
Tiba tiba mereka menyergapku, membekap mulutku dan menutupnya dengan lakban yang sudah mereka siapkan. Aku meronta tapi kalah kuat. Noto menindih perutku dan temannya memegang i tanganku. Mereka menekan skaklar untuk mematikan lampu minimarket yang ada di tembok bawah belakang meja kasir. Aku berteriak sebisaku. Berkelit sebisaku. Tapi tak ada hasil.
Noto sudah membuka kancing sragamku. Dia menciumi leher dan dadaku. Aku semakin meronta. Air mata sudah mengganggu pengelihatanku. Kaca mataku jatuh entah dimana. Aku gak mau, aku gak mau. Aku terus meronta dan menangis. Ciumannya menjijikkan. Dia berusaha mencari pengait dipunggungku. Aku menekan punggungku kelantai dengan kuat.
"Sobek To, kelamaan!!!" Bisik temannya yang aku tahu penjaga toilet SPBU. Noto menarik dalamanku dengan paksa. Aku berteriak tanpa suara. Tatapan liarnya membuatku bergidik.
Tiba tiba suara pukulan terdengar. Tanganku terbebas dari cengkraman teman Noto. Aku mendorong tubuh Noto dia terjengkang aku berhasil duduk berhimpit di tembok. Menutupi dadaku yang terbuka.
Noto berdiri mengambil pisau dari balik celannya.
"Diam di tempat!!!" Revan sudah menodongkan pistolnya. Noto terkejut tapi terus maju. Suara letusan senjata terdengar. Darah memercik dimukaku. Noto ambruk.
Suara tembakan memancing karyawan lain. Revan menyalakan lampu dengan kakinya. Dan menuntunku duduk. Memakaikan jaketnya pada tubuhku yang setengah telanjang. Ia hendak beranjak, tapi aku mengglayutinya. Aku gak mau pisah darinya.
Karyawan SPBU datang berhamburan. Syok dengan keadaan sekitar. Dua orang bersimbah darah. Dan aku yang hampir topless. Teman Noto terluka di kepala terkena pukulan kursi dari Revan. Noto pingsan. Darah merembes dari pahanya.
"Panggil penanggung jawab SPBU!!!" Kata Revan menunjukkan lencananya. Mereka terbengong.
"Cepat!!!" Bentaknya lagi masih memelukku.
"Jangan ada yang bergerak atau menyentuh apapun." Katanya lagi.
"Bawa tim ke SPBU xxx dua tersangka terluka......." Revan memerintah karyawan dan menelpon sambil memelukku. Aku gak mau lepas darinya. Tubuhku gemetaran. Kemudian...... aku tidak ingat lagi.
Aku membuka mata. Ada dikamarku sendiri. Aku ingat wajah Noto dan teriakanku. Aku langsung duduk. Revan ternyata ada disampingku. Dia terbngun dan reflek memeluku. Aku menangis sesenggukan.
"Aku takut Re aku takut." Kataku mengulang ngulang. Revan menenangkanku. Ayah dan ibuku datang kekamar. Ibu menangis tersedu sedu. Kami betangisan sampai aku lelah. Revan mau mengambil minum dia melepaskan pelukan dan beranjak. Aku menggeleng dan kembali memeluknya. Aku takut.
Sampai siang aku seperti anak koala bergelayut pada Revan. Dia menceritakan kalau semua sudah aman. Ada dia yang akan selalu menjagaku. Ada dia yang akan menghajar siapa saja yang menyakitiku. Dia berjanji untuk melindungiku selamanya.
Aku mulai tenang dan melepaskan pelukannya. Dia menyuapiku makanan dan bercerita hal hal lucu. Aku mulai tersenyum. Dia mengacak ngacak rambutku dengan gemas. Hari itu kuhabiskan dirumah bersama Revan.
Saat malam tiba dia pamit pulang. Aku ketakutan lagi. Meski ibu berjanji menemaniku tidur. Aku gak mau. Kembali bergelayut pada Revan. Akhirnya Revan menginap dirumahku. Tidur seranjang denganku sambil berpelukan. Dengan mimpi buruk tentang Noto yang terus berulang. Dia tidak bisa tidur dengan tenang, karena aku terus berteriak.
Aku masih ketakutan dimalam kedua. Walaupun siang sudah seperti biasa, tapi malam selalu membuatku takut. Aku bergelayut lagi pada Revan. Dia dengan sabar mengelus rambutku. Menyampaikan kalimat kalimat penyemangat. Dan bilang berkali kali kalau semuanya sudah aman. Ibu dan keluargaku menyampaikan dukungan penuh padaku.
Malam ketiga kami tidur terpisah. Aku sudah agak stabil. Dia di depan TV dengan kasur gulung. Aku tidak lagi berteriak dan mengigau. Sudah bisa ditinggal olehnya. Dia pamit mau kerja esoknya.
