
Riyan datang dengan beberapa orang dibelakangnya. Orang orang dengan tampilan menyeramkan. Dari mata mereka aku tahu mereka orang orang yang kejam. Mereka akan mengroyok Revan kah?
"Diam disini!" Perintah Revan sambil menutup pintu mobil. Memutari mobil mendatangi Riyan.
"Kau mau menyerahkan diri?" Tanya Revan santai sambil melipat kedua tangannya didada. Bersandar pada ujung depan mobilnya. Riyan tertawa.
"Apa kau capek mengejarku? Sampai memohon aku menyerahkan diri. Iptu Revan?" Tanya Riyan dengan nada mengejek. Riyan bahkan tahu pangkat Revan dikepolisian!! Sejauh apa mereka saling kenal? Mata mereka sudah saling tatap seperti ingin saling bunuh lagi.
"Cih, tanpa aku memohon pun sebentar lagi akan kugelandang Kau masuk sel dengan Bapakmu. Aku menyulitkamu ya akhir akhir ini. Maafkan aku, tapi kau benar benar terdesak sekarang." Kata Revan sambil melangkah mendekati Riyan. Mereka sudah berhadapan. Ketegangan tercipta. Aku sudah gemetar mencengkeram pinggiran mobil Revan. Pandangan Riyan beralih padaku.
"Put!! Apa seleramu seburuk itu sekarang? Sampai memacari polisi bodoh ini sayang?? Apa patah hati akibat putus dariku merubah seleramu seburuk ini???!!" Teriak Riyan sambil melirik Revan seolah Revan benda planet asing. Aku sudah akan membuka mulut.
"Diam!! Jangan bicara padanya!!" Bentak Revan. Beberapa orang dibelakan Riyan sudah maju. Tidak trima bosnya dibentak. Riyan mengkode mereka untuk diam dengan tangannya.
"Apa? Kau tidak pede bersaing denganku Iptu Revan? Aku bukan pria yang mudah diabaikan dan dilupakan." Kata Riyan percaya diri.
"Haaaa benarkah? Lalu kenapa kalian putus? Karena tak ada orang tua yang mau dengan mantu bajinga*?" Kata Revan tak kalah sengit. Riyan terdiam.
"Aku mau pulang dengan 'pacarku'. Menikmati waktu kami berdua." Kata Revan lagi dia sudah berbalik badan. Menegaskan kata 'pacar' dengan sangat terlihat.
"Apa kau pernah merasakan bibirnya yang manis? Kami sering melakukannya dulu. Sampai sekarang aku masih merindukan rasa bibirnya. Aku pengambil ciuman pertamanya Iptu Revan. Saat lidahnya bahkan masih kaku menyambut lidahku." Kata Riyan memancing emosi Revan sampai puncak. Anak itu memang cari gara gara sepertinya. Pukulan keras mendarat kemuka Riyan. Dia mundur beberapa langkah kebelakang. Orang di belakangnya maju. Dia perintahkan untuk tetap diam kembali.
"Ini urusanku! Tidak ada satupun diantara kalian yang aku ijinkan maju." Kata Riyan pada anak buahnya. Tapi tatapannya lekat pada Revan. Yang ditatap juga balik menatap tanpa gentar.
Aku sudah berlari disamping Revan memegangi tangannya. Hidung Riyan berdarah.
"Ayo pulang Van aku mohon." Kataku pada Revan. Mereka sudah memamcing teman temanku yang lain mendekat. Revan melihatku sekilas, aku sudah menarik tangannya untuk berbalik.
"Dia suka franch kiss dengan sapuan lidah di sekeliling rongga mulutnya. Ciuman yang basah dan penuh tuntutan. Catatannya lakukan dengan pelahan dan santai." Riyan kembali mengoceh. Membongkar ciuman kami dulu. Kali ini bukan cuma Revan yang panas. Kupingku juga ikut panas. Riyan keterlaluan. Revan lepas dari cengkraman tanganku. Mereka adu pukul satu lawan satu. Aku bengong sesaat. Kemudian aku tersadar mereka bisa saling bunuh. Aku jejeritan memanggil nama mereka berdua, tapi tak berani mendekat. Pegulatan mereka terlalu cepat dan mengerikan.
