I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 41



Dari pagi bahkan dini hari keluargaku sudah sibuk. Hari ini pernikahan kakak yang di tunggu tunggu. Pagi ijab qobul, siang resepsi, lima hari lagi ngunduh manten kerumah Mas Dipo. Ijab qobul dan resepsi diadakan disatu gedung. Cuma beda jam saja. Sebenarnya sudah di bantu WO Tapi tetap saja ribet sendiri.


Mbakku berdandan dari jam 4 pagi sudah sampai gedung. Sekeluarga juga. Rempong sana rempong sini Aku mirip kipas angin muter muter. Ada aja yang ketinggalan. Jasnya Ayah, Sovenir juga ikut anteng gak mau ngomong kalau dia ketinggalan dirumah. Tiga kali pagi itu Aku bolak balik rumah dan gedung. Belum mengambil nasi box dicatring untuk sarapan orang orang yang dandan pagi itu. Sampai berkeringat belum apa apa.


"Minum dulu." Kata Ibuku melihat Aku ngos ngosan. Aku mojok di ruang makeup sambil meminum air putih gelas. Ibu memberiku nasi box yang tadi kuambil. Sarapan lah aku disana sambil ngelesot.


Aku jadi salah satu pager ayu saat resepsi. Masih dandan seadanya waktu ijab. Kakak sudah ngantuk ngantuk dirias dari jam 4 pagi. Jam 6 Mas Dipo datang. Suara perdebatannya dengan ibu langsung terdengar. Tukang rias dan timnya sedikit syok dengan hubungan aneh mertua dan menantu itu. Tapi katanya perut mereka sampai sakit karena ketawa. Perdebatan mereka memang mengundang tawa.


"Kencengin lagi Mbak, itu stagen Dipo biar gak kelihatan buncit perutnya." Kata Ibu pada perias yang mendandani Mas Dipo.


"Ini udah kenceng Bu, aku gak bisa napas kalau lebih kenceng dari ini." Mas Dipo protes.


"Kamu gak mau kelihatan gagah?" Ibu gak mau kalah.


"Gagah kalau pingsan sama aja Bu, gak jadi gagah. Aku juga bukan Revan yang gagah. Aku Dipo si penyayang." Kata Mas Dipo ngelantur ke Revan segala.


"Kok Revan dibawa bawa sih. Keselek dia kalau lagi sarapan." Kataku.


"Cieehhh gak terima sayangnya dibawa bawa." Mas Dipo komen.


"Cepet nikah sana sama Revan. Keburu tua, keburu nanti kalau kamu hamil, anaknya keluar manggil Revan Mbah Kung. Buka Bapak." Kata Mas Dipo sambil tertawa. Ajaibnya Ibu dan Mbakku juga ketawa. Apa setua itu Revan? Aahhh gak juga..... Mas Dipo itu yang ngada ada. Iya sih dia kelihatan tua, tapi karena jenggotnya. Lah aku ini gimana kok plin plan. Tepok jidat online.


Revan datang jam 7. Ikut nimbrung diruang makeup yang sempit.


"Ini masnya di dandanin apa?" Tanya asisten tukang rias melihat Revan masuk.


"Gak usah didandanin. Udah ganteng." Aku nyeletuk. Mas Dipo mencieh cieh.


"Ow, ini calon klien kita selanjutnya." Lanjut pimpinan rias yang mendandani Mbakku.


"Nanti didiskon yaa. Tiga anakku lho calonnya jadi kerjaan Mbak semua." Ibu cari kesempatan. Tukang rias sekaligus pimpinan WO tertawa.


"Kerja apa?" Tanya pimpinan WO.


"Guru." jawabku.


"Mantri." jawab Ibu.


"Kuli" jawab Mas Dipo serentak. Kami jadi saling pandang. Revan justru nyekikik kemudian tak tahan untuk tertawa. Dia tertawa dengan santainya padahal Aku, Ibu, Dan Mas Dipo sudah saling plotot plototan.


"Lah kerjanya apa ini?" Tukang rias makin kepo. Kami bertiga gelagepan. Saling nunggu ada yang ngasih jawaban tepat.


"Apa saja yang bisa saya kerjakan yang penting halal." Kata Revan nyantai setelah gak ada orang yang jawab.


"Ohhh serabutan." Tukang rias menyimpulkan sendiri. Kali ini giliran kami bertiga yang nyekikik plus Mbak Manten yang tidak bisa menahan tawa juga.


Ijab qobul berlangsung khitmat. Aku sudah mewek duluan saat Kakakku didudukkan disamping Mas Dipo.