"Aku bisa dipecat kalau terus membolos. Aku juga harus mengurus mereka akan kuusahakan hukuman terberat. Mengerti?" katanya lembut.
seminggu berlalu....
Revan mengurus semua berkas tuntutan. Dia datang sore hari memintaku menandatangani beberapa berkas dari kepolisian. Aku juga dimintai keterangan secara formalitas. Kasus ini terus berlanjut sampai putusan pengadilan.
Ayah dan ibu memintaku berhenti bekerja. Kata ayah dia masih sanggup membiayai sekolahku. Aku menggeleng. Aku tetap ingin mandiri. Revan berpendapat kalau aku masih mau bekerja tidak masalah. SPBU itu sekarang justru tempat yang aman untukku. Karena tidak ada yang berani menggodaku lagi. Tidak ada bajingan bajingan itu lagi.
Aku sebenarnya masih takut, tapi bukankah hidup harus terus berlanjut. Sekolahku tinggal beberapa semester lagi. Aku akan lulus sebagai sarjana dan mengambil pendidikan advokat. Aku akan jadi pengacara hebat. Tapi aku akan cari kerja ditempat lain.
Kejadian ini menjadi rahasia keluarga. Hanya keluargaku, Mas Dipo dan Revan yang tahu. Karena kata Ayah itu justru baik bagiku. Pertanyaan orang yang macam macam akan membuatku tidak mudah lupa. Aku manggut manggut.
Aku kembali masuk kuliah seperti biasa. Sambil cari sana sini lowongan pekerjaan yang bisa aku masuki.
***
Apa daya rencana tinggal rencana persiapan nikahan Kakakku membuat aku montang manting juga. Pekerjaan Revan juga lagi sibuk sibuknya. Kami jarang bertemu. Belum sempat mencari pekerjaan baru. Aku dapat banyak tugas dari rumah dan kampus. Dulu waktu Kakak pertamku menikah yang rempong orang tuaku dan Kakak kedua. Sekarang orang tuaku sudah tua. Gampang lelah dan pelupa. Aku dan calon manten yang montang manting mirip kipas angin.
Undangan sudah dicetak. Seharian kemarin aku nempelin nama nama orang diundangan. Sekarang tinggal di bagi per kelompok. Kata Ibu bisa disebarkan sekarang. Aku dapat tugas menyebar undangan untuk keluarga. Baik keluarga Ayah atau Ibu. Walaupun dulu Ibu pernah datangi satu satu meminta mereka secara langsung. Tapi undangan tetap diberikan.
Aku sudah berkeringat sebelum menyebarkan undangan. Sodaranya Ayah ada 7 sedang sodara Ibu ada 11 . Mereka menyebar keberbagai penjuru kota ini. Hanya beberapa yang tinggal diluar kota. Yang diluar kota malah enak. Dikirim via pos. Lah yang dikota itu gimana nasibnya? Total ada 18 rumah harus kudatangi. Belum sebagian besar anak mereka sudah berkeluarga. Untung kalau masih satu rumah. Kalau beda aku harus mengantarkan sendiri lagi.
Aku sedang mengurut ngurut kening saat Mas Dipo datang.
"Mana undangan teman temanku Put?" Todongnya datang datang. Aku menyerahkan setumpuk yang sudah dipilah. Teman Mas Dipo sebagian dekat denggan rumahku. Mas Dipo meminta mereka di undang disini saja daripada harus datang ke acara rumahnya yang ada dipelosok. Dia memeriksanya dan mengacak rambutku.
"Pinter kamu." Pujinya. Aku menepis tangannya.
"Rusak rambutku di acak acak tangan penuh bakteri." Kataku.
"Tanganku bersih nih lihat lihat." Katanya sambil menyodorkan lima jarinya di depan mukaku. Aku menampiknya.
"Selamat sore." Suara Revan didepan pintu.
"Sore juga." Jawabku serentak dengan Mas Dipo.
"Ini nih, mantu belum tapi udah ngerasaain tidur disini." Mas Dipo nyeplos.
"Aku mantunya aja diusir usir mau tidur disini. Itu disofa, kamu malah seranjang." Katanya sambil mengacungkan undangan kearah Revan.
"Mulutmu Po, itu kan karena musibah." Ibu nyaut dari dapur.
"Sini tak pukul gundulmu pakai sutil." Ibu negara murka. Revan melihat wajahku cukup lama.
"Kamu gak takut lagi kan?" Tanyanya. Aku menggeleng.
"Sory Put." Ucap Mas Dipo.
"Tumben ngomong bener." Kataku.
"Van, bantuin Putri nyebar undangan ke sodara bisa?" Tanya ibu mulai aneh aneh.