I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 66



Aku kembali kekampus dengan dorongan penuh dari Revan. Sampai sampai hari pertama aku diantar dia.


"Yap, kita sampai." Katanya sambil menarik rem tangan. Turun dan membukakan pintu untukku.


"Ingat, temui pembimbingmu. Langsung diskusikan judul kita. Oke?" Pesan Revan saat aku turun. Aku mengangguk saja. Dia mencuri satu ciuman kecil dipelipisku.


"Mas! Malu.... ini ditempat umum." Aku protes. Dia cuma senyum senyum gak jelas. Aku menunggu mobilnya menghilang baru berjalan masuk.


"Idih, diantar Pak Polisi. Manja beneeeerrrr....." ledek Ines dibelakangku. Aku cuma nyengir. Kami beriringan jalan berdua.


Baru semeter kami berjalan, Tomy mendekat.


"Put, aku.... mau ngomong." Kata Tomy. Ines tahu diri dan melambai kearah kami. Aku duduk dibangku taman bersama Tomy.


"Sebenarnya ini pengakuan. Aku gak berharap kamu mau maafin aku, tapi aku merasa berdosa kalau gak bilang." Kata Tomy.


"Aku tahu, tentang Riyan kan? Kamu mata mata Riyan mengawasiku." Kataku to the point. Tomy terkejut. Dia salah tingkah.


"Gak papa, aku gak marah. Kamu ngelakuin itu biar bisa kuliah. Lagi pula itu gak berbahaya buat aku. Kamu tetep teman terbaik aku kok walaupun sebagai mata mata." Kataku sambil menepuk pundaknya.


"Kamu tahu dari mana? Kamu maafin aku?" Tanya Tomy.


"Riyan sendiri yang mengakuinya. Iya lah aku maafin kamu. Kita kan teman." Kataku.


"Dia neransfer banyak banget uang buat aku. Banyak, jumlahnya lebih dari cukup buat aku nerusin kuliah. Rencananya mau aku tabung buat sekolah adik adiku kelak." Kata Tomy. Aku manggut manggut.


"Lakukan saja, Riyan juga pasti senang bisa membantu." Kataku. Tomy mengangguk.


"Mau konsul skripsi?" Tanyanya lagi.


"Iya......" obrolan kami beralih keskripsi. Tomy sudah duluan mulai. Dia memang rajin sekali.


Pembimbingku bukan orang yang terkenal sulit. Tapi terkenal begitu teliti. Aku mengangkat judul 'Tinjauan tentang pelaksanaan dan penyelidikan terhadap tindak pidana penyalahgunaan psikotropika'


"Anda yakin dengan judul itu?" Tanyanya.


"Iya, saya yakin." Jawabku mantap. Beliau memberikan masukan sebentar, kemudian menyetujuinya.


Aku didampingi penuh sama Revan. Pokoknya semua Revan. Ini seperti skripsi S1 kedua dia. Aku? Aku hanya penyambung lidah antara dosen pembimbing dan Revan. Bantu bantu dikit untuk menyamakan atau sekedar buruh ketik agar aku juga mengerti. Haaaa seorang polisi narkoba, mengerjakan skripsi narkoba. Sepertinya bukan hal yang sulit. Apa lagi aku tahu dia cerdas. Lawan teliti yang seimbang untuk pembimbingku.


***


"Ini beberapa pendidikan advokat yang menurut Mas terbaik." Kata Revan menyerahkan beberapa lembar kertas. Aku hanya melihat lihat sekilas. Tidak tertarik.


"Mau yang mana?" Tanyanya lagi. Aku menggeleng.


"Nanti saja dipikirkan Mas, aku malas melanjutkan." Kataku santai meletakkan kembali kertas kertas itu dimeja ruang tamu. Kami sedang ada dirumah Revan. Sepi... malam ini Bapak ambil kayu. Besok aku sidang akhir.


"Kalau begitu tambah saja gelarmu menjadi Nyonya Revan Aji Pratama, tidak perlu melanjutkan." Katanya santai. Aku tertawa. Dia mendekat. Mengangkat tubuhku, mendudukkan aku dipangkuannya.


"Kenapa cuma ketawa hummmm. Aku serius." Kata Revan memberikan satu kecupan gemas dibibirku. Aku menanggapi ciumannya. Lebih baik menanggapi ciumannya dari pada membahas lamaran.


Aku pulang malam itu. Dikamarku ada buket bunga mawar. Dengan tulisan 'good luck'.


