I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 59



Senin tiba, minggu yang baru untuk semua. Dikampus teman temanku yang tertangkap sudah dikembalikan. Mereka membawa kisah tersendiri dikantor polisi. Yang jelas aku tidak ingin mengalaminya. Tomy tidak ikut tertangkap, tapi ia takut juga.


"Kemaren kamu kemana? Kok tiba tiba hilang?" Tanya Tomy.


"Sembunyi." Kataku singkat.


"Eh, lihat konser Simpel gak? ....." Tomy bercerita macam macam tentang konser Simpel. Aku manggut manggut mendengarkan. Dia kira aku tidak menonton. Hahahaha.


***


Aku tiba dirumah Revan setelah jam makan siang. Lucu sekali melihat ekspresi Dalimin yang tidak mau melihat kearahku. Hahahaha. Bapak langsung menunjukkan orderan baru yang kami terima.


"Hitungkan untungnya Nduk. Bahan baku naik karena imbas BBM naik." Katanya. Aku mengangguk. Sebenarnya mau demo macam apa pun jika sudah di tetapkan naik yaa naik saja. Tidak banyak yang bisa dilakukan, karena sudah naik pun BBM sebenarnya masih bersubsidi.


Aku menghabiskan sore itu menghitung harga harga baru produk kami. Tiba tiba mobil mewah yang body depannya mirip robot memasuki halaman. Aku seperti kenal. Aku sudah berdiri dari kursiku. Kulihat Riyan turun dibukakan pintu oleh Bagas. Mau apa mereka? Aku mendekat.


"Kenapa datang kemari?" Tanyaku. Riyan diam mengamati sekitar. Bapak ikut mendekat merasa tidak punya janji temu.


"Mas mau pesen mebel yaa...?" Tanya Bapak ramah.


"Tidak Pak saya teman.... teman Revan dan Putri. Saya mencari Revan." Kata Riyan sedikit terbata.


"Ow, kalau begitu duduk di dalam saja. Revan biasanya pulang nanti agak malam, ditelfon saja. Nduk, bawa mereka masuk." Kata Bapak ramah. Aku mengangguk.


Beberapa pekerja terutama yang masih muda mendekat. Ragu ragu mereka bertanya.


"Mas Riyan Simpel?" Tanya Ojan. Riyan mengangguk. Jadilah sebelum masuk rumah ada jumpa fans dadakan. Aku tertawa ketika generasi Pak Joko dan tukang agak sepuh lain minta foto termasuk Bapak. Tidak kenal tidak apa apa yang penting foto sama artis. Hahahaha. Riyan menanggapi fansnya cukup ramah. Setelah puas dia masuk ruang tamu diiringi Bagas.


"Sebentar aku carikan minum." Kataku saat Riyan sudah duduk. Dia justru menangkap tangan kiriku. Meraba pergelangannya.


"Kenapa melepasnya?" Tanyanya dengan nada getir.


"Tidak mau memakainya lagi? Tidak ingin terlihat mencintaiku lagi?" Tanyanya lebih santai. Nada perlentenya sudah keluar.


"Atau Revan tau itu gelang dariku? Jadi menyuruhmu membuangnya? Haaa dia tidak mau bersaing secara adil yaa." Kata Riyan nyerocos.


"Dia melepasnya karena memilihku." Kata Revan dibalik pintu. Kami serentak menoleh kearahnya. Aku langsung menarik tanganku.


"Haa percaya diri sekali kamu Brow. Aku bilang ayo bersaing secara adil. Kamu justru memaksa melepasnya." Kata Riyan.


"Mau apa kesini?" Tanya Revan to the point.


Riyan diam sejenak. Revan masuk dan duduk. Dia menarikku duduk dipangkuannya. Yang benar saja!! Aku menolak dan duduk dipinggir sofa yang dia duduki. Riyan tertawa.


"Kau tidak bisa memaksanya duduk dipangkuanmu Brow, dia tidak suka menunjukkan kemersraan, tapi dia mesra sekali kalau sedang berdua." Kata Riyan cengengesan.


"Pergi kalau hanya mau bicara omong kosong!" Kata Revan santai. Riyan diam.


"Aku mau lihat wajah Ibu, aku tidak pernah melihatnya sepanjang ingatanku. Apa kau mau menunjukkan wajahnya? Apa kau punya fotonya? Tahu dimana makamnya?" Tanya Riyan. Nada cengengesan dan perlente tidak terdengar. Yang ada hanya kegetiran. Air mataku sudah berdesakan mau turun.


