I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 104



Aku bangun tanganku sudah diinfus. Aku berada diruang perawatan. Revan tidur disofabed disamping ranjangku. Aku bangun mau pipis. Tapi gerakanku kurang halus, dan telinganya terlalu peka.


"Mau kemana?" Tanya Revan sudah duduk tegak.


"Mau pipis. Bisa sendiri kok." Kataku. Tapi dia tetap sigap membantu.


"Kenapa disini?" Tanyaku saat sudah kembali keranjang.


"Kamu pingsan, aku panik. Kamu juga gak selera makan beberapa hari kemarin kan. Dokter bilang dirawat disini dulu sampai membaik. Gak papa aku temani." Kata Revan sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk.


"Masih mau bakso? Ini sudah pagi pasti ada yang jual." Katanya. Aku mengangguk lagi.


"Yang bawang gorengnya banyak yaa." Kataku. Dia tersenyum.


"Baiklah, akan aku bawakan bakso dengan bawang goreng yang berlimpah." Kata Revan.


Revan menunggu Ibu yang katanya sudah dijalan. Begitu ibu datang Revan pergi cari bakso. Aku ngerumpi sama Ibu.


"Sampai pingsan kemarin?" Tanya Ibu.


"Aku tadi subuh muntaah muntah sampai pahit. Trus gelap. Bangun bangun udah disini." Kataku. Ibu manggut manggut.


"Dulu Ibu juga gitu waktu hamil kamu. Paling sulit, paling cengeng. Hasilnya ya kamu ini." Kata Ibu. Sarapan pagi diantar kekamar. Ibu menyuruhku makan sedikit, tapi makan sesendok saja aku muntah lagi. Kepalaku berputar parah. Aku pusing.


Revan kembali saat semua kekacauan terjadi. Matanya panik tapi gestur tubuhnya tetap berusaha tenang. Dia membersihkan muntahanku dilantai. Aku tertidur sampai siang....


Ciuman kecil kecil membangunkanku.


"Bangun, kamu belum makan dari pagi." Kata Revan lembut. Ibu sudah tidak ada. Kata Revan ibu pulang. Dia yang akan menjagaku sampai pagi. Bergantian dengan Ibu besok. Dia sabar dan telaten sekali menjagaku. Seperti biasa aku akan baik baik saja kalau sudah lewat tengah hari. Mandi makan bakso bertabur bawang goreng satu toples. Aaaa ini makana paling aneh yang pernah kumakan. Tapi ini enak sekali. Makanan terenak yang pernah kumakan.


"Sepertinya anak kita suka bawang goreng nanti." Kata Revan sambil melihatku makan.


Bapak datang membawa keperluan kami sore itu. Memberiku semangat dan bercanda mengatakan kalau beliau sudah mandi kembang 7 rupa sebelum kesini. Aku tertawa.


"Bapak maaf, Putri ngrepotin terus." Kataku merasa bersalah. Kondisiku yang tidak bisa membantu Bapak bekerja, membuat bapak sibuk sekali akhir akhir ini. Sekarang malah aku dirawat.


"Ngerepotin apa? Bapak dan Revan yang ngerepotin kamu, karena kamu yang mengandung keturunan Bapak." Kata Beliau.


"Ibunya Revan dulu juga mabuk parah waktu hamil Revan. Entah dengan hamil Riyan. Aku tidak ada disampingnya." Kata Bapak.


Aku mencoba menutupi rasa heran diwajahku. Ada gitu seorang laki laki memaafkan dan masih mencintai wanita yang jelas jelas sudah selingkuh? Bahkan sudah melahirkan anak dari pria lain? Tapi aku terlambat menyembunyikan ekspresi heranku. Bapak tersenyum.


"Benar kata Revan. Membaca pikiranmu itu tidak sulit, karena matamu selalu jujur menyampaikan." Kata Bapak. Revan menegakkan tubuhnya. Sendu sudah tergambar dimatanya.


"Kalau kamu heran, Bapak tidak kaget. Tapi begini pemikiran Bapak. Dia selingkuh, saat kami sudah sukses dengan mebel. Saat kami sudah memiliki Revan sebagai pelengkap. Dia selingkuh saat kami bahagia. Apa itu masuk akal? Dia tidak selingkuh saat kami harus makan sepiring berdua. Saat awal Bapak harus ngekos karena keluar dari rumah." Bapak menggeleng.


