lalu bagaimana bisa ketemu Revan?"
"Tidak sengaja.... Saat aku masih PKL yang kedua.....
Aku menceritakan awal bertemu Revan.
"Hebat, bisa mempesona dua kakak adik sekaligus." Komentar Diki setelah mendengar kisahku.
"Itu bukan prestasi yang bisa dibanggakan." Jawabku. Dia tertawa.
"Tapi itu membuktikan kalau kamu sangat mempesona Put." Kata Diki. Aku cuma senyum kecut menanggapi.
Kami pulang disambut Bapak. Diki cerita kalau aku merepotkannya karena nego kebangetan. Hahaha biarin. Kan lumayan untuk Ajilis. Lagi pula kami tadi sudah deal tadi. Diki pamit pulang tak lama setelah ngobrol singkat dengan Bapak. Aku dan Bapak kembali tenggelam dalam kesibukan yang menggunung.
Sore hampir magrib Revan bangun. Sudah ganteng mandi sore. Menciumi rambutku diteras. Aku sedang sibuk, kubiarkan saja suka suka dia.
"Mau dibantuin?" Tanya Revan.
" Dengan senang hati." Kataku berlalu. Meninggalkan laptop yang masih menyala. Aku juga mau mandi.
***
Hari pernikahan Boby tiba. Kami sudah rapi pakai baju kondangan. Dia masih punya kebiasaan ngacak ngacak lipstik. Sekarang malah lebih parah. Dia hampir membuat kebayaku kusut.
"Udah cepet berangkat atau mau aku turun dan ganti daster!!" Kataku sebal.
"Ini manasin mobil bentar Dek, yuk berangkat udah panas ini." Alasan Revan.
"Yang panas seorang orangnya, bukan mobilnya doang!" Kataku. Dia tertawa.
Entah kenapa dia menyebalkan sekali hari ini. Sampai ditempat resepsi dia terus dipepet penyanyinya.
"Bapak Iptu Revan makin ganteng aja. Dulu gak seganteng ini lho waktu punya gawe... Ibu hebat bisa gatengin Bapak." Puji penyanyinya padaku. Tapi matanya sampai mau lepas memandang Revan. Ternyata penyanyi itu juga yang diundang saat pesta lajang Revan. Menyebalkan!!
Acara usai tinggal dangdutannya doang, tapi Revan dan teman temannya masih asik narsis foto didepan pelaminan. Para penyanyi ikut nimbrung didepan panggung. Menyampaikan puja dan puji pada para polisi itu. Makin narsislah mereka. Merasa paling tampan sendiri segedung. Mereka nyanyi sambil dikrubungi polisi polisi narsis itu.
Seorang penyanyi jelas mengincar Revan dengan terus mengajaknya berjoget. Menggandeng tangan Revan dan meletakkan dipinggangnya. Revannya anteng saja tangannya nempel dipinggang penyanyi.
"Rasanya beda ya dipegang komandan ganteng. Kaya ada setrum setrumnya." Kata penyanyi gatel ditengah lagu. Anji*ng emang. Revan sepertinya lupa ada istri yang dikacangin dibawah panggung.
Ine mendekatiku. Mukanya sama asam dengan mukaku.
"Aku bantu hajar kalau kamu mau!!!" Kata Ine ikut gemas. Matanya tertuju pada salah satu teman Revan. Bukan Revan. Apa ada gurat gurat asmara?? Aku sampai memastikannya lagi.
"Yang mana?" Tanyaku.
"Yang mana aja. Ya Revan ya semuanya. Mataku sakit lihatnya. Sama sama gatel." Kata Ine. Aku manggut manggut.
"Yuk pulang bareng aku." Kata Ine. Menarik tanganku. Aku seperti dapat ide segar.
"Dek, Dek.... Ine heiii kalian mau kemana?" Revan mengejar kami tak lama. Ine berbalik memukulkan tas kecilnya kelengan Revan. Aku jadi idem melakukannya. Kami mengeroyok Revan.
"Aduh!! Udah!!!.... hei sudah hentikan kalian berdua." Kata Revan berhasil menangkap tangan kami.
"Kalian bertengkar menyeramkan, bersatu lebih menyeramkan." Kata Revan heran.
