
Aku kembali PKL untuk satu setengah bulan lagi. Ditempat yang sama, dipelosok kota. Ayahku sudah pensiun. Beliau bisa mengantar jemput aku dengan mudah. Bukan lagi Riyan dengan motor besarnya. Dengan senyum manis dibibirnya yang kadang aku heran kenapa tak pernah hilang manisnya. Mbak mbak SPG ditempatku PKL sampai bertanya padaku.
"Mana pacarmu yang ganteng itu? Udah putus?" Aku hanya mengangguk.
"Yahhh sayang sekali. Padahal ganteng banget, motornya bagus lagi." Aku hanya senyum senyum kecut menanggapinya. Aku juga gak mau putus Mbak kalau gak dipaksa keadaan. Batinku.
Berita bagusnya aku kembali diberi hp oleh orang tuaku. Berada di pojok kota jauh dari rumah membuat mereka was was kalau aku ada masalah. Hpnya bahkan lebih bagus dari hpku yang remuk dulu. Tapi gak ada lagi nomer Riyan. Gak ada lagi orang yang rajin mengirim lagu lagu romantis untuk merayuku. Hpku hanya berisi teman SMK ku saja dan keluargaku. Huft.... sedih. Hp baru tapi tetap saja sepi.
Saat PKL itu aku ditempatkan distand jam. Berbeda dengan pkl yang kemarin. Aku ditempatkan dibagian kemeja pria. Ada segala macam jam. Jam dinding, jam weker dan jam tangan. Lebih susah membersihkan areanya karena lebih kecil kecil dan mudah pecah.
Saat itu masih pagi. Ini jadwalku membersihkan etalase jam weker. Aku harus berjongkok dengan rok span mini dan sepatu high heels. Haduuuhhhh menyiksa kaki dan pahaku. Kubersihkan etalase kaca itu dengan kain lembut. Juga mengelap jam dan memasangnya kembali dengan rapi. Seseorang datang. Pelanggan pertama kami. Berdiri dietalase jam tangan. Aku menghampirinya. Seniorku masih dandan memoles lipstik digudang. Kerja diswalayan ini diwajibkan bermakeup lengkap. Termasuk kami bocah bocah PKL.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sapaku ramah. Dia tersenyum melihatku sekilas. Kemudian sibuk memlihat lihat jam tangan sport cowok.
"Ini anti air semua Mbak?" Tanyanya sambil kembali memandangiku. Kali ini pandangannya lebih lama dari sebelumnya.
"Iya, yang deretan ini. Bukan kw Mas, ini asli. Bagus lagi. Modelnya sederhana, tapi manis." Kataku menjelaskan. Sedikit risih karena dia melihatku, bukan melihat deretan jam dietalase.
"Iya manis, kayak Mbaknya." Eeee dia malah merayu. Aku nyengir saja.
"Ini fiturnya apa aja mbak?" Tanyanya setelah terdiam memandangiku.
"Ya jam sama tanggal Mas, anti air bisa buat renang, anti kotor kalau kotor bisa dicuci, anti patah hati, soalnya jamnya gak punya hati." Jelasku asal sambil nyengir. Dia tersenyum ada dua lesung pipi yang tersamarkan dibalik jenggot lebatnya.
"Anti maling gak?" Dia ngajak bercanda lagi.
"Bisa Mas, asal di tinggal dirumah, trus disimpen dalam brankas. Atau kalau mau dititipin sama pak polisi. Wooo dijamin malingnya takut." Kataku absrud. Dia tertawa ngakak dua lesung pipi itu ternyata manis juga.
"Mbaknya bisa aja. Kalau hati Mbak dititipin keaku, bisa gak?" Tanyanya lagi sambil senyum senyum. Eeee ngelunjak ni orang diajak bercanda.
"Gak bisa Mas, hati saya rawan pecah dan remuk. Gak saya titipin sama sembarang orang apalagi yang baru lihat." Kataku sok puitis. Dia masih senyum senyum. Kemudian fokus keetalase jam tangan dibawahnya. Memintaku mengambilkan satu jam berkalep coklat.
"Dicoba dulu boleh Mas." Kataku. Dia malah menyodorkan tangannya. Eeee definisi pembeli adalah raja. Aku manut saja memakaikannya. Dia cocok dan meminta dibuatkan nota.
