I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 30



Aku tidur sampai siang. Orang rumah tahu aku selalu bekerja hingga tengah malam. Hingga minggu seperti ini dijadikan waktuku istirahat total. Tidur sampai siang pun dibiarkan. Aku bersyukur punya keluarga yang pengertian.


Bangun hampir tengah hari. Aku menyomot pisang goreng yang baru digoreng Ibu.


"Mandi sana. Masak belum mandi sudah makan." Kata Ibuku. Aku nyengir sambil menyomot lagi pisang yang masih hangat.


"Itu motormu tadi diantar siapa?" Tanya Ayah.


"Temenya Mas Revan Yah, kemarin aku pulang diantar Mas Revan. Macet lagi si Mimin." Lancar sudah aku ngibul.


"Revan itu baik yaa, selalu mau nolongin kamu. Kalian pacaran? Awas jangan aneh aneh kalau pacaran." Kata Ayah. Aku senyum senyum saja.


"Kamu masih nganggep usia Revan terlaluu om om? Jarak 9 tahun itu gak masalah Nduk. Justru laki laki yang lebih tua itu bisa ngemong, ngalah." Kata Ibu selsai menggoreng. Ikut nimbrung diruang keluarga.


"Ibuk mau punya mantu polisi?" Tanyaku. Ayah dan Ibuku kaget serentak.


" bukannya dia guru?" Tanya ayah.


"Polisi narkoba. Itu sebabnya dia mudah bantuin tugasku." Kataku. Ayah dan Ibuku manggut manggut. Suara kami menggema seisi rumah. Selain karena rumah yang sempit, juga karena hanya kami bertiga yang ada di rumah. Satu kakakku sudah menikah, pulang sebulan sekali karena tinggal diluar kota. Kakakku yang tengah tentu saja sudah pacaran dari pagi tadi.


"Kalian gak merasa dibohongi?" Tanyaku pada kedua orang tuaku.


"Mungkin profesinya yang membuat dia baru mau jujur sekarang." Kata Ayah


"Itu artinya dia serius sama kamu Nduk. Udah jujur mengakui pekerjaannya. Kamu gak tertarik?" Ibu promo.


"Dari pada anak band brandalan." Ayah nyeletuk. Haaahhh Dia masih dendam sama Riyan.


"Gak tahu Buk, aku mau serius belajar. Masalah pacar bisa nanti nanti." Jawabku.


"Minggu depan Mbakmu mau tunangan, kalau Revan mau datang boleh." Kata Ibu.


"Trus nanti kalau datang dikenalin sebagai apa? Pacarku gitu?" Tanyaku protes. Dua orang tua ini malah kaya jodoh jodohin aku sama Revan.


"Dengan senang hati Bu, terimakasih atas undangannya." Jawab suara dari depan pintu. Kami menoleh bersamaan. Sejak kapan dia ada disana? Apa dia nguping?


"Wah panjang umur dibicarakan lalu datang." Kata Ayah lebih sumringah menyambutnya. Ibu langsung menawarinya teh dan pisang goreng. Haduhhhh ini konsepnya gimana??


Mas Revan senyum senyum melihat perubahan sikap orang tuaku. Biasanya ayahku selalu waspada. Beliau selalu melihat cowok yang berteman denganku itu Riyan. Sampai sampai Tomy takut datang kerumah. Dia minta ijin mengajakku keluar. Aku pun mandi, dia ditemani ayahku bercakap cakap.


Aku sudah wangi, siap untuk pergi. Kami beriringan menuju motornya.


"Terima kasih sudah membantu menjelaskan." Bisiknya.


"Aku sudah bingung saja menjelaskan pada ayahmu apa profesiku yang sebenarnya. Takut kena amuk. Hahahaha." Lanjutnya. Dia sudah berdiri dipintu cukup lama berarti. Hadeeeehhhh.


Bukan ketempat romantis atau cafe Revan mengajakku, tapi kerumahnya. Rumah yang besar halaman depannya. Terdapat bengkel kayu dihalaman rumah itu. Bangunan rumahnya sederhana, tapi cukup besar. Rumah itu dia tempati bersama ayahnya. Dia menceritakan masa kecilnya. Yang hidup berdua saja dengan ayah. Ayahnya belum terlalu tua, masih bersemangat untuk bekerja. Dirumahnya ada tumpukan kayu dan sebuknya bertebaran. Beberapa orang masih bekerja walaupun ini hari minggu. Dia menyambutku dengan senyum dibibir.


"Akhirnya setelah cuma Ine yang main kesini. Ada wanita lain yang mampir." Kata Ayah. Aku tersenyum. Dia menepuk pundaku.


"Masuk saja Nduk, anggap saja rumah sendiri. Tapi ya jangan kaget. Rumah penghuninya laki laki semua. Hahahaha" Kata beliau kemudian melanjutkan pekerjaan.


"Ine?" Tanyaku minta penjelasan.


"Ine rumahnya cuma tiga rumah dari sini. Dia adik kelasku dulu. Juga teman mainku. Ibunya juga sering membantu jagain aku waktu ayah kerja. Aku sering nimbrung makan dirumahnya waktu kecil." Jelas Revan.


"Kenapa mulutnya jahat?" Tanyaku manyun.


"Dia emang ketus dan galak, tapi sebenarnya baik kok. Kalian aja yang belum kenal." Kata Revan. Aku duduk diruang tamu yang.... lumayan tidak terawat. Hahahaha. Debu dari halaman tempat kayu kayu itu menyelimuti lantai. Sudut sudut lain juga tampak berdebu. Sepertinya rumah ini memang jarang dibersihkan.


"Lalu kemana Ibumu?" Tanyaku. Revan melihatku sejenak.


