
6 Bulan berlalu....
Ravan malah menunda kehamilan. Alasannya karena luka SCku yang memang disarankan dokter untuk tidak hamil dalam waktu dua tahun. Revan yang ber KB dia menggunakan kondo* tiap kali berhubungan. Dia yang riset beberapa jenis KB untuk wanita. Dia tidak mau aku memakai salah satunya.
Aku pasrah.... sudah dalam tahap pasrah. Kujalani apa yang digariskan, tanpa meminta. Hanya bersyukur. Walaupun kerinduanku pada kehadiran anak tetap ada dan tetap sama besarnya. Aku sering berkunjung kepanti asuhan jika rinduku pada Satria tidak tertahankan. Berbagi senyuman dengan mereka membuat tangisku mengering.
Revan kini bertugas sebagai semacam admin kantor. Kerja pagi pulang sore dengan seragam melekat dan penampilan rapi. Jarang sekali ada tugas malam hari. Aku bisa sedikit menarik nafas lega. Begini lebih baik. Walaupun dia terlihat jenuh. Seperti harimau ganas terkurung dikandangnya. Kalau sudah jenuh siapa korbannya? Aku. Aku yang selalu kena kejahilannya yang paling utama. Dia itu ternyata gak bisa gabut. Gabut dikit ngerjain orang lain. Kadang Alya, Bapak, Bude Marni, juga para karyawan juga kecipratan jahilnya.
Ine menikah dengan Nando. Setahuku Nando dipindah tugaskan. Ine yang masih satu kantor dengan Revan.
"Cantiikkk," kata Revan saat aku masih memoleskan makeup bersiap pergi keresepsinya Ine.
"Cantik dong, istrinya Revan." Kataku. Dia nggak terima kalau cuma muji cantik. Acak acakan lagi lah lipstikku. Aku sangking sudah terbiasanya sampai gak bisa marah. Itu adalah 'jatah' wajib dia sebelum aku keluar dengan makeup lengkap. Dia sebenarnya tidak pernah rela aku menggunakan makeup lengkap dan dilihat banyak orang. Hahaha dasar aneh.
Bapak sudah menunggu. Ku rapikan kerah baju beliau yang sedikit berantakan. Menyemprotkan parfum pada dua pria itu.
"Sudah nanti dikira cewek bau wangi." Bapak protes.
"Ini parfum khusus cowok Pak." Kataku. Dua pria yang mirip. Sifatnya, wataknya, dan kebiasaan acak acakannya.
Aku menggandeng dua pria itu di kanan dan kiriku. Beriringan kami masuk mobil dengan ceria. Dua pria yang bagiku sama berharganya, sama memanjakanku dalam segala hal. Bapak lebih sering membelaku saat aku berdebat dengan Revan. Kadang Revan marah marah karena merasa dianggap anak tiri.
"Mending carikan aku Ibu Tiri Pak, dari pada aku jadi anak tiri dari istriku sendiri." Kata Revan kalau sudah sewot.
Mebel kami berjalan baik. Meski masalah akan selalu ada. Jatuh bangun selalu menjadi dinamika dalam berbisnis. Namun kami masih bertahan dan berjalan. Bukan bisnis yang besar, namun mampu menghidupi kami dan puluhan karyawan. Kata Bapak yang penting berkah. Kuncinya hanya keikhlasan karyawan untuk bekerja dan kebahagiaan mereka. Karena itu suasana kekeluargan selalu hadir dalam hari hari bekerja. Seburuk apapun kondisi, kami berusaha menggaji mereka tepat waktu. Jangan sampai terlambat dan jangan sampai kurang. Kami dititipi rejeki dari puluhan karyawan itu, maka kami harus bersemangat untuk terus berjuang.
Gedung tempat Ine melakukan resepsi cukup besar dan indah. Kami bertiga masuk beriringan. Menyalami para among tamu didepan pintu masuk. Duduk di dekat ac biar gak kepanasan. Prosesi pernikhan satu satu dijalani.
"Kenapa tidak ada Pedang Pora?" Tanyaku pada Revan.
"Tidak semua polisi bisa melakukan upacara Pedang Pora Dek. Hanya lulusan akpol. Ada acara sejenis Pedang Pora, tapi Ine dan Nando memilih upacara cara tradisional." Kata Revan.
"Jadi aku beruntung?" Tanyaku.
"Kita beruntung." Jawab Revan.
Bude Marni datang bersama anaknya.
