I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 24



Jam istirahat tiba seperti biasa aku dan Septy janjian istirahat berdua. Kami biasa makan siang diangkringan dekat swalayan itu. Yang hemat di kantong. Hahaha maklum, penampilan kami mirip SPG, tapi kantong kami masih kantong pelajar. Kami memesan es teh manis yang mengiurkan. Dan membuka satu bungkus nasi dalam ukuran mini.


"Pak, kopi hitam satu yaa!" Kata seseorang masuk ke tenda angkringan.


"Eh, Putri lagi istirahat?" Lanjut orang tadi. Aku menoleh kearahnya. Orang jam tangan tadi. Revan kalau gak salah. Dia duduk berhimpit dengan aku dan Septy dikursi angkringan yang sempit.


"Iya Mas, Mas ngapain masih disini?" Tanyaku.


"Aku memang kerja dekat sini Put." Katanya. Septy menyikut lututku. Aku menoleh padanya. Dia mengangkat alis tanda bertanya 'siapa?' Aku juga ikut mengangkat alisku. Yang berarti 'gak tahu'.


"Kalian PKL berapa bulan?" Tanyanya lagi.


"Kurang satu bulan Mas, sudah dua minggu disini." Jawab Septy.


"Namamu siapa?" Tanyanya pada Septy.


"Septy Mas, Mas kerja dimana?" Tanya Septy balik.


"Dekat swalayan kalian, sekolah dimana?" Tanya Mas Revan. Obrolan terus berlangsung sampai jam istirahat usai. Mas Revan yang lebih banyak bertanya mendetail. Kami hanya menjawab saja. Usai jam istirahat Septy membrondongku dengan banyak pertanyaan. Aku menjawab yang sebenarnya kalau aku bertemu dengannya saat membeli jam tangan.


Selama beberapa hari berikutnya dia sering muncul diangkriangan itu saat kami istirahat. Kami semakin akrab. Dia pria humoris walaupun tidak sesupel Riyan. Penampilannya juga lebih apa adanya. Dengan lesung pipi dan jenggot yang ditumbuhkan. Rambutnya sudah agak panjang, tapi masih terbentuk model potongannya. Mungkin memang sengaja dipotong seperti itu. Kulitnya sawo matang. Akan mirip roti mandarin jika berhadapan dengan kulit tanganku. Over all dia tipe cowok macho yang tak terlalu peduli dengan penampilan. Beda dengan Riyan yang metroseksual. Selalu tampil rapi, bersih dan wangi. Tapi cara senyum Mas Revan menurutku sama dengan Riyan. Giginya yang berjajar rapi, cara dia menarik bibir untuk tersenyum. Entahlahhh..... kenapa aku selalu membandingkan semua cowok dengan Riyan. Apa aku masih merindukannya???


Kami sudah bertukar nomor hp, saling follow disosial media. Dia jarang memasang setatus apapun. Tapi sering melihat dan menyimak apapun yang aku tampilkan. Mungkin karena usianya yang terpaut 9 tahun dariku. Dia mengaku sebagai guru olahraga honorer disebuah SMP tak jauh dari supermarket tempat ku PKL. Hubungan kami hanya sebatas itu. Sesekali dia mengomentari setatusku. Namun kujawab seadanya. Aku masih tidak mau berhubungan lebih lanjut dengan siapapun. Sepertinya dia juga bukan orang yang terlalu memaksa dekat. Aku mau fokus belajar.


***


Ujian sekolah dan ujian nasional menanti didepan mata. Aku belajar giat agar dapat hasil maksimal. Siapa tahu bisa dapat bea siswa untuk kuliah. Tidak terlalu merepotkan orang tuaku lagi. Aku benar benar ingin mandiri.


Walaupun sudah belajar siang malam aku masih bergetar menerima hasil ujian. Ternyata benar, hasil tidak akan menghianati usaha. Aku lulus dengan nilai memuaskan.


***


Hari wisuda tiba. Aku berdandan menggunakan sanggul. Kebaya juga sudah rapi melekat ditubuhku. Tentu saja sudah heboh berselfie dengan teman temanku. Kupasang setatus disosial media.


'Wah, ada yang cantik ini' komentar Mas Revan.


'Iya, aku diwisuda' jawabku.


'Waaahh, selamat yaa. Wisuda dimana?' pesannya lagi.


'Gedung Xxx' jawabku pendek.