Aku diajak ke pemakaman umum dikampung itu. Berdiri pada batu nisan usang bertuliskan Lilis Jubaedah.


"Maaf Mas, aku gak tahu Ibumu sudah meninggal." Kataku. Dia mengangguk, mencabuti rumput rumput liar diatas pusara.


"Ibu apa kabar? Aku bawa Putri calon mantu Ibu." Katanya....'Mantu?'.... Dia melihat kearahku.


"Ha halo Bu, aku Putri." Kataku sedikit terbata. Revan cerita kalau Ibunya seorang penyanyi orkes. Pergi meninggalkan dia dan ayahnya saat usianya 5 tahun. Kata Ayahnya, Ibunya pergi kerja, tapi kata orang orang Ibunya dibawa laki laki lain. Sejak usia 5 tahun itu Ia dan Ayahnya hidup hanya berdua saja. Tidak mau bertanya dimana Ibunya, karena Ayah akan terlihat sangat sedih membicarakan Ibunya. Ia memendam kerinduan pada Ibu dalam diam.


Ibunya sempat menemuinya saat mau masuk SD. Memberikan uang yang banyak sekali. Penampilan Ibunya berubah, bahkan saat semua orang baru senang senangnya merasakan naik motor, Ibunya sudah naik mobil diantar sopir. Perut Ibunya membesar. Ibunya bilang ada adiknya dalam perut. Sebentar lagi lahir.


"Aku senang sekali. Aku akan punya adik. Setelah ditinggal Ibu aku kesepian dirumah. Saat itu usiaku belum menyadari kalau adik itu adalah bukti bahwa Ibuku benar kabur dengan pria lain dan hamil anaknya." Kata Revan getir.


Hingga pada suatu hari saat baru beberapa bulan Revan masuk SD. Ada kabar mengatakan Ibunya ditemukan meninggal dihotel pusat kota. Ayah kesana untuk memastikan. Ayah pulang bersama Ibunya yang sudah dalam peti.


Keluara Ayahnya mencemooh bahkan saat jenasah datang. Ada sedikit keributan, namun Ayahnya bersikeras memakamkan jenasahnya. Ada polisi yang mengantarnya. Polisi itu berjanji mencari pembunuh Ibunya pada Ayah, tapi sampai sekarang tidak ada yang terjadi.


"Setelah besar baru aku tahu Ibuku meninggal karena dibunuh. Saat itu pula aku berjanji pada diriku untuk menjadi polisi. Aku berharap bisa menyelidiki kematian ibuku. Walaupun tentu saja kasusnya sudah ditutup saat ini." Kata Revan.


"Setidaknya aku bisa kesini saat kangen Ibu. Aku masih sangat penasaran dimana adiku? Apa dia tahu Ibu sudah meninggal? Aku sempat bercerita pada Bapak, tapi beliau tidak percaya." Lanjutnya.


"Kemana suaminya yang baru?" Aku juga mulai penasaran. Revan menggeleng.


"Aku tidak tahu." Jawabnya. Kami berbicara dipelataran pemakaman. Duduk dipinggir jalan masuk. Aku memegang tangannya. Dia menyambut tanganku.


"Aku sudah menceritakan asal usulku dengan jelas. Ada yang mau ditanyakan?" Tanyanya sambil menarik tanganku berdiri.


"Tidak, terimakasih sudah mau bercerita." Kataku.


"Sekarang ayo berkencan." Katanya. Kami pergi kesebuah rumah makan berkonsep bangunan tempo dulu yang terkenal dikota ini. Menikmati makanan dan bercerita ini itu menghabiskan sore. Dia itu pribadi yang hangat sebenarnya. Tapi terbungkus dengan sikap pendiamnya yang dominan.


Dia mengantarkan ku pulang saat Mbak Sasa dan Mas Dipo juga pulang.


"Eee kencan juga ini anak." Kata Mbakku sambil merangkul pundaku.


"Emang kamu doang yang mau jalan jalan." Kataku. Revan dan Mas Dipo bersalaman. Kami masuk berempat beriringan. Ibu menyambut kami dengan senyuman.


"Ayah mana Bu?" Tanya Revan


"Mancing sama temennya. Entah mancing entah main. Kalau pamitnya mancing kan Ibu gak ikut. Dasar Bapak." Ibu cemberut.


"Po, minggu depan acaranya jam 10 yaa jangan telat." Kata ibu.


"Kalau molor satu jam gimana?" Tanya Mas Dipo.


"Jam 10 udah siang lho." Kata Ibu


"Tapi kan jarak rumah saya kesini jauh Bu, ngelewatin banyak perempatan. Lampu lantasnya gimana?"


"Lampu lantasnya ya biar di perempatan. Masak mau kamu cabutin!" Jawab ibu sewot. Mas Dipo emang terkenal nyantai. Kami semua tertawa mendengar pedebatan calon mantu dan ibu mertua.


"Kerja dimana Dek?" Tanya Mas Dipo pada Revan mengalihkan pembicaraan.


"Aku... cuma nguli Mas. Mas kerja dimana?" Jawab Revan.


"Aku buka variasi mobil kecil kecilan. Nguli apa kamu?" tanya Mas Dipo.


***


Mohon Maap up pertama banyak yang typo. Udah aku benerin moga moga gak ada yang typo lagi. hehehehe efek begadang sama Revan didunia nyata. Jadi nulis sambil agak ngantu ngantuk manja.... selamat pagi semuanya... Semoga selalu dalam keadaan baik baik saja. Bahagia selalu, senyum selalu, karena senyum akan menularkan senyuman yang lain. Walaupun hati kita sedang perih. Heddeeeeehhhh aku iki omong opo.......