
Aku sampai dirumah Ibu. Motor Revan sudah berhimpit dengan dua mobil lain. Kakak pertamaku pulang ternyata. Tiga bocah dirumah itu sudah membikin kegaduhan yang membuat semua orang tertawa. Geng Hello Kitty juga lengkap. Bercanda diruang tamu sambil makan kacang. Tatapan menusuk Revan membuatku merinding.
"Ini dia pulang, cewek manja yang bikin AKP Revan galau." Cletuk Mas Dipo saat aku menyalami Mas Kris.
"Galau gimana? Wah aku ketinggalan gosip." Kata Mas Kris.
"Weeee semalam ada yang jadi pemabuk berat......"
Mereka lanjut mengobrol. Aku keruang tengah bersama para wanita dan anak anak. Juga ngobrol sana sini bercengkrama. Obrolan kami tidak masuk telingaku. Aku khawatir dengan tatapan Revan. Dia pasti sangat marah.
"Ayo pulang." Ajak Revan saat jam rumah menunjuk angka 10.
"Gak nginep disini?" Tanya Ibu.
"Besok kami kesini lagi Bu, malam ini biar kami pulang dulu." Kata Revan beralasan. Aku mengikutinya keluar rumah setelah berpamitan pada semua orang.
Hukumanku baru dimulai....
Tapi ternyata aku salah. Dimotor bahkan sampai rumah dia diam tanpa meminta penjelasan apapun. Aku juga takut memulai percakapan. Masuk kamar aku kebingungan baju lagi. Bodoh!! Tadi di rumah gak kepikiran bawa baju kesini.
Aku membuka lemari, betapa terkejutnya saat melihat baju bajuku sudah tertata rapi lagi disitu. Bahkan laptopku dan maps surat juga ada. Dia sudah memindahkannya tadi. Benar benar serius menyuruhku tetap dirumah ini. Dia tidur tanpa bilang apapun. Aku dikacangin 100%.
Biasalah saat tidur ada Revan nganggur, aku harus ndusel manja dulu. Tapi aku gak berani. Pecicilanlah aku tidur. Balik sana balik sini. Caper biar di peluk gitu. Dia malah bangun. Keluar kamar. Aku intip dia tidur didepan tv dengan sofa bed. Aaaaa ini gimanaa??? Kulkasnya tambah dingin dengan mode paling dingin.
Lama aku mondar mandir dikamar. Ahh.... sudahlah aku yang salah. Aku ndusel dia disofa bed. Dia bangun menatap tajam kearahku. Aku gak peduli. Pelukanku gak dibales. Aku juga gak peduli, tapi aku bisa tidur cepat.
***
Pagi datang, aku bangun sudah berada dikamar lagi. Dia tidur memelukku. Aku gak mau bangun. Kurapatkan lagi pelukanku. Dia justru bangun. Menggeliat melepas pelukan.
"Aku minta maaf." Kataku cepat. Sambil memegang tangannya. Dia diam.
"Aku minta maaf buat kemarin. Aku... udah bilang sama Diki kalau kita gak jadi berpisah. Aku mau tetap sama kamu. Terimakasih buat kemarin malam. Aku udah pamit sama pemilik toko. Aku akan kerja lagi disini bantuin Bapak." Kataku lagi. Gak ada tanggapan. Aku kayak transparan.
"Aku juga minta maaf untuk ciuman itu. Aku... gak berani menolak. Maafkan aku Mamas plis." Kataku memohon. Betapa dunia ini berbalik dengan cepat. Kemarin dia yang memohon padaku. Sekarang aku yang memohon padanya.
Dia beranjak mau kekamar mandi. Aku menahan tangannya lebih keras.
"Mas, aku bicara sama kamu lho." Kataku setengah jengkel.
"Aku tahu, cepat mandi dan kerumah Ibu. Mas Kris ngajakin kita piknik kecil kecilan." Kata Revan. Masih dengan tatapan dingin dan nada kulkas.
"Mandiin." Kataku manja bergelayut dilengannya. Dia melihatku heran seolah aku benda asing pelanet lain. Aku justru membuka daster tidurku. Kubuat gerakan lambat untuk mencopoti semua satu satu. Lalu berjalan kekamar mandi dengan perlahan. Tidak mengunci pintu kamar mandi. Dia datang merang**sangku dengan gencar, tapi tidak segera ke inti permainan. Ini hukumanku.
"Mmmmaasshhh ayo." Aku memohon dengan tersiksa. Dia masih berpakaian lengkap. Aku sudah mau kli**maks. Dia justru berhenti.
"Mandi sana!!" Kata Revan berlalu begitu saja dengan senyum dibibir. Aku ndongkol setengah mati.
Kami keluar kamar bapak sedang ngopi cantik diruang makan. Bude Marni masuk kerja walau minggu.
"Pagi Bude. Kok tumben hari minggu disini?" Tanyaku.
"Bapak mau aku masak soto Mbak." Jawab Bude Marni sambil sibuk menyiapkan soto dimeja makan. Aku membantunya. Revan ikut duduk diruang makan.
"Tumben mau soto segala Pak." Kata Revan.
"Lha gimana Mantuku kabur dari rumah, padahal aku udah terbiasa dengan masakan rumah." Kata Bapak. Aku nyekikik saja.