Pembelian jam tangan, jam wekker atau benda kecil lain memang harus pakai nota manual. Dibayar dikasir dan mengambil barangnya lagi kecounter kami.
"Ini nomer berapa Mbak?" Tanyanya saat melihat notaku.
"Nomor PLU barang Mas, udah Masnya gak usah kawatir salah, saya udah cek." Jawabku santai
"Oooww, kalo nomer mbaknya berapa?" Tanyanya lagi. Aku gerah juga dengan usahanya. Seniorku sudah senyum senyum dipojok sana. Sengaja agak menghindar dari kami.
"38 Mas, nomer sepatu saya. Permisi." Kataku lalu kabur dan menyelsaikan pekerjaanku lagi. Berjongkok lagi dietalase jam wekker.
"Kenapa gak dikasih Put? Manis juga lho." Katanya.
"Heleh Mbak, gak minat. Mau sekolah aja yang bener." Jawabku santai.
Si Mas datang lagi ambil barang dia. Tapi dia menuju kearahku yang masih jongkok membereskan jam wekker sambil menyerahkan nota, bukan ke etalase tempat jam tadi. Padahal disana sudah ada senior yang menunggu.
"Mbak saya udah bayar." Katanya sambil menyerahkan nota. Sebenarnya aku bisa saja bilang ambil dietalase. Tapi tidak sesuai dengan pelajaran pelayanan prima yang aku terima disekolah. Terpaksa aku berdiri dan mengambil nota ditangannya.
"Baik Mas, akan saya ambilkan." Kataku menuju etalase jam tangan lagi.
"Revan." Katanya. Aku berbalik menatapnya.
"Haaa apa?" Tanyaku memastikan.
"Nama saya Revan Mbak. Mbaknya namanya siapa?" Haduhhh pinter bener orang ini minta kenalan.
"Putri." Jawabku pendek. Sebagai penghargaan usahanya. Aku kembali melangkah keetalase jam tangan.
"Putri udah lama kerja disini?" Tanyanya lagi sambil membuntutiku.
"Aku masih SMK Mas, disini cuma PKL." Jawabku seperlunya. Sambil menyerahkan bungkusan kotak berisi jam tangan. Dia mengangguk dan menatapku. Belum juga mau beranjak. krik krik krik... jangkrik berbunyi.
"Terimakasih sudah membeli." Kataku mengakhiri percakapan. Dan kembali kederetan jam wekker. Dia pergi dengan sedikit kecewa.
Si senior kembali menyarankan aku untuk berkenalan. Saat dia pergi.
"Dia udah usaha maksimal lho Put, masak kamu cuwekin kayak gitu. Kasihan lah." Kata Mbak Senior.
"Tampangnya kaya bapack bapack mbak, jangan jangan sudah beristri." Kataku berkilah.
"Ah, enggak. Masih muda kok. Gagah lagi. Wajar kalau cowok lebih tua put, malah enak dikita ceweknya." Kata Senior memberi wejangan.
"Itu kan buat yang cari pasangan buat nikah, kalau di sekolah punya pacar tua yaa di ledekin." Jawabku. Memang benar. Disekolahku kalau ada yang pacaran sama orang yang udah kerja aja pasti diledekin. Kaya jadi sugar baby gitu deh. Itu aja tampangnya pada ganteng ganteng muda. Lha kalau macam Masnya tadi apa kabar ledekannya? Berjenggot dan...... ah, bukan tipeku.
Untung saja Riyan satu angkatan denganku, walaupun sebenarnya dia juga lebih tua 3 tahun dariku. Ehhhh, kok jadi keinget dia sih.....
"Dasar kalian anak sekolah. Kalau didunia kerja usia gak akan berpengaruh apapun. Lagian sebentar lagi kamu juga lulus kan. Paling lama setengah tahun lagi." Kata kakak senior. Aku mesem mesem sambil manggut manggut saja.
Bukan cuma tua, tapi penampilannya terlalu biasa cenderung acak acakan. kejauhan sama Riyan dulu yang selalu klimis, ganteng dan wangi. Yaaaa drop dong. Bukan seleraku. Bukan juga tipeku. Dia juga terlalu agresif menurutku. Tapi lesung pipinya manis juga. Halah emboh, gara gara Senior aku jadi mikirin dia. Kerja kerja kerja. Kerja tanpa gaji karena ini masa PKL hihihii