
Dia diam menggigit bibirnya menahan senyum. Terlihat bahagia sekali. Trik lama agar bisa mengantarku pulang.
"Jangan harap aku mau kamu antar!" Kataku lagi. Dia mengangguk.
"Ada banyak ojek online Dek. Tenangkan dirimu. Aku juga tidak memaksa mengantarmu. Tapi sepertinya kau harus memutar kebelakang gedung. Jalan didepan ditutup untuk night market. Lumayan, gedung ini cukup besar. Kau bisa jalan buru buru seperti tadi. Tapi jalannya lumayan gelap dan lengang... ada banyak orang mabuk dan copet. Kau sudah pernah dengar....." Aku meninggalkan ocehan Revan menuju mobilnya. Beberapa hari lalu ada yang kecopetan dijalan samping itu. Menyebalkan!!! Mana ada ban motor kempes dua duanya dalam waktu bersamaan. Kecuali tangannya yang jahil. Dan setahuku ban motor Mbakku itu tubles.
Dia mengikutiku dan membukakan pintu untukku. Aku masuk dengan perasaan dongkol luar biasa. Dia menyebalkan sekali. Sangat menyebalkan!!!!.
"Aku tidak langsung pulang lho. Aku lapar sekali. Nafsu makanku buruk dua bulan ini. Sekarang melihatmu cemberut seperti itu membuatku lapar. Lapar ingin makan dan memakanmu." Kata Revan sambil menjalankan mobilnya pelan. Mobil yang kembali acak acakan. Dulu akulah yang mengurus mana sampah dan mana barang terpakai. Aku selalu ngomel kalau mobilnya acak acakan. Kubiarkan dia mengoceh semaunya. Aku mengeraskan volume radio dimobilnya.
Kami tiba diwarung mie hot plate yang sangat aku sukai. Bahkan saat hamil Satria aku sampai memohon mohon untuk boleh makan mie disini. Di ijinkan? Tidak sama sekali. Sekarang aku di depan warung itu. Menyebalkan!! Dia tahu betul kelemahanku.
"Aku gak mau makan!" Kataku ketus.
"Tidak perlu. Aku yang akan makan. Kamu boleh nunggu diparkiran atau didalam bersamaku. Menemani aku makan." Kata Revan turun mobil dengan santai. Aroma mie membuatku mengikutinya kedalam.
Dia hapal diluar kepala mie faforitku.
"Tolong dua porsi mie hot plate dengan bakso ikan plus tambahan pangsit goreng. Dua gelas jeruk hangat juga." Kata Revan pada pelayan. Semua faforitku...... aku ingin mencakar mukanya!!. Dia tersenyum melihatku.
"Kamu masih sama cantiknya. Sekarang tambah cemberut seperti itu. Ah, Dek kamu menggemaskan." Kata Revan sambil mengedipkan matanya. Cihh... sejak kapan dia bisa seperti itu. Tidak cocok!!!. Haaa bodoh apa urusannya denganku. Mau cocok mau tidak!!!
Kami menunggu makanan dalam diam. Dia terus memandangku. Pandangan kerinduan dan penuh cinta. Aku memainkan hpku tak peduli. Makanan datang. Pramusaji meletakkan hot plate didepan kami masing masing. Dia sudah mulai makan tanpa menawariku. Air liyurku menetes.... mie hot plate dengan taburan wijen yang masih mengepul. Aromanya...... persetan dengan gengsi!!! Aku mengambil sumpit dan memakannya. Aku juga lapar pulang kerja. Dia pura pura tidak tahu tapi senyum senyum manis.
Hapeku berbunyi. Pesan dari Diki.
'Sudah pulangkah Nona? Apakah sudah mandi? ' Ketik Diki.
Aaahhhaa!!!! Aku punya ide membalas kulkas didepanku ini.
'Bisa jemput aku diwarung XXX?' Pesanku pada Diki.
'Tentu, kirim lokasinya.' Balas Diki cepat. Hahhh bagus sekali. Ayo kita permainkan hatinya. Aku mengirim lokasi dengan senyum senyum.
"Aku yakin banyak fansmu yang mengantri." Kata Revan sudah dengan mimik muka tidak suka. Dia masih pencemburu sekali.
"Tentu, mereka dengan senang hati menggantikan posisimu. Mereka akan mencintai dan menjadikan aku prioritasnya. Aku tidak akan merana menunggu dalam kesedihan. Menunggu seseorang yang bahkan tidak peduli. Lebih peduli pada penjahat." Kataku. Aku yakin mengobrak abrik hatinya. Bodohnya aku sedih melihat mukanya yang berubah murung.
