
Aku duduk, masih memasang muka marah. Dia mengambil air minum botol dikulkas kecil dipojok ruangan. Meminum air hampir setengah botol. Mukanya merah padam. Dia memgembuskan nafas beberapa kali, kemudian mengambil bangku kecil dan duduk di depanku.
"Kau merindukaku yaa sampai memeluk seerat itu?" Katanya sambil senyum senyum menopang dagu. Aku membuang pandangan. Diaa dengan cara duduk dan senyumnya masih sangat mempesona. Aku tak ingin terpesona lagi.
"Kau membuatku panas dingin dengan pelukan itu." Katanya setengah berbisik.
"Rasain kehabisan nafaskan!!" Balasku ketus. Dia malah tersenyum.
"Bukan kehabisan nafas sayang, tapi memantik bara api yang sanggup memakanmu. Kamu terlalu menarik untuk dibiarkan....lupakan. Kau tidak akan mengerti. Ayo katakan yang ingin kau katakan. Maki maki aku kalau perlu.... aku lebih buruk dari yang kau pikirkan." Katanya panjang lebar yang sedikit tidak aku mengerti maksudnya.
Akupun melempar tas slempang yang kubawa kemukanya. Memakinya dengan kasar. Mengatakan kalau dia menjijikkan dengan tingkahnya.
"Kau pikir dengan wajahmu itu kau bisa memiliki semua cewek!!! Kau cowok kurang cinta yang menjijikan. Aku jijik dengan tingkahmu. Aku jijik dengan bibirmu yang nyosor kesana kemari. Aku jijik!!!! Aku jijik sama KAMU!!!" Aku ngos ngosan sendiri mengatakannya. Air mata tanpa ijin mengalir dengan derasnya. Bodoh!!! Aku gak mau nangis didepannya, tapi mataku mengkhianati diriku sendiri. Aku sampai melepas kacamataku karena terlalu mengembun dengan tangisanku.
Dia duduk diam memperhatikan kemarahanku. Bahkan tak menghindar saat kulempar tas. Dia berdiri saat aku sesenggukan. Mengambil botol minum dan tisue. Menyerahkan dua benda itu kepangkuanku. Aku mengusap kasar mataku. Sebal karena mataku menangis. Aku jadi terlihat lemah dan bersedih ditinggalkan olehnya. Dia mengambil kacamataku dan membersihkannya dengan tisue. Masih duduk didepanku.
"Aku senang saat Dena bercerita dia melabrakmu. Aku tak perlu mematahkan hatimu. Kau pasti akan menjauh dariku. Tapi aku kangen. Aku kangen dan lama lama membuatku uring uringan. Aku pusing sendiri....." Kata Riyan mengawali kisah.
Dia menceritakan tentang Mami Lia. Yang ternyata bukan wanita biasa. Mami Lia adalah mucikari kusus gadis gadis belia. Modusnya cukup rapi. Ia akan menyuruh laki laki anak buahnya memacari gadis gadis cantik sesuai kriteria. Mereka biasanya gadis dari keluarga pas pasan dan ingin tampil modis. Atau gadis broken home yang tak terurus jadi terjerumus dalam pergaulan bebas. Terkadang gadis baik baik yang terhimpit kebebutuhan hidup. Lelaki lelaki itu akan membujuknya pelahan agar mau menjadi anak angkat Mami Lia. Ia akan datang menawarkan pekerjaan haram pada para gadis itu. Pekerjaan menjijikkan yang menjanjikan banyak uang.
"Apa gadis gadis itu tidak menolak?" Tanyaku heran. Ada gitu orang yang merusak dirinya sendiri sejauh itu?
"Sejauh yang aku tau tidak. Mereka sudah terbiasa bergaya mahal, salon dan banyak uang. Lagi pula kebanyakan dari mereka sudah tidak perawan. Tidak akan mampu hidup dengan uang saku dari orang tua lagi." Jawab Riyan santai. Demi gaya?? Ada orang yang rela seperti itu?
"Kak Dena juga? Dan kauuu salah satu anak buah Mamimu?" Tanyaku setengah syok. Dia mengendikkan bahunya.
"Kau tahu jawabannya. Dena akan tampil mahal sebentar lagi. Tarifnya cukup mahal. Dia enak dan mampu mengenakkan." Kata Riyan blak blakan. Telingaku risih mendengarnya.
