I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 62



Pagi sekali mobil Revan sudah tiba dihalaman rumah. Aku juga sudah siap setelah bingung memilih baju. Kalau cuma buat kencan it's ok. Ini diajak kekantor polisi. Pakai baju apa coba? Kalau salah dimarahin gak? Aku akhirnya memilih kemeja salur biru dan celana bahan abu abu. Beeehhhh mirip awal awal masuk kuliah. Hahaha.


Aku makin kaget dengan baju yang Revan kenakan. Kemeja putih, celana bahan hitam, dan dasi merah. Dia berdasi? Serius??


"Ada yang salah?" Tanyanya begitu sampai depan pintu. Aku langsung sadar kalau terlalu terlihat memperhatikannya. Aku geleng geleng sambil meringis.


***


Ternyata baju itu juga dikenakan beberapa orang disana. Itu baju seragam ternyata. Aku baru tahu.


"Tunggu disini." Kata Revan. Aku menunggu bersama beberapa orang dan wartawan. Dia apel pagi dengan teman teman polisinya.


Setelah apel, Revan mendapatkan penghargaan atas penggagalan kiriman sabu. Aku menyaksikan secara langsung. Wooo ini ternyata kenapa dia mengajakku kesini. Aku bangga juga kalau begini. Tapi sepertinya tidak dengan Revan.


"Ini bukan kerja keras saya, ini kerja tim. Lebih kepada keberuntungan. Anggap saja penulis sekenario membocorkan kisahnya sebelum ditulis." Katanya saat disuruh memberi kata kata. MC justru berpendapat Revan melucu dan sangat low profil.


Revan turun podium bersama beberapa temannya. Duduk di sampingku sambil menyerahkan plakat penghargaannya.


"Kamu mau aku yang simpan?" Tanyaku


"Berikan saja pada Riyan." Katanya. Aku tertawa.


"Dia pasti dapat masalah besar membocorkan kiriman itu. Dia pasti dalam masalah sekarang." Kata Revan. Dia menghela nafas kasar.


"Harusnya aku berfikir itu sebelum bertindak kemarin. Aku membahayakannya." Kata Revan lagi. Ada kekhawatiran diwajahnya. Aku merasa Revan mulai menyayangi Riyan sebagai adiknya. Aku memegang tangannya menguatkan.


Acara dilanjut dengan semacam konfrensi pers tentang apa yang terjadi. Beberapa barang bukti digelar. Aku dan Revan hanya menyaksikan. Pak Sidiq yang banyak berperan.


"Pak Revan sekarang ada yang nemenin kalau dapat penghargaan." Kata Boby. Revan hanya melirik.


"Iya tumben kerja minta ditemani Mas." Kataku. Boby berlalu menyingkir. Rupanya kulkas disampingku melayangkan tatapan dingin.


Pak Sidiq datang. Memberi pelukan dan selamat untuk Revan.


"Pulanglah, Ibumu masak enak. Bangga anaknya dapat penghargaan. Ajak Putri." Kata Pak Sidiq. Ibu??


Ternyata yang dimaksud Ibu adalah istri Pak Sidiq. Kami makan siang dirumah Pak Sidiq. Rumah yang merangkap sebagai butik rumahan milik istrinya.


"Sudah lama aku penasaran sama Putri. Baru sekarang diajak kesini. Kamu jahat Van." Kata Bu Nirmala, istri Pak Sidiq. Sambil mencium pipiku. Revan cuma senyum senyum.


"Cantik, ternyata Putri lebih cantik dari yang difoto. Panggil aku Ibu. Aku sudah seperti ibu untuk Revan." Kata Bu Nirmala. Aku mengangguk sambil senyum. Revan cukup banyak bicara dirumah ini. Sepertinya mereka memang cukup akrab. Aku seperti mengenal keluarga Revan yang lain.


***


1 hari kemudian.....


Suasana kelas masih lengang. Aku juga baru datang. Tomy mendekat. Entah kenapa aku melihat kegugupan diwajahnya. Dulu, aku tidak peka melihat wajah orang. Tapi pelan pelan sepertinya ilmu Revan membaca pikiran menular kepadaku.