"Aku anggap itu satu hukuman darimu. Aku akan terima semuanya, sesakit apapun. Sakiti aku dengan kata katamu, tidak masalah. Tapi kau lupa Dek, hatimu itu loyal. Butuh berapa tahun bagiku untuk merebut cintamu dari Riyan? Aku tidak yakin ada orang lain yang sanggup melakukannya sekarang." Kata Revan percaya diri.
"Riyan tidak menyakitiku. Kami berpisah karena restu. Ini kasus yang berbeda." Elakku.
"Aku tahu, tapi aku yakin bisa merebut hatimu lagi. Kau mau bertaruh denganku?" Tanyanya menantang. Aku diam. Ragu dengan hatiku karena kata katanya.
"Tidak berani?" Tantangnya lagi.
"Apa?!!" Tanyaku setengah membentak.
"Beri aku waktu tiga kali menghabiskan hari denganmu. Waktunya bebas. Satu hari penuh. Ini tidak terhitung." Kata Revan serius. Tidak aku jawab. Aku fokus menghabiskan mie.
"Revan?" Kata Diki heran melihat kami satu meja dan makan. Revan mengangguk.
"Diki..... kejutan sekali." Kata Revan menyembunyikan geramnya. Mukanya sudah mode marah.
"Ayo pergi." Kataku sambil menggandeng tangan Diki. Dia terkejut, tapi justru mengeratkan gandengan.
"Terimakasih untuk makanannya. Aku diantar pulang Diki." Kataku pada Revan kubuat secenti mungkin. Dia memandang gandengan tangan kami hampir tidak berkedip. Revan mengangguk.
"Selamat malam. Tidur nyenyak dan jangan menangis dalam diam." Kata Revan masih berusaha duduk santai. Aku pun permisi sambil erat menggenggam tangan Diki.
"Apa ini?" Bisik Diki sambil melihat gandengan tangan kami.
"Bantu aku..." Bisikku sambil keluar dari warung. Rasa merinding masih juga menghantuiku. Aku yakin matanya melihat kami sampai akhir.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Diki saat sudah berada didalam mobil.
"Makan, bicara soal rencana perceraian." Kataku.
"Bicara perceraian sambil makan? Kau yakin? Haha Damai sekali." Kata Diki sambil tertawa.
"Kami memang tidak suka pertikaian." Jawabku. Malu juga kalau mengakui aku tergoda makanan yang dia suguhkan.
"Lalu? Kalian jadi bercerai?" Tanya Diki kepo.
"Tentu saja. Kenapa tidak? Dia juga menerimanya." Kataku menerawang. Rasanya kesedihanku bercerai sama besarnya dengan rasa kecewaku pada Revan. Kami lebih banyak diam dalam perjalanan. Kilasan segala yang terjadi terpampang nyata didepan mataku kembali. Aku berusaha untuk tidak menangis. Diki tahu hatiku sedang tidak baik baik saja. Dia menepuk pundaku memberi semangat sebelum kembali.
"Kamu sudah sejauh ini tangguh. Jangan melemah lagi. Aku akan selalu berusaha membuatmu tersenyum. Ingat itu." Kata Diki.
Aku mandi dan masuk kamar. Kuambil hpku
dan mengetik. 'Bukan hal yang buruk berpisah, jika bersama saling menyakiti.' Tulisku sebagai status dimalam sebelum tidur. Hape ku berbunyi.
'Aku tidak pernah tersakiti olehmu Dek. Semua luka tertutup dengan besarnya cintaku padamu.' Pesan Revan menanggapi setatusku. Aku lupa kalau dia sudah menyimpan nomerku. Sedangkan nomernya sudah kusimpan dari dulu. Kubiarkan saja. Aku menangis dalam kamar. Sakit..... bertemu dengan Revan membuat semuanya serasa terbuka lagi. Dia vidio call. Kutolak. Dia terus mencoba tanpa henti.
"Apa!!" Bentakku saat menyerah mengangkat panggilannya. Air mata bercucuran dengan derasnya.
"Menangislah. Aku temani." Kata Revan. Seperti dulu dulu. Aku selalu dapat menyalurkan kesedihaku dengan Revan. Aku menangis sampai tertidur.
Paginya ada pesan Revan dihpku.
'Selamat tidur sayang. Istriku yang cantik. Aku ingin memelukmu. Beri aku waktu mengobati lukamu. Aku mohon.' Ketiknya. Kubiarkan saja tanpa berbalas.
***
Siang hari Revan mengirimiku foto. Ban motor Mbakku sudah berisi angin lagi.
'Aku tanggung jawab Dek, aku selalu tanggung jawab.' Ketiknya. Tanpa kusadari aku tersenyum. Haaaa bodoh!!! Aku mengacak acak bibirku sendiri karena tersenyum untuk Revan.