I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 67



Tentu saja Revan tidak mengajakku pulang. Dia memisahkan diri dari mobil Mas Dipo didepannya.


"Kita mau kemana?" Tanyaku.


"Melepas penat sebentar." Kata Revan tanpa menyebut tujuan. Ini orang memang pinter bikin penasaran.


"Pulang dulu lah.....Aku pakai baju begini Mas, gak enak buat main." Kataku. Masak iya main pakai kebaya dan sanggulan kayak gini.


"Mampir ketoko beli baju ganti. Aku gak punya banyak waktu." Kata Revan langsung memberi solusi.


"Atau mau gak pakai baju boleh." Lanjutnya sambil senyum senyum mesum.


"Edan!!" Jawabku sambil meninju lengannya. Dia tertawa.


"Buka laci didepanmu." Perintahnya setelah reda tawanya.


"Apa? Kenapa?" Tanyaku.


"Buka aja." Kata Revan santai. Aku pun membukanya. Ada kotak beludru merah besar seukuran gengaman tangan. Aku membukanya dengan berdebar. Isinya membuat mataku berbinar binar. Ada gelang peri yang satu set dengan kalung yang aku pakai.


"Waaaaww cantik sekali!!" Kataku kagum.


"Itu untuk gelar barumu sebagai sarjana hukum. Selamat." Kata Revan. Aku reflek langsung mencium pipinya. Mobil sedikit oleng karena ulahku.


"Dekkk..... yang benar saja aku lagi nyetir." Revan langsung protes. Aku cuma nyengir sambil memakai gelang cantik itu.


Dia malah menghentikan mobilnya. menubruk bibirku tanpa ampun. Aku kehabisan nafas.


"Udah, udah dulu." Kataku sambil ngos ngosan.


"Aku cuma ngasih kamu kesempatan berterima kasih dengan benar." Kata Revan santai.


"Haaaa jadi ini kesempatan untukku berterimakasih? Bukan modus kamu?" Kataku kesal. Revan nyekikik saja. Dia melihat tangan kiriku yang sudah tersemat gelangnya.


"Kau suka?" Tanya Revan.


"Tentu, ini cantik." Kataku.


"Kamu lebih cantik." Kata Revan. Lagi lagi mencium tanpa aba aba.


***


Mobil berhenti ditoko baju cukup besar. Àrah perjalanan kami aku yakin dia mengajak kedataran tinggi. Dia menyerahkan dompetnya.


"Kalau gak ada cash, pakai debit." Kata Revan.


"Aku mau belanja banyak pokoknya." Kataku sambil menerima dompetnya. Dia tersenyum.


"Terserah, kalau kamu sanggup habiskan." Tantangnya. Aaaa my super hero. Dia selalu keren kalau seperti ini. Atau aku yang semakin matre..... hah, jangan bilang cewek itu matre, karena gak ada yang punya cita cita jadi kere. Aku mencium pipinya dan kabur. Kalau tidak bisa dipastikan bibirku bengkak.


Aku membeli pakaian seperangkat dari atas sampai bawah. Sampai sepatu kets yang nyaman dan tas casual. Hahaha ayo kita kerjain kulkas. Kita kuras dompetnya. Aku membeli baju, celana dan semuanya yang paling mahal. Salah sendiri tidak pulang dulu. Kalau main tanpa persiapan gini ya mahal jatohnya untuk cewek. Dia mengikutiku berbelanja anteng saja.


"Mamas gak beli baju ganti?" Tanyaku.


"Gini aja emang kenapa?" Kata Revan cuwek.


"Mau pakai batik? Aku pakai kaos sama celana jeans lho. Nanti dikir bapakku gimana?" Tanyaku sambil senyum senyum. Dia mencubit pipiku.


"Aku bawa baju ganti dimobil Sayang." Katanya santai. Aku lupa kalau dia selalu punya prepair lengkap dimobilnya. Walaupun baju bercampur dengan sendal jepit dia tidak peduli.


"Aku pinjam alat mandimu yaa." Kataku. Dia mengangguk.


"Ambil dibelakang." Katanya. Aku mandi, keramas, dan mengganti bajuku. Cara cepat mengurai sanggul sederhanaku. Udara di pom ini sudah sejuk. Aku kedinginan sendiri. Dia sudah duduk anteng dimobil dengan baju casual. Memainkan hpnya. Tidak menoleh saat aku masuk.