"Haduh Put ini kenapa pada? Rebutan kamu?" MC mendekat dan berkomentar. Kuabaikan saja.
Beberapa teman kami mendekat. Melerai perkelahian ini. Tapi mereka kalah kuat. Beberapa orang justru terkena tendangan Revan atau Riyan. Tomy sudah mengumpat kesal karena perutnya di tendang Revan.
"Biarkan dulu. Kita akan kalah melerai kalau mereka maunya masih saling pukul." Kata temanku yang lain. Hasrat berkelahi dua orang itu begitu tinggi. Postur tubuh mereka hampir sama. Mereka bergumul dengan imbang. Saling menguasai dan saling menyerang.
"Sudah!!! Sudah hentikan!!!" Teriakku ditengah mereka yang berjarak tak sampai satu meter.
"Riyan kamu keterlaluan!! Aku benci kamu!!" Kataku pada Riyan. Dia diam tanpa ekspresi. Mukanya sudah lebam semua. Darah segar mengucur bahkan dari kedua lubang hidungnya.
Aku mendekati Revan dengan air mata tak berhenti menetes. Aku memeluknya dengan erat. Detak jantungnya sangat kuat. Pelipis dan mulutnya berdarah.
"Aku mohon hentikan. Aku mohon." Kataku sambil sesenggukan didadanya. Revan membalas pelukanku. Mencium rambuku sekilas.
"Ayo pulang." Bisiknya padaku. Kami berangkulan menuju mobil diiringi tatapan semua teman SMP ku. Mereka sudah mengerubungi arena pegelutan Revan dengan Riyan. Astaga... MALU sekali jadi bahan tontonan. Apa lagi pemikiran mereka pasti akulah yang jadi bahan rebutan.
Revan membuka pintu penumpang untukku. Sekilas aku melihat Riyan yang juga menatapku dalam kegetiran. Aku masuk mobil, Revan mengitari mobil menuju kemudi.
"Kau bisa laporkan aku menyerangmu Riyan Nur. Ayo kekantor polisi. Kau akan sulit pulang lagi." Revan masih bisa mengejek Riyan. Riyan sudah terpancing lagi mendekat, tapi dipegangi dengan kuat.
"Apa??!! kau mau mati ditanganku?!!" Kata Revan sengit.
"Pergilah!!!!" Usir salah satu anak buah Riyan. Revan pun masuk mobil. Melajukan mobil dalam diam. Keluar dari pelataran restoran ini. Aku menyesal karena mengajaknya datang kesini. Aku menyesal dan benci dengan perkataan Riyan. Hah, dia tetap bajingan setampan apapun wajahnya.
Aku menyodorkan minum. Dia menggeleng.
"Ambilkan plastik klip dalam dashbord!" Perintah Revan. Masih berupaya menenangkan diri rupanya. Suaranya masih tinggi dan nafasnya ngos ngosan. Aku membuka laci didepanku. Kuambil satu lembar plastik klip.
"Buka!" Perintahya. Aku membuka plastik klip itu dia menyodorkan tangannya. Memasukkan beberapa helai rambut Riyan yang tadi digenggamnya. Kemudian meminta plastik itu dan mengantonginya. Aku terheran heran. Apa dia mau koleksi rambut Riyan? Entahlah... aku lebih khawatir dengan luka lukanya.
"Minumlah sedikit!" Kataku lagi. Dia meraih botol yang sudah kubuka. Meminumnya dengan tegukan panjang.
***
Pernah gelud bestie? aku pernah dulu. Gelud karena aku anak baru dan selalu dibully. Mereka gak tahu aku ikut kursus kungfu. Akhirnya kutantang pimpinan mereka satu lawan satu. Kami gelud dengan rok SD yang melekat hahahaha memalukan sekali. Kedua orang tua dipanggil. Kami disidang oleh kepala sekolah SD. Sampai sekarang aku malu kalau ketemu dengan dia. Untung sekarang tinggal dibeda kota, beda provinsi malah.
Selamat pagi bestie. Up kali ini juga kepagian. Soalnya nanti aku mau kondangan. Selamat hari Minggu, sehat selalu, bahagia selalu.