
Minggu minggu berikutnya adalah minggu tersibuk. Revan jarang terlihat. Ujian semester juga ada didepan mata. Kami kadang hanya menyapa lewat telpon. Itupun kadang pesan Senin dibalas Selasa hahaha. Simpel mengeluarkan singgel baru berjudul Rinduku. Dari liriknya kutahu maksudnya adalah Ibu. Sekali lagi Riyan mencurahkan hatinya lewat lagu. Kami berjalan pada kesibukkan masing masing. Berjibaku dengan debu agar tercapai kebahagiaan baru.
Ujian semester usai. Sekarang tantangan baru dimulai. Kami sekelas sudah bingung memilih judul skripsi. Termasuk aku juga. Sepertinya aku akan berkutat pada pidana dan narkoba. Karena pidana memang ranahku dan narkoba tentu saja ada pembimbing pribadi yang pasti mau membantuku. Eng ing eng..... Iptu Revan Aji Pratama. Sibuk memikirkan semoga dapat pembimbing yang tidak ekstrim juga. Tapi untuk beberapa hari ini biarkan kami santai.
"Main kemanaaa gitu kayaknya enak." Temanku Ines nyeletuk. Posenya tersampir malas dikursi.
"Ayo ahh, mumpung lagi pusing." Kata Yola. Secara dadakan kami berenam mengadakan piknik kecil kesebuah pantai yang baru dibuka. Aku berboncengan dengan Tomy. Setelah ijin sama Bapak, Revan, dan Ibu.
Pantai dengan pasir putih bersih menyapa kami. Anginnya menerbangkan rambutku yang bergelombang. Kami berkejaran dibawah gulungan ombak. Handi usil mencipratkan air.
"Waaa pelanggaran ini, kita sama sama gak bawa baju ganti lho." Protes Ines yang basah. Handi justru kembali mengambil air dan mencipratkannya lagi kearah kami.
"Cari mati!!" Kata Rendi. Dia menyimpan hpnya dan mendorong Handi ketengah. Kami ikut menyimpan hp, Tomy sempat mengambil hp Handi. Ber ramai ramai kami gotong dia ketengah, kemudian kami ceburkan begitu saja saat ombak datang. Basah kuyub. Akhirnya kami semua basah kuyub. Aku juga.
"Ini pulangnya gimanaaa." Aku bingung sambil melihat bajuku yang basah kuyup.
"Ya udah gini aja pulang, nanti bajunya kering dijalan." Kata Rendi. Yang lain juga manggut manggut. Kami menikmati makan siang dibawah payung sewaan.
"Habis skripsi mau ngapain?" Tanya Handi padaku.
"Entahlah, aku mau ambil sekolah advokat mungkin." Kataku.
"Wess, niat banget Buu mau jadi pengacara." Katanya. Aku tertawa. Tentu, itu tujuanku ambil jurusan hukum. Batinku.
"Yang kemarin beneran pacarmu?" Tanya Handi gak percayaan.
"Yang mana yang mana?" Yola kepo. Yang lain pasang kuping. Aku memang agak tertutup masalah pribadi dengan teman teman kampusku.
"Yang geledah kita gara gara kasus Erwin. Yang bewok nanyain teman deket Erwin." Kata Handi ember.
"Woooowww, pacarnya polisi..... pantes sama kita kita cuwek." Kata Rendi. Aku cuma nyengir. Badanku terasa dingin dengan baju basah ini. Pulang dari pantai aku masuk angin.
***
Esoknya aku dikerikin Ibu karena masuk angin. Aku sudah nangis bombai saat baru dua kerikan dipunggungku.
"Udah gede dikerikin masih nangis. Malu sama ponakan dalam perut." Kata Mbak Sasa. Ngidamnya sudah lumayan berkurang. Walaupun waktu pagi dia pasti muntah.
"Iiini sakit tah tahu Mbak." Kataku terbata. Kerikan Ibu emang paling sakit. Anehnya paling manjur. Selsai kerikan aku tidur sampai sore.
***
Saat aku buka mata perutku lapar sekali. Tapi badanku sudah mendingan. Aku keluar kamar mencari makanan. Ada brownies A*** faforitku. Waaa rejeki. Aku ambil potongan besar dan menikmatinya di depan TV menyusul Kakak. Rumah sepi, sepertinya hanya kami berdua.
"Ayah Ibu kemana?" Tanyaku pada Mbak Sasa yang glegoran didepan TV.
"Kumbokarnan tempat Pak Lik." Aku baru ingat sepupuku sebentar lagi menikah. Sejak mabok parah kakakku memang keluar dari kerjaan. Mas Dipo gak tega istrinya muntah muntah masih kerja.