"Udah, nanti banjir ini gedung." Bisik Revan yang duduk disebelahku. Aku menepuk pahanya. Dengan cepat dia menangkap tanganku. Menggenggamnya, menciumi beberapa kali.


"Nanti aku pulang sebentar ya habis ijab." Katanya.


"Ada dehh..." jawabnya sok misterius.


Usai ijab aku sibuk berdandan mengenakan kebaya biru dan sanggul sederhana sesuai tema resepsi. Revan sudah tidak kelihatan hidungnya. Saat dandananku selsai, aku lihat Revan dan Ayahnya berbincang dengan Pak De ku. Ternyata dia menjemput Bapaknya untuk ikut resepsi. Aku mendekat Revan bengong melihatku. Kusalami Ayah Revan sambil masih Risih dengan tatapan Revan yang seperti mau memakanku.


"Revan sering ngrepotin Putri yaaa..." kata Ayah Mertua. Aku menggeleng.


"Putri yang sering ngrepotin Mamas kok." Kataku. Revan masih melihatku tanpa berkedip. Aku menggandeng tanganya untuk duduk.


"Kok kamu cantik banget sih?" Bisiknya saat kami duduk. Aku senyum senyum. Baru kali ini dia memujiku seperti ini. Dia celingukan melihat sekitar.


"Kenapa?" Tanyaku karena melihat dia aneh.


"Ayo ambil hp di mobilku. Hpku ketinggalan." Katanya sambil menggandengku beranjak.


"Ambil hp sendiri aja kali. Napain aku dibawa bawa. Ribet ini jalan jauh pakai jarik dan heels." Protesku seperti angin lalu. Dia masih menggandengku menuju parkiran.


Ternyata hanya akal bulus. Dia menciumku begitu kami berada di jog belakang mobilnya. Seperti biasa aku akan kehabisan nafas dan kegerahan karena ciumannya yang lama.


"Nyebelin!" Kataku setelah kami selesai. Dia cuma senyum senyum gak jelas. Aku ambil tisue dan mengelap bibirku. Dia juga mengelap bibirnya karena lipstikku tertempel sempurna.


"Ini gimana memperbaikin lipstiknya coba!!" Kataku sebel.


"Balik lagi keruang makeup. Masih ada waktu." Katanya. Aku memukul lengannya.


Aku balik lagi keruang makeup ditemani Revan.


"Mbak, lipstiknya kehapus waktu aku minum." Alasanku pada asisten tukang rias yang tadi mendandaniku.


"Haa, kok bisa?" Tanyanya agak gak percaya.


"Ini." Tunjukku pada bibirku sendiri. Sebagian lipstik masih samar dibibirku. Dia memperbaiki sambil senyum senyum. Sepertinya dosa kami terbaca olehnya. Tapi dia tetap diam. Memandang Revan dan Aku bergantian.


Resepsi berlangsung lancar, walaupun saat sungkeman Ibu dan Mas Dipo berpelukan lama dan saling bertangisan. Ternyata dua musuh itu bisa haru juga. Saat manten sungkem ke orang tua Mas Dipo, Ayah Revan berbisik pada anaknya.


"Nanti Bapak sama siapa diatas sana?" Pertanyaan haru yang dijawab Revan dengan tepukan di punggung ayahnya.


"Bapak kalau mau cari istri boleh kok. Revan udah gede. Revan sibuk. Bapak gak punya teman ngobrol." Kata Revan. Ayahnya menggeleng.


"Ibumu itu satu satunya. Seburuk apa pun yang dikatakan orang." Jawabnya. Aku.... semakin deras mewek. Bukan hanya karena sungkeman didepan sana. Tapi juga pembicaraan dua laki laki beda usia disampingku.


Pernikahan kakak juga menjadi perkenalan keluargaku dan Ayah Revan.


"Revan ini anak saya satu satunya. Belum sempat punya adik, ibunya sudah meninggal." Kata Ayah Revan usai acara. Beliau ngobrol dengan Ayah dan Pak De Bass.


"Lha kok gak cari istri lagi Mas?" Tanya Ayah. Ayah Revan menggeleng.


"Saya tidak sempat. Lebih milih ngopeni Revan saja dan mengenang almarhumah. Saya susah jatuh cinta Mas. Ibunya Revan itu perempuan yang ideal sekali. Ya manjanya, ya sifatnya. Sulit sekali mencari gantinya." Kata Ayah Revan. Masih ada binar cinta dimatanya. Walaupun puluhan tahun sudah ditinggal. Membuat orang yang mendengarnya terenyuh.


Semoga saja anaknya sesetia Bapaknya. Aku berdoa sungguh sungguh dalam hati. Semoga.