"Dingin ihhh. Lain kali mending pulang dulu. Aku bisa persiapan." Aku protes. Dia memberikan satu cup kopi panas dalam cangkir kertas juga sisir rambut kecil. Masih dengan melihat hpnya. Aaaaa aku harus gimana??? Kok dia perhatian perhatian cool gini.


"Kita pulang yaa aku ada tugas mendadak." Katanya langsung menjalankan mobil.


"Apa!!!" Aku shok.


Dia putar balik dari arah yang tadi. Aku bengong.


"Kita gak jadi kemana gitu?" Tanyaku setengah bodoh. Dia menggeleng.


"Maaf ini mendadak sekali." Kata Revan.


"Tapi kamu kan udah minta cuti?!!" Kataku protes. Gemetar gemetar kesal sendiri kalau begini.


"Maaf Dekk maaf banget. Ini penting. Ini tanggung jawabku. Kita kelokasi sebentar habis itu kuantar pulang. Tidak jauh dari sini." Katanya menghidupkan GPS. Aku meletakkan kopi dipintu dengan kasar. Dia hanya melirik. Pasang wajah mode kerja.


"Udah ganti baju, udah mandi keramas biar gak buruk buruk banget kaya maten ilang. Ehhh malah batal. Tadi disuruh pulang dulu gak mau!!" Omelku sepanjang perjalanan. Dia cuma diam mendengarkan. Gak ada mode ngerayu apa gitu. Malah fokus nyetir ngebut. Ini orang emang kulkas. Hiiiiiihhh aku kesal sekali. Ingin kucakar saja bewoknya itu.


Hening sepanjang perjalanan. Aku sudah malas bicara apapun. Lebih memilih menyisir rambutku. Tak berapa lama, mobil membelok kesebuah kompleks perumahan. Ada tiga mobil terparkir merapat kepinggir. Revan ikut memarkirkan mobilnya dipaling belakang. Dia menyiapkan pistolnya. Aku langsung bergidik ngeri.


"Aku tinggal sebentar. Tidak akan lama. Tunggu disini saja." Kata Revan. Aku hanya meliriknya kesal. Mobil masih menyala, ac juga menyala. Kepalaku pusing karena tidak dihanduki habis keramas. Baju belakangku sudah basah karena rambutku. Aku heran, peralatan mandi lengkap, baju lengkap, tapi tidak ada handuk. Apa Revan tidak pernah handukan habis mandi? Ac dimobil menambah pusing kepalaku. Aku keluar dari mobil. Perumahan ini sepi. Aku menyesap pelan kopi tadi sambil bersandar dipintu mobil.


Tak beberapa lama rombongan Revan juga keluar dari sebuah rumah. Ada Pak Sidiq juga ternyata. Seseorang diborgol dan di masukan kedalam bagasi.


"Kenapa dimasukkan kebagasi?" Tanyaku pada Revan yang menuju mobilnya. Semua orang menoleh kearahku. Rasanya kasihan sekali melihat orang meringkuk dibagasi.


"Karena dia barang bukti." Kata Revan enteng.


"Tapi kamu melanggar hak dia sebagai tersangka." Kataku. Revan tersenyum sudah akan menjawab pernyataanku.


"Van," pak Sidiq memanggil Revan. Revan menoleh.


"Iya Pak." Jawabnya sigap.


"Kamu ijin hari ini untuk mengikuti wisuda kan?" Tanya Pak Sidiq.


"Benar Pak." Jawab Revan.


"Tapiii.... rambut pacarmu terlalu basah untuk mengikiti wisuda." Kata Pak Sidik kemudian tertawa. Teman Revan yang lain memperhatikan aku, kemudian ikut tertawa juga. Revan tersenyum malu. Aku bengong bingung.


"Mungkin lupa disediakan handuk sama room servisnya Pak. Wisudanya pindah ketempat yang agak sepi." Boby nyeletuk. Tawa semakin meledak. Mereka mencieh cieh Revan. Aku semakin bingung tidak mengerti.


"Haa apa maksudnya?" Tanyaku bingung. Pak Sidiq menatap kearahku.


"Oh, aman. Dia bahkan tidak mengerti. Selamat untuk gelar barumu Put. Segera antar dia pulang dan langsung kekantor Van. Lain kali aku gak mau menggantikan." Kata Pak Sidiq kemudian masuk mobil.


"Baik Pak, terimakasih." Kata Revan cepat.


Pandanganku beralih pada Revan minta penjelasan.


"Apa maksudnya Mas?" Tanyaku. Bukan menjawab, dia malah nyekikik.


"Ayo masuk mobil Dek." Katanya tanpa memberi penjelasan.