"Nanti hubungi Ayah kalau sudah selsai. Biar ayah jemput." Pesan Ayah sebelum pergi. Aku mengangguk dan melambaikan tangan.


"Sepesial sekali, kami hadirkan band lokal yang mampu menembus pasar nasional." Jantungku berdesir saat MC mengucapkan itu. Tika dan Septy langsung memandang kearahku.


"Kita sambut. SIMPEL spesial untuk kakak kakak yang diwisuda." Aku langsung mencengkeram kursi yang kududuki. Mereka tampil dengan akustik sederhana. Riyan menyanyi sambil duduk. Kostumnya batik dengan celana bahan halus. Beda dari biasanya.


Matanya mencari keberadaanku. Kami bertemu mata. Desiran kerinduan menghujani seluruh tubuhku. Ingin aku berlari dan memeluknya. Diaaaaa semakin tampan. Mereka hanya bernyanyi dua lagu. Di penghujung lagu Riyan berbicara.


"SMK Xxx adalah saksi karir Simpel yang merangkak naik. Karena itu kami ingin memberikan kejutan untuk para wisudawati. Terimakasih untuk dua tahun yang indah dan satu tahun yang penuh perjuangan. Karena melupakanmu adalah hal mustahil, maka biar kujadikan kau bintang. Yang akan kunikmati kilaunya dari kejauhan. Selamat untuk kelulusan kalian." Tepuk tangan menggema. Tubuhku bergetar menahan air mata.


Seorang asisten Simpel menyerahkan buket bunga pada Re. Ia kemudian berlari kearah Septy memberikan buket bunga itu. Tepuk tangan riyuh terdengar. Sepertinya hubungan mereka berjalan lancar. Yahhh setidaknya ada yang bahagia disini.


Tiba tiba hpku bergetar. Panggilan dari Mas Revan. Aku mengangkatnya sambil menotolkan tisue keujung mataku.


"Aku tunggu didepan gedung." Katanya langsung mematikan panggilan. Aku kebingungan sendiri. Namun tetap melangkah keluar gedung.


Aku melihatnya duduk di bangku halaman gedung. Mengenakan kemeja dan celana jeans. Ditangannya sudah ada buket bunga dan boneka beruang memakai toga. Dia melambai kearahku dan berjalan mendekat. Senyum dengan lesung pipi yang manis tersemat indah. Saat dia mendekat, kulihat Riyan dan Simpel lainnya keluar dari samping gedung. Septy bergandengan tangan dengan Re melambai kearahku. Personil lainnya menatapku sambil memberikan senyum. Riyan berhenti sejenak tanpa ekspresi. Membenarkan tali gitar akustik yang dia sandang dan berjalan cepat kemobil.


Aku membalas lambaian Septy dan tersenyum.


"Selamat untuk kelulusannya ya. " kata Mas Revan mengagetkanku. Aku menerima bunga dan bonekanya.


"Habis ini mau kemana? Mau aku antar pulang?" Tawarnya. Mataku masih mengikuti Riyan menuju mobilnya. Dia membuka kemeja yang dipakai dan melempar asal kedalam mobil.


"Itu vocalis bandkan? Kau mau aku memanggilnya? Kau mau berfoto dengan dia?" Tanya Mas Revan lagi. Aku menggeleng. Riyan sudah masuk mobil, membuka jendela dan membuang buket bunga dari jendela. Kemudian berlalu kencang dengan mobil yang dia kendarai sendiri. Personel Simpel dan Septy menaiki mobil lain yang terparkir disebelahnya.


"Itu kejam sekali. Pasti bunga dari fans yang dibuang begitu saja. Well... dia vocalis band mungkin sudah muak dengan bunga dari fans. Semoga bungaku tidak bernasib sama." Kata Mas Revan sambil menunjuk bunga dipelukanku. Aku tersenyum.


"Aku tidak suka membuang pemberian orang. Aku akan menyimpannya. Terimakasih..." Kataku.


"Bagaimana dengan tawaranku mengantar pulang?" Tanya Revan lagi. Dia gigih mau mengantarku pulang.


"Sebenarnya acara belum selsai. Tapi pulang sekarang ide yang bagus. Aku... bosan. Aku ambil tas dulu yaa." Kataku beranjak lagi kedalam.


Tika melihatku kembali ketempat duduk.


"Mau ketemu Riyan pasti." Katanya saat aku mengambil tas kecil miliku. Aku menggeleng.


"Dia udah pergi duluan." Kataku kemudian berlalu menuju pintu keluar.