Revan menghela nafas kasar. Kemudian beranjak pada rak kecil yang ada di sudut ruang tamu. Tempat foto foto lama. Mengeluarkan satu album kecil.


"Maaf tidak ada fotomu. Tapi ini foto foto Ibu dan aku waktu masih kecil." Kata Revan. sambil menyerahkan album itu pada Riyan.


"Kita pernah bertemu sekali. Saat kau masih didalam perut Ibu. Ibu bilang kau..... adiku." Kata Revan dengan suara tercekat. Mengambilkan tisue dimeja untukku.


Riyan mengusap ngusap album itu dengan hati hati.


"Dia cantik. Ternyata bibir kita mirip dengannya. Juga..... tulang pipinya." Kata Riyan. Aku makin sesenggukan.


"Apa karena itu kamu menyukai Revan Put? Karena bibir kita sama." Katanya di tengah keharuan. Aku tahu semua orang diruangan ini sedang haru. Riyan melucu juga agar tidak tertetes airmatanya.


"Tutup mulutmu." Kataku.


"Ayolah, kami yang kakak adik kamu yang menangis sesenggukan. Itu mengganggu." Kata Riyan lagi.


"Sejak kapan kamu jadi cengeng hummm? Apa Revan terlalu memanjakamu jadi kau secengeng ini? Dulu waktu kamu disemprot Dena saja tak ada air matamu menetes." Lanjutnya. Aku berusaha tenang. Benar juga aku lebih emosional dibanding mereka.


"Kau bisa membawanya kalau mau. Aku sudah hafal tiap senyuman Ibu di foto itu. Ayo aku tunjukkan makamnya." Kata Revan. Riyan mengangguk.


"Thanks Brow." Katanya singkat.


"Hapus air matamu. Cuci muka sana. Bapak belum tahu masalah ini. Jangan membuatnya curiga dengan tangisanmu." Kata Revan sambil mengacak rambutku. Aku menurut dan mencuci mukaku didalam. Saat aku keluar, tiga pria itu sudah sampai gerbang.


"Merepotkan saja. Kenapa kau ajak Brow. Dia akan membuat basah kuburan Ibu dengan air matanya." Kata Riyan saat sudah keluar dari gerbang rumah. Akù memukul punggungnya dengan tanganku. Dia menangkisnya dengan tangannya. Dia malah nyekikik. Sifat tengilnya masih saja sama. Walaupun usianya sudah tua.


Kami sampai lagi dinisan tua itu. Kedua laki laki itu berdiri di samping samping kepala nisan. Pemandangan yang haru...... jika tidak ada garis kehidupan yang membuat mereka harus bertentangan, maka harusnya mereka bisa berpelukan dan menguatkan. Tapi garis kehidupan membuat mereka harus puas dengan sama sama menatap pusara Ibu. Bagas menyodorkan tisue yang ternyata dibawanya dari ruang tamu tadi. Aku mengambilnya.


"Ibu, aku bawa adikku kesini." Kata Revan sambil berjongkok mencabuti rumput tumput kecil disekitar pusara.


"Dia artis besar. Penyanyi mirip Ibu dulu. Walaupun menyebalkan tapi dia adiku." Kata Revan. Air mata sudah merembes dipipinya.


Riyan ikut mencabuti rumput liar dipusara.


"Ibu.... aku gak tau apapun tentang kamu, tapi aku punya kakak tangguh ternyata. Dia merepotkan dan mengambil kekasihku." Kata Riyan. Revan memukul kepala Riyan kemudian memeluknya. Mereka berpelukan selama beberapa menit. Diatas pusara Ibu yang sama sama mereka rindukan.


"Sudah bodoh, jangan membuatku menangis." Kata Riyan melepaskan pelukan Revan.


"Aku tidak ingin mengeluarkan air mata. Kesedihan itu menunjukkan kelemahan. Itu kata Papiku." Lanjutnya.


"Tahunnya sama seperti tahun aku lahir. Cuma beda bulan. Dia sempat memelukku ternyata. Aku yakin. Kenapa dia meninggal Brow?" Tanya Riyan


"Dibunuh. Mayatnya ditemukan dihotel pusat kota. Karena identitas Ibu masih bersetatus istri Bapakku, maka Bapakku yang dihubungi dan mengidentifikasi jasadnya. Bapakku kemudian membawanya pulang dan dimakamkan disini." Kata Revan.


