
Hari pertunangan kakak tiba. Kakak tertuaku, Mbak Nana, Mas Kriss suaminya, dengan ponakan lucu satu satunya juga hadir. Ocha namanya. Keluarga berkumpul termasuk Revan. Diperkenalkan sebagai calon mantu anak bungsu. Aku sebenarnya mau menangis. Memang sejauh apa hubunganku dengan Revan? Kami jelas berpacaran saja baru beberapa hari. Dia hanya menyatakan cinta. Bahkan belum kubalas. Tapi semua keluarga sudah menerimanya dengan tangan terbuka. Tapi sepertinya Revan tidak keberatan dikenalkan sebagai calon mantu.
Kali ini dia tampil mengesankan. Mencukur pendek rambut dan licin tidak jenggot. Membuat dia terlihat muda. Bahkan jauh lebih mirip Riyan. Hanya yang ini versi dewasanya. Versi machonya, kalau Riyan terlalu klimis dibilang macho.
"Kau suka aku tidak berjenggot yaa." Bisikya di tengah acara ramah tamah. Acara inti belum dimulai. Seperti biasa, kemampuan membaca pikirannya bekerja. Aku jadi malu apa aku terlalu sering meliriknya?? hihihi.
Acara berlangsung lancar. Dua cincin sudah tersemat dijari manis calon mempelai. Setengah tahun lagi pernikahan di gelar. Semua orang berdoa agar rencana berjalan lancar sampai hari H. Keluarga Mas Dipo sudah pamit. Tapi Mas Diponya enggan pulang. Dia meminta Revan mengantarkannya pulang nanti. Jadilah Mas Dipo tertingal disini. Padahal kakak pertamaku saja sudah pulang dengan anak dan suaminya. Mereka gantian kerumah Mas Kriss.
"Wah, tinggal si bungsu Har." Kata Pakde Bass yang juga masih dirumah. Mereka bercakap cakap diteras. Aku diruang tamu bersama Kakak, Mas Dipo, Dan Revan. Sedang ribet ngelepasin sanggul sederhana Kakak. Sedang dua cowok itu berebut emping sisa acara. Meskipun diteras suara mereka berdua terdengar, karena rumah yang sempit pula.
"Iya, sudah ada calonnya juga. Tinggal mikir biayanya mantu. Hahaha." Kata Ayahku.
"Kerja apa dia Har?" Tanya Pak De Bass.
"Polisi, sama seperti Bapakku dulu." jawab Ayah.
"Waaaahhhh mantab!!! Aku ikut senang karena akhirnya dapat calon yang baik. Dari pada anak Nur itu.... siapa namanya Riyan. Sudah jelas ikut jejak ayahnya." Kata Pak De Bas. Kulihat Revan mulai anteng menyimak percakapan diteras. Mas Dipo menguasai toples emping.
"Aku juga heran Nur punya anak. Setahuku Dia tidak pernah menikah. Pacaran sama anaku lagi." Kata Ayah.
"Punya lah, dulu sempat kumpul kebo agak lama sama Seorang penyanyi dangdut yang aku dengar. Kemudian istrinya itu ditemukan tewas dihotel. Sampai sekarang hotelnya angker." Kata Pak De Bass. Revan langsung keluar ikut nimbrung cerita orang orang tua.
"Hotel mana Pak De?" Tanya Revan antusias.
"Hotel xxx......"
Pembicaraan mereka asik seputar horor horor tempo dulu dikotaku. Aku gak tahu kalau Revan suka cerita horor.
Saat sudah beres masalah sanggul dan berganti pakaian, Ibu menyuruhku mengembalikan perkakas di gudang.
"Kalau gak bisa sendiri suruh Dipo atau Revan bantu" kata Ibu. Aku pun memanggil Revan, tahu diri lah Mas Dipo sama Kakakku lagi mojok.
"Biar aku yang angkat, kamu bilang mau diletakkan dimana." Kata Revan. Aku pun tinggal suruh menyuruhnya. Tidak banyak sebenarnya karena ini acara kecil. Tapi kalau digotong sendirian yaaa berkeringat. Hahahaha. Aku mau bantu pun tidak boleh. Salah sendiri.