"Itu tidak masuk akal. Dia bukan wanita gila harta. Awal kami menikah saja aku dihidupi dari hasil menyanyi. Lilis juga bukan orang yang suka ganti ganti pasangan. Cinta kami bahkan teruji sebelum menikah dengan sangat dahsyat. Semuanya berubah setahun sebelum kematiannya. Dia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, tapi selalu tidak jadi. Tiba tiba dia pergi..... meninggal tak lama setelah itu. Dia punya alasan. Aku yakin dia punya alasan kenapa meninggalkan kita Van." Kata Bapak pilu. Revan duduk diam disofa bed. Tiba tiba susana haru ini begitu kental.


"Lagi pula gak ada yang merepotkan antara anak dan Bapak Nduk." Kata Bapak sambil tersenyum. Aku jadi minta peluk. Bapak memelukku dengan sayang.


Malam menjelang, Bapak sudah pulang saat jam besuk habis.


"Mamas sini." Kataku.


"Apa? Mau makan?" Tawarnya mendekat dan duduk di ranjang. Aku menggeleng. Aku merentangkan tanganku. Dia tersenyum dan memelukku.


"Dasar manja." Katanya tapi juga tidak lepas pelukkannya. Aku menciumnya sekilas. Dia diam menanggapi. Kuulangi lagi. Dia mulai berdecak.


"Aku sudah menahan diri yaa... jangan sampai aku melucutimu disini." Katanya. Aku tertawa. Kami tidur berpelukan sampai perawat menegur Revan untuk tidur disofa bed.


Dini hari waktuku mood swing lagi. Begitu emosional mau nangis terus. Gak tahu kenapa tapi rasanya sedih. Revan dengan sabar menungguiku. Menawariku ini dan itu sampai aku lelah dan tertidur. Pagi Ibu datang bersama Ayah. Menggantikan Revan yang mau berangkat kerja. Dia pamit sambil menciumku yang masih acak acakan telar.


Siang Mbakku dan Mas dipo datang. Membawa buah buahan segar.


"Mabokmu parah sampai kesini yaa." Kata Mbakku. Aku tertawa.


***


Tiga hari aku dirawat. Silih berganti orang datang menjenguk. Dari teman satu tim Revan Boby, Ine dan pacarnya yang menjadi the next pasangan kontroversial dikantor. Bukan cerita antara sepasang polisi. Tapi juga kakak galak yang merepotkan diantara mereka. Hahaha. Saat pulang kutepuk lengan Nando. Aku memintanya bersabar atas ulah Revan.


"Dia hanya terlalu sanyang sama Ine." Kataku. Nando mengangguk mengerti. Ine malu malu. Haaa Nenek Sihir bisa malu malu kucing.


Pak Sidik dan Bu Nirmala juga datang menjenguk. Dua orang itu memberiku semangat.


"Ini memang tidak mudah Put, tapi tidak semua orang mampu merasakannya. Diluar sana banyak wanita yang memimpikan jadi dirimu. Mau menggantikanmu terbaring lemah, asal ada janin yang tumbuh diperut." Kata Bu Nirmala. Matanya sudah berkaca kaca. Kami berpelukan cukup lama. Aku sedikit banyak mengerti rasa Beliau. Penantianku untuk hamil terhitung lama. Sekarang sesusah apapun kondisi hamilku, akan tetap kusyukuri sebagai nikmat.


Yang paling heboh saat menjenguk itu Diki. Dia tahu aku dirawat saat mengirim kayu kerumah. Biasanya menjenguk orang sakit bawa makanan, dia bawa balon helium dengan banyak sekali bentuk dan warna. Dasar gila!!


"Aku tahu kamu tidak akan kekurangan makanan. Makananku hanya akan tertumpuk sia sia. Yang paling utama itu membuatmu tersenyum." Kata Diki sambil menata balon balon helium itu mengelilingi kamarku. Aku bukan lagi tersenyum, tapi tertawa dengan ulah konyolnya.


"Haaa bagus, tertawa begitu lebih cantik." Kata Diki sambil menatapku lama. Ibu yang saat itu menjagaku melihat aneh kearah Diki. Meskipun tetap ramah menyambutnya.


Saat Diki pulang, Ibu bertanya padaku siapa Diki. Kujawab saja apa adanya kalau dia patner bisnis Bapak, dekat denganku karena dia juga bocah ingusan dalam bisnis. Kami sama sama bocah ingusan yang belajar.