"Kenapa kau mau?" Tanyaku Pada Riyan. Itu perbuatan dosa. Sama besarnya dengan yang melakukan.
"Kenapa tidak? Ini hal yang menyenangka. Aku bisa mencoba banyak gadis dengan suka rela. Aku hidup di dunia abu abu sejak kecil. Aku biasa dengan ini. Anggap saja membantu ibu angkatku. Balas budi karena hanya dia yang sedikit mengkhawatirkan aku saat aku demam. Kau belum pernah merasakan tidak di perhatikan oleh siapa pun tidak akan mengerti." Kata Riyan. Aku merinding.... dia...... orang jahat.
"Kau tidak mau berhenti?" Tanyaku lagi pada Riyan. Menurutku dia cowok baik sebenarnya.
"Karena itu aku suka saat Dena melabrakmu. Kau akan jauh dariku. Tapi aku kangen..... aku kangen sama kamu." Kata Riyan. Kemudian dia mendekat duduk disampingku. Merentangkan tangannya dibelakang sandaran kursiku.
"Aku pengaruh buruk untukmu, tapi kalau jujur aku gak mau jauh darimu. Apa yang harus kulakukan Put? Apa? Aku terus terusan memikirkanmu." Katanya. Aku juga terus terusan memikirkannya kalau mau jujur. Dia.... tetap mempesona dan indah, tapi dia itu jahat. Dia penjahat. Aku jadi bingung sendiri mirip dia.
Hening...... entah berapa lama keheningan tercipta. Suasana temaram distodio ini seakan ikut muram seperti hati kami. AC yang menyala membuat kulit dan tubuhku mendingin. Aku menengadah melihat lampu diatas kami. kepalaku mentok ditangannya. pendar lampu temaram, aroma parfumnya yang lembut menguar. Aku gak mau kehilangan semuanya.
Entah apa yang terjadi denganku. Aku kembali menyandarkan kepalaku dipundaknya. Dia kembali mengelus sayang kepalaku. Kami terdiam cukup lama dalam posisi itu. Posisi ternyaman untuk kami. Dia mengelus kepalaku, memainkan rambutku yang tergerai.
"Kau cemburu aku mencium Dena? Apa aku bisa memastikan kalau kita mempunyai rasa yang sama?" Tanyanya setelah sekian lama terdiam.
"Aku tidak mau pacaran denganmu." Jawabku aneh. Seaneh pertanyaannya yang ambigu.
"Memang tidak perlu. Tidak usah pacaran." Jawabnya mantap. Kembali mengelus rambutku dengan sayang.
"Mau makan eskrim?" Tawarnya padaku.
"Eskrim apa?" Tanyaku sambil menengadah meihat wajahnya. Jarak wajah kami begitu dekat. Nafasnya hangat mengenai wajahku. Dia menatapku intens.
"Aku tidak ingin membuatmu marah. Apa boleh aku.... aku menciummu?" Tanyanya masih dengan menatapku. Aku diam tidak menjawab. Dia mulai mendekatkan wajahnya. Mengecup bibirku dengan lembut. Bibir tebalnya terasa begitu kenyal. Dia mekakukannya lagi. Kali ini lebih lama lidahnya keluar menerobos bibirku. Aku reflek membuka mulutku. Basah.... lidahnya yang basah menerobos masuk. Semakin dalam mengelilingi rongga mulutku dengan gerakan pelan. Menggelitik lidahku. Aku mengangkat lidahku dia menghisapnya pelan. Ciuman yang......enak.
Dia menarik bibirnya sambil tersenyum.
"Aku ambil ciuman pertamamu." Katanya. Aku menunduk malu.
"Aku akan sering melakukannya agar kamu terbiasa. Kamu terlalu kaku Sayang." Katanya blak blakan membuatku semakin malu.
Kami kembali ketempat pusat perbelanjaan. Duduk ditamannya sebentar. Dibawah sana banyak ikan berenang. Menikmati eskrim yang lembut, dingin dan manis. Seperti..... lidahnya tadi. Aku ngos ngosan sendiri memikirkan yang kita lakukan tadi. Itu tadi enak, tapi pasti berdosa.
Kami berpisah diparkiran. Aku mengambil sepedaku. Dia melesat dengan motor besarnya. Entah hubungan aneh apa yang kami jalani. Aku takut sekaligus jatuh cinta dengannya.