"Ini brownis siapa Mbak?" Tanyaku.
"Revan tadi kesini, tapi kamunya tidur. Manja ya kamu, masuk angin aja bilang bilang." Kata mbakku.
"Aku gak bilang Revan kok, aku bilang Bapaknya solanya gak bisa masuk kerja." Kataku membela diri.
"Ya sama aja tow Dek, Bapaknya juga pasti bilang Revan kalau kamu masuk angin." Kata Mbakku gak mau kalah.
"Lha gimana Mbak, wong aku kerjanya sama Bapaknya." Jawabku.
"Digaji berapa kamu sama Bapaknya?" Tanya Mbak Sasa kepo. Aku memang gak pernah bilang nominal sama orang rumah. Mereka pasti keder juga kalau tahu.
"Banyak, bisa bayarin semesteran sama makan enak." Jawabku.
"Ihhh jawabnya pasti gitu." Kata Mbakku.
Perhatian kami teralihkan karena berita diTV. Penggagalan kiriman shabu besar dijalur selatan. Revan masuk TV karena sebagai penanggung jawab aksi.
"Pacarmu Dek, pacarmu masuk TV." Kata Kakak sambil menepuk nepuk lututku. Aku justru shok bukan karena Revan masuk tipi, tapi itu mirip yang dikatakan Riyan saat dirumah Revan.
Aku memfoto saat Revan diwawancara sekilas. Kemudian ku kirimkan padanya.
'Pacarku jadi artis sekarang' ketiku.
'Bukan prestasi yang memuaskan, Riyan yang kasih tahu.' Balasnya cepat. Ih, tumben lagi pegang hp mungkin.
'Sudah bangun? Mau makan apa nanti aku anterin.' pesan Revan lagi.
'Gak pingin apa apa emang aku nyidam.' ketikku. Dia mengirimkan emosi tertawa berderet deret.
'Udah mendingan?' Tanyanya.
'Udah, cuma masih kangen. Makasih brownisnya.' jawabku asal.
***
Revan datang saat semua anggota keluarga sudah pulang. Ibu memintanya ikut jagong dinikahan sepupuku.
"Janjian dulu ini kerjanya apa? Jangan sampe beda beda kaya kemarin." Kata Mas Dipo. Kami tertawa mengingat kejadian itu.
"Jujur gak papa. Asal saya ada jaminan jadi mantu dirumah ini." Katanya sambil melirik aku. Semua orang melihat kearahku ternyata.
"Apa? Kok pada ngelihatin aku?" Tanyaku heran.
***
Sehari sebelum nikahan sepupu tiba. Aku memaksa Revan kesalon kusus pria. Dia misuh misuh saat diwax hidung, kulit muka, dan telinganya. Hahahaha cemen masak polisi kesakitan waktu di cabutin bulu bulunya. Hasilnya dia ganteng maksimal. Rambutnya dipotong pendek, brewoknya masih, tapi tertata rapi. Aku sih gak masalah dia bewok, tapi kan manis kalau rapi. Dia seperti puas dengan hasilnya.
"Aku terlihat lebih ganteng yaa, Dek." Katanya saat selsai perawatan. Aku tepok jidat dalam hati.
"Itu belom, ayo sekarang giliranku yaa. Kita kesalon pria dan wanita perawatan wajah." Kataku sambil menggandeng tangannya. Ternyata mukanya lebih ditekuk lagi saat facial. Hampir ngamuk saat dipencetin komedonya sama mbak kapster. Aku merasa membawa macan hutan kedalam salon. Hahaha biarin. Aku mau dia tampil beda. Masa iya uang banyak, karir mentereng, muka awut awutan. Dia sampai tertidur saat nungguin aku selsai cream bath. Kami keluar dari salon glowing bareng.
"Sebulan sekali lah Mas ngelakuin perawatan. Pertumbuhan bulu bulu kamu itu cepet banget. Biar ganteng." Kataku.
"Ganteng tapi sakit Dek." Macan hutan protes.
"Lha iya emang beauty is pain, tapi gak masalah itu. Kan resiko." Kataku.
"Aku Lebih suka lari ngejar penjahat atau ngintai berhari hari. Lebih keren. Malu juga Dek, masak cowok kesalon." Kata Revan.
"Enggak, pokoknya Mamas mulai sekarang harus aku anter sebulan sekali perawatan. Titik gak boleh mbantah. Sekarang udah banyak kok cowok kesalon. Cantik bukan cuma milik cewek Mas. Kesetaraan semua orang mau cantik atau cakep." Kataku ngeyel. Dia mencebikan bibirnya. Pokoknya aku bertekat bikin dia ganteng.