"Put, jalan yuk." Ajaknya bahasa tubuhnya tidak santai, mukanya juga.


"Jalan kaya kita pacaran aja Tom." Kataku sambil lekat menatapnya. Dia tertawa.


"Ayo ah, nanti aku traktir." Ajak Tomy mau menyambar tanganku. Aku menghindar mengangkat tanganku.


"Kemana?" Tanyaku curiga. Dia terlihat makin gugub.


"Nyari angin aja." Katanya sambil menarik paksa tanganku.


Dia berjalan cepat melewati halaman kampus. Tidak sedikit pun melepaskan cengkeraman tangannya padaku. Sudah dapat dipastikan ada apa apa. Diparkiran ada mobil Riyan menunggu. Haaaa aku tahu dia minta tolong Tomy untuk ketemu. Pintu otomatis terbuka saat aku melewatinya. Aku ditarik Riyan masuk.


"Mmmmaaff Put, mmmaaaafkan aku." Kata Tomy gugub. Kemudian berlari menjauh.


"Ektingnya buruk sekali." Kata Riyan.


"Aku tidak bisa mengandalkan lebih selain jadi mata mata." Lanjutnya. Aku tertawa.


"Tidak semua orang mampu melakukan penculikan." Kataku. Giliran Riyan yang tertawa.


"Dengan sedikit bea siswa dan uang saku. Aku tahu dia mau kuliah." Katanya santai. Aku melengos. Bodoh, kenapa tidak curiga dari awal. Riyan dan Tomy saling mengenal sejak dulu. Itu sebabnya dia tidak suka Revan. Karena dia kaki tangan Riyan.


Mobil terus berjalan. Hening beberapa saat. Hanya tatapan Riyan yang lekat menatapku. Aku... bahkan masih merasakan gurat kerinduan dibalik tatapannya.


"Kau menculikku hanya untuk melihatku?" Tanyaku.


"Kau tidak takut aku menculikmu?" Tanya Riyan balik. Aku menggeleng sambil senyum.


"Sudah tiga kali ini kau menculikku. Empat dengan kejutan sweet seventeen. Kau tidak akan berbuat yang buruk padaku. Aku percaya itu. Kau masih Riyan yang dulu, pria baik yang terjebak dalam hal hal buruk." Kataku. Dia tersenyum kecut. Kemudian merenung seperti memikirkan kata kataku.


"Aku tetap penjahat sayang. Apapun yang kulakukan." Katanya kemudian.


"Aku tidak akan lama. Dengar aku baik baik. Ini situasi sulit. Aku akan membantu sebisaku. Tapi..... pergilah dari sini secepatnya. Minta Revan membawamu pergi sejauh dan sebisa mungkin bersembunyi. Aku serius." Katanya


"Kenapa?" Tanyaku.


"Aku bisa buat novel kalau kuceritakan dari awal. Yang jelas pergilah. Situasinya semakin kacau." Kata Riyan sambil menatap lurus kepadaku.


"Kau dapat masalah setelah membocorkan kiriman? Revan bilang begitu." Kataku.


"Sudah jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja. Pikirkan dirimu sendiri. Minta Revan pergi sejauh mungkin dari sini." Katanya. Kemudian dia menyuruh Bagas kembali kehalaman kampus. Kami hanya memutari kampus dari luar.


Mobil berhenti ditempat semula. Riyan membukakan pintu mobilnya untukku.


"Sepertinya aku hanya kalah ini dari Revan, kamu sudah berpaling kedia." Katanya getir. Aku tersenyum. Dia mencengkeram lenganku.


"Ingat ini gak main main Sayang." Katanya mengingatkan sebelum masuk dan berlalu dengan mobilnya. Aku jadi merinding.


Kutelpon Revan, tapi tidak diangkat. Pesanku yang tadi malam saja belum dibalas dan belum terbaca. Kukirim pesan..... mau bilang apa? Harusnya seperti ini dibicarakan secara langsung. Puluhan kali kucoba menelfonnya tidak diangkat. Ahhh sudahlah. Aku ada kelas.