"Dari siapa?" Tanya Mbakku. Ketika aku membawanya keluar.


"Lah, Mbak yang dirumah malah nanya aku yang baru sampai." Kataku heran. Aku membawanya keluar untuk bertanya malah ditanya balik.


"Yeee kirain kamu tahu. Itu bunga tadi dikirim lewat kurir. Trus gak bilang kurirnya dari siapa. Pokoknya buat kamu. Tak kirain kamu tahu dari siapa Dek." Kata Mbakku.


"Aku juga gak tahu Mbak." Kataku.


"Apa dari Revan?" Tebak Mbakku. Aku justru tertawa.


"Sejak kapan kulkas mikirin kirim bunga. Ulang tahunku kapan aja dia pasti gak tahu." Kataku. Mbakku mengangkat bahunya. Aku juga ikut angkat bahu. Bodo amatlah. Yang dikirim juga bunga mawar bukan bunga deposito. Gak usah diambil pusing.


***


Aku memeluk Revan ketika keluar ruang sidang. Sekses besar!! Sidangku bisa dikatakan mulus.


"Wow wow wow.... ini dikampus Dek." Bisiknya, tapi tidak juga melepaskan pelukan kami.


"Ayo makan makan. Aku mau ditraktir Mamas." Kataku.


"Gak salah? Siapa yang harus nraktir siapa?" Tanya Revan setengah mengejek.


"Gak dong, aku kan minta traktir pacarku." Kataku santai sambil menggandeng tangannya.


"Ow, menggunakan kapasitas sebagai pacar. Trus kapasitasku sebagai pendamping skripsi lenyap begitu saja?" Tanya Revan. Aku langsung nyekikik. Kami makan siang direstoran mie yang baru buka. Mie dengan taburan wijen yang khas. Aku lulus dengan nilai yang lumayan. Walau bukan menjadi lulusan terbaik.


***


"Ini wisudanya Revan. Wong dia yang montang manting bingung, yang sekolah malah sibuk mainan kayu." Kata Ibu. Aku tersenyum saja. Itu sudah menjadi rahasia umum disini. Orang rumahku kadang memarahi Revan karena terlalu memanjakanku.


"Ibarat kena pisau tangannya Putri, yang repot Revan cari obat merah dan kapas." Kata Mas Dipo.


"Gitu aja katanya masih ragu ragu Mas Mas kalau ditanya kapan nikah. Kasihan ya Revan." Mbakku membumbui.


"Tuh yang dibicarakan datang." Kata Ayahku didepan pintu sambil menggendong Damar.


Revan datang dengan baju batik yang sama dengan kami. Mukanya juga tambah glowing karena tetap rutin kupaksa perawatan sebulan sekali.


"Naaa ini dia yang diwisuda." Ibuku memulai. Revan tersenyum, Damar langsung minta gendong. Bayi itu kerap mendominasi Revan dirumah ini.


"Gantengnyaaaa, ini keponakan Om kok wangi banget." Kata Revan sambil menciumi Damar.


"Bikin sendiri Van, nanti bisa dicium pas lagi asem. Uhhh..... lebih enak baunya." Kata Mas Dipo yang ketagihan bau asem anaknya. Ahhh emang seenak itu. Aku selalu menyangkalnya.


"Nanti Mas, satu satu. Aku yakin lamaranku tidak akan diterima kalau belum wisuda gini." Kata Revan. Lanjut uyel uyel Damar lagi. Bayi itu kegelian dengan jenggot Revan.


"Wah, habis ini kita mantu lagi Yahh." Kata Ibu. Ayah manggut manggut. Aku diam tidak menanggapi.


Kami berangkat dengan dua mobil. Mas Dipo kini punya mobil sendiri Ayah dan Ibu pilih ikut mobil Mas Dipo. Aku dan Revan yang beda mobil.


"Mamasss nanti lipstikku rusak." Kataku saat Revan tidak melajukan mobilnya justru fokus sama bibirku. Dandan subuh subuh kesalon hancur kalau ketemu Revan gini. Dia tersenyum.


"Kamu cantik." Kata Revan.


"Udah lama, udah denger ratusan kali kalau aku cantik." Kataku sebal sambil ngecek lipstik.


"Iya iya yang fansnya banyak percayaa...." kata Revan dengan nada cemburu.


"Kamu juga fansnya banyak." Kataku gak mau kalah.


"Siapa?" Tanyanya pura pura bodoh.