"Haaa sepertinya aku tahu pembunuh Ibu." Kata Riyan santai.


"Hotel tengah kota kan? Hotel No*** ." Tebak Riyan. Revan mengangguk.


"Aku yakin kasusnya tidak terpecahkan sampai sekarang. Karena pemilik hotel itu dulu Papiku." Kata Riyan santai. Revan terkejut juga aku.


"Papiku tidak datang saat pemakaman kan?" Tanya Riyan lagi. Revan menggeleng.


"Haaaa itu membuktikan sesuatu. Well ini satu dari kejahatannya yang tertutupi." Kata Riyan. Hening sesaat.


"Ini sudah mau magrib Brow, ayo pulang. Pistolmu tidak bisa melindungiku dari hantu dipemakaman." Kata Riyan lagi. Kami pun beranjak dari pusara itu. Revan sempat berpamitan pada Ibu.


"Kamu tidak ingin berhenti?" Tanya Revan pada Riyan sambil menggandeng tanganku.


"Aku tahu itu berat, tapi aku akan membantumu." Lanjut Revan.


"Haaa bantuan darimu yaa. Akan meringankan hukumanku sekitar lima tahun. Itu kalau aku tidak mati duluan dibunuh kaki tangan Papiku didalam sel." Kata Riyan.


"Aku akan mati, tapi tidak mau untuk hal sia sia seperti itu." Lanjut Riyan.


"Aku akan menjagamu." Kata Revan. Riyan tertawa.


"Kata katamu romantis Brow." Jawab Riyan. Sambil merangkul pundak Revan. Kami berjalan beriringan bertiga. Dengan Revan berada ditengah.


Kami sampai dirumah Revan lagi. Para tukang lembur hari ini. Suara bising alat mebel masih terdengar. Riyan sudah berdiri didepan mobilnya, tidak mau masuk rumah lagi sepertinya. Revan mengambilkan album kecil foto Ibu diruang tamu.


"Kau jadi membawanya?" Tanya Revan sambil menyodorkan album itu. Riyan menggeleng.


"Aku sudah cukup puas melihatnya. Lagi pula aku malas melihat wajahmu difoto itu. Membuatku mimpi buruk." Kata Riyan. Revan tersenyum.


Riyan berpamitan pada Bapak. Cukup lama ia disana karena terjadi jumpa fans dadakan lagi. Sebelum masuk mobil Riyan berkata.


"Sebagai balasan hari ini aku akan katakan satu rahasia. Jangan kepelabuhan. Mereka merubah jalurnya dari darat. Cegat saja truk yang lewat ditol selatan. Kau akan dapat penghargaan." Katanya pada Revan.


"Bagaimana kalau aku memborgolmu sekarang?" Tanya Revan. Riyan tertawa.


"Memang kau bisa buktikan apa heh? Aku bicara apa?" Kata Riyan.


"Cantik, sayangku. Kau mematahkan hatiku. Tapi aku akan merebutnya lagi. Aku tidak kalah tampan dari pacarmu yang awut awutan ini." Katanya sambil memukul dada Revan. Dia masuk mobil setelah mencium tanganku. Revan sudah akan maju tersulut emosi, tapi aku tahan. Mobil Riyan berlalu dari halaman.


"Apa aku awut awutan?" Tanya Revan setelah Riyan pergi. Tentu saja. Batinku dalam hati. Kuganti dengan tawa dan kembali menyelsaikan pekerjaanku tadi.


"Hei, kenapa tidak menjawab? Apa aku awut awutan?" Revan masih tidak terima. Dia duduk di depanku.


"Tawamu itu kuanggap iya." Kata Revan lagi.


"Tapi, aku awut awutan disebelah mana?" Tanyanya lagi. Aku mau pingsan. Bahkan dia tidak menyadari kalau penampilannya dari ujung rambut sampai kaki itu sangat buruk. Hahaha andai saja kamu tidak baik Mas, Mas. Aku juga malas jalan dengamu. Batinku.


Tapi karena hatinya aku jatuh cinta. Karena ketulusannya. Itu sudah cukup. Kalau hanya casing semua bisa bagus. Tapi tidak dengan hatinya... malah untung bukan kalau kita punya pasangan yang tidak mementingkan penampilan. Dia tidak menarik dimata wanita lain. Tapi yang dekat dengannya akan susah melupakannya. Ibarat lem, sudah nempel. Susah melepaskannya karena dia terlalu baik. Seperti nenek sihir Ine.