***


Kutanya Bapak siang harinya. Katanya Revan dari kemarin belum pulang.


"Sepertinya sibuk Nduk. Dia gak mungkin mengabaikanmu kalau gak sibuk." Kata Bapak. Aku jadi takut sendiri. Riyan gak main main. Revan tidak bisa dihubungi. Aku harus gimana? Kabur sendiri? Kemana? Apa alasannya? Dikira aku main main nanti. Ancaman dari Riyan..... Orang rumah tahu aku ketemu Riyan lagi. Aaaaaaa aku pusing. Aku masih mencoba menghubungi Revan hpnya malah mati. Sampai sore belum ada pesan balasan dari Revan. Konsentrasiku benar benar terganggu. Aku bingung sendiri.


Ine melintas didepan halaman dengan motornya. Ine satu tim dengan Revan. Kalau dia pulang, Revan pasti juga pulang. Tapi kutunggu sampai satu jam berikutnya Revan tidak datang. Aku beranjak kerumah Ine.


"Bu, maaf bisa ketemu Ine sebentar?" Ijinku pada ibunya Ine. Dia menatapuk sinis, bahkan tidak menjawab. Tapi dia memanggilkan Ine.


"Mau apa?!!" Tanya Ine ketus. Matanya sembab seperti habis menangis.


"Apa kamu lihat Revan? Kalian satu tim kan? Kenapa kamu pulang dia belum?" Tanyaku.


"Kamu nanyain Revan ke aku? Gak salah? Kamu pacarnya, tapi tanya keaku temannya?" Katanya masih dengan nada ngajak ribut.


"Aku serius Ne, dia gak bisa dihubungi." Kataku.


Ine menatapku. Mengambil hpnya. Sepertinya mencoba menghubungi Revan.


"Dia sudah meninggalkan kantor dari tadi jam 11 pagi. Dia cerita mau cari cincin buat kamu." Katanya mulai panik.


"Sejak kapan kamu gak bisa hubungi dia?" Tanya Ine


"Pesanku tidak terbalas dari malam, tapi ponselnya tidak aktif dari tadi siang." Kataku


"Kami tugas tadi malam. Revan memimpin penangkapan. Introgasi sampai pagi...... kemana dia sekarang?" Ine juga panik.


"Terus hubungi dia. Beritahu aku kalau ada perkembangan. Mana nomermu. Aku akan mencarinya dikantor. Kami sedang berhadapan dengan gengster besar narkoba. Aku takut dia dalam bahaya. Jangan katakan pada siapapin dulu. Jangan membuat kepanikan." Kata Ine. Aku mengangguk beberapa kali. Aku menyebutkan nomerku, kemudian kembali kerumah Revan.


Pekerjaanku selesai. Ini sudah lewat waktu magrib, walaupun para pekerja ada yang mengambil lembur. Rumah Revan masih ramai orang. Aku pulang dengan kebingungan. Revan belum membuka hpnya. Aku menaiki motor melintas halaman setelah pamit sama Bapak. Mungkin lebih baik besok tidak kemana mana. Dirumah dulu. Pikirku. Tidak mungkin terjadi apa apa dirumah kan? Mungkin juga Riyan cuma menakut nakuti. Memecah konsentrasi Revan bekerja. Dia tahu Revan menyayangiku.


Keluar dari pemukiman rumah Revan aku berbelok menuju jalan besar. Tiba tiba mobil jenis SUV memepet motorku hingga aku mau jatuh. Beberapa orang turun. Aku yakin maksud mereka tidak baik. Kutinggalkan motor dan belari kembali memasuki pemukiman. Mencari pertolongan. Tapi lariku kalah cepat. Mereka menyergapku. Aku sempat berteriak beberapa orang warga dipemukiman Revan melihat. Mereka mengejar, tapi kalah cepat. Aku sudah diseret kemobil. Nafasku tersendat oleh aroma wangi obat dalam kain yang membekap mulut dan hidungku. Aku...... hilang kesadaran...... kulihat wajah Riyan sebelum mataku tertutup.