I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 52



BBM benar benar naik. Bukan cuma merambat naik, tapi ganti harga. Teman temanku sudah dapat ijin demo. Aku diajakin teman teman sekelasku.


"Sekali seumur hiduplah. Masa iya jadi mahasiswi gak pernah ikut demo." Kata temanku.


"Mahasiswi hukum, tapi gak pernah ikut demo, gak pernah ikut organisasi. Mahasiswi macam apa kamu." Kata Handi ikut ngomporin. Aku nyengingis, biasanya memang mahasiswa hukum itu paling vokal, tapi aku dan Tomy paling aktif cari kerja sampingan hahahaha.


"Gimana Tom?" Tanyaku pada Tomy minta pertimbangan. Tomy diam sejenak.


"Aku ikut kalau kamu ikut." Katanya. Akhirnya aku ikut berbaris juga dalam rombongan pagi itu. Hahaha benar juga. Masak jadi mahasiswi belum pernah ikut demo. Jurusan hukum lagi.


Kami berjalan kaki menuju gedung Perwakilan Rakyat. Katanya akan bergabung dengan mahasiswa kampus lain. Gedung Perwakilan Rakyat ada diarea kompleks pemda. Satu komplek juga dengan kantor Revan. Kantor Dewan Perwakilan masih beberapa puluh meter lagi. Berada diujung area perkantoran ini. Mahasiswa kampus lain ikut bergabung dibeberapa titik. Ini demo besar. Tapi aku heran melihat segrombolan orang berseragam mirip kami ikut nimbrung dalam barisan. Mereka ada di depanku. Mereka...... tidak terlihat mirip anak kuliahan.


"Tom, mereka siapa?" Bisikku pada Tomy disampingku. Tomy mengamati, mukanya juga berkerut.


"Gak tahu, yang jelas bukan anak kampus kita." Katanya. Orang orang itu membawa ransel besar yang sepertinya berat. Menggunakan jas mirip yang aku kenakan. Perasaanku gak enak.


Kami akan melewati kantor Revan. Hahaha aku pasti kena semprot kalau tahu ikut demo. Celakanya Revan sedang ada disamping kantor. Sedang sarapan pagi dengan soto daging yang baru diantar pelayan. Dia duduk dibangku teras menghadap jalan. Matanya menyisir rombongan kami. Menurunkan sendoknya saat melihatku. Langsung mengkerutlah dahinya. Kami berpandangan sejenak. Aku nyengir dan memberikan kiss dengan tangan padanya.


"Jijik!!" Tomy ternyata melihat kelakuanku. Pandanganku beralih ke Tomy masih sambil nyengir.


Tiba tiba orang orang di depanku berhenti. Mereka mengeluarkan berbagai alat dari dalam tas mereka. Suara ledakan besar terdengar. Kalau tidak salah ada letusan senjata api juga mengiringi. Kulihat seorang polisi berseragam ambruk. Suasana kacau. Ditambah orang orang bermotor entah darimana yang melempari kantor polisi dengan api. Semua orang berlarian. Aku bingung mau lari kemana. Satuan polisi didepan sana sudah mulai besiap. Beberapa orang seperti kami menembaki dengan senjata. Aku lari kesebrang jalan. Teman temanku yang lain kocar kacir. Mereka justru yang mahasiswa tulen. Jeritan dan ledakan terdengar bersamaan.


Seseorang menarik tanganku untuk terus berlari mengikutinya. Revan!!!!! Kami berjongkok disebuah kios rokok tidak terpakai. Sebrang jalan dari TKP. Revan mendobrak masuk. Menarikku masuk kekolong meja. Aku tiarap dalam warung itu. Ditangannya tergenggam pistol.


"Apa kalian demo membawa senjata? Bodoh kenapa kamu ikut!!! Situasinya berat untukmu." Katanya.


Dia menelpon seseorang.


"Aku Revan. Penjelasnya nanti. Bawa Putri pergi dari sini. Ada kekacauan didepan kantorku. Bawa orang orang terbaikmu. Kami ada disebrang jalan. Putri ada kios rokok tidak terpakai. Bawa dia, aku...... percaya padamu." Revan menjelaskan singkat. Mematikan panggilannya. Memfoto kios kecil itu.


"Dengar, seseorang akan menjemputmu. Dia akan membawamu pergi. Aku sudah menjelaskan lokasimu. Diam disini sebelum mereka datang. Aku tidak bisa menemanimu." Katanya beranjak pergi.


Aku tiarap ketakutan. Suara tembakan masih terdengar. Bahkan ledakan beberapa kali terdengar. Tiba tiba ada beberapa orang mendatangiku.


"Putri?" Kata seseorang diantara mereka.


"Lepas jasmu ikut kami." Katanya lagi. Menarikku dari kolong meja yang sempit. Mereka melindungi tubuhku dalam barisan. Berbelok menuju gang sempit. Yang terhubung dengan jalan pemukimam dibelakang komplek perkantoran itu. Apa mereka teman teman Revan? Sebuh mobil mewah menunggu. Mereka memasukkanku dalam mobil. Suara tembakan masih terdengar. Bangunan kantor polisi sepertinya terbakar. Asap membumbung tinggi diudara. Aku mengamatinya sebelum pintu mobil tertutup.