"Ngapain kesini? Sana balik!!! Joget sama penyanyi." Kata Ine. Revan nyengingis.
"Aku yang antar pulang Putri ya Ne, plis plis kalian berdua tenang." Kata Revan melepas tangan Ine dan menarik tanganku. Aku menepisnya.
"Aku mau pulang bareng Ine." Kataku.
"Ya jangan dong.... tadi berangkat sama aku, pulangnya masak sendiri sendiri. Ayolah Dek." Kata Revan memelas. Memeluk pundakku paksa dan menggiringnya kemobil.
"Aku bantu hajar Put. Kapan pun kamu butuh bantuan." Kata Ine ketus.
"Beres, laki laki gatel emang harus dikasih pelajaran!!" Kataku sambil melirik Revan. Yang dilirik memelukku pundakku semakin erat. Menggiring dengan cepat menuju mobil.
"Udah pulang sana!" Usir Revan pada Ine.
"Aku gak ngapa ngapain lho Dek, cuma foto. Penyanyinya aja yang ikutan naik keatas panggung." Kata Revan langsung melakukan pembelaan diri begitu masuk mobil. Aku diam. Malas berdebat hal hal seperti itu.
"Kita kerumah sakit mana?" Tanya Revan kemudian.
"Haaa masih ingat punya janji dokter, tapi malah tebar pesona dipanggung gak pulang pulang." Jawabku ketus. Dia nyengir sok gak salah.
"Pulang kerumah!! Kita udah telat!" Perintahku sebal. Dia menghentikan mobilnya. Bertanya rumah sakit mana dan dokter siapa. Dia menanyakan apa dokternya masih ada via telfon. Ternyata dokter masih ada. Kami bergegas menuju rumah sakit.
Kami datang tepat waktu saat pasien terakhir diperiksa. Pemeriksaan dimulai. Aku ditanya tentang masa menstrulasi, dan lama mens, keluhan saat mens dan lain lain. Terakhir dokter melakukan USG.
Aku diduga mengalami endometriosis. Penyakit kesuburan ringan. Kata dokter bisa disembuhkan dengan meminum obat untuk terapi hormon. Itu yang paling ringan. Yang paling buruk tindakan operasi. Dokter juga menyuruhku santai.
"Kurangi kegiatan yang membuat stres. Jangan terlalu memikirkan anak. Pasrahkan saja, santai, relex Bu." Kata Dokter mengakhiri nasehatnya.
"Padahal saya sudah usahakan setiap hari Dok, kadang sehari lebih dari sekali. Tapi kenapa belum jadi juga? Apa karena stres juga?" Tanya Revan membuka aibnya sendiri. Aku mau masuk kedalam mesin USG saja sangking malunya. Dokter tersenyum. Dokter memberi tahu kalau melakukan hubungan setiap hari justru akan menurunkan kualitas sper*ma.
"Lebih baik dilakukan agak jarang." Kata dokter. Revan kecewa. Dia sudah mau membuka mulut mendebat dokter wanita itu.
"Terimakasih untuk penjelasannya Dok, kami permisi." Kataku menarik tangan Revan. Lengkap sudah! Menyebalkan sekaligus memalukan!!!!
"Kenapa buru buru pergi? Aku belum selesai bertanya?" Tanya Revan seperti tidak merasa berdosa. Bodolah.... aku terus berjalan menuju apotik untuk mengambil obat. Kami duduk berdampingan dalam diam.
Aku jadi teringat Ineke.
"Kau mau menyeleksi adik ipar?" Tanyaku. Revan mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" Tanya Revan penasaran.
"Kalau aku tidak salah tebak Ine menyukai temanmu yang tadi pakai batik hijau. Entah siapa namanya." Kataku.
"Batik hijau? Nando? Anak baru dalam timku?" Tanya Revan.
"Meneketehe dia anak baru bukan Mamas. Kamu saja selalu tertutup tentang pekerjaanmu dan teman temanmu." Kataku.
"Haaa aku tidak akan melepas Ine untuk sembarang lelaki. Apalagi anak bau kencur. Siapa dia sampai menyukai adikku? Kalau sampai membuat Ine terluka. Bisa dipastikan dia mendapat pukulanku." Kata Revan. Dia terlihat cemas. Seperti kakak laki laki yang mengkhawatirkan adik perempuannya.