Aku mengambil tisue dan menyeka wajahnya yang berkeringat. Lama lama aku tertarik sekali dengan bibirnya. Bibir yang aku rindukan. Aku menciumnya. Kami berciuman cukup lama digudang rumah yang berdebu. Sampai dia melepaskan paksa ciuman kami dan berbalik memegang krat gelas. Detik berikutnya Mas Dipo muncul.
"Tak kirain lagi mesum. Diem diem bae di gudang." Katanya cengar cengir.
"Darimana Mamas tahu dia datang?" Tanyaku sambil nyengir sama Revan.
"Langkah kaki manusia itu terdengar, walaupun dia gak bersuara. Kalau kucing baru gak kedengeran. Untung Masmu itu masih masuk jenis manusia." Kata Revan yang membuat kami tertawa.
"Ngomong ngomong ciuman yang enak. Aku boleh minta lagi yaa..." bisiknya sambil menghimpitku dipintu gudang. Kemudian kembali ngobrol sama tetua di teras.
Aku kagum pada dua hal dari Revan. Ehhh tidak tiga hal. Pertama karena dia selu menjadi dewa penolongku. Kedua karena dia menawarkan cinta yang tanpa tuntutan. Ketiga kesigapannya akan sesuatu. Apa semua polisi sesigap itu? Aku jadi merasa aman bersamanya. Bahkan melakukan hal hal nakal sekalipun. Hahahaha
Mas Dipo minta pulang saat menjelang magrib. Ibuku muring muring (ngomel ngomel).
"Magrib magrib mau keluar rumah ra ilok (tidak bagus). Tadi siang waktu orang tua mu pulang gak ikut pulang. Sekarang magrib magrib mau pulang. Nunggu magribnya selasi dulu." Kata Ibu.
"Tadi disuruh suruh pulang, sekarang mau pulang di tahan tahan. Mbok yen masih kangen aku bilang Buuuu." Mas dipo gak mau kalah.
"Kangen apa? Kamu gak mau pulang karena tahu sisa empingnya banyakkan. Nih bawa pulang. Satu lagi buat Revan jangan diembat. Lusa anter ibuk kontrol jangan telat." Kata Ibu pada Mas Dipo sambil menyerahkan dua bungkusan emping mentah belum digoreng. Ibu memang lebih suka diantar Mas Dipo kontrol gula, karena Ayah suka melepas begitu saja. Meninggalkan Ibu antri apa apa sendiri. Sedang Mas Dipo, walaupun pasti berdebat salalu menemani Ibuk. Duduk disamping Ibuk sampai selsai ambil obat. Hubungan mantu dan mertua yang aneh.
"Buk Buk, ngasih e kok yang mentah. Harus goreng dulu ini. Gak bisa di cemili." Mantu kesayangan protes.
"Owalah Lee Lee alesanmu ngungkuli uwong kenek garukan. Ono ae. (Owalah nak nak alasanmu mirip orang kena razia. Ada aja). Besok lusa tak gorengin." Kata Ibu. Mas Dipo kembali menyerahkan bungkusan kepada ibu.
"Punyamu mau digorengin sekalian gak Van?" Tanya Ibu.
"Kalau digorengin juga mau Bu, dirumah saya mungkin gak ada wajan." Kata Revan membuat orang rumahku heran. Revan tahu sorot keheranan setiap orang. Dia bercerita kalau sudah ditinggal Ibunya meninggal sejak masuk SD. Ada haru tersirat dalam setiap kata katanya. Membuat kami yang mendengar jadi ikut melow.
"Emang iya Van orang kena Razia selalu banyak alasan?" Tanya Mas Dipo mengalihkan pembicaraan.
"Enggak juga, yang nangis nangis minta peluk juga ada." Kata Revan sambil memandangku. Aku jadi malu dan salah tingkah sendiri. Dua pria yang lain langsung heboh dengan pernyataan Revan.
"Sexy gak yang minta peluk?" Tanya Mas Dipo.
"Langsung kekep aja lumayan." Kata Ayah. Bantal kursi langsung melayang kearah Ayah. Persembahan Ibu. Hahaha Revan menceritakan sedikit tentang Razia. Tapi tetap menutup rapat aibku. Diakhir kisah dia memohon untuk tidak menceritakan profesinya kepada sembarang orang.
"Bilang saja saya Guru, atau mantri atau apa saja. Karena yang tahu profesi saya sebenarnya hanya orang orang yang sudah saya percaya." Kami manggut manggut mendengarkan.