"Aaaa begini lebih enak dipandang. Bapak rela kok jadi obat nyamuk lihat kalian mesra, dari pada lihat kalian marahan terus kaya kemarin." Kata Bapak.
"Bapak boleh kok cari istri lagi biar gak jadi obat nyamuk. Gak ada ibu tiri yang berani mukulin Revan Pak. Revan jamin itu." Kata Revan.
"Hayah, dunia sudah mau kiamat. Anak nyuruh orang tuanya nikah." Kata Bapak. Sarapan sudah tersaji lengkap dimeja makan. Bude Marni mau beranjak.
"Ayo makan Mar." Ajak Bapak pada Bude. Yang diajak sedikit sungkan. Aku menariknya duduk disebelahku. Kami sarapan berempat.
"Nanti kami pergi kerumah Ibu, mungkin agak malam pulangnya." Kata Revan. Bapak mengangguk.
"Nikmati waktumu dengan baik. Bapak juga jarang melihatmu bersantai seperti ini. Sebenarnya kalau dipikir pikir benar Putri. Kerjaanmu itu terlalu berat." Kata Bapak. Aku manggut manggut sambil mengacungkan jempol karena mulutku penuh nasi.
"Anggap saja Revan cari ketegangan Pak. Bisa nolongin sejoli mau kerampokan juga." Kata Revan. Aku langsung tersedak. Bude Marni menyodorkan minum dalam diam. Aku meminumnya masih sambil terbatuk. Bude Marni mengelus punggungku pelan.
"Makasih Mar, kamu ikut ngopeni anak anakku dengan baik." Kata Bapak.
Bude Marni tersenyum malu malu. Revan langsung memandang Bapak dan Bude Marni bergantian. Aku melihat ekspresi mukanya. Revan tersenyum samar. Aku juga melihat ada tanda tanda naksir Bude Marni sama Bapak Hahahaha.
"Mungkin Bapak mau Revan carikan istri. Bagaimana kalau Bude Marni jadi istri Bapak?" Kata Revan tiba tiba. Tiga orang diruangan itu tersedak bersama kecuali Revan. Jahilnya kebangetan memang!!!
"Jangan ngaco kamu Van!!" Kata Bapak sewot. Revan tersenyum jahil.
"Hidungku panas tersedak dua kali." Aku protes.
"Bagi Bapak tidak ada yang bisa menggantikan Ibumu. Ingat itu baik baik." Kata Bapak tegas. Aku tahu wanita setengah baya disampingku ini sedih.
Kami berangkat kerumah Ibu setelah sarapan. Mas Kriss mengajak kami ketaman kota yang ada airnya. Taman kuno dekat kampusku. Aku pernah kesana beberapa kali dengan Tomy dan teman teman. Tapi tak tahu sekarang jadi lebih cantik. Revan mengajakku menaiki bebek bebek air. Aku menggeleng.
"Nanti kalau tenggelam gimana?" Tanyaku.
"Ya tinggal menyelam." Kata Revan santai. Dia tetap menarikku ikut mengantri.
Kami berada di tengah kolam, dekat dengan patung wanita menggunakan jarik. Aku teringat kejadian sarapan tadi.
"Sepertinya pesona Bapak masih ada walaupun dia sudah sepuh." Kataku membuka pembicaraan. Revan tertawa.
"Kalau mau sudah dari dulu dulu aku punya ibu tiri Dek." Katanya.
"Tapi Bapak terlalu loyal dengan Ibu. Aku puluhan kali menyuruhnya menikah. Beliau beralasan takut ibu tirinya mukulin aku. Haaa konyol sekali." Kata Revan lagi.
"Apa anaknya akan sama?" Tanyaku.
"Apa anaknya akan sesetia Bapaknya. Setulus Bapaknya?" Lanjutku. Dia melirikku sebentar.
"Entahlah, aku tidak bisa menjanjikan kesetiaan seperti Bapak, karena kesetiaan itu teruji oleh waktu. Tapi aku berusaha sebaik Bapak. Dia adalah kiblatku memperlakukan wanita. Aku juga tidak berjanji kamu aman disisihku selamanya, karena sumpahku untuk mengabdi kepada negara. Tapi aku berjanji untuk berusaha melindungimu dengan cara apapun." Katanya. Kami bertatapan.
"Aku mencintaimu Dek, aku mencintaimu sejak melihatmu di swalayan itu. Tetaplah disampingku apapun kekuranganku." Kata Revan sungguh sungguh. Hatiku meleleh....
"Aku juga mencintaimu Mamas, entah sejak kapan aku mencintaimu. Tetaplah disampingku walaupun aku selalu dekat dengan banyak masalah." Kataku. Dia tertawa, mengeratkan pelukannya dipundakku.
Kami ternyata tetap saling mencintai. Walau semarah apapun satu sama lain. Hati kami satu. Walaupun otak kami berbeda jalan pemikiran. Aku menyadari bahkan pernikahan lebih sulit dari acara resepsinya. Ada banyak perbedaan yang harus disatukan. Ada banyak kesalah pahaman yang harus diluruskan. Berjalan satu jalan dengan dua tubuh. Berhimpit oleh cinta, dipersatukan oleh cinta. Harus kuat. Dan aku bersyukur memiliki suami seperti dia. Tidak semua sifatnya bisaku terima, tapi aku akan belajar memakluminya.
I love you Mas. TAMAT