***
Esok hari tiba. Kami memakai baju senada, walaupun dengan model yang berbeda. Aku memilih kebaya pres body model Bali dengan kain melilit pinggang. Cowok cowok dandan lebih simpel dengan kemeja batik lengan panjang. Dua kakakku memilih dijadikan gamis. Ibuku memilih kebaya model kartini. Dan dres cantik untuk Ocha, keponakanku yang manis. Revan tidak berkedip melihatku sore itu.
"Itu bajumu terlalu ketat Dek." Bisiknya.
"Namanya kebaya ya pres body Mamas, kalau gamis ya longgar." Kataku santai.
"Kita gak usah ikut saja, jaga rumah...... uyel uyel manja." Bisiknya. Aku mencubit pinggangnya.
Kami terbagi dalam dua mobil. Ayah dan Ibu semobil sama kakak pertamaku. Aku semobil sama Mas Dipo dan Mbak Sasa. Sampai di tempat acara masih sepi. Kami on time karena masih saudara juga. Duduk duduk sambil ngobrol sama sepupu yang jarang bisa aku temui. Tiba tiba ada salah satu pager ayu yang sudah selsai dandan menyapa Revan. Anjir mana cantik banget dia.
"Revan, kamu Revan kan? Ganteng banget sekarang! Kamu apa kabar? Aku cari kontak kamu kemana mana lho, tapi tidak ada yang ngasih tahu." Kata Mbak Pager sambil menjabat tangan Revan.
"Fitri sodara kamu? Waaa gak nyangka.... Fitri teman dekatku tahu." Lanjutnya belum melepas tangan Revan. Yang di jabat lama anteng aja lagi.
"Bukan saudaraku, saudara pacarku. Ini Putri pacarku. Ini Nada teman.... sekolah dulu." Kata Revan memperkenalkan. Aku ikut berdiri mengulurkan tangan.
"Oh, udah punya pacar to.. kirain masih jomblo.... aku ada kesempatan lagi gitu hahahaha." Dia tertawa. Padahal gak lucu.
"Bapak apa kabar? Sehatkan? Gimana mebelnya masih jalan?" Tanya gadis itu lagi.
"Bapak sehat. Masih jalan semua lancar." Jawab Revan. Belum ada tanda tanda Mbak Pager mau mengakhiri percakapan dengan Revan. Dia malah duduk disebelah kanan Revan. Aku jadi obat nyamuk diantara obrolan mereka. Sesaat aku ingat mukanya. Asemm..... sepertinya dia mantan Revan yang pernah kulihat fotonya.
Sampai acara mau dimulai dan Mbak Pager tadi terpaksa meninggalkan Revan. Kami berpindah kekursi khusus saudara. Acara pembukaan sampai panggih digelar lancar. Aku sudah terlanjur bad mood lebih banyak diam.
"Kok tumben diem aja?" Bisik Revan ditelingaku. Kok tumben peka. Balasku dalam batin. Aku hanya menatapnya. Dia juga melihatku, kemudian tersenyum. Mengambil tanganku membawanya dalam pangkuan.
"Nada cuma teman kok sekarang. Kan sekarang ada kamu. Kalau cemberut gitu nanti kalah cantik lho sama bajumu." Katanya. Cih....
"Temen ya? Sekarang? Berarti dulu lebih dari temen?" Tanyaku. Dia tertawa.
"Sekarang susah dialihkan fokusmu. Dulu dulu mudah." Katanya sambil masih menggenggan erat tanganku.
"Dulu pacaran?" Tanyaku ketus. Dia diam sejenak, kemudian mengangguk.
"Pantes maunya nempel aja kaya perangko!" Kataku tambah sebel.
"Katanya mau tahu mantanku. Giliran tahu ngamuk." Katanya.
"Kenapa putus?" Tanyaku.
"Aku ditinggal." Jawab Revan santai.
"Kenapa?" Tanyaku. Ada gitu orang yang nyia nyiain cowok setulus kamu? Aku aja merasa beruntung disayangi kamu.
"Dia pacaran sama teman dekatku. Yaa udah kita putus aja gitu." Kata Revan.
Acara sungkeman didepan sana menarik perhatianku. Cerita tentang mantan terputus sampai disini. Aku sibuk mewek bombai. Benar juga kata Riyan. Kenapa sekarang aku cengeng yaa..... Revan sibuk mengambilkan tisue yang sebenarnya ada di tasku dan dalam pangkuanku sendiri. Aku ambil sendiri juga bisa kali.