Mobil segera tancap gas setelah aku masuk. Hanya ada satu dari orang tadi yang ikut masuk. Menjadi pengemudi mobil ini. Yang lain tidak ikut naik mobil. Kemana mereka? Ini mobil siapa?


Aku menoleh...... kulihat Riyan duduk disampingku. Aku kaget bukan main. Sampai melompat dari kursi yang kududuki.


"Ngapain kamu disini?!!!" Tanyaku dengan nada tinggi.


"Bodoh!! Yang ngapain itu kamu! Sejak kapan kamu suka ikut demo? Senang sekali terlibat masalah." Kata Riyan sebal.


"Aku dengar dulu kau terciduk saat razia club malam, sekarang terlibat demo *******? Untung pacarmu yang bodoh itu seorang polisi. Dia membereskan masalahmu dengan mudah. Kalau tidak aku yang kerepotan." Lanjutnya. Aku semakin membelalakkan mataku. Dia bahkan tau aku terjaring razia dulu? Apa aku diawasi? Bagaimana dia mengawasiku?


Belum satu tanya terjawab ada tanya lain dikepalaku.


"Sepertinya pacarmu yang bodoh itu sudah mengetahui banyak hal tentang aku. Sampai tahu aku ada didekat sini. Haa bahkan nomer ponsel pribadiku. Tentu saja mempertemukan kami direuni itu ide yang bagus. Dia dengan mudah mendapatkan data pribadi yang dia mau. Tidak terlalu bodoh, tidak bodoh memang." Riyan mengoceh. Sebagian dari ocehannya tidak aku mengerti.


Hening......dia membuka kripik kentang dalam kemasan jumbo.


"Mau?" Tawarnya kepadaku. Aku menggeleng.


"Kita mampir beli coklat dan permen Gas, gadisku ini sepertinya stres berat." Kata Riyan pada pengemudi mobil. Dia memakan kripik kentang itu sendiri dengan cepat.


Aku mengamati jalan yang kami lalui. Bukan menuju kerumahku.


"Kita mau kemana? Ini bukan jalan kerumah." Tanyaku panik.


"Liburan, mumpung masih pagi. Pacarmu yang bodoh itu pasti sibuk sekali sekarang. Dia tidak akan mencarimu." Kata Riyan santai.


"Tapi aku harus kerja." Kataku beralasan. Aku takut juga kalau begini. Lepas dari demo bodoh, diculik mafia. huft.....


"Apa kerja ditempat Ayah Mertua perlu ijin khusus untuk membolos?" Tanya Riyan membuatku terkejut lagi.


"Apa kau sudah lupa caranya membolos karena pacaran dengan polisi bodoh?" Lanjutnya. Bahkan dia tau aku kerja dirumah Revan. Aku yakin dia mengawasiku sekarang.


"Aku mau pulang. Turunkan aku disini." Kataku. Riyan menggeleng.


"Kau tahu benar aku bisa melukai punggung tanganmu lagi. Bahkan mengikatmu bukan lagi dengan ikat pinggang, tapi dengan borgol. Aku juga punya borgol dan pistol meski aku bukan polisi sekarang. Hari ini kau milikku. Nurut." Katanya menyeramkan.


Mobil mewah itu berhenti disebuah minimarket. Sopir mobil itu turun dengan sigap. Sekarang tinggal aku dan Riyan tertinggal di mobil. Pandangannya tak luput dariku. Aku risih.


"Apa?" Kataku saat pandangannya tak beralih dari tadi. Dia tersenyum.


"Kamu cantik." Katanya.


"Cih, mulutmu masih penuh gombal." Kataku.


"Aku tidak pernah menggombal padamu." Katanya. Sopir kembali dengan bungkusan besar makanan.


Mobil mewah itu terus berjalan menanjak menembus jalan perbukitan. Jalan yang dilalui ditumbuhi seribu pohon. Seribu tanya juga diotakku. Riyan jelas mengawasiku. Lalu Revan tahu nomor Riyan? Apa mereka berchating? Seorang polisi bercating dengan penjahat buruannya? Itu terlalu konyol sih. Apa yang terjadi dengan demo tadi? Siapa orang orang pengacau tadi? Benar kata Revan situasinya berat untukku kalau tidak pergi. Mereka menyerang kantor polisi dan jas yang mereka kenakan mirip jasku. Kalau aku tertangkap, aku dikira satu dari mereka..... apa yang akan terjadi dikantor polisi? Mengerikan!! Haaaaa....... pusing. Tanganku bersandar pada sandaran tangan mobil dan memijit mijit kepalaku sendiri.


Riyan menyerahkan sebotol air.


"Minumlah, jangan khawatir." Katanya. Aku mengambilnya dan meminum isinya hampir separuh dibawah tatapannya.


"Kamu cantik, kamu tambah cantik Put." Katanya. Kami berpandangan. Kerinduan terpancar dimatanya. Ada sesuatu dihatiku yang bergetar. Apa aku juga merindukannya?


***


Upnya kepagian bestie. Mohon doanya Revan didunia nyata akan melakukan operasi hari ini. Mohon doanya semoga semua diberi kelancaran. Aamiin.