"Ingat Revan, hubungan kalian jangan sampai melukai hati Revan." Kata Ibu. Aku tertawa konyol.


"Ibu pikir aku suka dengan Diki?" Tanyaku.


"Bukan kamunya tapi dia." Kata Ibu. What??? Itu terlalu konyol. Diki memang perhatian, tapi mana mungkin dia suka pada wanita bersuami.... hamil lagi. Mungkin Ibu terlalu berlebihan.


Revan datang sore itu agak terkejut dengan balon balon Diki. Ibu giliran pulang. Memang seperti itu sistem saat aku menginap disini. Ibu akan datang pagi, menungguku sampai sore. Kemudian berganti Revan sampai pagi. Aku merepotkan sekali jadi orang yak.....


"Kau berencana menerbangkan kamar ini Dek?" Tanya Revan sambil mengamati balon balon itu. Aku tertawa dan menceritakan kalau itu ulah Diki. Mukanya terlihat kaget meskipun tidak mengatakan apapun.


***


Dihari keempat aku membaik dan diijinkan pulang. Aku senang sekali. Berharap aku tidak kembali lagi kesini sebelum waktunya lahiran nanti.


Revan mengemasi barang barang kami. Aku berusaha membantu, tapi dicegah.


"Aku udah baikan kok." Kataku ngeyel. Dia menggeleng.


"Duduk diam diatas ranjang. Aku yang atur." Kata Revan. Aku justru turun dari Ranjang. Duduk di sofa bed yang akhir akhir ini jadi tempat tidurnya.


"Terimakasih sudah menjagaku. Maaf merepotkan." Kataku mellow. Dia berhenti beberes. Duduk disampingku.


"Apa itu? Jangan pernah berfikir kamu merepotkanku. Kita ini suami istri. Aku akan selalu ada untukmu. Karena kamu adalah bagian dari diriku sendiri. Selamanya aku akan selalu ada untukmu. Selamanya." Kata Revan mantap. Kami berpelukan.


"Jangan pernah meninggalkanku yaa. Kamu janji kan Mas? Temani aku terus. Aku kuat denganmu apapun kondisinya." Kataku.


"Pasti Sayang. Kamu dan bayi ini adalah prioritasku sekarang. Aku janji." Janji Revan.


Terimakasih untuk cintamu AKP Revan Aji Pratama S. tr.K. Aku tidak bisa hidup tanpamu.


***


Memasuki bulan keempat kehamilanku membaik. Tidak lagi mood swing dimalam hari. Sebelum tengah hari aku juga sudah bisa bangun. Walaupun masih sesekali muntah. Tapi sangat jauh lebih baik dari bulan yang lalu.


"Aaaa.... ada yang bergerak diperutku Al." Kataku pada Alya yang duduk disampingku. Ini pertama kalinya aku merasakan pergerakan diperutku.


"Serius Mbak? Sudah bisa bergerak?" Tanya Alya sama girangnya.


"Iya gerakan kecil, tapi aku bisa merasakannya. Lucu sekali." Kataku bahagia. Ada kurir datang membawa paket besar menuju mejaku dan Alya.


"Ada paket atas nama Mas Revan atau Mbak Putri." Kata Kurir.


"Saya Putri Mas." Kataku. Akupun menerimanya. Ternyata berisi toples bawang goreng banyak. Revan memang bilang tadi pagi kalau akan ada paket datang. Ternyata dia membelikanku stok bawang goreng melimpah. Aku girang bukan main. Nyidamku makan dengan bawang goreng memang masih.


Karena kondisiku yang membaik, Revan kembali sibuk kerja. Katanya kali ini dia akan agak sibuk. Pengejarannya sudah mengerucut pada bandar. Biasanya kalau sudah bandar dia akan jarang pulang. Lebih sering tugas malam juga. Aku jadi merasa kesepian. Tiga bulan yang hangat full dukungannya. Kini menjadi sepi. Apa daya, aku memang istri kedua untuk Revan. Istri pertamanya adalah Ibu pertiwi yang selalu ia bela agar bebas dari seluruh kejahatan. Aku harus apa? Bangga punya suami loyal pada pekerjaanya, atau sedih karena tidak memiliki perhatian penuh lagi??? Entahlahhh....