"Pak Aji, Mbak, Mas.." Katanya menyapa kami bertiga. Kami tersenyum dan menganggukan kepala bersamaan. Dia mengambil duduk disebelah Bapak. Aku langsung menyikut Revan. Dia nyekikik. Bude marni tahu betul cintanya tidak akan berbalas. Harus puas dengan hanya melihat Bapak dan menyiapkan kebutuhan beliau. Asisten rumah tangga yang setia, karena terikat oleh cinta.
Acara foto foto tiba, aku ikut maju berfoto bersama Revan dan Bapak. Menyalami pengantin galak yang sekarang nampak anggun.
"Ineku..... kamu.... cantik." Kata Revan setelah memeluk Ine lama.
"Jangan gitu lah Mas. Ini hari bahagia, kok malah masih pakai acara ngancam." Kataku. Sekarang giliranku memeluk Ine. Haru..... aku jadi ingat pertemuan kami yang selalu panas diawal.
"Udah, jangan bikin aku ikut mewek Put." Katanya galak. Melepas pelukan kami.
"Udah cantik cantik masih mode galak." Kataku sambil mengusap air mata. Kami berfoto beberapa kali.
Pulang dari resepsi Bapak mengajak kami makan disebuah restoran. Aku protes karena masih kenyang. Tapi dua pria didepan sana semangat mengisi perut. Yaa sudah lah, manut suara terbanyak. Ternyata tempat makan khas masakan kota ini. Setahuku tempat ini sudah berdiri lama. Cukup terkenal dikalangan wisatawan. Aku membaca buku menu. Tertarik dengan selat yang katanya paling recomended.
Kami makan dengan tenang. Tiba tiba sepasang suami istri mendatangi kami.
"B.R.M Cakrajiya Garjita Hanenda apa kabar?" Tanya seseorang laki laki berlesung pipi. Dengan penampilan berkelas pada Bapak. Nama rumit yang dia sebutkan membuatku mengerutkan kening.
"Itu dulu. Sekarang panggil saja Aji tukang kayu Dek." Kata Bapak berdiri menyalami orang tadi bergantian. Kemudian mereka saling berpelukan. Mereka berpelukan lama. Bapak melepaskan pelukannya menepuk pundak pria itu beberapa kali.
"Dia Revan putraku. Kau masih ingat?" Tanya Bapak. Revan berdiri menyalami sepasang suami istri itu.
"Dia Putri, mantuku." Kata Bapak lagi memperkenaklan aku. Aku juga berdiri menjabat tangan.
"Dia adiku Nduk, B.R.M Bisma Arkanata Danajaya." Kata Bapak. Aku melemparkan senyum pada orang itu.
"Sudah berapa lama mereka menikah? Kenapa tidak mengabariku?" Tanya Omnya Revan. Bapak tersenyum.
"Aku takut mengabari kalian. Lagi pula hanya pesta kecil." Kata Bapak. Omnya Revan manggut manggut. Dia meminta nomer telfon Bapak, kemudian pamit.
"Aku pingin ngobrol banyak sama Kakang, tapi hari ini aku terburu buru sekali. Kapan kapan boleh saya mampir kerumah ya Mas?" Tanya Om Bisma. Bapak mengangguk. Beliau menyebutkan nomernya. Mereka berpisah.
Aku sudah kepo sekali mau wawancara. Dua pria didepanku sudah senyum senyum.
"Satu satu tanyanya." Kata Revan sebelum aku buka mulut. Aku jadi malu. Akhirnya Bapak yang buka mulut duluan.
"Dia adik Bapak, Omnya Mamasmu Bisma..." Kata Bapak mengawali kisah.
Ternyata nama rumit yang kudengar tadi adalah nama Bapak. Sebelum dia merubah nama menjadi Cakrajia saja. Dengan panggilan Aji. B.R.M adalah gelar kehormatan untuk anak selir dan cucu raja dari putra mahkota. Yang berarti Bendera Raden Mas. Pewaris tahta setelah putra mahkota. Aku tidak tahu Bapak seningrat itu.
"Lalu Mamas juga punya gelar kalau begitu?" Tanyaku kepo. Bapak mengangguk.
"Mamasmu kalau diakui bergelar Raden." Kata Bapak. Aku jadi senyum senyum. Model jahil dan brutal begini punya gelar Raden.
"Jangan membayangkan yang tidak tidak. Habiskan makanmu." Kata Revan. Aku cuma senyum seyum gak jelas.