"Itu Ine sama Nada. Yang satunya nempel dikerjaan yang satunya adaaaaa aja alasannya ngapel kerumah." Kataku sebal. Ine satu kerjaan satu tim. Ine selalu merasa jadi pacarnya Revan. Sok jadi kekasih padahal gak pernah digubris.


"Yang satunya sejak punya alasan melayat Riyan dulu, selalu saja datang keperingatan kematian Riyan. 7 hari, 40 hari, 100 hari, pesan kursi, pesan lemari, pesan meja. Pesannya selalu malam hari. Agar bisa ketemu anak juragannya." Kataku sebal. Revan tertawa. Dia sudah hapal mantraku mengomeli dua orang wanita yang maunya nempel sama dia.


"Aku kan gak salah Dek, gak nanggepin juga." Katanya membela diri.


"Aku juga gak salah. Aku juga gak nanggepin." Kataku.


"Kalau gitu ayo kita resmikan hubungan ini. Agar aman dan tidak ada pengganggu." Kata Revan lagi. Aku diam. Apa boleh kalau minta satu syarat mau menerima lamarannya? Batinku. Dia melirikku, tapi tidak berkomentar.


Acara wisuda berlangsung lancar. Ayahku bangga memiliki 3 anak perempuan bergelar dibelakang namanya. Ibu tak henti hentinya menagis sampai Damar bengong bengong kenapa Utinya cengeng. Mas Dipo kebingungan melihat para gadis cantik yang bersliweran. Bingung mau melihat yang mana hahahaha.


"Nyebut Mas, nyebut. Jangan mesum gitu lihatnya. Dikira kamu penjahat kelamin nanti." Kata Mbakku pada Mas Dipo sambil menutup muka suaminya. Aku tertawa mendengarnya. Sedangkan Revan??? Dia cool saja. Anteng diam, tapi matanya mengawasi sekitar.


Ada pemandangan haru lain selain keluargaku. Seorang ibu bergamis sederhana. Matanya sembab dari awal acara. Menatap putranya sudah lulus sarjana dengan hasil memuaskan. Ibunya Tomy.


"Wisudawan terbaik kita.... Tomy Candra Gunawan." Mc menyebut Nama Tomy.


Aku tak kuasa membendung air mataku juga. Tomy dengan segala perjuangannya mampu menjadi lulusan terbaik. Padahal giliranku maju juga belum. Aku masih berada dibarisan samping panggung. Kulihat kearah Revan dia mengacungkan sekotak tisue kecil. Mukanya mengajek. Dasar!! Dia kan juga pernah nangis. Walaupun sering aku.


****


Kami mampir makan makan di restoran yang dipesan Ayah. Suasana bahgia sangat terasa. Aku jadi ingat beberapa tahun lalu saat wisuda di SMK. Saat Riyan dengan perlentenya cuwek melihat aku dan Revan. Ahhh Riyan. Aku meraih tangan Revan. Dia menoleh kearahku.


"Aku gak nyangka bisa menyaksikan kamu wisuda dua kali Dek." Kata Revan.


"Iya ya Mas, dulu kamu pertama kali mengantarku pulang." Kataku. Kami berdua berpandangan lalu tertawa.


"Ayah saat itu membuat Mamas pusing yaa dengan pertanyaan yang diulang ulang. Sifatnya juga galak minta ampun." Kataku.


"Dan juga pertemuan pertamaku dengan Riyan." Kata Revan. Senyum dibibirnya menghilang.


"Aku kira.....aku salah dulu saat melihat sorot cemburu dimatanya...... dan kesedihan dimatamu. Aku pikir kalian tidak saling kenal dulu." Kata Revan mengenang. Aku tersenyum. Kami sama sama menghela nafas kasar. Kehilangan Riyan adalah hal yang berat untuk kami.


Tangisan Damar mengalihkan fokus kami. Bayi gembil itu mulai bosan.


"Sini sini sama Om." Kata Revan sambil merentangkan tangan. Revan menggendong Damar mengalihkan fokus bocah itu dengan hal hal kecil.


"Om Revan pinter momong yaa." Kata Mbakku.


"Iya lah, kalau gak pinter momong gak mungkin tahan sama 'bocah' bertahun tahun." Kata Ibu sambil melirikku. Semua orang tertawa. Emang aku sebocah itu apa??? Sepertinya aku yang calon mantu dikeluarga ini. Kami pun pulang setelah puas makan siang.